เข้าสู่ระบบ"Beratmu tak seberapa, Piccola," balas Don santai seraya melangkah menuju ranjang king-size di tengah ruangan.Pria itu menjatuhkan tubuh Selena ke atas kasur empuk, lalu menyusul menindihnya sebelum Selena sempat melarikan diri. Pegas kasur mencicit pelan saat Don mengepung tubuh istrinya dengan kedua lengan tegapnya."Pelan-pelan, Bos Mafia!" Selena menepuk dada tegap Don yang masih terbalut jas malam. "Nanti seprei sutra ini robek!""Biar kuganti dengan saham pelabuhan milik Julian besok pagi," sahut Don dengan senyum nakalnya yang menawan.Selena tertawa renyah, jemari lentiknya menyusup ke kerah kemeja Don, menarik dasi hitam pria itu hingga wajah mereka hanya berjarak satu inci."Kau ini pamer kekayaan atau pamer keputusasaan, Don Mackenzie?""Dua-duanya, kalau itu menyangkut dirimu." Don menunduk, mengunci bibir Selena dalam ciuman yang tidak memberi ampun.Ciuman itu tidak lembut, melainkan sarat akan tuntutan dan gairah muda yang meledak-ledak. Selena membalasnya dengan inten
"Baik, Don. Kami akan menuruti keinginganmu asal kami keluar hidup-hidup dari sini.""Aku tidak janji, cepat tanda-tangani semua berkas yang ada."Dengan tangan bergetar hebat dan wajah pasrah total, ketiga Tetua itu bergantian meraih pena emas tersebut. Satu per satu stempel dan tanda tangan dibubuhkan di atas berkas pengalihan saham.Marco, yang berdiri di dekat pintu, melangkah maju mengambil dokumen yang telah ditandatangani, lalu mengangguk kaku pada Don dan Selena."Seluruh hak operasional Pelabuhan Barat resmi berpindah atas nama Nyonya Selena Mackenzie, Tuan.""Bagus. Sekarang usir para orang tua ini dari mansionku sebelum mereka mengotori karpet," perintah Don datar.Setelah ketiga Tetua kocar-kacir keluar ruangan dikejar pengawal, Don langsung memutarkan tubuh Selena, menarik wanitanya rapat ke dalam dekapannya. Pria itu menunduk, menempelkan dahi mereka seraya mengembuskan napas lega yang hangat. Aroma vanila-lavender memenuhi rongga hidungnya."Langkah yang sangat tajam, N
Selena meraih gelas yang sudah diteguk sebagian isinya dari tangan Eleanora yang lemas, lalu meletakkannya kembali ke atas nampan perak pelayan di samping mereka. Dia menepuk-nepuk bahu gaun hitam Eleanora seraya tersenyum semanis gula."Terima kasih atas drama pembukanya, Ibu Mertuaku," bisik Selena di telinga Eleanora dengan nada sarkas yang tajam."Sialan kau, Gadis Kasir ...""Makilah sepuasmu, tapi kursi Nyonya Besar di mimbar itu sudah ada pemiliknya. Dan kalau Nyonya masih mau punya sisa martabat malam ini, mending Nyonya cari toilet terdekat sebelum obat pencahar itu bereaksi."Eleanora mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya menancap di telapak tangan. Tanpa sepatah kata pun, wanita itu memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan ballroom dengan langkah terburu-buru, diikuti Julian dan para Tetua yang pucat pasi.Selena berbalik menghadapi ratusan tamu undangan yang masih terpana. Dia mengangkat gelas kristalnya tinggi-tinggi, anggun tanpa rasa takut sedikit pun.
Eleanora melirik Clarissa yang berdiri di belakangnya. Clarissa memberikan anggukan kecil, sinyal bahwa "racun" telah dituangkan ke dalam gelas Don dan Selena.Don mengangkat gelasnya tinggi-tinggi di hadapan ratusan tamu undangan."Untuk masa depan klan Mackenzie dan Nyonya Besar pilihan kita semua!""Untuk klan Mackenzie!" seru para tamu serentak.Eleanora menyunggingkan senyum iblisnya seraya mengangkat gelasnya, bersiap meneguk cairan anggurnya, menantikan detik-detik Don dan Selena ambruk memuntahkan darah. Namun, tepat sebelum bibir Don menyentuh gelas kristal itu, Selena mengetukkan sendok peraknya ke gelas, menciptakan suara tring yang nyaring memotong suasana penuh bahagia itu."Tunggu sebentar," ujar Selena dengan suara jernih yang memantul di seluruh dinding ballroom.Para tamu yang sudah bersiap untuh meneguk anggur mahal itu, menahan gelas mereka, menunggu dengan wajah penasaran."Sebelum kita minum, bukankah ada tradisi kuno klan yang menyatakan bahwa keluarga kandung ha
"Don ... lipstick dan lip gloss-ku," bisik Selena parau, napasnya memburu di leher Don. "Para periasku butuh dua jam untuk meriasku ...""Aku bisa membelikanmu pabrik pelembab bibir yang baru besok pagi," desis Don miring di depan bibir Selena. Jemarinya sudah mulai menggerak kasar, hendak mencari celah di balik lipatan gaun rahasia Selena."Kita punya waktu sepuluh menit sebelum ke aula utama. Cukup untuk membuatmu relax, kan?"Selena tertawa kecil, matanya sayu terpikat oleh gairah Don."Kau gila, Don Mackenzie. Kita bisa seperti ini setelah ...""Nyonya Besar?! Nyonya Selena?!"Tiba-tiba, suara jeritan histeris dari kepala penjahit menggelegar dari balik pintu kamar rias, disertai gedoran pintu yang heboh!"Nyonya Besar! Acara pengukuhan sudah hampir dimulai! Kami belum selesai memasang korset dan gaun Nyonya!"Sentakan suara itu memecahkan gairah di antara mereka. Selena mendorong dada Don pelan seraya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Don yang seketika berubah kaku dan kesa
"Maaf," ujar Selena yang ikut terluka melihat kesedihan di mata Don."Kau tidak salah apa-apa, Selena. Tak perlu meminta maaf." Don memeluk istrinya sambil membelai rambutnya dengan mesra."Besok acara besarmu, tidurlah.""Bukan acara besarku, tapi acara kita berdua, Don.""Iya, tapi kau adalah ratu dalam hatiku dan klan ini.""Terima kasih, Don. Dan kamu adalah raja di hatiku," balas Selena dengan senyum lebar, dia menggenggam tangan Don dan mengajaknya untuk kembali ke kamar.***Suasana di kamar rias utama Mansion Mackenzie riuh rendah. Empat perias profesional dan dua asisten busana sibuk mondar-mandir merapikan kain sutra, memoles riasan, serta menata mahkota berlian mikro di atas kepala Selena."Huuuaaamm, aku ngantuk," bisik Selena menguap lebar. Saat kepala dan rambutnya dihias, membuatnya hampir tertidur.Selena duduk di depan cermin besar berukir emas. Gaun pengantin sutra hitam rancangan khusus Don membalut tubuhnya dengan sempurna, elegan, tegas, sekaligus memancarkan kean







