Home / Mafia / Penawar Sang Boss Mafia / 27. Bangun, Piccola ...

Share

27. Bangun, Piccola ...

Author: MyMelody
last update publish date: 2026-08-17 08:35:02
Don berdiri tegak setelah memastikan napas Selena terdengar teratur dan halus. Pria itu mengusap lembut helai rambut di dahi Selena sekali lagi sebelum mematikan lampu tidur di samping ranjang, meninggalkan kamar utama dalam remang-remang yang tenang.

"Jangan takut, Selena. Aku janji akan menjagamu."

Dia melangkah keluar dan menutup pintu kamar yang tebal dan kokoh itu tanpa suara sedikit pun.

Di ruang rapat kapal yang terletak tidak jauh dari sana, Marco bersama lima komandan pasukan terbaik da
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penawar Sang Boss Mafia   31. Mampus Kau!

    "Aku tidak sedang mulai apa-apa, Piccola," sahut Don rendah, suaranya makin serak. Bukannya mundur, dia justru melangkah lebih merapat sampai dada telanjang Selena menempel di tubuhnya. "Aku cuma memakaikanmu selembar gaun.""I know! Tapi caramu memandangku tidak seperti orang yang mau membantuku mengenakan gaun sialan ini!" sergah Selena, pipinya mulai memerah panas.Don terkekeh tipis. Tangan besarnya tanpa permisi menyelusup ke belakang punggung Selena, menarik pinggang gadis itu hingga tak ada jarak tersisa di antara mereka.Niat awalnya memang murni untuk membantu, tetapi sentuhan kulit mulus Selena di bawah telapak tangannya yang kasar mendadak membakar sisa-sisa kontrol diri yang susah payah dia tahan sejak di kapal tadi."Kau terlalu banyak protes, dan bibirmu terlalu menggoda," gumam Don, lalu meraih gaun merah sutra itu dan meloloskannya melewati kepala Selena.Kain sutra dingin itu meluncur jatuh, membungkus tubuh Selena dengan pas. Namun, sebelum Selena sempat bernapas leg

  • Penawar Sang Boss Mafia   30. Jangan!

    "Kau tuli ya? Lepaskan tanganku, Brengsek!" bentak Valerie.Selena menatap Valerie tajam sebelum akhirnya menghentakkan tangannya hingga wanita bergaun merah itu terdorong mundur dua langkah dan hampir kehilangan keseimbangan di atas sepatu hak tingginya.Valerie mendengkus kesal, dadanya naik-turun menahan malu dan marah yang memuncak di depan belasan pengawal. "Don! Kau membiarkan wanita liar dan murahan ini mengancamku?!"Don yang sejak tadi berdiri diam di belakang Selena akhirnya tertawa, tawa puas dan penuh kebanggaan yang menggema di area dermaga yang sepi.Pria itu melangkah maju, lalu merengkuh pinggang Selena dari belakang dengan sangat posesif, menarik tubuh Selena merapat ke dadanya."Aku tidak membiarkannya, Valeria," sahut Don dingin, matanya menatap wanita itu dengan kilatan mata yang menyimpan amarah. "Aku cuma menikmati saat melihat wanitaku memberi pelajaran pada orang yang tidak tahu tata krama."Don memiringkan wajahnya, mencium pelipis Selena di hadapan Valerie ya

  • Penawar Sang Boss Mafia   29. Nona Manja

    Valerie tersenyum manis, mengalahi manisnya gula. Menyembunyikan rasa malunya di balik topeng kesempurnaannya, seolah kata-kata Don tak menggoyahkannya."Apa pun yang kau katakan, kita sudah dijodohkan, Don. Jadi aku akan memaafkan sikap kasarmu tadi."Don mengepalkan tangannya menahan emosi. Dia tumbuh besar bersama Valerie. Waktu kecil, mereka sering berburu hewan liar di hutan, berangkat sekolah sama-sama, bahkan menyelesaikan pendidikan di kampus yang sama. Don selalu memperlakukan Valerie dengan baik. Namun, hanya sebatas itu. Don tidak punya perasaan apa-apa terhadap wanita di depannya."Ayo kita masuk!" ajak Don sambil menggenggam lembut tangan Selena.Valerie menoleh ke arah Selena lalu menyunggingkan senyum penuh penghinaan."Don, aku sungguh tidak menyangka kau akan membawa tamu dari distrik bawah untuk menginjakkan kaki di tanah suci istana Kakek."Matanya menyapu penampilan Selena dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan.Don menghentikan langkahnya,

  • Penawar Sang Boss Mafia   28. Tunangan?

    Don menghentikan pergerakannya seketika. Napasnya memburu berat, sedangkan wajah Selena bersemu merah dengan mata sayu penuh gairah. Pria itu menatap lurus ke dalam mata Selena, bertarung hebat dengan naluri liarnya yang meraung-raung ingin menuntaskan segalanya di atas ranjang itu detik ini juga."Jangan bergerak," bisik Don sambil menekan tubuhnya yang berotot dan panas. Mereka menempel sehingga hampir tidak ada celah di antara mereka. Begitu intens dan panas.Napas mereka berdua bersahutan kencang. Don mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi kepala Selena, berusaha keras menarik sisa kesadarannya dari jurang kenikmatan."Sial," umpat Don rendah dengan suara yang sangat serak, lalu menyandarkan dahinya di bahu Selena, menahan napas beratnya. "Kau benar-benar hampir membuatku lupa diri, Selena.""Kau ..." bisik Selena jengah.Dengan napas yang masih tersengal-sengal, dia menata detak jantungnya yang bergedup seperti habis lari maraton, menyadari betapa tipisnya batas yang baru saja h

  • Penawar Sang Boss Mafia   27. Bangun, Piccola ...

    Don berdiri tegak setelah memastikan napas Selena terdengar teratur dan halus. Pria itu mengusap lembut helai rambut di dahi Selena sekali lagi sebelum mematikan lampu tidur di samping ranjang, meninggalkan kamar utama dalam remang-remang yang tenang."Jangan takut, Selena. Aku janji akan menjagamu."Dia melangkah keluar dan menutup pintu kamar yang tebal dan kokoh itu tanpa suara sedikit pun.Di ruang rapat kapal yang terletak tidak jauh dari sana, Marco bersama lima komandan pasukan terbaik dan pilihan Don sudah menunggu dengan wajah tegang. Peta digital istana Tuan Besar Vargas terpampang di layar utama."Dengar semuanya!" Suara Don yang tegas dan berat memecah kesunyian dalam ruangan itu.Dia berjalan mendekati meja, aura dinginnya seketika mengambil alih seluruh ruangan."Bawa sepuluh tim sniper untuk mengawasi dari area tebing di luar benteng," perintah Don langsung dengan tatapan waspada dan penuh perhitungan."Baik, Tuan!" jawab pria-pria berbadan tegap itu. "Kalian harus wasp

  • Penawar Sang Boss Mafia   26. Istirahatlah

    "Ini senjata rahasiamu untuk makan malam nanti," jelas Don, mengarahkan jemari Selena untuk memegang gagangnya. "Bilahnya tidak akan terdeteksi pemindai logam Kakek saat kita diperiksa nanti sebelum memasuki istananya. Dan kalau kau menekan tombol kecil di bawahnya ..."BZZZT!Arus listrik biru meloncat singkat di ujung pisau.Selena membelalakkan mata dan hampir melepaskan benda itu dari tangannya."Ini alat penyetrum?""Yes! Dua puluh ribu volt," sahut Don di samping telinganya."What? Ini terlalu berlebihan, Don.""Tidak ada yang terlalu berlebihan saat kau menghadapi musuh, Piccola."Selena menatap Don tak percaya."Benda ini cukup untuk melumpuhkan pria berbobot seratus kilo dalam satu satu sampai tiga detik. Tusuk leher atau selangkangan mereka, tekan tombolnya, lalu lari ke belakang tubuhku.""Ini mengerikan, Don. Aku tidak yakin bakal bisa menggunakannya." "Listen, Selena. Kalau ada yang berani menyentuhmu saat aku sedang lengah, tusuk dan setrum mereka. Ingat itu!"Selena me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status