تسجيل الدخولDon berdiri tegak setelah memastikan napas Selena terdengar teratur dan halus. Pria itu mengusap lembut helai rambut di dahi Selena sekali lagi sebelum mematikan lampu tidur di samping ranjang, meninggalkan kamar utama dalam remang-remang yang tenang."Jangan takut, Selena. Aku janji akan menjagamu."Dia melangkah keluar dan menutup pintu kamar yang tebal dan kokoh itu tanpa suara sedikit pun.Di ruang rapat kapal yang terletak tidak jauh dari sana, Marco bersama lima komandan pasukan terbaik dan pilihan Don sudah menunggu dengan wajah tegang. Peta digital istana Tuan Besar Vargas terpampang di layar utama."Dengar semuanya!" Suara Don yang tegas dan berat memecah kesunyian dalam ruangan itu.Dia berjalan mendekati meja, aura dinginnya seketika mengambil alih seluruh ruangan."Bawa sepuluh tim sniper untuk mengawasi dari area tebing di luar benteng," perintah Don langsung dengan tatapan waspada dan penuh perhitungan."Baik, Tuan!" jawab pria-pria berbadan tegap itu. "Kalian harus was
"Ini senjata rahasiamu untuk makan malam nanti," jelas Don, mengarahkan jemari Selena untuk memegang gagangnya. "Bilahnya tidak akan terdeteksi pemindai logam Kakek saat kita diperiksa nanti sebelum memasuki istananya. Dan kalau kau menekan tombol kecil di bawahnya ..."BZZZT!Arus listrik biru meloncat singkat di ujung pisau.Selena membelalakkan mata dan hampir melepaskan benda itu dari tangannya."Ini alat penyetrum?""Yes! Dua puluh ribu volt," sahut Don di samping telinganya."What? Ini terlalu berlebihan, Don.""Tidak ada yang terlalu berlebihan saat kau menghadapi musuh, Piccola."Selena menatap Don tak percaya."Benda ini cukup untuk melumpuhkan pria berbobot seratus kilo dalam satu satu sampai tiga detik. Tusuk leher atau selangkangan mereka, tekan tombolnya, lalu lari ke belakang tubuhku.""Ini mengerikan, Don. Aku tidak yakin bakal bisa menggunakannya." "Listen, Selena. Kalau ada yang berani menyentuhmu saat aku sedang lengah, tusuk dan setrum mereka. Ingat itu!"Selena me
Melihat Don yang membeku, Selena malah memperdalam ciumannya.Aaahh ...Sebuah erangan liar dan berat lolos dari kerongkongan Don. Kontrol dirinya yang terkenal sekeras batu karang, kini hancur berkeping-keping. Gairah di dalam dadanya meledak.Don melingkarkan kedua lengannya di pinggang Selena, menarik tubuh gadis itu hingga terangkat dari lantai geladak, lalu membalas ciuman Selena dengan tingkat keliaran yang lebih dalam dari ciuman pertama.Selena membalas dan membuka akses sehingga Don mendapat akses sepenuhnya.Lidah Don menerobos masuk tanpa ampun, melumat dan menguasai seluruh rongga mulut Selena. Gadis cantik itu mendesah pasrah di dalam kungkungannya. Suara deru napas Don memburu kasar di udara siang menjelang sore itu. Tangannya meremas pinggang Selena penuh posesif, hampir saja membawa gadis itu melewati batas di atas geladak terbuka."Kau nikmat sekali, Piccola," bisik Don sambil menghirup napas sebentar sebelum kembali meraup bibir Selena yang tebal dan menggoda.Tangan
Don tidak langsung menjawab. Senyum miring yang teramat nakal terukir di bibirnya. Dia merapatkan tubuhnya sehingga Selena tidak ada ruang untuk menghindar. Tangan besarnya merayap naik ke belakang leher Selena, mengunci posisi gadis itu."Kamu mau tahu caranya?" bisik Don dengan suara baritonnya yang bergetar tepat di depan bibir Selena." ... adalah membuat otakmu terlalu sibuk memikirkanku sampai kau lupa rasa mual itu seperti apa."Bola mata Selena membulat, dia ingin memejamkan mata, tapi di sisi lain, dia juga penasaran apa yang akan dilakukan boss mafia itu.Don memajukan wajah, dan mengecup bibir Selena hingga tubuh gadis itu menegang."K-kau …," bisik Selena jengah."Shhh ..."Don menatap Selena dengan sinar mata meredup. Awalnya hanya sentuhan lembut yang menggoda, sebuah kecupan singkat yang menahan napas Selena di tenggorokan. Namun, saat Don mulai melumat bibirnya lebih dalam, Selena justru membeku kaku. Bibirnya mengatup rapat, matanya semakin membelalak lebar menatap Do
Selena menelan salivanya yang terasa pahit, lalu menatap Don dengan raut wajah tidak percaya. "Don? Kenapa kau baru melakukannya sekarang? Dari kemarin aku memintamu untuk mengirimku ke sana. Tapi kau keras kepala.""Relax. Aku punya kejutan untuk Kakekku. Kau takut, Piccola?" goda Don rendah, menyapu pipi Selena yang memucat dengan ibu jarinya."Aku tak pernah takut kalau itu bisa menyelamatkan nyawa orang lain," sergah Selena galak, menepis pelan tangan Don walau jantungnya berdegup kencang. "Kakekmu menginginkanku.""I know. Tapi aku janji, dia tidak akan menyentuhmu di meja makan," ujar Don mantap."Bagaimana kalau dia memasukkan racun ke minumanku?" cetus Selena dengan sinar mata waspada."Maka aku yang akan meminumnya duluan sebelum sampai ke mulutmu," balas Don tanpa kedip.Selena tertegun. Kata-kata Don terucap begitu santai, tetapi sorot mata kelabunya memancarkan keteguhan yang membuat tenggorokan Selena terasa Kering."Kenapa kau harus melakukan semua ini?" bisik Selena pel
Don tetap duduk tenang mendengar ucapan Marco. Dia memutar cincin tebal yang melingkar di jarinya. Permukaan cincin itu berwarna hitam pekat, dihiasi ukiran sebuah gunung dengan puncak-puncak yang menyala dalam kobaran api. Di bawahnya terukir dua kata dalam bahasa Latin.LUCEO NON URO. I shine, not burn.Itulah lambang Klan MacKenzie, simbol yang diwariskan turun-temurun dan hanya dikenakan oleh mereka yang memiliki tempat di lingkaran terdalam keluarga itu.Bagi orang biasa, cincin tersebut mungkin tampak seperti perhiasan tua yang mahal. Namun, bagi mereka yang mengenal dunia bawah tanah, lambang gunung terbakar itu memiliki arti berbeda.MacKenzie.Sebuah nama yang tak perlu diteriakkan untuk membuat orang menundukkan kepala. Tatapan Don terpaku pada cincin itu.“Sudah waktunya mereka mengingat,” gumamnya pelan, “siapa yang sedang mereka lawan.”"Tuan, apa yang harus kita lakukan?" Suara Marco terdengar kalut.'Aku harus menyelamatkan Selena terlebih dahulu,' pikirnya. Otaknya har







