MasukDenny mendongak dengan binar lega yang menjijikkan di matanya. Tanpa membuang waktu, dia buru-buru mengulurkan selembar kertas lusuh dari sakunya.
"Pukul delapan malam ini, Selena. Ini alamat, jadwal pertemuan, dan nomor ruangan VIP-nya. Jangan terlambat. Nyawa kami ada di tanganmu."
Selena mengambil kertas itu tanpa memandang wajah ayahnya lagi. Dia berbalik, melangkah keluar rumah menuju takdir yang siap mengulitinya hidup-hidup.
Sepuluh menit sebelum pukul delapan malam, Selena tiba di tempat tujuan.
Grand Lumina Hotel tegak berdiri bak istana kaca yang menantang langit malam kota. Kilau lampu kristal dari lobi megahnya memantul di atas permukaan mobil-mobil mewah yang berderet di area valet.
Selena berdiri di selasar luar, meremas ujung gaun sifon putih polosnya yang dibeli dari pasar loak. Hanya itu yang sanggup ia beli demi terlihat pantas untuk malam ini. Di bawah siraman lampu hotel yang terlalu terang, Selena merasa seperti bercak kotor di atas kanvas yang sempurna.
"Aku harus ke mana sekarang?" bisik Selena kalut.
Kakinya yang terbalut sepatu flats usang dengan sol yang menipis gemetar hebat saat dia memaksakan diri melangkah melewati pintu berputar otomatis. Begitu masuk, wangi aroma terapi premium perpaduan white tea dan bergamot yang menenangkan langsung menyambutnya. Namun bagi Selena, wangi mewah buatan itu justru membuat dadanya makin sesak.
Air mata yang terus menggenang di pelupuk matanya membuat benda-benda di sekitarnya tampak kabur. Kegugupan membuat daya konsentrasinya berantakan.
"Meja nomor 09 ... Kamar VIP nomor 09 ..."
Mantra itu terus dirapalkannya dalam hati seperti zikir kematian. Kertas dari ayahnya sudah basah oleh keringat di genggamannya. Tak lama kemudian, ia memasuki restoran privat di lantai dua yang bernuansa temaram dan eksklusif. Setiap meja dipisahkan oleh sekat ukiran kayu mahoni yang anggun, memberikan privasi mutlak bagi para kaum kaya raya tujuh turunan bersantap di sana.
Pandangan Selena yang basah menangkap siluet angka di atas pintu ruang VIP. Pikirannya yang kalut membaca angka satin emas itu sebagai targetnya. Tanpa mengetuk, dengan jemari sedingin es, dia menyibak tirai beludru tebal dan melangkah masuk ke dalam ruangan privat tersebut.
Dia tidak menyadari, angka yang tertera di sana adalah bukan 09, tetapi 06 yang terbalik dalam pandangannya yang kabur. Dan tempat itu sama sekali bukan milik pria paruh baya yang menunggunya. Di dalam ruangan, atmosfer begitu pekat oleh aura intimidasi dan ketegangan yang nyaris meledak. Suhu AC yang diatur terlalu rendah membuat ruangan itu terasa seperti kamar mayat.
Don Mackenzie sedang duduk bersandar, kedua tangannya meremas kepalanya sendiri dengan kuat. Saraf-saraf di pelipisnya menegang, berdenyut menyakitkan akibat serangan migrain akut yang menyiksanya tanpa ampun.
Sejak Mamanya melarikan diri meninggalkan rumah saat Don masih kecil dulu, memilih hidup bersama pria yang lebih kaya dari Papanya. Don mengidap trauma psikologis yang meningkat menjadi migrain akut setiap kali tingkat stresnya menyentuh batas maksimal. Kegilaan emosional yang kerap menyerangnya kini diperparah oleh rasa murka.
Malam ini, kegilaan emosional yang kerap menyerangnya kini diperparah oleh Kakek Vargas, kepala Mafia keluarga Mackenzie yang terkenal otoriter dan berdarah dingin. Beliau baru saja mengirimkan ultimatum gila satu jam yang lalu melalui kurir resminya.
"Don, kamu harus menikahi Valerie Delaros. Jika kamu menolak, seluruh aset bisnis rahasia dan legal Mackenzie di kawasan Asia Tenggara akan dialihkan ke tangan sepupumu."
"Sial! Kenapa harus dengan Valerie?" dengus Don sambil meraup wajanya kasar. Wanita sosialita manja itu adalah pilihan keluarga untuk meneruskan garis keturunan murni Mackenzie. Don ingin menolak, tapi mengingat aset yang bisa jatuh ke tangan sepupunya yang licik, Don terpaksa mengikuti perintah sang kakek.
Dia membenci kepalsuan sosialita seperti Valerie. Dan sialnya lagi, Valerie belum juga memunculkan batang hidungnya meski jam malam sudah lewat. Ruangan dingin itu kosong, menyisakan Don yang kian terpuruk dalam siksaan rasa sakit yang membuat pandangannya memerah. Rasa sakit ini membuatnya ingin menghancurkan apa saja, atau membunuh siapa saja yang berani bersuara di dekatnya.
Sret ...
Suara tirai disibak memecah keheningan. Don mengira itu adalah Valerie yang datang terlambat dengan langkah angkuhnya. Dia sudah bersiap melontarkan kata-kata paling dingin untuk mengusir wanita itu. Namun, bukan aroma parfum mahal yang pekat yang masuk. Melainkan sebuah gelombang wangi yang langsung menerobos indra penciumannya yang sedang sensitif.
Wangi vanila yang sangat lembut, berpadu dengan kehangatan alami dari lavender yang menenangkan. Itu adalah ramuan parfum khas milik Selena, identitas tak tergantikan yang selalu diraciknya sendiri dari alam.
Ditambah lagi dengan kepanikan hebat yang mencengkeram Selena membuat detak jantungnya berpacu liar dan lonjakan adrenalinnya memuncak. Reaksi itu seketika memicu kelenjar kulitnya memproduksi hormon feromon alami dalam jumlah tinggi, menghasilkan keharuman vanila-lavender yang memancar dari tubuhnya.
Begitu aroma itu menguar di dalam ruangan privat, denyut menyakitkan di kepala Don mendadak mereda. Seperti sebuah penawar tunggal yang ajaib, kegilaan emosional dan badai migrain yang menyiksanya seolah diredam seketika oleh ketenangan alami dari wangi tersebut. Don perlahan menurunkan tangannya dari kepala, mata yang tajam perlahan terbuka.
Di depannya, sesosok gadis yang tampak sangat rapuh berdiri dengan gaun putih yang teramat sederhana. Pundaknya terguncang hebat, dia sedang menangis terisak. Selena tidak berani mendongak. Ketakutan bahwa dia sedang berhadapan dengan monster tua kasino membuatnya langsung menjatuhkan diri berlutut di atas karpet tebal, tepat di hadapan pria itu. Dia menundukkan kepala sedalam-dalamnya hingga dahinya hampir menyentuh ujung sepatu kulit mengilat milik sang pria.
"Tolong selamatkan Mamaku," bisik Selena, suaranya parau, pecah oleh kepedihan yang dalam. Air matanya menetes, sementara keharuman vanila-lavender dari tubuhnya kian pekat memenuhi udara di sekitar Don.
"Aku bersedia melakukan apa saja. Menjadi apa saja sesuai perjanjian Anda dengan Papaku. Tolong bayar rumah sakit Mamaku malam ini, Tuan ..."
Don Mackenzie membeku. Efek menenangkan dari aroma gadis ini membuatnya merasa waras kembali untuk pertama kalinya dalam beberapa jam terakhir. Kebutuhan posesif mendadak membakar dadanya. Gadis ini bukan Valerie, tapi dia memegang penawar untuk kerapuhannya.
'Siapa gadis ini?
Don mencondongkan tubuhnya yang tegap ke depan, memangkas jarak hingga bayangannya mengurung tubuh Selena. Dia mengulurkan tangannya yang besar, jemarinya yang hangat dan kuat mencengkeram dagu Selena, memaksa gadis itu untuk mendongak menatapnya.
Ketika pandangan mereka bertemu, napas Selena tercekat di tenggorokan. Pria di hadapannya bukan seorang bandot paruh baya berwajah mesum, melainkan pria muda dengan paras keturunan asing yang begitu rupawan sekaligus mematikan. Aura dominasi yang memancar dari tubuhnya membuat Selena merasa tercekik.
"Perjanjian dengan Papamu?" suara Don berat, bariton yang bergema rendah. Matanya berkilat berbahaya, terpaku pada wajah polos yang memberikan keharuman yang telah menyelamatkannya dari kegilaan malam ini.
Kakek Vargas menatap Don tajam selama beberapa detik. Hening merayapi ruang makan utama, membuat para pelayan yang berdiri di sudut ruangan menahan napas kaku dan tegang.Suasana tegang mengendap, seolah satu kata salah dari Don bisa memicu ledakan amarah sang Patriarch.Tiba-tiba, tawa renyah dan bersahabat meledak dari dada Kakek Vargas. Pria tua itu tertawa terbahak-bahak sambil memukul lantai marmer dengan ujung tongkat kayunya keras-keras."Hahaha! Luar biasa! Bagus sekali, Don!" seru Kakek Vargas dengan mata berbinar bangga, sama sekali tidak tersinggung."Aku kira Kakek bakal marah," gumam Don nyaris tak terdengar karena suara Kakek Vargas yang menggelegar."Pria Mackenzie yang sejati tidak boleh percaya bahkan pada bayangannya sendiri jika itu menyangkut nyawa anak dan istrinya!"Don tidak mengendurkan garis rahangnya yang tegas, tetapi ketegangan di bahunya sedikit mencair. "Aku cuma tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun, Kakek. Terutama setelah apa yang terjadi di Milan
"Kau terlambat dua puluh menit, Don," sambut Kakek Vargas dengan suara baritonnya yang bergema di aula batu."Penerbangan sedikit terlambat karena Paman Dante, Kakek," sahut Don datar seraya menuntun Selena mendekati sang Patriarch.Kakek Vargas mengabaikan Don, matanya langsung tertuju pada Selena. Pandangan tuanya melunak seketika saat menatap wanita muda itu."Bagaimana keadaannya, Selena? Anak di dalam perutmu tidak terganggu oleh suara helikopter bising ini, kan?"Selena menyunggingkan senyum anggun, membungkuk hormat."Cicit Kakek sangat tangguh seperti Papanya dan Kakeknya. Dia bahkan tertidur lelap sepanjang penerbangan."Tawa renyah Kakek Vargas meledak, memukul lantai batu dengan tongkatnya. "Luar biasa! Darah sejati Mackenzie memang tidak pernah takut pada letusan senjata!"Pria tua itu kemudian menoleh ke arah Marco yang baru saja menyeret Dante yang terikat rantai besi tebal ke tengah aula. Wajah Dante sudah bonyok dan berdarah-darah, tidak ada lagi sisa keangkuhan dari p
Deru mesin helikopter milik Don membelah kegelapan malam di atas langit Italia. Di dalam kabin yang luas dan terisolasi dari bising luar, lampu temaram berwarna keemasan menyinari interior kemewahan berbalut kulit.Don duduk di sofa kulit kabin, menarik Selena ke dalam pangkuannya. Pria itu menyelimuti tubuh Selena dengan mantel bulu tebal, melingkarkan kedua tangannya di perut rata istrinya yang terbalut gaun santai."Kau baik-baik saja, Piccola?""Hmm," jawab Selana sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Don, jemarinya sibuk mengetik instruksi di atas tablet pintar yang terhubung langsung dengan satelit komunikasi klan."Minum air hangatmu," gumam Don dengan suara beratnya di telinga Selena, menyodorkan gelas termos kecil ke bibir istrinya.Selena tidak memalingkan mata dari layar tablet, tapi menurut dan menyesap air hangat itu pelan."Jalur penerbangan kita aman, Don. Helikopter pengawal membendung rute udara dari arah pelabuhan.""Matikan tablet itu, Selena," pangkas Don da
Titik-titik merah sinar laser dari luar jendela jatuh tepat di dahi Dante dan para pengawalnya. Suara gemuruh baling-baling helikopter tempur yang menderu memecah keheningan malam Milan, membuat kaca-kaca tebal penthouse bergetar hebat."Apa maksud kau, Don?" sentaknya sambil menatap Don yang sedang tersenyum miring seperti biasa saat tahu kelemahan musuh."Aku cuma ingin menyambut kau, Paman," ucapnya santai.Dante mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya bergerak liar menatap titik laser di dadanya. Pria tua itu mencoba menyembunyikan getaran di lututnya, menyunggingkan senyum sengit."Ini pasti kerjaanmu kan! Kau gertak aku, Gadis Kasir?" desis Dante yang kini menuduh Selena dengan suara paraunya yang berisik . Tangan kanannya perlahan menyusup ke balik saku jas mewahnya."Jangan susah-sudah cari senjatamu, Paman. Oh ya, memangnya kenapa kalau aku yang lakukan semua ini?" tantang Selena yang membuat darah Dante semakin mendidih."Kau pikir helikopter di luar itu bisa menghentikan pe
Pria itu mengenakan setelan hitam tanpa lambang klan apa pun, wajahnya tertutup topeng kain rapat. Di tangan kanannya, sebuah peredam senjata panjang teracung lurus ke arah dada Don.Namun, yang membuat Don mematungkan langkahnya bukan senjata itu, melainkan pria kedua yang melangkah masuk secara perlahan di belakang sang penyergap.Pria tua itu berjalan menggunakan tongkat perak berukir khusus. Rambut peraknya tertata rapi, dan matanya memancarkan kejamnya aura dingin yang teramat dikenal oleh Don sejak kecil."Luar biasa, Cucuku." Suara pria tua itu bergema rendah, penuh celaan yang menusuk."Kau menghancurkan keluarga Delaros hanya karena umpan murahan dari seorang gadis kasir?"Don menyipitkan mata, rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menegang hebat."Dante Mackenzie?"Pria tua itu menyunggingkan senyum sinis yang mampu mendinginkan udara di sekitar. Dante Mackenzie, paman kandung Don, yang seharusnya sudah diasingkan ke
'Pengumuman tentang kehamilan ini tidak boleh berhenti sampai di sini saja," titah Kakek Vargas.'Apa kita perlu membuat gala dinner?' tanya Don bersemangat.'Tepat sekali. Dengar! Minggu depan, aku menggelar Pesta Besar Pengukuhan Pewaris Utama di kediaman Tuscany. Seluruh petinggi klan, sekutu internasional, dan para musuh dalam selimut, termasuk Eleanora dan Julian, wajib hadir.''Kakek mau memancing mereka keluar?' tanya Don, matanya berkilat menangkap maksud sang kakek.'Aku mau menunjukkan ke seluruh Eropa siapa pemilik takhta Mackenzie yang sesungguhnya," sahut Kakek Vargas tanpa ragu sedikit pun.Selena tersenyum puas mendengar ucapan Kakek Vargas. Dia tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah 180 derajat hanya dalam sekejap mata.'Baik, Kakek.''Bagus! Bersiaplah. Pesta minggu depan bukan sekadar perayaan, tapi panggung pembantaian politik untuk siapa pun yang masih







