LOGINYacht kembali melaju ke suatu arah. Tujuan berikutnya adalah pulau. Di pulau itu, para pengunjung bisa bersantai dan bermain berbagai wahana pantai. Melihat Yacht mewah mendekat, para pengunjung di pulau itu menjadi heboh. Jelas, mereka ingin tahu orang kaya ma yang sedang berlibur. Setelah Yacht berlabuh, dan kelompok Joko turun dari Yacht, ada beberapa orang yang mengenali. "Itu teman-teman Tuan yang kemarin berantem sama Tuan Muda Fendi.""Awas, jangan ada yang ganggu mereka! Tuan Muda Giri pun takut sama Tuan itu!" ucap seorang pria sambil menatap semua orang di dekatnya.Semua orang itu mengangguk paham.===Joko tidak ikut turun, dia beralasan ingin ke toilet dulu. Namun, dia buka pergi ke toilet, malah pergi ke kamar.Setelah menutup pintu, Joko mengambil ponselnya yang di letakkan di kasur kamar itu, lalu dia menelepon Nadya.Telepon tersambung."Halo, ada apa? Aku lagi sibuk nih," ucap Nadya dengan nada malas."Cantik, aku nemu barang bagus lho. Tapi gak tahu berharga apa
Beberapa saat berlayar, akhirnya sampai di tujuan pertama. Lokasi itu merupakan tempat untuk menikmati pemandangan terumbu karang. "Jo, ayo turun!" ajak Sumi. "Kamu bisa berenang?" tanya Joko. "Bisa dong," balas Sumi dengan bangga. "Kalau gitu ayo!" ucap Joko dengan antusias. "Aku mau pakai pelampung saja, aku gak bisa berenang," ucap Rara dengan wajah cemberut. "Hehe, gak apa-apa, masih bisa lihat terumbu karang kok!" balas Sumi. Semua orang yang bisa berenang pergi memakai alat selam. Setelah itu, mereka melompat turun dan menyelam. Sementara yang gak bisa, memakai bantuan pelampung untuk menikmati keindahan bawah air. Joko dan Sumi menyelam berdampingan. Melihat banyak ikan yang berenang di sela terumbu karang, Joko malah tertarik untuk menangkapnya.Hanya mengandalkan tangan kosong dan dorongan energi spiritual, Joko menangkap ikan yang berenang lincah itu dengan mudah.Sumi yang melihat tindakan Joko itu sangat terkejut dan tidak percaya. Jika dia tidak memakai tabung ok
Melihat Joko masuk, semua temannya menghampiri dengan ekspresi antusias. "Jo, Yacht ini mewah banget! Luas banget lagi! Ada beberapa kamar lho di dalamnya," ucap Sumi sambil memeluk tangan Joko. "Kalian sudah berkeliling?" tanya Joko sambil tersenyum lembut. "Sudah." Mereka semua mengangguk. "Kapal kayak gini pasti mahal banget! Kalau sudah kaya, kamu harus beli Jo! Enak buat berlibur di pantai," ujar Rian. "Hehe, kalau sudah kaya, nanggung kalau beli yang kayak gini. Aku mau beli kapal pesiar! Biar bisa ke laut dalam!" balas Joko. "Haha, itu lebih mantap!" Teman-temannya itu tak ada satu pun yang menanyakan obrolan Joko dengan Tuan Muda Giri. Mereka semua paham, ada hal yang gak perlu mereka tahu. Tak lama kemudian, seorang pelayan wanita menghampiri mereka. Pelayan itu memberi tahu kalau Yacht akan segara berlayar dan dia pun memberi tahu ke mana saja tujuannya. Setelah menjelaskan semuanya, pelayan itu berkata kembali. "Kalau ada minuman dan makanan yang mau di pesan, sil
Keesokan paginya... Joko dan teman-temannya pergi ke pelabuhan tempat Yacht berlabuh. Pelabuhan itu tidak jauh dari vila, hanya butuh beberapa menit berjalan kaki untuk sampai di sana. Saat Joko dan teman-temannya sampai di sana, ternyata Tuan Muda Giri sudah berada di sana. Luxury Yacht juga sudah berlabuh di belakangnya. "Aku kira kau berbohong," ucap Joko dengan nada santai. "Gak akan. Mana mungkin aku berani berbohong sama Tuan Joko," balas Tuan Muda Giri sambil menghampiri Joko dengan ekspresi berseri-seri. Joko menatap Yacht itu dengan takjub. "Yang kayak gini pasti mahal yah?" "Hehe, ini salah satu usaha milik keluargaku. Kebetulan di sewakan di panti ini. Kalau harganya lumayan! Tapi pastinya masih ke beli kalau sama Tuan Joko," balas Tuan Muda Giri.Semua teman Joko tentu saja terkejut. Mereka semua jelas tahu, kalau Yacht pasti harganya miliaran."Emangnya Joko punya uang berapa banyak?" itulah yang terpikirkan mereka semua."Sudah bisa di naiki?" tanya Joko."Sudah..
"Aku boleh tahu gak, kamu ada di ranah apa sekarang?" tanya Nyonya Desi. Tanpa ragu, Joko menjawab. "Aku berada di Master Beladiri tingkat awal! Tapi kekuatan tempurku sepertinya bisa sebanding sama Master Beladiri tingkat menengah." Nyonya Desi merasa sedikit terkejut. Sebelumnya dia hanya menebak kalau Joko berada di setengah langkah Master Beladiri. "Aku gak menyangka kamu seorang jenius beladiri. Sangat jarang ada seorang Master Beladiri yang semuda kamu," ucapnya. "Hehe, sekarang kamu yakinkan, aku bisa membantumu balas dendam?" tanya Joko sambil cengengesan. "Yakin, aku yakin! Walau harus menunggu beberapa tahun lagi, pasti kamu bisa melampaui musuhku itu!" balas Nyonya Desi. "Kita lihat saja nanti. Mungkin gak perlu beberapa tahun!" ucap Joko. Nyonya Desi naik ke pangkuan Joko. Senyuman tipis terlukis di bibirnya. "Kamu tadi bilang, ada beberapa wanita yang ikut sama kamu ke ibu kota. Para wanita itu istri kamu atau pacar kamu?" tanyanya. "Walau belum ada status
Joko menghentikan langkahnya di depan pintu kamar itu, lalu membuka pintu kamar itu ~ untuk mengintip ke dalamnya. Seketika, pemandangan panas tercipta di matanya. Seorang pria dan wanita yang sedang terjerat liar di atas ranjang tanpa sehelai pakaian pun yang menutupi tubuh mereka. Melihat pasangan itu, senyuman lebar terlukis di wajah Joko. "Hehe, dia ternyata berhasil!" gumamnya di dalam hati. Ternyata, pasangan yang sedang terjerat dalam kenikmatan itu adalah Rian dan Lulu. "Tubuh Lulu bagus juga ternyata," gumam Joko sambil melihat lekuk tubuh wanita itu. "Rian, kau harus berterima kasih kepadaku, kalau gak ada kesempatan ini ~ kau pasti susah menaklukkan Lulu." Joko berhenti mengintip. Dia menutup pintu kamar itu, lalu melangkah pergi. Dia pergi ke belakang vila tempat minum-minum sebelumnya, dia ingin melihat apa masih ada yang masih di sana. Sampai di sana, dia di buat menggelengkan kepalanya. Ternyata, masih banyak yang berada di sana. Mereka sudah tertidur pulas dengan
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
Setelah mengantarkan Bu Tika pulang ke rumahnya, Joko kembali melajukan motornya menuju warung Bu Sinta untuk mangkal di sekitar sana. Beberapa saat kemudian, Joko sampai di warung Bu Sinta. Warung Bu Sinta tampak sepi tak ada pembeli. Terlihat, Bu Sinta yang sedang sibuk menggoreng sesuatu di dal
Namun, saat Bu Sinta hendak meladeni godaan Joko, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya mendekat ke warung. Perhatikan Bu Sinta dan Joko langsung teralihkan kepada wanita paruh baya itu. Bu Sinta yang mengenali wanita paruh baya itu, langsung menyapanya dengan hangat. "Bu Sri... mau ke mana? in
"Jok, kamu emang ojek, tapi kamu baik banget. Anterin aku ya, tiap hari, nanti bayarannya uang sama ada deh, bayaran khusus, plus-plus kok!"Setiap wanita yang ditemui Joko, hampir selalu seperti itu. Entah itu gadis desa, wanita lajang, hingga para janda kesepian. Usianya dua puluh lima tahun. Ia







