FAZER LOGINBUGH!
Sebelum ujung kuku kotor pria itu sempat menyentuh selembar benang pun di gaun putih Selena, Don bergerak. Gerakannya begitu cepat hingga Selena tidak sempat berkedip. Satu tangan Don melepas pinggang Selena sejenak, meraih botol anggur kaca tebal di atas meja, dan menghantamkannya dengan kekuatan penuh tepat ke arah rahang pria tambun itu.
Botol kaca itu pecah berkeping-keping. Pria paruh baya itu tersungkur hebat ke lantai, mengerang kesakitan dengan darah segar yang mulai merembes deras dari sudut bibir dan hidungnya.
"Dengar baik-baik, Bandar Sialan," Don akhirnya menegakkan tubuhnya, menatap lurus pada pria yang mengerang di lantai dengan pandangan seorang psikopat. Aura mafianya keluar sepenuhnya, menindas siapa saja di ruangan itu.
"Kau bangga dengan kasino kecilmu itu?" Don terkekeh, sebuah suara rendah yang mengerikan.
"Jika aku mendengar kau atau anak buahmu menyebut nama gadis ini lagi, atau bahkan berani menatap ke arahnya ... aku bersumpah demi nama Mackenzie, akan mengobrak-abrik kasinomu. Aku akan meratakan tempat judimu dengan tanah dalam waktu satu malam, dan memastikan kau berakhir menjadi makanan ikan di dasar laut. Paham?!"
Mendengar nama 'Mackenzie' diucapkan dengan otoritas dingin seperti itu, pria tambun yang tadinya murka seketika membeku. Rasa sakit di rahangnya mendadak terkalahkan oleh ketakutan yang luar biasa.
Siapa yang tidak tahu keluarga Mackenzie? Mereka adalah penguasa bisnis gelap dan legal di Asia Tenggara. Menantang mereka sama saja dengan memesan tiket ke neraka."Bawa dia keluar dari kota ini. Pastikan dia tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki di sini lagi," perintah Don tanpa ampun.
Dalam hitungan detik, tubuh pria paruh baya yang terus mengumpat itu diseret keluar seperti karung rongsokan, sementara Denny yang ketakutan setengah mati segera memungut cek berharga dan koper uang, lalu kabur tanpa memedulikan nasib putrinya lagi.
Pintu privat kembali tertutup rapat. Ruangan kembali senyap, menyisakan keharuman vanila-lavender yang kian mengikat.
Hak atas Selena kini telah berpindah sepenuhnya secara hukum jalanan, ke tangan Don Mackenzie. Selena menatap pintu yang tertutup dengan tatapan kosong, menyadari bahwa dia baru saja lolos dari lubang buaya, hanya untuk masuk ke dalam sarang singa yang jauh lebih mengerikan.
Don mendongak, menatap lekat-lekat wajah Selena yang pias. Seringai tipisnya kembali muncul. "Sekarang, tidak ada lagi yang bisa membeli atau mengambilmu dari tanganku, Nona."
"A-apa yang akan kau lakukan padaku?" Selena berbisik, suaranya bergetar hebat. Kedua tangannya yang masih bertumpu di dada bidang Don meremas kemeja pria itu, mencoba menciptakan jarak yang mustahil didapat.
Don tidak menjawab dengan kata-kata. Dia beralih meraih jemari tangan Selena yang sedingin es, lalu membawa telapak tangan mungil itu ke pipinya yang tegas, memaksa Selena merasakan kehangatan kulitnya. Tindakan itu begitu intim, sangat berbeda dengan aura membunuh yang baru saja dia pancarkan beberapa detik lalu.
"Membuatmu tetap berada di tempat yang seharusnya," jawab Don tegas. "Di dekatku."
Selena menatap pria di depannya dengan tatapan kosong dan air mata yang mengering di pipi piasnya.
"Tempatku bukan di sini, jadi izinkan aku pergi, Tuan," mohon Selena. Melihat nyawa orang seperti mainan bagi pria itu, membuat Selena ingin kabur sejauh mungkin.
"Shhh!" Don menenangkan Selena dengan usapan lembut di punggungnya.
Dia menunduk sejenak, memperhatikan tubuh Selena yang masih bergetar di pangkuannya. Diletakkan gadis itu dengan hati-hati di sofa, lalu bangkit berdiri.
"Marco," panggil Don, suaranya berupa bisikan bariton yang teramat rendah, nyaris tak terdengar oleh Selena yang sedang kalut. "Cari tahu segalanya tentang gadis ini. Detik ini juga. Aku ingin semua datanya ada di tanganku sebelum mobil kita sampai di mansion."
Marco tidak banyak bertanya. Pria berjas hitam itu hanya mengangguk takzim, lalu menempelkan ponsel satelitnya ke telinga, bergerak mundur ke sudut kegelapan luar ruangan untuk menggerakkan jaringan intelijen Mackenzie yang terkenal mampu membongkar rahasia negara dalam hitungan menit.
Bagi Don, mengklaim sesuatu berarti harus menguasai seluruh aspeknya. Dia tidak akan membiarkan "obatnya" memiliki rahasia yang tidak dia ketahui. Dan hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit, Marco sudah kembali merapat di sisi kiri Don. Ia menyerahkan sebuah tablet digital yang menampilkan berkas berkode merah.
"Namanya Selena, Tuan Muda," bisik Marco cepat, matanya tetap waspada menatap sekitar.
"Kasir minimarket dua belas jam sehari. Ayahnya pemabuk dan pecandu judi akut. Ibunya, Rebecca, kritis di bangsal kelas tiga rumah sakit umum akibat gagal ginjal. Pihak rumah sakit memberikan tenggat waktu pembayaran malam ini, atau semua alat penunjang hidup ibunya akan dicabut."
Don melirik sekilas ke arah layar tablet, membaca ringkasan hidup Selena. Seringai tipisnya kembali muncul. Informasi adalah senjata, dan malam ini, Don memegang kendali penuh atas hidup dan mati wanita di depannya itu.
Don kembali ke sofa dan langsung menggendong tubuh Selena. Gadis itu panik, insting bertahannya menyala kembali saat Don melangkah lebar keluar dari ruang privat, melewati koridor temaram Grand Lumina Hotel yang kini dijaga ketat oleh belasan anak buah berjas hitam.
"Turunkan aku! Aku bukan barang yang bisa kau pindahkan sesukamu!" Selena berontak, memukul pundak tegap Don dengan sisa tenaga yang dia miliki. Kelelahan setelah bekerja 12 jam, ditambah dengan kepanikan, membuat Selena tidak punya tenaga ekstra untuk melawan.
"Kau sudah membayar utang ayahku, katakan berapa bunganya! Aku akan mencicilnya seumur hidupku! Tapi lepaskan aku!"
Langkah Don terhenti tepat di depan pintu lift khusus VIP. Dia menunduk, menatap Selena dengan tatapan lurus yang sanggup menguliti harga diri gadis itu.
"Mencicil satu milyar dengan gajimu sebagai kasir minimarket?" Don terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar di dada, mengintimidasi sekaligus anehnya terasa seksi. "Kau butuh sepuluh kali kehidupan untuk melunasinya, Nona. Dan aku tidak suka menunggu."
Ting.
Pintu lift terbuka, langsung mengarah ke area basement khusus di mana sebuah Rolls-Royce Phantom hitam pekat sudah menunggu dengan pintu belakang yang terbuka. Selena diletakkan dengan hati-hati—nyaris terlalu lembut untuk ukuran seorang bos mafia—ke atas jok kulit premium yang sewangi kayu cedar. Sebelum Selena sempat merangkak ke pintu seberang, tubuh besar Don sudah menyusul masuk, mengunci ruang geraknya seketika.
"Mansion, Marco. Dan segera hubungi Dr. Adrian. Suruh dia memindahkan pasien bernama Rebecca dari bangsal kelas tiga rumah sakit umum ke kamar VVIP Rumah Sakit Pusat Mackenzie malam ini juga. Berikan perawatan terbaik," perintah Don dingin pada asistennya di kursi depan.
Mendengar nama ibunya disebut, kemarahan Selena mendadak surut, digantikan oleh rasa terkejut yang luar biasa. "Kau ... bagaimana kau tahu nama ibuku? Dan dari mana kau tahu dia di rumah sakit umum?!"
Don menunduk, menatap Selena dengan tatapan lurus yang seolah sanggup membaca isi kepalanya.
"Aku tahu segalanya tentang apa yang sudah menjadi milikku, Selena," sahut Don datar, ibu jarinya mengusap pergelangan tangan Selena yang lebam. "Pekerjaan kasir minimarketmu, utang ayahmu, hingga sisa waktu ibumu. Di duniaku, tidak ada rahasia yang bisa kau sembunyikan dariku."
Kakek Vargas menatap Don tajam selama beberapa detik. Hening merayapi ruang makan utama, membuat para pelayan yang berdiri di sudut ruangan menahan napas kaku dan tegang.Suasana tegang mengendap, seolah satu kata salah dari Don bisa memicu ledakan amarah sang Patriarch.Tiba-tiba, tawa renyah dan bersahabat meledak dari dada Kakek Vargas. Pria tua itu tertawa terbahak-bahak sambil memukul lantai marmer dengan ujung tongkat kayunya keras-keras."Hahaha! Luar biasa! Bagus sekali, Don!" seru Kakek Vargas dengan mata berbinar bangga, sama sekali tidak tersinggung."Aku kira Kakek bakal marah," gumam Don nyaris tak terdengar karena suara Kakek Vargas yang menggelegar."Pria Mackenzie yang sejati tidak boleh percaya bahkan pada bayangannya sendiri jika itu menyangkut nyawa anak dan istrinya!"Don tidak mengendurkan garis rahangnya yang tegas, tetapi ketegangan di bahunya sedikit mencair. "Aku cuma tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun, Kakek. Terutama setelah apa yang terjadi di Milan
"Kau terlambat dua puluh menit, Don," sambut Kakek Vargas dengan suara baritonnya yang bergema di aula batu."Penerbangan sedikit terlambat karena Paman Dante, Kakek," sahut Don datar seraya menuntun Selena mendekati sang Patriarch.Kakek Vargas mengabaikan Don, matanya langsung tertuju pada Selena. Pandangan tuanya melunak seketika saat menatap wanita muda itu."Bagaimana keadaannya, Selena? Anak di dalam perutmu tidak terganggu oleh suara helikopter bising ini, kan?"Selena menyunggingkan senyum anggun, membungkuk hormat."Cicit Kakek sangat tangguh seperti Papanya dan Kakeknya. Dia bahkan tertidur lelap sepanjang penerbangan."Tawa renyah Kakek Vargas meledak, memukul lantai batu dengan tongkatnya. "Luar biasa! Darah sejati Mackenzie memang tidak pernah takut pada letusan senjata!"Pria tua itu kemudian menoleh ke arah Marco yang baru saja menyeret Dante yang terikat rantai besi tebal ke tengah aula. Wajah Dante sudah bonyok dan berdarah-darah, tidak ada lagi sisa keangkuhan dari p
Deru mesin helikopter milik Don membelah kegelapan malam di atas langit Italia. Di dalam kabin yang luas dan terisolasi dari bising luar, lampu temaram berwarna keemasan menyinari interior kemewahan berbalut kulit.Don duduk di sofa kulit kabin, menarik Selena ke dalam pangkuannya. Pria itu menyelimuti tubuh Selena dengan mantel bulu tebal, melingkarkan kedua tangannya di perut rata istrinya yang terbalut gaun santai."Kau baik-baik saja, Piccola?""Hmm," jawab Selana sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Don, jemarinya sibuk mengetik instruksi di atas tablet pintar yang terhubung langsung dengan satelit komunikasi klan."Minum air hangatmu," gumam Don dengan suara beratnya di telinga Selena, menyodorkan gelas termos kecil ke bibir istrinya.Selena tidak memalingkan mata dari layar tablet, tapi menurut dan menyesap air hangat itu pelan."Jalur penerbangan kita aman, Don. Helikopter pengawal membendung rute udara dari arah pelabuhan.""Matikan tablet itu, Selena," pangkas Don da
Titik-titik merah sinar laser dari luar jendela jatuh tepat di dahi Dante dan para pengawalnya. Suara gemuruh baling-baling helikopter tempur yang menderu memecah keheningan malam Milan, membuat kaca-kaca tebal penthouse bergetar hebat."Apa maksud kau, Don?" sentaknya sambil menatap Don yang sedang tersenyum miring seperti biasa saat tahu kelemahan musuh."Aku cuma ingin menyambut kau, Paman," ucapnya santai.Dante mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya bergerak liar menatap titik laser di dadanya. Pria tua itu mencoba menyembunyikan getaran di lututnya, menyunggingkan senyum sengit."Ini pasti kerjaanmu kan! Kau gertak aku, Gadis Kasir?" desis Dante yang kini menuduh Selena dengan suara paraunya yang berisik . Tangan kanannya perlahan menyusup ke balik saku jas mewahnya."Jangan susah-sudah cari senjatamu, Paman. Oh ya, memangnya kenapa kalau aku yang lakukan semua ini?" tantang Selena yang membuat darah Dante semakin mendidih."Kau pikir helikopter di luar itu bisa menghentikan pe
Pria itu mengenakan setelan hitam tanpa lambang klan apa pun, wajahnya tertutup topeng kain rapat. Di tangan kanannya, sebuah peredam senjata panjang teracung lurus ke arah dada Don.Namun, yang membuat Don mematungkan langkahnya bukan senjata itu, melainkan pria kedua yang melangkah masuk secara perlahan di belakang sang penyergap.Pria tua itu berjalan menggunakan tongkat perak berukir khusus. Rambut peraknya tertata rapi, dan matanya memancarkan kejamnya aura dingin yang teramat dikenal oleh Don sejak kecil."Luar biasa, Cucuku." Suara pria tua itu bergema rendah, penuh celaan yang menusuk."Kau menghancurkan keluarga Delaros hanya karena umpan murahan dari seorang gadis kasir?"Don menyipitkan mata, rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menegang hebat."Dante Mackenzie?"Pria tua itu menyunggingkan senyum sinis yang mampu mendinginkan udara di sekitar. Dante Mackenzie, paman kandung Don, yang seharusnya sudah diasingkan ke
'Pengumuman tentang kehamilan ini tidak boleh berhenti sampai di sini saja," titah Kakek Vargas.'Apa kita perlu membuat gala dinner?' tanya Don bersemangat.'Tepat sekali. Dengar! Minggu depan, aku menggelar Pesta Besar Pengukuhan Pewaris Utama di kediaman Tuscany. Seluruh petinggi klan, sekutu internasional, dan para musuh dalam selimut, termasuk Eleanora dan Julian, wajib hadir.''Kakek mau memancing mereka keluar?' tanya Don, matanya berkilat menangkap maksud sang kakek.'Aku mau menunjukkan ke seluruh Eropa siapa pemilik takhta Mackenzie yang sesungguhnya," sahut Kakek Vargas tanpa ragu sedikit pun.Selena tersenyum puas mendengar ucapan Kakek Vargas. Dia tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah 180 derajat hanya dalam sekejap mata.'Baik, Kakek.''Bagus! Bersiaplah. Pesta minggu depan bukan sekadar perayaan, tapi panggung pembantaian politik untuk siapa pun yang masih







