Share

65. PPPN

Penulis: Callme_Tata
last update Tanggal publikasi: 2026-04-29 15:48:35

"Dari pada kamu mikirin nyari kerja, lebih baik kamu siap-siap, bulan depan aku mau kamu balik kuliah!"

Degh!

Melotot lebar mata Satria. Kaget mendengar kalimat Rain yang menginginkannya untuk kembali berkuliah.

"Ku-ku-kuliah?" tanya Satria. Suaranya pelan dan tergagap, sedangkan sepasang matanya yang melotot masih saja menatap wajah datar Rain.

Kepala Rain mengangguk. "Hmm... aku mau kamu lanjutin kuliah kamu!" katanya sembari menatap Satria tanpa berkedip.

Satria yang duduk di pinggiran
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   66. PPPN

    Tuk, tuk, tuk! Siska yang berbaring di kamarnya dan menikmati masa-masa menjadi penganggurannya, menghela napas saat mendengar ketukan pintu kontrakannya yang tiada henti. Tuk, tuk! "Sebentar!" sahut Siska dari dalam kamar. Dengan kesal, wanita mantan karyawan butik Rain itu beranjak dari posisinya dan melangkah keluar, menuju pintu dan melihat siapa yang datang. "Siapa sih? Beri—" Siska yang membuka pintu, spontan menjeda kalimatnya saat melihat sosok pria yang berdiri di depannya dengan ekspresi wajah yang datar. Cepat-cepat wanita itu mendorong pintu kontrakannya dan hendak menutupnya kembali. Melihat pria yang datang, wajahnya seketika memucat, kaget seperti melihat hantu. "Kamu, ngapain kamu ke sini?" jerit Siska dengan panik, terlebih lagi pria itu menahan pintu kontrakan tersebut menggunakan sebelah kaki dan tangannya. Brak! Sekali dorong, pintu kontrakan itu pun terbuka dan dengan santainya si pria melangkah masuk."Kenapa? Saya gak boleh ke sini?" Andrean yang mend

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   65. PPPN

    "Dari pada kamu mikirin nyari kerja, lebih baik kamu siap-siap, bulan depan aku mau kamu balik kuliah!" Degh! Melotot lebar mata Satria. Kaget mendengar kalimat Rain yang menginginkannya untuk kembali berkuliah. "Ku-ku-kuliah?" tanya Satria. Suaranya pelan dan tergagap, sedangkan sepasang matanya yang melotot masih saja menatap wajah datar Rain. Kepala Rain mengangguk. "Hmm... aku mau kamu lanjutin kuliah kamu!" katanya sembari menatap Satria tanpa berkedip. Satria yang duduk di pinggiran tempat tidur itu, mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Pikirnya, kenapa Rain memintanya untuk kembali berkualiah? "Kenapa? Kenapa kamu mau aku balik kuliah?" Satria kembali bertanya, kali ini nada bicaranya lebih tenang dan santai tidak tergagap seperti sebelumnya. Di hadapan Satria, Rain menghela napas panjang. Lalu beringsut, berpindah dan duduk bersandar pada kepala ranjang. Selanjutnya, "Cuman dengan pendidikan tinggi kamu bisa dapat kerjaan yang bagus, bisa bener-bener layak buat aku

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   64. PPPN

    Setelah makan siang bersama di restoran, Rain dan Satria pun kembali ke apartemen. Di sepanjang perjalanan, keduanya tak hentinya mengobrol. Bahkan obrolan mereka kali ini terlihat begitu serius. "Aku tuh gak butuh kamu kerja, Sat. Aku cuman butuh kamu selalu ada, nemenin dan support aku!" Rain yang duduk di kursi samping kemudi itu berbicara pada Satria yang sebelumnya membahas pekerjaan. Mendengar perkataan Rain yang tak mengizinkannya bekerja, Satria menghela napas panjang. Sebagai seorang pria, tidak mungkin ia bergantung pada Rain selamanya. Apalagi, ada ibu dan ketiga adiknya yang menjadi tanggungjawabnya sebagai tulang punggung keluarga. "Aku cowok, gak mungkin bergantung sama kamu selamanya. Ada ibu, Atika, Danu dan Ayu yang harus aku penuhi kebutuhannya. Kalau aku gak kerja, gimana sama mereka?" kata Satria. Menimpali perkataan Rain dengan suaranya yang soft tetapi bernada tegas dan jelas. Kepala Rain menggeleng pelan. Lalu ia membuang muka dan menatap kelu

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   63. PPPN

    Seminggu kemudian, Satria yang keadaannya sudah hampir pulih, menjenguk ibunya di rumah sakit. Kali ini, ia datang ke rumah sakit bersama Rain yang beberapa waktu lalu tak jadi ikut dengannya menjenguk bu Yohana."Ibu kamu udah lama di rawat di rumah sakit ini?" Rain yang berjalan di samping Satria, bertanya dengan nada bicaranya yang santai tetapi bernada serius. Wanita itu bertanya sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah sakit yang ia lalui. Satria yang menenteng keranjang buah dan pakaian baru untuk ibunya itu menganggukkan kepalanya. "Hampir tiga bulan kayaknya," jawab Satria seraya mengulas senyum. Pasangan ilegal berbeda usia itu terus mengobrol di sepanjang koridor rumah sakit. Hingga langkah mereka berhenti di depan ruangan rawat inap, di mana Bu Yohana yang mengalami stroke di rawat. "Yuk, masuk. Ibu ada di dalam," kata Satria. Mengajak Rain memasuki ruangan rawat ibunya. Rain tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu, mengikuti langkah Satria mema

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   62. PPPN

    Setelah melihat beberapa panggilan tak terjawab dan juga membaca pesan yang dikirimkan Satria, Rain pun segera menyambar tasnya dan bersiap untuk pergi. Dengan langkah tergesa, wanita itu menuruni anak tangga dan turun ke lantai dasar butik. "Ada apa, Mbak? Kok kelihatan buru-buru banget? Ada masalah?" Melihat Rain turun dari lantai atas dengan begitu terburu-buru, Mira melayangkan pertanyaan pada bosnya itu. "Saya lupa ngabarin Satria kalau lagi di butik, sekarang dia pasti lagi cemas nungguin saya!" kata Rain. Menimpali perkataan Mira sembari melangkah keluar dari butik. Namun, saat tiba di pintu butik, langkahnya terhenti. Sedangkan sepasang matanya menatap pada Satria yang turun dari sebuah taxi. "Satria...." Disebut namanya oleh Rain, Satria yang sedang dalam masa pemulihan pasca penganiayaan yang dialaminya, tak menjawab panggilan wanita itu. Dengan langkah yang sedikit tertatih dan sebelah tangan memegangi perutnya, pemuda itu menghampiri Rain yang terdiam di ambang pin

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   61. PPPN

    Andrean yang saat ini duduk di kursi kerjanya, berulang kali menghembuskan napas dengan kasar, sedangkan sepasang matanya memerah. Ancaman dan perkataan Rain satu jam yang lalu, membuat perasaannya gelisah dan tenang. Bahkan, kepalanya dibuat berdenyut-denyut.Bagaimana ia bisa tenang? Sebelumnya Rain mengatakan, jika ia harus berhati-hati pada Melati jangan sampai membesarkan anak yang bukan darah dagingnya. Satu jam yang lalu.... "Kalau aku gak keluar dari tempat ini dan gak pulang, Satria pasti bakal langsung lapor ke polisi dan bawa semua salinan bukti yang ada di dalam hp ini!"Mendelik lebar mata Andrean. Tak menyangka jika Rain telah menyiapkan semuanya sebelum memutuskan untuk menemuinya di tempat itu. "Kamu—" "Gimana, Mas Andrean? Masih tetap gak mau cerai dari aku?" tanya Rain. Memotong kalimat yang hendak diucapkan Andrean dengan cepat. Di hadapan Andrean, Rain berbicara pelan dan santai, bahkan bibirnya masih saja tersenyum sinis meremehkan. Perkataan yang dilontark

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   12. PPPN

    Setelah rentenir dan anak buahnya pergi, Satria mengajak ketiga adiknya memasuki rumah dan merapikan kembali barang-barang yang sebelumnya diacak-acak. Bukan hanya Satria dan ketiga adiknya yang memasuki rumah dan beberes, tetapi juga Tono selaku salah satu teman terdekat Satria. "He-he-hebat ba-

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   9. PPPN

    "Apa sih maunya? Telepon malem-malem kayak gini, sok penting banget!" Rain yang merasa kegiatannya terganggu, mendorong tubuh Satria dan segera meraih ponselnya. Tanpa mengangkat panggilan tersebut, Rain mematikan perangkat ponselnya dan kembali meletakkan ponsel itu ke tempatnya semula.Setelah

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   8. PPPN

    "Cepet angkat kaki dan bokongnya, Nyonya. Jangan sampai terlambat, nanti usaha saya jadi sia-sia!" Melihat kepanikan Satria, Rain menjadi ikut panik. Dengan cepat, ia yang merasa lemas itu mengangkat kedua kaki dan juga bokongnya. Namun, baru saja kaki dan bokongnya terangkat, tubuh tegang Satria

  • Pemuda Perkasa Pilihan Nyonya   7. PPPN

    "Argh, Satria... kenapa kamu semprotin di muka saya?" Plak! Rain memekik keras saat cairan milik Satria menyembur ke wajah cantiknya yang putih mulus tanpa noda. Bahkan, ia sampai memukul paha Satria dengan sedikit keras sembari bergerak mundur dari posisinya. Sedangkan Satria yang baru sa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status