Share

41. PPPN

Penulis: Callme_Tata
last update Tanggal publikasi: 2026-04-16 16:03:00

Rain yang duduk berdua dengan sahabatnya, tampak begitu asik mengobrol. Bahkan, sesekali terdengar suara gelak tawa milik Tasya.

"Jangan-jangan kamu beneran kepincut sama tuh bocah!" Tasya yang duduk di samping Rain, tak henti-hentinya menggoda sahabatnya itu.

Digoda oleh Tasya, Rain menggigit bibir dan tersenyum malu. Bahkan, wajah dan telinganya kini memerah seperti tomat matang yang hampir busuk.

Jujur, ia memang benar-benar tertarik pada Satria yang selama beberapa hari terakhir selalu men
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   203. PPPN

    Andrean yang tak sengaja melihat Rain mendatangi rumah sakit di pagi hari tersebut, memutuskan untuk membuntuti lantaran merasa penasaran.Pria itu ingin tahu, siapa orang yang dikunjungi oleh mantan istrinya di pagi buta tersebut."Rain, ngapain lagi dia ke sini? Kemarin pulang malam dan sekarang pagi-pagi banget udah datang lagi ke rumah sakit ini," gumam Andrean yang begitu penasaran.Saking penasarannya, Andrean mengikuti langkah Rain sampai ke depan ruangan VVIP.Melihat Rain berhenti di depan ruangan tersebut dan berbincang-bincang dengan Tuan Arya dan orang tua angkatnya, kening pria itu berkerut."Bukannya orang itu Arya Mandala, pemimpin Mandala Prima Grup. Kenapa bisa deket sama Rain?" kata Andrean yang bersembunyi.Rasa penasaran pria itu semakin meletup-letup. Ia menjadi kepo dengan segala urusan mantan istrinya.Penyesalan karena bercerai dari Rain kini semakin besar dan membuatnya bersikeras ingin memiliki wanita itu lagi."Ada hubungan apa Rain sama Tuan Arya Mandala da

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   202. PPPN

    Pagi-pagi sekali, Rain yang sudah membersihkan diri dan berpakaian rapi, melangkah menuju kamar Tasya. Ia membangunkan sahabat sekaligus saudaranya yang terlelap di balik selimut tebal."Sya, bangun. Anterin aku ke rumah sakit," kata Rain. Tangannya bergerak menarik selimut yang menutupi tubuh Tasya yang agak bulat seperti bola sepak yang agak kempes.Tasya yang benar-benar masih terlelap, menggeliat kecil tanpa membuka matanya sedikit pun. Bahkan, tubuh gadis tua itu semakin meringkuk di atas tempat tidur."Sya, buruan bangun! Atau aku pergi sendiri, biar kamu dimarahin Ayah dan Bunda!"Berulang kali membangunkan Tasya, tetapi wanita itu tak juga membuka mata, hingga Rain menjadi kesal dibuatnya.Di pinggiran tempat tidur tersebut, Rain menghela napas kasar. Lalu kembali menutupi tubuh Tasya yang tidur dengan posisi meringkuk.Setelah itu, ia pun memesan taksi online dan minta diantarkan ke rumah sakit. Menunggu Tasya bangun, yang ada tengah hari baru berangkat."Emang bener-bener si

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   201. PPPN

    "Rain, ngapain malem-malem di sini? Kamu sakit?!"Rain dan Tasya yang berjalan pelan menyusuri lorong rumah sakit, seketika menghentikan langkah mereka dan menatap ke arah sumber suara.Melihat wajah orang yang menyapa dan bertanya padanya, Rain menghela napas pelan dan membuang muka, tak mau melihat orang itu lebih lama.Sedangkan Tasya, seketika mencebikkan bibirnya. Menunjukkan jika ia tak suka dan sangat malas melihat wajah menyebalkan orang tersebut.Andrean yang baru keluar dari ruangan rawat ibunya, tersenyum kecil saat melihat wajah Rain yang dirindukannya beberapa minggu terakhir."Rain, kamu sakit?"Tak dipedulikan oleh Rain dan Tasya, Andrean kembali bertanya sembari melangkah mendekati mantan istrinya tersebut.Namun, baru saja mendekat, Tasya sudah lebih dulu menghalangi. Wanita bertubuh agak pendek itu menarik tubuh Rain, tak membiarkan Andrean mengganggunya."Rain lagi gak enak badan, jadi gak usah deket-deket," kata Tasya dengan mode julid on.Sepasang mata gadis tua i

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   200. PPPN

    "Akhirnya... aku dapet donor darah buat Satria!"Suara heboh Tasya yang katanya menemukan pendonor untuk Satria membuat Pak Anjas, Bu Karina, Rain, dan Bu Yohana langsung menatap ke arahnya.Mereka semua menatap serempak, hingga Tasya yang menyadari jika saat ini berada di rumah sakit langsung menutup mulutnya dan menyengir kuda."Hee, maaf. Aku dapet donor darah buat Satria ini," kata Tasya sambil menunjuk layar ponselnya yang menyala."Kamu serius, Sya? Gak lagi bercanda, kan?" tanya Rain memastikan. Matanya yang memerah dan sembab menatap serius wajah sahabatnya.Ditanya, Tasya yang memang sedang serius dan tidak bercanda itu pun menganggukkan kepalanya dengan cepat."Hmm, aku serius. Ini ada dua bersaudara yang punya golongan darah O negatif dan bersedia donor. Tapi ada syaratnya, mereka minta bayarin semua biaya rumah sakit ibu mereka yang menderita gagal ginjal dan dirawat di Rumah Sakit Sido Mulyo!""Setujui, cepat setujui. Bukan cuma biaya rumah sakit yang akan kulunasi, ibuny

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   199. PPPN

    Tuan Seno yang berada di atas ranjang dengan tubuh nyaris polos, menyunggingkan sudut bibirnya saat melihat sang istri keluar dari kamar mandi. Tubuh polosnya yang sedikit bulat, dibalut dengan handuk singkat terlihat begitu menggoda dan menggairahkan."Udah bener-bener selesai datang bulannya?" tanya Tuan Seno, sepasang matanya menatap lekukan tubuh istrinya tanpa berkedip.Sudah seminggu tidak melakukan hubungan intim dan menikmati kemontokan istrinya. Kini pria paruh baya itu sudah tidak tahan ingin memuaskan hasratnya dan juga menyenangkan sang istri yang memang selalu tergila-gila dengan keperkasaannya.Diana, istri dari Tuan Seno yang posesif dan pencemburu, mengangguk sembari melangkah pelan mendekati sang suami yang duduk bersandar di kepala ranjang.Di pinggiran ranjang, wanita paruh baya yang masih cukup cantik dengan tubuh montok itu melepaskan handuk yang melilit tubuh polosnya. Lalu melemparkan handuk tersebut secara asal ke lantai.Selanjutnya, dengan tubuh telanjang bul

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   198. PPPN

    "Pasien kehilangan banyak darah, saat ini sedang melakukan transfusi. Tapi, ada kendala yang ingin kami sampaikan, golongan darah pasien O negatif. Dan stok darah dengan golongan O negatif hanya ada dua kantong di rumah sakit ini. Kami sudah menghubungi rumah sakit lain dan juga pusat, tapi belum juga mendapatkan darah dengan golongan tersebut." Degh! Melotot lebar sepasang mata Bu Yohana. Tubuhnya melemas dan kembali terduduk di kursi tunggu IGD tersebut. Golongan darah O negatif, bukankah golongan tersebut golongan darah langka? Batin wanita paruh baya itu. "Golongan darah saya O negatif, Suster. Ambil darah saya sebanyak yang dibutuhkan!" kata Tuan Arya, menyodorkan pergelangan tangannya ke hadapan perawat yang berdiri di depan pintu IGD. Perawat tersebut memandang wajah tegang dan cemas Tuan Arya dengan kening berkerut. Lalu ia pun menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyum. "Baiklah, kita lakukan pemeriksaan sekarang. Jika tidak ada masalah, bisa langsung dilakukan trans

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   145. PPPN

    "Wi, punya siapa itu?" Degh! Jantung Dewi berdetak brutal, kaget setengah mati mendengar perkataan Riko dan melihat kemana arah tunjuk pria yang selama ini memeliharanya itu. Tubuh telanjangnya yang becek karena keringat, kini menjadi tegang. Apa yang harus ia jadikan alasan? "Kok ada dasi cowo

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   144. PPPN

    "Malam ini aku pergi ke luar kota. Jadi— sebelum berangkat aku mau kamu muasin aku dulu!" Riko berbicara sembari mendorong Dewi agar memasuki apartemen tersebut. Tak lupa ia menutup pintunya agar tidak ada seorang pun yang menganggu. Dewi yang tubuhnya di dorong, hanya bisa pasrah dan diam tanpa

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   140. PPPN

    "Sayang, buruan dong pindah ke bawah, udah gatel banget minta ditusuk!" Rain yang sudah menggatal tingkat Ms Brew itu, meminta Satria untuk segera berpindah ke bagian bawahnya dan meninggalkan kedua bukit kembarnya yang sejak tadi sudah dimainkan dan juga sudah terdapat beberapa stempel kepemilika

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   139. PPPN

    Slurp! Rain melahap senjata tumpul milik Satria hingga nyaris masuk dan terbenam seluruhnya di dalam mulutnya. Matanya melotot lantaran batangan tersebut memenuhi rongga mulutnya. "Ssttt, ahhh...." Satria mengangkat kepalanya dan mendongak. Ia mendesis dan mendesah panjang, menikmati kuluman han

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status