LOGIN"Bang Danu, itu motornya Bang Sat!"Ayu dan Danu yang baru saja pulang dari sekolah, menunjuk motor Satria yang terparkir di teras rumah. Mata bocah SD itu berbinar melihat motor kakak tertuanya. Ia yang rindu pada sosok Satria, berlari menuju teras, diikuti oleh Danu di belakangnya. "Jangan lari-lari, Yu. Nanti kamu jatoh!" tegur Danu yang mengikuti langkah tergesa adiknya. Namun, Ayu yang ditegur tak mendengarkan. Ia tetap berlari, tak sabar ingin menemui kakaknya yang sudah setengah bulan tak pulang dan tak dilihatnya. Tepatnya saat Satria mengalami pengeroyokan beberapa waktu lalu. "Haih...." Melihat tak sabarannya sang adik, Danu menghela napas pelan. Bocah yang kini beranjak remaja itu, tak pernah di dengarkan perkataannya oleh Ayu. "Bang Sat, A—" "Syut! Jangan berisik, Dek, Bang Sat lagi istirahat!" Tiba di ambang pintu, Ayu yang meneriaki Satria, dipinta diam oleh Atika yang sedang menyapu. Gadis remaja itu menegur adik bungsunya yang berteriak-teriak. "Ayu kangen sa
"Ngomong sama siapa kamu? Dan, siapa yang curiga?" Degh! Terkejut Melati mendengar suara Andrean yang berasal dari belakangnya. Wanita berperut buncit seperti kecebong anyut itu berbalik, menatap Andrean yang melipat kedua tangan di dada dan berdiri di ambang pintu dengan ekspresi wajahnya yang datar. Wajah Melati seketika memucat, tubuhnya menegang. Bahkan ponsel yang ada di dalam genggaman tangannya nyaris terlepas dan jatuh. "Ma-ma-mas Andre...." sebut Melati tergagap. Wajahnya yang pucat terlihat gugup. Melihat keberadaan Andrean, matanya mendelik lebar seperti ikan asin jemur. "Sejak kapan Mas berdiri di sana?" lanjut Melati dengan ekspresinya yang benar-benar menunjukkan keterkejutan. Bahkan, saat ini jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, seperti mau mencelos dari tempatnya berada. "Teleponan sama siapa kamu? Siapa yang curiga dan apa yang dicurigai?" Ditanya, Andrean bukannya menjawab. Tetapi justru balik bertanya sembari mendekat dengan langkahnya yang pelan dan s
Di balkon kamar, Melati terlihat sedang mengobrol serius dengan seseorang melalui sambungan telepon video. Kening wanita yang tengah hamil tua itu berkerut, sedangkan tangannya bergerak mengusap-usap perut buncitnya. "Duit apa lagi, Mas? Yang kukirim kemaren masa udah habis?" "[Udah abis aku pakai buat bayar tagihan air, listrik dan bayar cicilan mobil, Mel. Sisa berapa ratus ribu, aku pakai belanja tadi pagi!]" Mendengar perkataan suaminya yang berada di seberang panggilan, Melati menghela napas panjang. Kepalanya tiba-tiba pusing dan terasa berdenyut-denyut. Pusing memikirkan Jhony yang begitu boros, bahkan seminggu bisa dua kali meminta uang. Sedangkan dirinya mendapatkan uang dari menipu Andrean dan Bu Sela dengan berbagai macam cara. "[Pokoknya kirimin duit, 500 ribu aja, buat pegangan minggu ini!]" kata Jhony memaksa. Melati kembali menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. "Duh, Mas... kalau kamu minta duit terus gini, nanti Andrean dan nenek sihir i
"Kalau aku tinggal seminggu lagi di sini gimana? Boleh gak?" Satria yang berbaring dengan posisi memunggungi Rain, bertanya dengan suaranya yang pelan tetapi terdengar cukup jelas di telinga. Mendengar perkataan Satria, Rain menggigit bibir sembari memejamkan mata. Sedangkan tangannya yang berada di balik selimut, saling meremas satu sama lain dengan erat. "Jangan salah paham, aku minta waktu seminggu karena pengen mastiin kalau keadaan kamu bener-bener sehat. Setelah kamu sehat dan kandungannya gak kenapa-kenapa, aku bakalan keluar dari apartemen ini!" kata Satria yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Rain. Pemuda itu tak ingin Rain beranggapan jika dirinya ingin tinggal di apartemen itu dan menjadi parasit seumur hidup. Rain yang memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia kembali menggigit bibir sebelum akhirnya menanggapi perkataan berondong peliharaannya itu. "Kamu bebas mau tinggal di sini sampai kapan. Lagi pula, setelah aku pulang ke rumah
Di bawah satu atap yang sama dan juga satu ranjang berdua, Rain dan Satria saling diam-diaman. Keduanya masih sama-sama terjaga, namun tak ada obrolan yang keluar dari bibir mereka meskipun hanya sepatah kata, apalagi bercanda dan melakukan hubungan seks seperti sebelum-sebelumnya.Di atas ranjang yang biasa dijadikan tempat bergumul dan memuaskan hasrat birahi, kini anak manusia berbeda itu berbaring dengan posisi saling memunggungi. Keadaan hening, hanya deru napas pelan mereka yang beradu di dalam kamar itu. Rain yang berbaring di sisi kanan, memeluk erat selimut yang menutup kaki hingga ke perutnya. Wanita yang kini tengah hamil muda itu menggigit bibir, memikirkan perkataan Satria satu jam yang lalu. Satu jam yang lalu.... "Oiya, sekarang kamu udah hamil. Jadi gimana sama kontrak kerja sama kita?" Degh! Ditanya soal kontrak kerja sama, Rain sedikit tersentak. Sepasang matanya menatap Satria yang berbicara. Sesaat, wanita hamil itu diam, memandangi wajah tampan Satria yan
"Aaa... selamat ya, Sayangku, akhirnya kamu hamil juga!"Tasya yang datang ke apartemen Rain setelah mendengar kabar kehamilan sahabatnya itu, memberikan selamat seraya memeluknya erat. Dipeluk oleh sahabatnya, Rain tersenyum kecil. Saat ini ia benar-benar merasa bahagia, bahkan tangannya tak henti mengusap perutnya yang rata."Sekarang udah positif hamil nih, jadi kapan mau ikut aku pulang ke rumah utama? Aku juga kan pengen jagain kamu dan calon keponakanku!" kata Tasya dengan nada bicaranya yang terdengar santai, sedangkan bibirnya masih saja tersenyum kecil. Mendengar perkataan Tasya yang duduk di lantai bersama Rain, Satria yang duduk di sofa itu pun beranjak dan melangkah pergi menuju dapur. Tak mau menjadi pendengar obrolan penting antara Tasya dan Rain. "Sayang, mau kemana?" tanya Rain pada Satria yang melangkah pergi. Wanita hamil itu menatap punggung Satria yang menjauh dari pandangan matanya. "Ke dapur!" sahut Satria tanpa menoleh dan menatap pada Rain yang bertanya.







