LOGINPria itu mengenakan setelan hitam tanpa lambang klan apa pun, wajahnya tertutup topeng kain rapat. Di tangan kanannya, sebuah peredam senjata panjang teracung lurus ke arah dada Don.Namun, yang membuat Don mematungkan langkahnya bukan senjata itu, melainkan pria kedua yang melangkah masuk secara perlahan di belakang sang penyergap.Pria tua itu berjalan menggunakan tongkat perak berukir khusus. Rambut peraknya tertata rapi, dan matanya memancarkan kejamnya aura dingin yang teramat dikenal oleh Don sejak kecil."Luar biasa, Cucuku." Suara pria tua itu bergema rendah, penuh celaan yang menusuk."Kau menghancurkan keluarga Delaros hanya karena umpan murahan dari seorang gadis kasir?"Don menyipitkan mata, rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menegang hebat."Dante Mackenzie?"Pria tua itu menyunggingkan senyum sinis yang mampu mendinginkan udara di sekitar. Dante Mackenzie, paman kandung Don, yang seharusnya sudah diasingkan ke
'Pengumuman tentang kehamilan ini tidak boleh berhenti sampai di sini saja," titah Kakek Vargas.'Apa kita perlu membuat gala dinner?' tanya Don bersemangat.'Tepat sekali. Dengar! Minggu depan, aku menggelar Pesta Besar Pengukuhan Pewaris Utama di kediaman Tuscany. Seluruh petinggi klan, sekutu internasional, dan para musuh dalam selimut, termasuk Eleanora dan Julian, wajib hadir.''Kakek mau memancing mereka keluar?' tanya Don, matanya berkilat menangkap maksud sang kakek.'Aku mau menunjukkan ke seluruh Eropa siapa pemilik takhta Mackenzie yang sesungguhnya," sahut Kakek Vargas tanpa ragu sedikit pun.Selena tersenyum puas mendengar ucapan Kakek Vargas. Dia tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah 180 derajat hanya dalam sekejap mata.'Baik, Kakek.''Bagus! Bersiaplah. Pesta minggu depan bukan sekadar perayaan, tapi panggung pembantaian politik untuk siapa pun yang masih
Mangkuk porselen berukir emas yang tadinya berisi sup itu kini hampir bersih. Selena menyandarkan punggungnya di sudut sofa, menikmati kehangatan kaldu gurih yang perlahan mengusir sisa mual danpusing di kepalanya.Di sisinya, Don masih duduk memagari, satu tangannya mengelus pinggang Selena, sementara jemari satunya mengusap lembut punggung tangan wanitanya.Bzzzt ... Bzzzt ...Ponsel khusus milik Don yang biasa dipakai khusus untuk orang-orang terdekat bergetar hebat. Layar hitamnya menyala, menampilkan satu nama tanpa nomor yang seketika mengubah garis wajah Don menjadi kaku: Kakek Vargas."Angkat saja, Honey. Siapa tahu penting," gumam Selena yang sudah duduk dalam posisi enak, matanya sampai merem-melek. Perut kenyang, hati senang.Don menatap layar itu selama dua detik sebelum menggeser tombol hijau dan menempelkan gawai ke telinganya."Hello. Apa kabar, Kakek?"Suara di seberang sana tidak dibuka dengan sapaan hangat. Yang terdengar adalah desis napas tua yang berat, diiringi
"Rasanya? Hmm ... enak sekali," gumam Selena seraya memejamkan mata menikmati rasa gurih yang sempurna."Baguslah kalau kau suka.""Don, ternyata supnya jadi jauh lebih nikmat kalau ada drama Pengawal Posesif di awalnya.""Jangan mulai, Selena," tegur Don, meski jemarinya dengan telaten menyeka setitik kaldu yang menggaris tipis di sudut bibir Selena menggunakan ibu jarinya. "Kau hampir saja menenggak minyak racun dari teh tadi.""Tapi aku tidak menenggaknya, kan?" potong Selena cepat, matanya mengunci tatapan Don yang masih dipenuhi sisa-sisa kepanikan tersembunyi. Selena meraih pergelangan tangan Don yang kokoh, mengusap kulit hangat suaminya dengan penuh kelembutan. "Aku punya kau yang selalu sigap pasang badan. Jadi buat apa aku takut?"Sentuhan halus Selena seketika melelehkan ketegangan di bahu tegap Don. Pria itu menatap istrinya dalam-dalam, merintahkan rasa hangat yang meluap di dalam dadanya."Kau ini," bisik Don parau, menyendokka
Tak sampai tiga puluh menit, pintu suite kembali diketok pelan. Dua pelayan koki berbusana putih bersih masuk membawakan nampan perak berisi mangkuk porselen berukir emas."Masuk!" perintah anak buah Don yang bertugas di depan pintu. Kepulan uap sup daging sapi hangat beraroma rempah segar dan kaldu kental seketika merebak, mengikis sisa-sisa bau tegang pasca-diseretnya Valerie dari sana. Marco sendiri belum terlihat batang hidung."Terima kasih, ditaruh di meja saja," ujar Selena lembut.Begitu sup itu diletakkan di depannya, Selena yang sudah tidak sabar dari tadi langsung mengulurkan tangan mengambil sendok perak di samping mangkuk.Namun, sebelum jemari Selena menyentuh gagang sendok, sebuah tangan kekar bergerak secepat kilat menyambar alat makan tersebut.Don menarik nampan perak itu mendekati dirinya, menatap mangkuk sup yang masih mengepul dengan pandangan tajam bagaikan sedang memeriksa bom aktif.Selena menaikkan sebelah alisnya, melipat kedua lengan di bawah dada. "Don? It
Wajah Valerie sedikit membeku. "Oh, itu, emm, itu khusus untuk ibu hamil, Selena. Aku tidak perlu minum karena aku kan tidak hamil.""Apoteker Swiss pasti cuma memakai bahan herbal alami, kan?" pangkas Selena datar seraya menatap Valerie tanpa berkedip."Tentu saja!""Makanya, tidak mungkin ada bahan berbahaya di dalam ramuan murni untuk penerus klan.""Selena, masa kau tak percaya padaku. Aku pasti akan memberikan yang terbaik untuk penerus klan Mackenzie. Semua bahannya ada di kertas petunjuk.""Really? Memang ada di kertas petunjuk. Tapi aku yakin pasti ada campuran lain yang lupa kau sebutkan."Don yang menangkap perubahan nada suara Selena seketika berdiri. Insting kewaspadaan dalam tubuhnya langsung meyala. Don melangkah mendekat dan berdiri tepat di samping Selena, menatap Valerie bagaikan iblis yang siap mencabut nyawa."Ke-kenapa kau bicara begitu, Selena?" cicit Valerie, langkah kakinya refleks mundur satu langkah saat melihat tatapan Don. "Aku berniat baik!""Kalau berniat







