Share

104. Gurih

Author: MyMelody
last update publish date: 2026-10-11 07:30:28

"Rasanya? Hmm ... enak sekali," gumam Selena seraya memejamkan mata menikmati rasa gurih yang sempurna.

"Baguslah kalau kau suka."

"Don, ternyata supnya jadi jauh lebih nikmat kalau ada drama Pengawal Posesif di awalnya."

"Jangan mulai, Selena," tegur Don, meski jemarinya dengan telaten menyeka setitik kaldu yang menggaris tipis di sudut bibir Selena menggunakan ibu jarinya. "Kau hampir saja menenggak minyak racun dari teh tadi."

"Tapi aku tidak menenggaknya, kan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penawar Sang Boss Mafia   104. Gurih

    "Rasanya? Hmm ... enak sekali," gumam Selena seraya memejamkan mata menikmati rasa gurih yang sempurna."Baguslah kalau kau suka.""Don, ternyata supnya jadi jauh lebih nikmat kalau ada drama Pengawal Posesif di awalnya.""Jangan mulai, Selena," tegur Don, meski jemarinya dengan telaten menyeka setitik kaldu yang menggaris tipis di sudut bibir Selena menggunakan ibu jarinya. "Kau hampir saja menenggak minyak racun dari teh tadi.""Tapi aku tidak menenggaknya, kan?" potong Selena cepat, matanya mengunci tatapan Don yang masih dipenuhi sisa-sisa kepanikan tersembunyi. Selena meraih pergelangan tangan Don yang kokoh, mengusap kulit hangat suaminya dengan penuh kelembutan. "Aku punya kau yang selalu sigap pasang badan. Jadi buat apa aku takut?"Sentuhan halus Selena seketika melelehkan ketegangan di bahu tegap Don. Pria itu menatap istrinya dalam-dalam, merintahkan rasa hangat yang meluap di dalam dadanya."Kau ini," bisik Don parau, menyendokka

  • Penawar Sang Boss Mafia   Bab 103. Sup Daging

    Tak sampai tiga puluh menit, pintu suite kembali diketok pelan. Dua pelayan koki berbusana putih bersih masuk membawakan nampan perak berisi mangkuk porselen berukir emas."Masuk!" perintah anak buah Don yang bertugas di depan pintu. Kepulan uap sup daging sapi hangat beraroma rempah segar dan kaldu kental seketika merebak, mengikis sisa-sisa bau tegang pasca-diseretnya Valerie dari sana. Marco sendiri belum terlihat batang hidung."Terima kasih, ditaruh di meja saja," ujar Selena lembut.Begitu sup itu diletakkan di depannya, Selena yang sudah tidak sabar dari tadi langsung mengulurkan tangan mengambil sendok perak di samping mangkuk.Namun, sebelum jemari Selena menyentuh gagang sendok, sebuah tangan kekar bergerak secepat kilat menyambar alat makan tersebut.Don menarik nampan perak itu mendekati dirinya, menatap mangkuk sup yang masih mengepul dengan pandangan tajam bagaikan sedang memeriksa bom aktif.Selena menaikkan sebelah alisnya, melipat kedua lengan di bawah dada. "Don? It

  • Penawar Sang Boss Mafia   102. Pingsan

    Wajah Valerie sedikit membeku. "Oh, itu, emm, itu khusus untuk ibu hamil, Selena. Aku tidak perlu minum karena aku kan tidak hamil.""Apoteker Swiss pasti cuma memakai bahan herbal alami, kan?" pangkas Selena datar seraya menatap Valerie tanpa berkedip."Tentu saja!""Makanya, tidak mungkin ada bahan berbahaya di dalam ramuan murni untuk penerus klan.""Selena, masa kau tak percaya padaku. Aku pasti akan memberikan yang terbaik untuk penerus klan Mackenzie. Semua bahannya ada di kertas petunjuk.""Really? Memang ada di kertas petunjuk. Tapi aku yakin pasti ada campuran lain yang lupa kau sebutkan."Don yang menangkap perubahan nada suara Selena seketika berdiri. Insting kewaspadaan dalam tubuhnya langsung meyala. Don melangkah mendekat dan berdiri tepat di samping Selena, menatap Valerie bagaikan iblis yang siap mencabut nyawa."Ke-kenapa kau bicara begitu, Selena?" cicit Valerie, langkah kakinya refleks mundur satu langkah saat melihat tatapan Don. "Aku berniat baik!""Kalau berniat

  • Penawar Sang Boss Mafia   101. Teh Herbal

    "Aku baik-baik saja, Don!"Selena menarik napas panjang. Wajahnya yang cantik tidak bisa menyembunyikan kejenuhan yang sedang melandanya."Siapa yang bilang?" tanya Don masih tak terpengaruh dengan kekesalan Selena."Don, ini sudah dokter ketiga hari ini," gerutu Selena seraya menyilangkan tangan di dada, mengenakan gaun katun longgar yang amat nyaman."Jangan banyak protes, Piccola.""Aku cuma mual pagi hari, bukan kena infeksi virus mematikan."Suasana di balkon lantai atas penthouse Milan sore itu begitu hangat, Di hadapan Selena, tiga dokter spesialis kandungan dan lima pengawal bertubuh kekar berdiri kaku.Sementara Don duduk tenang di kursi santai seraya membolak-balik berkas medis Selena dengan kacamata bacanya."Dengar, Piccola. Bagi dunia luar kau cuma mual," sahut Don tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya."Ya, ya," balas Selena dengan bibir manyum."Tapi bagi musuh-musuhku, kau sedang membawa generasi penerus klan. Satu goresan kecil saja di kulitmu, aku bisa

  • Penawar Sang Boss Mafia   100. Ular Betina

    Pagi hari di Milan menyapa dengan udara sejuk. Saat Selena terbangun dari tidur lelapnya, sisi ranjang di sebelahnya sudah dingin dan kosong. Don tidak ada di kamar."Ke mana perginya si Don?" gumam Selena mengernyitkan dahi, menyapu pandangannya ke sekeliling suite. Karena tidak menemukan Don, Selena memutuskan untuk ke kamar mandi terlebih dahulu.Dengan tubuh yang masih lelah karena habis digempur Don sampai jam dua pagi, Selena menyeret langkah kakinya menuju kamar mandi.Tak lama kemudian, Selena kembali ke ruang utama kamar hotel itu. Ponselnya yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar menyala. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalSaat Selena membuka pesan tersebut, matanya membelalak. Foto-foto di layar memperlihatkan Don sedang berdiri sangat dekat dengan Valerie di sebuah butik perhiasan mewah.Dalam foto selfie yang diambil Valerie secara sembunyi-sembunyi dari sudut menyamping, wajah Valerie tersenyum sangat dekat dengan pipi Don. Sementara Don tampak fokus

  • Penawar Sang Boss Mafia   99. Keraguan Sesaat

    Suasana di penthouse suite lantai paling atas hotel mewah itu terasa hangat. Lampu temaram memancarkan nuansa romantis, sementara pemandangan gemerlap kota Milan membentang indah dari balik dinding kaca raksasa.Selena baru saja keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi sutra putih yang longgar. Rambut coklat tua yang masih agak basah terurai bebas di bahunya.Di ujung tempat tidur, Don duduk bertelanjang dada, jemarinya sibuk mengetik laporan di tablet kerjanya."Kau tidak mau mandi dulu, Honey?" tanya Selena sambil mengoleskan krim di kulitnya yang halus dan lembut.Mata Selena menatap punggung kokoh suaminya yang dipenuhi beberapa goresan samar, bukti malam-malam panas yang mereka lewati bersama."Aku masih selesaikan dulu laporang, tanggung kalau ditinggal."Selena menatap kuku-kukunya yang mulai panjang. Dia harus memotong kuku-kuku sebelum melukai kulit punggung Don lebih dalam lagi saat mereka bercinta."Sedang mikir apa?" tanya Don yang menyadari kalau Selena tiba-tiba sediki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status