ログイン"Nona... ternyata... apemmu ini... sangat tembem, yah," ucap Joko sambil mengelus sisi apem itu dengan jarinya.
"Ahhh... indah, kan?" tanya Tania, sambil mendesah."Indah mana sama punya Tania?" Mia ingin membandingkan. "Sangat indah!" tegas Joko. "Punya Nona sama punya Nona Tania... sama-sama indah! Punya kelebihan masing-masing," lanjutnya. "Kakak nyari aman aja, ya kan? Jadi gak mau ngebandingin," gerutu Mia.Saat tubuh kedua wanita basah, penampilan mereka terlihat lebih menggairahkan. hal itu membuat mereka berdua jadi tontonan para pengunjung pria. Namun karena kehadiran Joko, yang memiliki wajah tampan dan tubuh kekar, tak ada satupun pria yang berani mendekati kedua wanita itu. Setelah cukup puas bermain air, mereka bertiga pergi berjemur. Ketiganya duduk setengah berbaring di kursi pantai dengan posisi Joko di tengah. "Jo, pasti banyak pria yang iri sama kamu!" ucap Sumi sambil mengelus dada Joko. "Itu sudah pasti! Dua wanita cantik bertubuh hot terus menjepit ku... yah jelas mereka iri lah," balas Joko sambil merangkul pundak kedua wanita itu. Sumi dan Rara terkikik pelan. Tak lama kemudian, beberapa teman Joko termasuk Rian, Bang Ari, dan Kak Rani, datang menghampiri. "Enak banget yah bos kita!" goda Rian. Joko melepaskan rangkulannya di pundak kedua wanita itu. Namun kedua wanita itu sama sekali tak menarik jarak dengan Joko. "Hehe, kalian mau berjemur juga?" ta
Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya sampai di vila. Di depan gerbang, berdiri seorang wanita berpakaian rapi. Joko turun dari mobil ~ berniat menghampiri wanita itu. Namun, wanita itu lebih dulu menghampiri Joko. "Anda Tuan Joko?" tanya wanita itu dengan sopan. Joko mengangguk. "Benar. Saya yang memesan vila ini!" Wanita itu menyodorkan kunci dan kertas kecil. "Tuan, ini kunci vilanya dan nomor telepon saya. Kalau ada yang perlu di bantu, hubungi saja nomor itu!" ucapnya. Joko mengangguk. "Terima kasih." Setelah Joko masuk kembali ke mobilnya, wanita itu membuka gerbang. Satu persatu mobil pun masuk ke dalam vila. Setelah semua mobil masuk, wanita itu kembali menutup pintu gerbang, lalu pergi. Semua orang turun dari mobil. Sorot mata mereka berbinar terang saat melihat vila yang begitu megah. "Tiga puluh juta memang sepadan. Vila ini sangat besar!" ucap Rian. "Ayo masuk ke dalam!" ajak Joko. Mereka pun pergi membawa barang bawaan mereka, lalu masuk ke dalam vila. Di d
Sumi mengulum dengan penuh semangat. Semakin lama, rasa yang di hasilkan dari kulumannya semakin nikmat. "Ahhh... mmm, sepertinya... kamu sudah sering melakukan ini, mmm... enak banget!" racau Joko dengan mata merem melek.Dia berusaha keras untuk menjaga fokusnya. Meski jalanan di sana kosong, tapi jika kehilangan fokus bisa-bisa mobilnya keluar dari jalan.Setelah beberapa menit di mainkan, Joko belum memperlihatkan tanda-tanda mencapai puncak. Para wanita itu takjub dengan ketahanan Joko."Sumi, kamu bisa gak sih? Kok dia belum keluar?" tanya Rara dengan sinis.Sumi mengeluarkan batang Joko dari mulutnya. "Jangan salahkan aku, punya dia kuat banget!" ucapnya sambil memelototi Rara."Gantian dong!" pinta Rara dengan ekspresi wajah tidak sabar.Sumi mendengus kesal, lalu dia pindah ke kursi belakang. Dia bukan mengalah, tapi dia sudah merasakan mulutnya pegal.Rara dengan penuh semangat pindah ke kursi depan. Setelah itu, dia langsung menunduk batang Joko dan meraihnya."Keras bange
Perkataan Sumi seperti sengatan listrik untuk Joko. Miliknya yang sudah mengeras, semakin mengeras sampai tercipta tonjolan di celananya. Rara bangkit dari tempat duduknya, lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Joko. "Asalkan... jaga rahasia, kamu boleh cicipi kita." "Kalian pasti bercanda kan?" tanya Joko. Dia tidak langsung memercayai ucapan para wanita itu. "Tadinya... kita sepakat mau berebut kamu. Tapi ternyata... kamu itu pria nakal yang punya banyak wanita. Jadi... gak ada gunanya lagi kita berebut lagi," ucap Sumi. "Kamu orang kaya. Kalau menjalin ikatan yang lebih jauh... kita pasti dapat keuntungan dari kamu. Walau bukan berupa harta, setidaknya bisa dapat bantuan kalau di masa depan punya masalah," ucap Rara. "Aku setuju. Walau aku pengen jadi wanitamu, tapi sepertinya sudah gak mungkin," ucap Sumi. Dita dan Yeni setuju dengan ucapan Sumi. Joko menyeringai tipis. "Kalian cerdik juga yah." ucapnya. "Pantas saja kalian mau di mobilku, ternyata kalian sudah punya renc
"Jo, mobilmu nyaman banget yah," ucap Sumi dengan ekspresi sedikit genit. "Tentu saja nyaman. Mobil ini gak murah!" sahut Dita dari belakang. "Hehe, senyaman apapun mobil, pasti lebih nyaman diam di rumah," canda Joko. "Kamu bisa saja," Sumi menekan pundak Joko dengan jari telunjuknya. Joko sedikit melirik wanita itu. "Hmm, wanita ini sangat aktif. Baru kenal saja sudah berani bertingkah genit." Setelah terdiam sesaat, Joko kembali berkata. "Nanti sampai di kota, kalian harus ke toilet dulu. Kalau sudah lewat kota, susah nyari toilet. Baru ada lagi toilet nanti di kalau udah sampai di Kota Awan." "Kalau kebelet di jalan, tinggal nyari hutan saja. Gak masalah, hihi," ucap Rara sambil terkikik. "Kalau gak masalah kencing di hutan, gak apa-apa," balas Joko. "Jo, kamu gak bawa camilan?" tanya Sumi. "Nggak, nanti beli di kota," balas Joko. "Nggak usah beli. Kita bawa banyak camilan kok," ucap Sumi buru-buru. "Iya. Gak bakal habis kita makan," ucap Yeni sambil memperlihatkan sat
Tak terasa hari Sabtu pun tiba...."Sayang, kalian yakin gak mau ikut?" tanya Joko sambil menatap Ayu, Lana, Sinta, dan Mona.Joko tampak sedang sibuk memasukkan semua keperluannya ke dalam koper. Keempat wanita cantik itu sibuk membantunya."Nggak ah. Kalau kita ikut liburan, pasti nanti beritanya bocor ke para warga. Para bocah itu pasti gak akan bisa tutup mulut," balas Sinta."Hmm, ya sudah. Kalian mau di bawakan apa?" tanya Joko."Terserah kamu saja. Kamu gak bawa apa-apa pun gak masalah. Yang penting, kamu pulang dengan selamat," balas Ayu dengan lembut."Hehe, aku mau liburan ~ bukan mau perang," Joko menggosok kepala Ayu. "Tetap saja kamu harus berhati-hati!" tegas Ayu dengan wajah cemberut."Oke... oke. Ya sudah, kalau nanti ada barang bagus, aku pasti bawakan buat kalian," ucap Joko.Beberapa saat kemudian, mobil Joko melaju pergi meninggalkan rumah Lana. ===Tadi malam, Rian memberi tahu Joko kalau besok akan berkumpul di depan jalan keluar kampung. Saat Joko sampai di s
Ketika hari mulai beranjak sore, Joko memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Penghasilannya dari mengojek hari ini sudah cukup banyak, jadi ia tidak perlu lagi berkeliling mencari penumpang hingga malam. Setelah selesai bersih-bersih, Joko duduk di kursi yang sudah tampak lapuk dimakan usia. Ia kemu
Waktu terus berlalu. Tak terasa, jam pulang sekolah pun sebentar lagi akan tiba. Selama menunggu waktu itu, Joko sudah mendapatkan tujuh penumpang. Tentu saja, penghasilannya hari ini sudah cukup banyak. Joko sudah bersiap menunggu para siswa SMA yang sebentar lagi pulang sekolah. Ia duduk santa
Tak lama kemudian, Bu Sinta telah selesai membuat kopi, lalu dia menyajikannya di meja depan Joko. "Nih... sudah jadi, silakan di minum," ucap Bu Sinta dengan riang. "Makasih yah." Joko langsung mengambil cangkir berisi kopi itu, laku menyesap kopi di dalamnya. Ekspresi wajahnya tampak sangat me
Joko melajukan motornya ke luar dari kampung, ia pergi menjemput gadis bernama Mia di kosannya. Sampai di sana, ternyata Mia belum siap. Pada akhirnya, Joko menjemput langganannya yang lain terlebih dahulu. Gadis yang Joko jemput bernama Dea. Kosan Dea tidak jauh dari kosan Mia, jadi tidak butuh







