LOGIN"Aku tidak tahu siapa Papamu, Nona." Don berbisik, ibu jarinya mengusap air mata di pipi Selena dengan penekanan yang posesif. "Tapi karena kamu sudah masuk ke kandangku dan membawa penawar ini, maka mulai detik ini, kamu adalah milikku. Dan aku tidak pernah melepaskan apa yang sudah menjadi hak milikku."
Selena terbelalak, aroma bahaya menyengat insting penciumannya yang genius. Dia sadar telah melakukan kesalahan fatal. "Ma-maaf, aku salah ruangan—"
Sebelum Selena sempat bangkit untuk melarikan diri, cengkeraman Don di dagunya mengencang, dan pria itu menarik tubuh Selena hingga terkunci rapat di antara kedua lututnya.
"Sudah terlambat untuk lari," desis Don, matanya berkilat penuh bahaya.
"Le-lepaskan ... Tolong lepaskan aku," cicit Selena, suaranya bergetar hebat, instingnya menyuruh untuk lari, tapi kakinya terlalu lemah untuk melakukan semua itu.
"Melepaskanmu? Tidak akan pernah!"
Manik mata Selena yang bening menatap Don dengan tatapan memohon yang teramat sangat. Detak jantungnya bertalu-talu di rongga dada, dilingkupi ketakutan saat menyadari kekuatan cengkeraman pria asing di hadapannya ini.
"Aku salah masuk ruangan, biarkan aku pergi, Tuan."
"Pergi?" Don mengulang kata itu dengan bariton rendah yang menggetarkan udara. Seringai tipis yang sarat akan dominasi terbit di sudut bibirnya. "Setelah kamu membawakan apa yang paling kubutuhkan malam ini?"
Aroma manis Selena menyeruak hebat dalam indra penciuman Don. Seketika saraf-saraf di pelipis Don yang menegang, mendadak mengendur. Migrain akutnya hilang total tanpa sisa. Ketegangan yang mengunci otot-otot tubuhnya merosot rileks.
Menyadari bahwa gadis asing yang rapuh ini adalah "obat" tunggal bagi penyakit dan kegilaan emosionalnya, sepasang mata gelap Don dipenuhi kilatan posesif yang kuat. Detik itu juga, Don langsung mengklaim Selena di dalam benaknya. Apa pun yang terjadi, gadis ini tidak akan pernah dia lepaskan.
"Berdiri," perintah Don, suaranya berat dan serak, seolah tak menerima bantahan dalam bentuk apa pun.
Selena, dengan lutut yang lemas, perlahan mencoba menegakkan tubuhnya untuk menjauh. Namun, begitu kedua kaki gadis itu tegak, Don justru menarik pinggang rampingnya dengan sentakan kuat.
Pekikan kecil lolos dari bibir Selena saat tubuhnya melayang. Dalam sekejap mata, dia sudah terduduk dengan kaki terbuka lebar di atas pangkuan Don. Posisi yang begitu intim dan intens itu mengunci pergerakannya mutlak. Tangan besar Don naik, mengusap punggung Selena dengan usapan yang memuja sekaligus menuntut.
Tanpa sadar, Don memiringkan wajahnya, meletakkan kepalanya di ceruk leher Selena yang putih. Dia memejamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu yang menenangkan seluruh kegilaan di kepalanya. Sentuhan napas panas Don di kulit lehernya membuat seluruh tubuh Selena meremang ngeri.
"Kamu mau apa?!" ucap Selena gugup sambil berusaha keras mendorong dada bidang Don. Namun, pria itu bukannya menjauh, malah menarik pinggangnya semakin erat, membuat tubuh mereka menempel panas hingga Selena bisa merasakan debar jantung Don yang berdetak kuat.
"Diam! Jangan bergerak!" Napas Don yang panas menyapu ceruk leher Selena sehingga gadis itu merinding. Selena tak pernah berdekatan seintim itu dengan siapa pun sebelumnya. Waktu masih duduk di bangku SMA, ada pemuda yang pernah mendekatinya, tapi Selena tidak percaya diri dan menolak cinta pemuda itu. Hidup dalam kemiskinan, membuat Selena hanya fokus untuk bertahan hidup. Tidak ada ruang untuk asmara.
Tepat pada saat ketegangan di dalam ruangan itu memuncak, tirai beludru disibak kasar dari luar.
"Selena!" Denny, ayah Selena, masuk dengan napas terengah-engah, diikuti oleh seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan pakaian necis yang mengumbar kemewahan norak—sang pemilik kasino yang memesan meja nomor 09, dan dua pengawal pribadinya.
"Kurang ajar! Siapa kau?! Berani-beraninya menyentuh wanita milikku!" bentak pria paruh baya itu saat melihat Selena berada di pangkuan Don. Wajahnya merah padam karena murka. "Dia sudah dijual ayahnya kepadaku untuk melunasi utang-utangnya! Serahkan dia sekarang, keparat!"
Don tidak bergerak sedikit pun dari posisinya. Kepalanya masih bersandar di ceruk leher Selena, tetapi matanya terbuka, melirik dingin ke arah pintu. Tatapan yang biasa dia gunakan untuk melihat serangga yang mengganggu.
"Hei! Kau tuli, hah?!" pria tambun itu berteriak lagi, lalu menoleh pada dua pengawal berbadan besar yang berjaga di belakangnya. "Hajar bajingan itu! Ambil jalang kecilku!"
Hanya dengan satu jentikan jari dari tangan kiri Don yang bebas, suasana ruangan berubah total. Dari balik bayang-bayang koridor VIP yang temaram, tiga pria tegap berjas hitam potongan militer, anak buah personal Don Mackenzie, muncul secepat kilat, menutup jalan keluar dan langsung mengepung pengawal si bos kasino.
"Tanyakan berapa utang yang harus dibayar dan selesaikan masalah ini sekarang," desis Don, suaranya sangat tenang, tapi membawa hawa membunuh yang mengerikan.
Dengan terbata-bata, Pak Denny yang panik menyebutkan jumlah utangnya.
"Sombong! Utangnya lebih banyak dari itu! Kamu kira bisa melunasi semuanya? " teriak pria tambun itu.
Marco, salah satu anak buah dan tangan kanan Don maju, melemparkan sebuah cek dengan angka yang tertera senilai satu milyar ke dada Denny, lalu melemparkan satu koper kecil berisi uang tunai di lantai. "
Utang pria ini lunas. Pergi," ucap anak buah Don dingin.
Melihat kertas berharga dan koper penuh uang di depan matanya, Denny terbelalak dengan binar keserakahan yang menjijikkan. Namun, pemilik kasino paruh baya itu sama sekali tidak peduli dengan uang tersebut. Harga dirinya sebagai penguasa distrik hiburan malam merasa diinjak-injak.
"Kau pikir bisa menghalangiku dengan uangmu, hah?!" pria tambun itu berteriak, wajahnya berkedut murka.
Don memiringkan kepala karena merasa sangat terganggu.
"Belum cukup?"
"Uang bukan masalah bagiku, Keparat! Aku yang memegang perjanjian tertulis di atas darah! Gadis ini milikku! Pengawal, habisi mereka!"
Dua pengawal berbadan kekar milik bos kasino langsung merangsek maju, menghujamkan pukulan ke arah anak buah Don. Pertarungan pecah seketika di ruang privat itu.
BUGH!
Satu bogem mentah mengenai rahang pengawal bos kasino, disusul oleh bunyi tulang berderak saat anak buah Don memelintir lengan lawan dengan teknik beladiri yang tinggi. Ruangan dipenuhi suara hantaman dan erangan kesakitan.
Anak buah bos kasino yang bertubuh besar itu ternyata bukan tandingan bagi unit terlatih milik keluarga Mackenzie. Dalam hitungan detik, kedua pengawal itu sudah tersungkur di lantai dengan wajah babak belur.
Melihat anak buahnya tumbang dengan cepat, bos kasino itu panik. Ego dan amarahnya membutakannya. Dia maju sendiri dengan langkah menghentak, tangannya yang gemuk terulur hendak merenggut paksa lengan gaun Selena dari pangkuan Don.
"Kemari kau, Jalang!" teriaknya lantang yang membuat kemarahan Don yang sempat meredup, kembali menyala.
Kakek Vargas menatap Don tajam selama beberapa detik. Hening merayapi ruang makan utama, membuat para pelayan yang berdiri di sudut ruangan menahan napas kaku dan tegang.Suasana tegang mengendap, seolah satu kata salah dari Don bisa memicu ledakan amarah sang Patriarch.Tiba-tiba, tawa renyah dan bersahabat meledak dari dada Kakek Vargas. Pria tua itu tertawa terbahak-bahak sambil memukul lantai marmer dengan ujung tongkat kayunya keras-keras."Hahaha! Luar biasa! Bagus sekali, Don!" seru Kakek Vargas dengan mata berbinar bangga, sama sekali tidak tersinggung."Aku kira Kakek bakal marah," gumam Don nyaris tak terdengar karena suara Kakek Vargas yang menggelegar."Pria Mackenzie yang sejati tidak boleh percaya bahkan pada bayangannya sendiri jika itu menyangkut nyawa anak dan istrinya!"Don tidak mengendurkan garis rahangnya yang tegas, tetapi ketegangan di bahunya sedikit mencair. "Aku cuma tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun, Kakek. Terutama setelah apa yang terjadi di Milan
"Kau terlambat dua puluh menit, Don," sambut Kakek Vargas dengan suara baritonnya yang bergema di aula batu."Penerbangan sedikit terlambat karena Paman Dante, Kakek," sahut Don datar seraya menuntun Selena mendekati sang Patriarch.Kakek Vargas mengabaikan Don, matanya langsung tertuju pada Selena. Pandangan tuanya melunak seketika saat menatap wanita muda itu."Bagaimana keadaannya, Selena? Anak di dalam perutmu tidak terganggu oleh suara helikopter bising ini, kan?"Selena menyunggingkan senyum anggun, membungkuk hormat."Cicit Kakek sangat tangguh seperti Papanya dan Kakeknya. Dia bahkan tertidur lelap sepanjang penerbangan."Tawa renyah Kakek Vargas meledak, memukul lantai batu dengan tongkatnya. "Luar biasa! Darah sejati Mackenzie memang tidak pernah takut pada letusan senjata!"Pria tua itu kemudian menoleh ke arah Marco yang baru saja menyeret Dante yang terikat rantai besi tebal ke tengah aula. Wajah Dante sudah bonyok dan berdarah-darah, tidak ada lagi sisa keangkuhan dari p
Deru mesin helikopter milik Don membelah kegelapan malam di atas langit Italia. Di dalam kabin yang luas dan terisolasi dari bising luar, lampu temaram berwarna keemasan menyinari interior kemewahan berbalut kulit.Don duduk di sofa kulit kabin, menarik Selena ke dalam pangkuannya. Pria itu menyelimuti tubuh Selena dengan mantel bulu tebal, melingkarkan kedua tangannya di perut rata istrinya yang terbalut gaun santai."Kau baik-baik saja, Piccola?""Hmm," jawab Selana sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Don, jemarinya sibuk mengetik instruksi di atas tablet pintar yang terhubung langsung dengan satelit komunikasi klan."Minum air hangatmu," gumam Don dengan suara beratnya di telinga Selena, menyodorkan gelas termos kecil ke bibir istrinya.Selena tidak memalingkan mata dari layar tablet, tapi menurut dan menyesap air hangat itu pelan."Jalur penerbangan kita aman, Don. Helikopter pengawal membendung rute udara dari arah pelabuhan.""Matikan tablet itu, Selena," pangkas Don da
Titik-titik merah sinar laser dari luar jendela jatuh tepat di dahi Dante dan para pengawalnya. Suara gemuruh baling-baling helikopter tempur yang menderu memecah keheningan malam Milan, membuat kaca-kaca tebal penthouse bergetar hebat."Apa maksud kau, Don?" sentaknya sambil menatap Don yang sedang tersenyum miring seperti biasa saat tahu kelemahan musuh."Aku cuma ingin menyambut kau, Paman," ucapnya santai.Dante mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya bergerak liar menatap titik laser di dadanya. Pria tua itu mencoba menyembunyikan getaran di lututnya, menyunggingkan senyum sengit."Ini pasti kerjaanmu kan! Kau gertak aku, Gadis Kasir?" desis Dante yang kini menuduh Selena dengan suara paraunya yang berisik . Tangan kanannya perlahan menyusup ke balik saku jas mewahnya."Jangan susah-sudah cari senjatamu, Paman. Oh ya, memangnya kenapa kalau aku yang lakukan semua ini?" tantang Selena yang membuat darah Dante semakin mendidih."Kau pikir helikopter di luar itu bisa menghentikan pe
Pria itu mengenakan setelan hitam tanpa lambang klan apa pun, wajahnya tertutup topeng kain rapat. Di tangan kanannya, sebuah peredam senjata panjang teracung lurus ke arah dada Don.Namun, yang membuat Don mematungkan langkahnya bukan senjata itu, melainkan pria kedua yang melangkah masuk secara perlahan di belakang sang penyergap.Pria tua itu berjalan menggunakan tongkat perak berukir khusus. Rambut peraknya tertata rapi, dan matanya memancarkan kejamnya aura dingin yang teramat dikenal oleh Don sejak kecil."Luar biasa, Cucuku." Suara pria tua itu bergema rendah, penuh celaan yang menusuk."Kau menghancurkan keluarga Delaros hanya karena umpan murahan dari seorang gadis kasir?"Don menyipitkan mata, rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menegang hebat."Dante Mackenzie?"Pria tua itu menyunggingkan senyum sinis yang mampu mendinginkan udara di sekitar. Dante Mackenzie, paman kandung Don, yang seharusnya sudah diasingkan ke
'Pengumuman tentang kehamilan ini tidak boleh berhenti sampai di sini saja," titah Kakek Vargas.'Apa kita perlu membuat gala dinner?' tanya Don bersemangat.'Tepat sekali. Dengar! Minggu depan, aku menggelar Pesta Besar Pengukuhan Pewaris Utama di kediaman Tuscany. Seluruh petinggi klan, sekutu internasional, dan para musuh dalam selimut, termasuk Eleanora dan Julian, wajib hadir.''Kakek mau memancing mereka keluar?' tanya Don, matanya berkilat menangkap maksud sang kakek.'Aku mau menunjukkan ke seluruh Eropa siapa pemilik takhta Mackenzie yang sesungguhnya," sahut Kakek Vargas tanpa ragu sedikit pun.Selena tersenyum puas mendengar ucapan Kakek Vargas. Dia tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah 180 derajat hanya dalam sekejap mata.'Baik, Kakek.''Bagus! Bersiaplah. Pesta minggu depan bukan sekadar perayaan, tapi panggung pembantaian politik untuk siapa pun yang masih







