LOGINSetelah makan siang bersama di restoran, Rain dan Satria pun kembali ke apartemen. Di sepanjang perjalanan, keduanya tak hentinya mengobrol. Bahkan obrolan mereka kali ini terlihat begitu serius. "Aku tuh gak butuh kamu kerja, Sat. Aku cuman butuh kamu selalu ada, nemenin dan support aku!" Rain yang duduk di kursi samping kemudi itu berbicara pada Satria yang sebelumnya membahas pekerjaan. Mendengar perkataan Rain yang tak mengizinkannya bekerja, Satria menghela napas panjang. Sebagai seorang pria, tidak mungkin ia bergantung pada Rain selamanya. Apalagi, ada ibu dan ketiga adiknya yang menjadi tanggungjawabnya sebagai tulang punggung keluarga. "Aku cowok, gak mungkin bergantung sama kamu selamanya. Ada ibu, Atika, Danu dan Ayu yang harus aku penuhi kebutuhannya. Kalau aku gak kerja, gimana sama mereka?" kata Satria. Menimpali perkataan Rain dengan suaranya yang soft tetapi bernada tegas dan jelas. Kepala Rain menggeleng pelan. Lalu ia membuang muka dan menatap kelu
Seminggu kemudian, Satria yang keadaannya sudah hampir pulih, menjenguk ibunya di rumah sakit. Kali ini, ia datang ke rumah sakit bersama Rain yang beberapa waktu lalu tak jadi ikut dengannya menjenguk bu Yohana."Ibu kamu udah lama di rawat di rumah sakit ini?" Rain yang berjalan di samping Satria, bertanya dengan nada bicaranya yang santai tetapi bernada serius. Wanita itu bertanya sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah sakit yang ia lalui. Satria yang menenteng keranjang buah dan pakaian baru untuk ibunya itu menganggukkan kepalanya. "Hampir tiga bulan kayaknya," jawab Satria seraya mengulas senyum. Pasangan ilegal berbeda usia itu terus mengobrol di sepanjang koridor rumah sakit. Hingga langkah mereka berhenti di depan ruangan rawat inap, di mana Bu Yohana yang mengalami stroke di rawat. "Yuk, masuk. Ibu ada di dalam," kata Satria. Mengajak Rain memasuki ruangan rawat ibunya. Rain tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu, mengikuti langkah Satria mema
Setelah melihat beberapa panggilan tak terjawab dan juga membaca pesan yang dikirimkan Satria, Rain pun segera menyambar tasnya dan bersiap untuk pergi. Dengan langkah tergesa, wanita itu menuruni anak tangga dan turun ke lantai dasar butik. "Ada apa, Mbak? Kok kelihatan buru-buru banget? Ada masalah?" Melihat Rain turun dari lantai atas dengan begitu terburu-buru, Mira melayangkan pertanyaan pada bosnya itu. "Saya lupa ngabarin Satria kalau lagi di butik, sekarang dia pasti lagi cemas nungguin saya!" kata Rain. Menimpali perkataan Mira sembari melangkah keluar dari butik. Namun, saat tiba di pintu butik, langkahnya terhenti. Sedangkan sepasang matanya menatap pada Satria yang turun dari sebuah taxi. "Satria...." Disebut namanya oleh Rain, Satria yang sedang dalam masa pemulihan pasca penganiayaan yang dialaminya, tak menjawab panggilan wanita itu. Dengan langkah yang sedikit tertatih dan sebelah tangan memegangi perutnya, pemuda itu menghampiri Rain yang terdiam di ambang pin
Andrean yang saat ini duduk di kursi kerjanya, berulang kali menghembuskan napas dengan kasar, sedangkan sepasang matanya memerah. Ancaman dan perkataan Rain satu jam yang lalu, membuat perasaannya gelisah dan tenang. Bahkan, kepalanya dibuat berdenyut-denyut.Bagaimana ia bisa tenang? Sebelumnya Rain mengatakan, jika ia harus berhati-hati pada Melati jangan sampai membesarkan anak yang bukan darah dagingnya. Satu jam yang lalu.... "Kalau aku gak keluar dari tempat ini dan gak pulang, Satria pasti bakal langsung lapor ke polisi dan bawa semua salinan bukti yang ada di dalam hp ini!"Mendelik lebar mata Andrean. Tak menyangka jika Rain telah menyiapkan semuanya sebelum memutuskan untuk menemuinya di tempat itu. "Kamu—" "Gimana, Mas Andrean? Masih tetap gak mau cerai dari aku?" tanya Rain. Memotong kalimat yang hendak diucapkan Andrean dengan cepat. Di hadapan Andrean, Rain berbicara pelan dan santai, bahkan bibirnya masih saja tersenyum sinis meremehkan. Perkataan yang dilontark
"Aku mau cerai damai dan pisah dari kamu!"Degh! Terkejut Andrean mendengarnya. Spontan, ia yang baru saja duduk di samping Rain, mengangkat kembali bokongnya seraya menatap sang istri yang memasang ekspresi datar. "Apa maksud kamu, Rain?" tanya Andrean seiring pudar senyuman di bibirnya. Keningnya berkerut dalam membuat kedua alisnya yang tebal bertautan. "Haih...." Rain menghela napas sembari menepuk kedua pahanya sendiri dan beranjak dari duduknya. Wanita itu melangkah santai menuju meja kerja Andrean dan meraih bingkai foto yang ada di sudut meja itu. Bibirnya tersenyum tipis kala melihat foto mesranya dan Andrean. Rupanya, selain foto pernikahan mereka yang tertempel kokoh di dinding ruangan tersebut, suami brengseknya sama sekali tidak menyingkirkan foto yang ada di meja kerjanya. Sepertinya, pria brengsek itu masih mempertahankan citranya sebagai suami yang baik, penyayang dan sangat mencintai pasangan. "Aku mau cerai," kata Rain. Menjawab pertanyaan Andrean sembari memb
Sejak kejadian Rain dan Satria terpergok Tono sedang melakukan adegan panas romantis, keadaan berubah menjadi canggung. Malam itu, keadaan di ruangan VVIP tempat Satria dirawat begitu hening. Satria yang berbaring di atas ranjang pasiennya dengan posisi miring, tampak masih terjaga tetapi tanpa suara. Begitu pula dengan Rain yang berbaring di sofa tunggal sudut ruangan. Keduanya diam-diaman, rasanya benar-benar canggung setelah Rain mengatakan pada Tono, jika ia dan Satria menjalin hubungan tanpa status. "Gimana ini? Apa aku harus tanya tentang hubungan kami sekarang? Tapi— gimana kalau ternyata dia cuman ngomong asal-asalan ke Tono?" batin Satria dengan kedua jemarinya saling meremas satu sama lain di balik selimut yang menutup tubuhnya. Pemuda itu gusar dan tidak dapat tidur karena perkataan Rain sebelumnya. Pikirnya, benarkah Rain menantikan kepastian darinya? Niatnya ingin bertanya, tetapi ia takut Rain hanya berbicara asal lantaran ingin membuat Tono berhenti bertanya-tanya
Setelah rentenir dan anak buahnya pergi, Satria mengajak ketiga adiknya memasuki rumah dan merapikan kembali barang-barang yang sebelumnya diacak-acak. Bukan hanya Satria dan ketiga adiknya yang memasuki rumah dan beberes, tetapi juga Tono selaku salah satu teman terdekat Satria. "He-he-hebat ba-
"Apa sih maunya? Telepon malem-malem kayak gini, sok penting banget!" Rain yang merasa kegiatannya terganggu, mendorong tubuh Satria dan segera meraih ponselnya. Tanpa mengangkat panggilan tersebut, Rain mematikan perangkat ponselnya dan kembali meletakkan ponsel itu ke tempatnya semula.Setelah
"Cepet angkat kaki dan bokongnya, Nyonya. Jangan sampai terlambat, nanti usaha saya jadi sia-sia!" Melihat kepanikan Satria, Rain menjadi ikut panik. Dengan cepat, ia yang merasa lemas itu mengangkat kedua kaki dan juga bokongnya. Namun, baru saja kaki dan bokongnya terangkat, tubuh tegang Satria
"Argh, Satria... kenapa kamu semprotin di muka saya?" Plak! Rain memekik keras saat cairan milik Satria menyembur ke wajah cantiknya yang putih mulus tanpa noda. Bahkan, ia sampai memukul paha Satria dengan sedikit keras sembari bergerak mundur dari posisinya. Sedangkan Satria yang baru sa







