LOGIN"Buka bentar, Bang. Tika mau mastiin sesuatu!" Kyak! Melotot lebar mata Satria, saking lebarnya seperti anak sapi yang tersedak susu induknya. Pemuda mantan gigolo itu kaget mendapati aksi gila adiknya.Bagaimana tidak? Atika yang mendekat, berjongkok di bawah Satria yang duduk di kursi. Lalu menarik dan hendak membuka celana cinos pendek yang dipakai oleh Satria. "Tik, ngapain kamu?" kata Satria, menegur Atika sambil menahan bagian pinggang celana yang dipakainya. "Buka dikit, Bang. Tika cuman mau mastiin sesuatu, gak lama kok," kata Atika. Ia yang duduk berjongkok dengan kedua tangan memegangi celana Satria itu, mendongak dan menatap kakaknya dengan tatapan yang teramat serius. Semakin melotot mata Satria. Ia membalas tatapan adiknya dengan tatapan tajam seperti ingin membunuh.Menyadari tatapan Satria, Atika melepaskan kedua tangannya dan memajukan bibirnya. Ia beringsut dan sedikit menjauh dari kakaknya itu. "Buka dikit aja, Bang. Tika mau lihat!" kata Atika, meminta Satria
Di ruang makan rumahnya yang sederhana, di sanalah kini Satria dan adik-adiknya berada. Pagi itu mereka sarapan bersama. "Makan yang banyak biar belajarnya gak ngantuk!" Satria berbicara pada Danu dan Ayu, meminta kedua adiknya yang hendak ke sekolah itu sarapan yang banyak. Kepala Danu dan Ayu sama-sama mengangguk. Mereka tersenyum lebar dan memakan sarapan dengan lahap. "Kamu juga, Tik. Makan yang banyak," kata Satria. Beralih pada Atika yang duduk di sampingnya. "Jangan cuman nyuruh kami, tapi Abang gak makan!" balas Atika sambil menyodorkan piring berisi makanan pada Satria. Satria tersenyum kecil, tangannya menerima piring yang diberikan adiknya. Lalu memakan isinya dengan santai. "Oiya, minggu depan kayaknya ibu udah bisa dibawa pulang. Kata dokter, keadaannya udah jauh lebih baik. Dia udah bisa ngomong dan tangannya udah bisa gerak!" kata Satria pada ketiga adiknya. Mendengar perkataan Satria, ketiga adiknya itu meletakkan sendok yang ada di tangan masing-masing. Mereka
"Ka-ka-kalau pu-pu-punya masalah, ce-ce-cerita sama gue! Ja-ja-jangan di-di-dipendem sendiri!" Satria menghela napas kasar, lalu beringsut dari posisinya dan duduk bersila di samping Tono yang berbicara. Selanjutnya, pemuda mantan pria bayaran itu menghela napas sebelum akhirnya buka suara. "Gue udah gak kerja lagi," kata Satria. Berbicara sembari memandang wajah Tono dan tersenyum, senyuman yang sukses membuat pemuda gagap itu merinding sampai ke dontol-dontol. Melihat senyuman Satria, Tono bergidik dan sedikit beringsut dari dekat sahabatnya itu. Batinnya, kenapa ekspresi Satria seperti? Jangan-jangan frustasi karena dipecat."Lu di pe-pe-pecat?" tanya Tono yang menjaga jarak. Kepala Satria menggeleng pelan. "Yang gue pikirin sekarang bukan kerjaan, tapi Nyonya Rain," katanya dengan bada bicara yang terdengar lesu. "Kenapa ya? Hati gue kok rasanya sakit banget jauh dari dia?" lanjutnya. Mata belo Tono mendelik. Lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya tangannya bergerak m
"Bang Danu, itu motornya Bang Sat!"Ayu dan Danu yang baru saja pulang dari sekolah, menunjuk motor Satria yang terparkir di teras rumah. Mata bocah SD itu berbinar melihat motor kakak tertuanya. Ia yang rindu pada sosok Satria, berlari menuju teras, diikuti oleh Danu di belakangnya. "Jangan lari-lari, Yu. Nanti kamu jatoh!" tegur Danu yang mengikuti langkah tergesa adiknya. Namun, Ayu yang ditegur tak mendengarkan. Ia tetap berlari, tak sabar ingin menemui kakaknya yang sudah setengah bulan tak pulang dan tak dilihatnya. Tepatnya saat Satria mengalami pengeroyokan beberapa waktu lalu. "Haih...." Melihat tak sabarannya sang adik, Danu menghela napas pelan. Bocah yang kini beranjak remaja itu, tak pernah di dengarkan perkataannya oleh Ayu. "Bang Sat, A—" "Syut! Jangan berisik, Dek, Bang Sat lagi istirahat!" Tiba di ambang pintu, Ayu yang meneriaki Satria, dipinta diam oleh Atika yang sedang menyapu. Gadis remaja itu menegur adik bungsunya yang berteriak-teriak. "Ayu kangen sa
"Ngomong sama siapa kamu? Dan, siapa yang curiga?" Degh! Terkejut Melati mendengar suara Andrean yang berasal dari belakangnya. Wanita berperut buncit seperti kecebong anyut itu berbalik, menatap Andrean yang melipat kedua tangan di dada dan berdiri di ambang pintu dengan ekspresi wajahnya yang datar. Wajah Melati seketika memucat, tubuhnya menegang. Bahkan ponsel yang ada di dalam genggaman tangannya nyaris terlepas dan jatuh. "Ma-ma-mas Andre...." sebut Melati tergagap. Wajahnya yang pucat terlihat gugup. Melihat keberadaan Andrean, matanya mendelik lebar seperti ikan asin jemur. "Sejak kapan Mas berdiri di sana?" lanjut Melati dengan ekspresinya yang benar-benar menunjukkan keterkejutan. Bahkan, saat ini jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, seperti mau mencelos dari tempatnya berada. "Teleponan sama siapa kamu? Siapa yang curiga dan apa yang dicurigai?" Ditanya, Andrean bukannya menjawab. Tetapi justru balik bertanya sembari mendekat dengan langkahnya yang pelan dan s
Di balkon kamar, Melati terlihat sedang mengobrol serius dengan seseorang melalui sambungan telepon video. Kening wanita yang tengah hamil tua itu berkerut, sedangkan tangannya bergerak mengusap-usap perut buncitnya. "Duit apa lagi, Mas? Yang kukirim kemaren masa udah habis?" "[Udah abis aku pakai buat bayar tagihan air, listrik dan bayar cicilan mobil, Mel. Sisa berapa ratus ribu, aku pakai belanja tadi pagi!]" Mendengar perkataan suaminya yang berada di seberang panggilan, Melati menghela napas panjang. Kepalanya tiba-tiba pusing dan terasa berdenyut-denyut. Pusing memikirkan Jhony yang begitu boros, bahkan seminggu bisa dua kali meminta uang. Sedangkan dirinya mendapatkan uang dari menipu Andrean dan Bu Sela dengan berbagai macam cara. "[Pokoknya kirimin duit, 500 ribu aja, buat pegangan minggu ini!]" kata Jhony memaksa. Melati kembali menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. "Duh, Mas... kalau kamu minta duit terus gini, nanti Andrean dan nenek sihir i







