Share

41. PPPN

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-04-16 16:03:00

Rain yang duduk berdua dengan sahabatnya, tampak begitu asik mengobrol. Bahkan, sesekali terdengar suara gelak tawa milik Tasya.

"Jangan-jangan kamu beneran kepincut sama tuh bocah!" Tasya yang duduk di samping Rain, tak henti-hentinya menggoda sahabatnya itu.

Digoda oleh Tasya, Rain menggigit bibir dan tersenyum malu. Bahkan, wajah dan telinganya kini memerah seperti tomat matang yang hampir busuk.

Jujur, ia memang benar-benar tertarik pada Satria yang selama beberapa hari terakhir selalu men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   70. PPPN

    "Tolong tunggu sebentar lagi, Bang. Bini gue pasti datang dan lunasin semua hutang-hutangnya!"Jhony yang bersimpuh di lantai, meminta ampun pada Rentenir yang duduk santai di sofa rumahnya. Tubuhnya gemetar parah, takut nyawanya dilenyapkan karena tak dapat membayar hutang. Melati yang berdiri di ambang pintu, mengepalkan tangan dengan erat setelah mendengar perkataan Jhony. Wajahnya semakin memerah, menunjukkan jika marah dan kesal pada pria itu. "Berapa semua hutangnya?" tanya Melati sembari melangkah mendekat. Mendengar suara Melati, Jhony yang bersimpuh di lantai itu menoleh. Ia tersenyum dan segera beranjak dari posisinya. "Sayang, akhirnya kamu datang. Lihat, mereka mukulin aku!" adu Jhony pada Melati. Rentenir dan anak buahnya tertawa dengan keras, merasa lucu melihat Jhony merengek pada seorang wanita hamil untuk membelanya. "Kamu bawa uang kan, Sayang?" tanya Jhony. "Kalau hutangnya gak dibayar, mereka bakalan matahin kaki kiri dan tanganku!" tambahnya ketakutan. Mela

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   69. PPPN

    Melati yang sedang memoles make up tipis di depan cermin, beranjak dari duduknya lantaran mendengar suara dering ponselnya yang diletakkan di pinggiran tempat tidur. Diambilnya benda pipih itu dan dilihat siapa yang menelepon. Di sana tertera kontak yang diberi nama 'J'. Lalu, ia menggeser tombol hijau yang ada di sana dan mengangkatnya. "Halo, Sa—" "[....]"Belum sempat Melati menyelesaikan kalimatnya, orang yang berada di seberang panggilan sudah lebih dulu berbicara padanya. Mendengar suara bernada panik lawan bicaranya, memerah wajah Melati. Bahkan sepasang matanya melotot lebar seperti biji jengkol. "Dipukulin orang gimana? Kamu ngapain sampe di kejar dan dipukulin orang?" tanya Melati dengan wajahnya yang semakin memerah. Ekspresi kaget dan panik tergambar jelas di wajah wanita hamil itu."[....]" "Astaga... kok keterlaluan banget sih?" kata Melati, kali ini nada bicaranya agak sedikit meninggi. Wanita yang kini tengah mengandung 6 bulan itu menghela napas dengan kasar.

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   68. PPPN

    Di sebuah kursi, tepatnya di depan meja rias, Rain yang duduk tak hentinya tersenyum. Sepasang matanya menatap pada Satria yang sedang membantunya menyisir rambut melalui cermin di hadapannya. "Kamu kok telaten banget sih? Udah kayak cowok slay yang kerja di salon!" Merasakan bagaimana telatennya Satria menyisir dan merapikan rambutnya, Rain pun bertanya pada kekasih berondong itu. "Adekku ada tiga, dan dua dari mereka itu cewek. Ngurus mereka sekolah udah jadi makanan sehari-hariku, Sayang. Jangankan nyisir dan nata rambut kayak gini, jahit baju aja aku bisa!" aku Satria sembari tersenyum kecil. Mendengarnya, Rain termangu. Ternyata pemuda yang telah membuatnya merasakan jatuh cinta untuk yang ke dua kali adalah pria yang serba bisa. Sebagai seorang pria, Satria dapat dikatakan nyaris sempurna, ganteng, penyayang, pekerja keras, dan juga bertanggung jawab..Seandainya pemuda itu berasal dari keluarga kaya, pasti banyak gadis yang berlomba-lomba ingin mendapatkannya."Ternyata ka

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   67. PPPN

    "Udah deh diem! Intinya jadi ngewong atau enggak?" Satria yang merajuk, langsung menutup mulutnya menggunakan kedua telapak tangan dan mengangguk dengan cepat.Melihat respon yang diberikan Satria, Rain yang merasa dikerjai itu pun mencebikkan bibirnya. "Ayo kita lanjutin sebelum burungnya lemes dan tidur lagi!" kata Satria seraya tersenyum mesum. Di hadapan Rain, berondong sok kalem itu beranjak dan segera menanggalkan celana jeans serta kaos oblong yang dipakainya. Begitu celana jeans dan segitiga pengaman bermereknya di lepaskan, tampaklah batangan miliknya yang berdiri tegak seperti keadilan. Gluk! Melihat milik Satria yang berdiri tegak di depan matanya, Rain meneguk ludah dengan kasar. Ia yang duduk dengan tubuh polos tanpa sehelai benang, merangkak mendekati Satria yang berdiri di hadapannya.Wanita itu mendongak, sedangkan tangannya menyentuh dan menggenggam batangan milik Satria."Sstt, ah, Sayang...." Begitu jemari halus Rain menyentuh tongkat keperkasaannya, Satria m

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   66. PPPN

    Tuk, tuk, tuk! Siska yang berbaring di kamarnya dan menikmati masa-masa menjadi penganggurannya, menghela napas saat mendengar ketukan pintu kontrakannya yang tiada henti. Tuk, tuk! "Sebentar!" sahut Siska dari dalam kamar. Dengan kesal, wanita mantan karyawan butik Rain itu beranjak dari posisinya dan melangkah keluar, menuju pintu dan melihat siapa yang datang. "Siapa sih? Beri—" Siska yang membuka pintu, spontan menjeda kalimatnya saat melihat sosok pria yang berdiri di depannya dengan ekspresi wajah yang datar. Cepat-cepat wanita itu mendorong pintu kontrakannya dan hendak menutupnya kembali. Melihat pria yang datang, wajahnya seketika memucat, kaget seperti melihat hantu. "Kamu, ngapain kamu ke sini?" jerit Siska dengan panik, terlebih lagi pria itu menahan pintu kontrakan tersebut menggunakan sebelah kaki dan tangannya. Brak! Sekali dorong, pintu kontrakan itu pun terbuka dan dengan santainya si pria melangkah masuk."Kenapa? Saya gak boleh ke sini?" Andrean yang mend

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   65. PPPN

    "Dari pada kamu mikirin nyari kerja, lebih baik kamu siap-siap, bulan depan aku mau kamu balik kuliah!" Degh! Melotot lebar mata Satria. Kaget mendengar kalimat Rain yang menginginkannya untuk kembali berkuliah. "Ku-ku-kuliah?" tanya Satria. Suaranya pelan dan tergagap, sedangkan sepasang matanya yang melotot masih saja menatap wajah datar Rain. Kepala Rain mengangguk. "Hmm... aku mau kamu lanjutin kuliah kamu!" katanya sembari menatap Satria tanpa berkedip. Satria yang duduk di pinggiran tempat tidur itu, mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Pikirnya, kenapa Rain memintanya untuk kembali berkualiah? "Kenapa? Kenapa kamu mau aku balik kuliah?" Satria kembali bertanya, kali ini nada bicaranya lebih tenang dan santai tidak tergagap seperti sebelumnya. Di hadapan Satria, Rain menghela napas panjang. Lalu beringsut, berpindah dan duduk bersandar pada kepala ranjang. Selanjutnya, "Cuman dengan pendidikan tinggi kamu bisa dapat kerjaan yang bagus, bisa bener-bener layak buat aku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status