FAZER LOGIN"Mandala, Mandala anakku... Mandala sayangnya Mama!" Dipeluk dan disebut namanya dengan nama 'Mandala' terkejut Satria dibuatnya. Tubuhnya membeku dan terasa kaku, bahkan darahnya seolah berhenti mengalir. Ada rasa aneh yang menjalar di hati pemuda mantan gigolo itu. Panggilan dan pelukan wanita asing itu terasa hangat, bahkan ia tak kuasa menolak. "Mandala anaknya Mama," kata wanita asing itu lagi. Satria menggigit bibir. Perlahan tangannya bergerak, melerai pelukan si wanita. Namun, pelukan wanita itu begitu erat dan seolah terkunci di lehernya. "Maaf, Bu, saya Satria bukan Mandala. Saya bukan anaknya Ibu," ucap Satria. Suaranya pelan dan menenangkan seperti saat ini berbicara pada ibunya. Wanita asing itu menggeleng tanpa melepaskan pelukan tangannya dari leher Satria, seolah takut ditinggalkan dan kehilangan. "Mandala gak boleh nakal, gak boleh ninggalin Mama lagi," kata wanita itu dengan suaranya yang pelan dan penuh harap. Mendengar kalimat bernada pelan itu, Satria meme
Sore itu, Andrean keluar dari ruangan dokter dengan langkahnya yang gontai dan wajah memerah. Di tangannya terdapat amplop putih berlogo rumah sakit berisi hasil pemeriksaan kesehatannya. Beberapa saat kemudian, Andrean menghentikan langkahnya di lorong rumah sakit yang cukup sepi. Pria itu menyandarkan punggungnya ke tembok. Dengan tangan gemetar ia membuka amplop tersebut dan kembali melihat isinya. Hasil pemeriksaan menunjukkan, jika kesehatannya yang terganggu, ia yang selama ini mengalami kemandulan bukan Rain, wanita yang telah mendampinginya dan mencintainya sepenuh hati. "Ternyata akulah yang mandul bukan kamu, Rain. Kenapa, kenapa kamu gak ngasih tahu aku? Kenapa kamu sembunyiin semua ini dari aku?" tanya Andrean di tengah-tengah keheningan, mengharapkan jawaban atas semua pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Andrean mendongak, menatap langit-langit koridor rumah sakit itu sebelum akhirnya menyapu wajahnya dengan kasar menggunakan kedua telapak tangan. Mengetahui semua
"Andrean...." Melihat mobil Andrean mengiringi mobil polisi, yang melaju di tengah-tengah padatnya jalanan di siang hari itu, kening Rain otomatis berkerut tajam. Sepasang telinga menangkap kalimat-kalimat orang yang ada disekitarnya. "Kasian banget ditipu sama perempuan gila!" "Iya, kirain beneran hamil anaknya ternyata hamil anak cowok lain. Mana udah cerai lagi sama istri sahnya!" Rain menautkan kedua alisnya yang tipis, mencerna setiap kalimat yang di dengarnya. Penasaran, wanita yang kini tengah hamil muda itu memutuskan bertanya pada salah satu wanita yang berdiri di sampingnya."Maaf, Kak, saya mau numpang tanya, orang itu kenapa ya? Kok kayaknya heboh banget?" tanya Rain sambil menunjuk mobil Andrean yang sudah bergerak menjauh mengikuti mobil patroli yang membawa Melati dan Jhony. Ditanya, wanita yang berada di samping Rain itu menghela napas panjang. "Itu, pemilik PT. DM Grup, habis ngegrebek istri mudanya ngamar siang-siang. Yang lebih parah ternyata istri mudanya itu
"Maaf, saya lupa ada urusan yang belum diselesain, permisi!"Tak ingin berdekatan lama-lama dengan wanita asing yang dapat membuatnya kehilangan akal sehat sebagai mantan pria pemuas, buru-buru Satria keluar dari toko buku tanpa mendapatkan apapun. Pemuda perkasa itu berlari menuju parkiran dan memakai helmnya. Lalu, segera menancap gas kendaraannya meninggalkan area kawasan toko buku tersebut. Melihat Satria pergi begitu saja tanpa mau meliriknya, Nabila mengepalkan tangannya dengan erat di sisi tubuh. Gadis tobrut itu merasa kesal dan jengkel, pasalnya ini adalah kali pertama ia ditolak dan diabaikan oleh seorang pria. "Sialan tuh cowok, bisa-bisanya dia nyuekin gue kayak gini," kata Nabila menghentakkan kakinya kesal ke lantai. Begitu melihat wajah tampan Satria yang memiliki daya tarik luar biasa, Nabila langsung menyukai pemuda itu bahkan begitu ingin memilikinya. "Gak bisa, gue harus dapetin dia apapun caranya!" Nabila menyunggingkan sudut bibirnya, bertekad untuk mendapatk
"Katakan sekarang, kenapa kamu pura-pura hamil anakku? Kenapa, kenapa kamu lakukan semua ini?!" Kalimat bernada geram yang keluar dari mulut Andrean sukses membuat Melati semakin ketakutan. Wajah pucat wanita hamil itu kini terlihat seperti mayat. Terlebih lagi, anak buah Andrean menghajar dan menginjak-injak Jhony di depan mata kepalanya sendiri. Perbuatan kejam itu membuatnya semakin gemetar ketakutan. "Katakan, atau kuhabisi kamu sekarang!" kata Andrean penuh penekanan, tangannya semakin kuat mencekik leher Melati. Takut dibunuh, Melati pun menganggukkan kepalanya dengan pelan. Melihat respon Melati, Andrean pun melepaskan cekikannya dan melempar wanita itu ke ujung tempat tidur dengan kasar, hingga membuatnya jatuh tersungkur. Bahkan kepalanya sampai membentur sudut ranjang yang keras. "Ouch... uhuk, uhuk!" Dilepaskan oleh Andrean yang ternyata begitu kejam, Melati memegangi lehernya yang terasa begitu sakit dan terbatuk-batuk. "Cepat katakan!" bentak Andrean pada Melati d
Siang itu, Satria yang baru selesai merapikan kamar ibunya yang sudah lama tidak di tempati, memutuskan untuk segera membersihkan diri. Rencananya setelah itu, ia akan pergi ke toko buku, mencari buku-buku sebagai bekal utamanya kembali berkuliah. Pemuda mantan gigolo itu keluar dari rumah pada pukul satu siang, mengendarai motor besar pemberian Rain beberapa waktu lalu menuju toko buku yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah sakit tempat ibunya di rawat. Rencananya, Satria akan mengunjungi ibunya nanti setelah ke toko. Tiba di toko buku, pemuda itu membuka helm full face yang melindungi kepalanya. Lalu ia turun dari motornya dan merapikan bagian depan kemeja hitam yang dipakainya. Celana jeans, baju kaos oblong yang dilapisi kemeja dengan kancing terbuka, serta rambutnya yang dipotong model undercut membuatnya terlihat begitu tampan. Dengan langkahnya yang santai, pemuda lajang itu memasuki toko buku dan berkeliling, mencari buku yang ia butuhkan untuk persiapan







