Share

3. Lepaskan Aku

Penulis: MyMelody
last update Tanggal publikasi: 2026-07-14 16:27:24

"Aku tidak tahu siapa Papamu, Nona." Don berbisik, ibu jarinya mengusap air mata di pipi Selena dengan penekanan yang posesif. "Tapi karena kamu sudah masuk ke kandangku dan membawa penawar ini, maka mulai detik ini, kamu adalah milikku. Dan aku tidak pernah melepaskan apa yang sudah menjadi hak milikku."

Selena terbelalak, aroma bahaya menyengat insting penciumannya yang genius. Dia sadar telah melakukan kesalahan fatal. "Ma-maaf, aku salah ruangan—"

Sebelum Selena sempat bangkit untuk melarikan diri, cengkeraman Don di dagunya mengencang, dan pria itu menarik tubuh Selena hingga terkunci rapat di antara kedua lututnya.

"Sudah terlambat untuk lari," desis Don, matanya berkilat penuh bahaya.

"Le-lepaskan ... Tolong lepaskan aku," cicit Selena, suaranya bergetar hebat, instingnya menyuruh untuk lari, tapi kakinya terlalu lemah untuk melakukan semua itu.

"Melepaskanmu? Tidak akan pernah!"

Manik mata Selena yang bening menatap Don dengan tatapan memohon yang teramat sangat. Detak jantungnya bertalu-talu di rongga dada, dilingkupi ketakutan saat menyadari kekuatan cengkeraman pria asing di hadapannya ini.

"Aku salah masuk ruangan, biarkan aku pergi, Tuan."

"Pergi?" Don mengulang kata itu dengan bariton rendah yang menggetarkan udara. Seringai tipis yang sarat akan dominasi terbit di sudut bibirnya. "Setelah kamu membawakan apa yang paling kubutuhkan malam ini?"

Aroma manis Selena menyeruak hebat dalam indra penciuman Don. Seketika saraf-saraf di pelipis Don yang menegang, mendadak mengendur. Migrain akutnya hilang total tanpa sisa. Ketegangan yang mengunci otot-otot tubuhnya merosot rileks.

Menyadari bahwa gadis asing yang rapuh ini adalah "obat" tunggal bagi penyakit dan kegilaan emosionalnya, sepasang mata gelap Don dipenuhi kilatan posesif yang kuat. Detik itu juga, Don langsung mengklaim Selena di dalam benaknya. Apa pun yang terjadi, gadis ini tidak akan pernah dia lepaskan.

"Berdiri," perintah Don, suaranya berat dan serak, seolah tak menerima bantahan dalam bentuk apa pun.

Selena, dengan lutut yang lemas, perlahan mencoba menegakkan tubuhnya untuk menjauh. Namun, begitu kedua kaki gadis itu tegak, Don justru menarik pinggang rampingnya dengan sentakan kuat.

Pekikan kecil lolos dari bibir Selena saat tubuhnya melayang. Dalam sekejap mata, dia sudah terduduk dengan kaki terbuka lebar di atas pangkuan Don. Posisi yang begitu intim dan intens itu mengunci pergerakannya mutlak. Tangan besar Don naik, mengusap punggung Selena dengan usapan yang memuja sekaligus menuntut.

Tanpa sadar, Don memiringkan wajahnya, meletakkan kepalanya di ceruk leher Selena yang putih. Dia memejamkan mata, menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu yang menenangkan seluruh kegilaan di kepalanya. Sentuhan napas panas Don di kulit lehernya membuat seluruh tubuh Selena meremang ngeri.

"Kamu mau apa?!" ucap Selena gugup sambil berusaha keras mendorong dada bidang Don. Namun, pria itu bukannya menjauh, malah menarik pinggangnya semakin erat, membuat tubuh mereka menempel panas hingga Selena bisa merasakan debar jantung Don yang berdetak kuat.

"Diam! Jangan bergerak!" Napas Don yang panas menyapu ceruk leher Selena sehingga gadis itu merinding. Selena tak pernah berdekatan seintim itu dengan siapa pun sebelumnya. Waktu masih duduk di bangku SMA, ada pemuda yang pernah mendekatinya, tapi Selena tidak percaya diri dan menolak cinta pemuda itu. Hidup dalam kemiskinan, membuat Selena hanya fokus untuk bertahan hidup. Tidak ada ruang untuk asmara.

Tepat pada saat ketegangan di dalam ruangan itu memuncak, tirai beludru disibak kasar dari luar.

"Selena!" Denny, ayah Selena, masuk dengan napas terengah-engah, diikuti oleh seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan pakaian necis yang mengumbar kemewahan norak—sang pemilik kasino yang memesan meja nomor 09, dan dua pengawal pribadinya.

"Kurang ajar! Siapa kau?! Berani-beraninya menyentuh wanita milikku!" bentak pria paruh baya itu saat melihat Selena berada di pangkuan Don. Wajahnya merah padam karena murka. "Dia sudah dijual ayahnya kepadaku untuk melunasi utang-utangnya! Serahkan dia sekarang, keparat!"

Don tidak bergerak sedikit pun dari posisinya. Kepalanya masih bersandar di ceruk leher Selena, tetapi matanya terbuka, melirik dingin ke arah pintu. Tatapan yang biasa dia gunakan untuk melihat serangga yang mengganggu.

"Hei! Kau tuli, hah?!" pria tambun itu berteriak lagi, lalu menoleh pada dua pengawal berbadan besar yang berjaga di belakangnya. "Hajar bajingan itu! Ambil jalang kecilku!"

Hanya dengan satu jentikan jari dari tangan kiri Don yang bebas, suasana ruangan berubah total. Dari balik bayang-bayang koridor VIP yang temaram, tiga pria tegap berjas hitam potongan militer, anak buah personal Don Mackenzie, muncul secepat kilat, menutup jalan keluar dan langsung mengepung pengawal si bos kasino.

"Tanyakan berapa utang yang harus dibayar dan selesaikan masalah ini sekarang," desis Don, suaranya sangat tenang, tapi membawa hawa membunuh yang mengerikan.

Dengan terbata-bata, Pak Denny yang panik menyebutkan jumlah utangnya.

"Sombong! Utangnya lebih banyak dari itu! Kamu kira bisa melunasi semuanya? " teriak pria tambun itu.

Marco, salah satu anak buah dan tangan kanan Don maju, melemparkan sebuah cek dengan angka yang tertera senilai satu milyar ke dada Denny, lalu melemparkan satu koper kecil berisi uang tunai di lantai. "

Utang pria ini lunas. Pergi," ucap anak buah Don dingin.

Melihat kertas berharga dan koper penuh uang di depan matanya, Denny terbelalak dengan binar keserakahan yang menjijikkan. Namun, pemilik kasino paruh baya itu sama sekali tidak peduli dengan uang tersebut. Harga dirinya sebagai penguasa distrik hiburan malam merasa diinjak-injak.

"Kau pikir bisa menghalangiku dengan uangmu, hah?!" pria tambun itu berteriak, wajahnya berkedut murka.

Don memiringkan kepala karena merasa sangat terganggu.

"Belum cukup?"

"Uang bukan masalah bagiku, Keparat! Aku yang memegang perjanjian tertulis di atas darah! Gadis ini milikku! Pengawal, habisi mereka!"

Dua pengawal berbadan kekar milik bos kasino langsung merangsek maju, menghujamkan pukulan ke arah anak buah Don. Pertarungan pecah seketika di ruang privat  itu.

BUGH!

Satu bogem mentah mengenai rahang pengawal bos kasino, disusul oleh bunyi tulang berderak saat anak buah Don memelintir lengan lawan dengan teknik beladiri yang tinggi. Ruangan dipenuhi suara hantaman dan erangan kesakitan.

Anak buah bos kasino yang bertubuh besar itu ternyata bukan tandingan bagi unit terlatih milik keluarga Mackenzie. Dalam hitungan detik, kedua pengawal itu sudah tersungkur di lantai dengan wajah babak belur.

Melihat anak buahnya tumbang dengan cepat, bos kasino itu panik. Ego dan amarahnya membutakannya. Dia maju sendiri dengan langkah menghentak, tangannya yang gemuk terulur hendak merenggut paksa lengan gaun Selena dari pangkuan Don.

"Kemari kau, Jalang!" teriaknya lantang yang membuat kemarahan Don yang sempat meredup, kembali menyala.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penawar Sang Boss Mafia   19. Dalam Mimpimu!

    Begitu mendengar perkataan Selena, Don terkekeh rendah. Tawa seksi yang membius."Jawaban yang bagus. Marco, mari kita bantai mereka sampai tak bersisa."BAM!Satu benturan keras mendadak menghantam sisi kiri SUV mereka. Mobil berguncang hebat, membuat tubuh Selena terlempar ke samping. Lengan tegap Don dengan sigap mendekap pinggangnya, menguncinya rapat di dada bidang miliknya."Tuan Muda! Dua pick-up klan Delaros memotong jalur persimpangan jalan di depan kita!" teriak Marco dari balik kemudi, tangannya memutar kemudi dengan lihai menyeimbangkan mobil lapis baja itu."Sial! Mau cari mati ya mereka semua?" umpat Don sambil menyiapkan senjatanya.Dari balik kaca gelap yang mulai retak di bagian kiri, Selena melihat dua mobil pick-up terbuka melaju sejajar. Beberapa pria berseragam biru tua mengacungkan senjata otomatis langsung ke arah kendaraan mereka. Selena menelan salivanya dengan gugup.DOR! DOR! DOR! DOR!Hujan peluru menghantam kaca antipeluru mobil mereka, menciptakan deretan

  • Penawar Sang Boss Mafia   18. Serba Hitam

    "Di mana Don?" tanya Selena sambil melirik ke arah pintu yang setengah terbuka. Di depan pintu, berdiri beberapa pengawal pribadi Don."Tuan Don sedang memimpin eksekusi tawanan di pelataran bawah, Nona Selena," jawab Marco datar, dengan wajah tanpa ekspresi. Dia meletakkan nampan di atas meja. "Tuan meminta Nona berganti pakaian. Mobil sudah disiapkan di belakang.""Pindah lagi?" tanya Selena, mengernyit. "Bukankah dia bilang tempat ini aman?""Bukan pindah, Nona," potong Marco cepat."Lalu apa?""Nanti Nona tanyakan langsung pada Tuan Muda."Selena mendengkus kesal sambil menatap Marco yang membuka koper perak di meja. Di dalamnya berisi celana kargo hitam, kaus pas badan berbahan katun lembut, serta jaket kulit tebal yang juga berwarna hitam."Ini pakaian Nona hari ini?""What?" teriak Selena kaget. "Memangnya aku mau disuruh jadi mata-mata?""Tuan Besar Vargas sudah mengerahkan tiga klan aliansi. Ini bukan lagi gertakan, ini perang terbuka. Jadi Nona tidak boleh terlihat terlalu m

  • Penawar Sang Boss Mafia   17. Tak Bisa Tidur

    Don menatap Selena, lalu terkekeh pelan. "Kau selalu galak saat ketakutan.""Aku tidak takut!""Genggaman tanganmu di bahuku bilang hal lain," sela Don tenang.Selena tertegun. Dia baru menyadari bahwa tangan kirinya sedang mencengkeram erat lengan tegap Don tanpa sadar, mencari pegangan di tengah kekacauan dunia mafia yang baru saja merenggut kehidupan normalnya. Selena buru-buru menarik tangannya seolah baru saja menyentuh besi panas."Sudah selesai," ucap Selena dingin, bergeser mundur sejauh mungkin di atas tempat tidur. "Sekarang keluar dari kamarku."Don berbalik perlahan. Tanpa mengenakan kemeja, dada bidangnya terekspos jelas di bawah cahaya lampu kamar yang remang. Dia menatap Selena yang meringkuk di sudut kasur dengan kemeja miliknya yang kebesaran."Ini kamarku, Selena," ujar Don rendah, melipat kedua tangannya di dada. "Seluruh bangunan ini milikku. Termasuk wanita yang sedang memakai kemejaku.""Aku memakai ini karena kau tidak menyediakan baju yang layak!" semprot Selen

  • Penawar Sang Boss Mafia   16. Alasan yang Bagus

    "Satu. Dua. Tiga," bisik Selena pelan.PRANG! BRAK! Lampu besi yang berat itu menghantam tepat di kepala salah satu penyusup hingga pria itu tersungkur jatuh dari tangga. Tindakan itu memicu kepanikan pada penyusup kedua."Apa-apaan ini?!" teriak penyusup kedua sambil mendongak kaget.Gangguan sekecil itu sudah lebih dari cukup bagi seorang Don Mackenzie. Tanpa perlu melihat ke atas, reaksi refleks Don bekerja secepat kilat. Dari balik meja bar dan melepaskan tiga tembakan beruntun ke arah tangga.DOR! DOR! DOR!Kedua penyusup itu ambruk seketika di anak tangga, tewas sebelum sempat menarik pemicu granat.Don memutar tubuhnya cepat, matanya yang kelabu mendongak tajam ke arah balkon atas. Di sana, Selena berdiri tersengal-sengal dengan rambut berantakan dan pisau daging teracung gemetar di tangannya.Tatapan mata Don membeku seketika. Amarah dan rasa takjub bercampur menjadi satu di dalam iris matanya yang gelap. Pria itu mengumpat rendah, lalu berteriak keras menembus deru

  • Penawar Sang Boss Mafia   15. Lampu Besi

    Don menghela napas lega, merengkuh leher Selena dan menarik kepala gadis itu hingga dahi mereka bersentuhan. Napas Don yang memburu dan hangat menyapu wajah Selena, bercampur dengan aroma amis darah dan vanila-lavender yang membubung di antara mereka.“Aku benar-benar minta maaf. Semua ini gara-gara aku." Selena menunduk sambil meremas ujung kemejanya."Piccola, aku sudah berjanji akan melindungimu, apa pun yang terjadi."Selena mendongak.“Thanks, hanya jangan mati.”Tatapan Don melembut.“Tidak akan.”“Janji?”Don mengusap pelan rambut di sisi wajah Selena.“Janji.”Selena menatapnya beberapa saat, lalu berbisik,“Kalau begitu, biarkan aku mengobati lukamu.”Don tersenyum kecil hampir tak terlihat.“Kalau kau yang merawatku, mungkin aku akan sengaja terluka lagi.”Selena langsung menghantam lengan Don yang tidak terluka.“Jangan macam-macam.”Don tertawa pelan.“Baik.”Ia menatap Selena sekali lagi, kali ini dengan senyum yang begitu lembut hingga membuat jantung gadis itu berdegup

  • Penawar Sang Boss Mafia   14. Bodoh

    Usai memaki Don, Selena memalingkan wajahnya dengan cepat ke kanan, memejamkan mata erat-erat saat bibir Don dengan sengaja menyesah ceruk lehernya yang paling sensitif, membuat sengatan listrik yang dahsyat merambat sampai ke ujung kakinya. Sebuah erangan lirih hampir saja lolos dari bibir Selena.Jangan berdesir! Selena, jangan sampai dia tahu jantungmu mau melompat keluar! batin Selena panik setengah mati."Mulutmu menolak," bisik Don rendah, hembusan napas panasnya membuat bulu kuduk Selena berdiri tegak. "Tapi dadamu berdetak sekencang ini. Kau sangat menyukai fakta bahwa aku mempertaruhkan nyawaku untuk menutupi tubuhmu dari peluru, kan?"Aroma vanila-levender menguar dari tubuh Selena, mengisi indra penciuman Don dengan cara yang menggoda."Jangan percaya diri!" sergah Selena galak, matanya terbuka lebar menatap mata gelap Don yang dinaungi gairah berbahaya. "Kau yang menyeretku ke dalam perang konyol klanmu dan membuat tempat ini diserang!"Don tersenyum singkat, sebuah senyu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status