แชร์

5. Menjadi Tawanan

ผู้เขียน: MyMelody
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-14 16:30:19

Selena tersentak. Sentuhan ibu jari Don di atas kulitnya yang lebam terasa panas membakar akal sehatnya. Kata-kata pria itu bukan sekadar bualan. Rasa ngeri menjalar dari ujung kaki hingga ke dada Selena.

"Kau ... monster kejam dan berdarah dingin," bisik Selena, suaranya bergetar dengan amarah yang bercampur dengan rasa tidak berdaya.

Dia menarik tangannya dengan paksa, menyentakkannya dari cengkeraman Don, lalu memeluk tubuhnya sendiri, mencoba membangun benteng pertahanan terakhir di sudut jok Rolls-Royce yang teramat luas itu.

"Kau menguntitku? Menguliti hidupku seolah aku ini seonggok daging di pasar? Aku manusia, Tuan! Aku punya nama dan punya kehidupan, dan aku bukan salah satu dari barang-barang mewah di mobil sialanmu ini!" pekik Selena, matanya yang basah menyala oleh sisa harga diri yang menolak untuk tunduk.

Don tidak memaksanya. Dia membiarkan Selena menjauh beberapa sentimeter. Namun, sepasang mata gelapnya tetap mengunci pergerakan gadis itu tanpa putus. Ekspresinya tetap datar dan dingin. Baginya, ledakan amarah Selena hanyalah riak kecil di permukaan air yang tenang.

"Manusia katamu?" Don mendengus rendah, sebuah tawa sinis yang menyakitkan.

"Manusia yang harganya ditentukan oleh selembar kertas utang ayahnya? Atau manusia yang nyawa ibunya dihargai tenggat waktu malam ini?"

Don condong ke depan, memangkas kembali jarak yang baru saja Selena buat.

"Jika aku tidak menguliti hidupmu malam ini, ibumu sudah menjadi mayat di bangsal kotor itu, dan kau sudah merangkak di lantai kasino murahan milik bandot tambun tadi. Seharusnya kau berterima kasih karena monster ini yang memilihmu."

Selena terkesiap, kata-kata Don menghantamnya telak di ulu hati. Kenyataan pahit itu membungkam bibirnya seketika. Dia ingin membantah, ingin memaki pria arogan di hadapannya ini. Namun, logikanya tahu bahwa setiap kata yang diucapkan Don adalah kebenaran yang berdarah.

Dia telah diselamatkan oleh iblis, dan harga yang harus dibayar adalah kebebasannya sendiri. Selena memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil, menatap lampu-lampu kota yang mengabur karena air mata yang kembali menggenang.

Dia menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga terasa anyir, merutuki nasibnya yang kini sepenuhnya berada di bawah cengkeraman jemari kejam Don Mackenzie. Dia benci pria itu.

Don tidak mengucapkan sepatah kata lagi, dia malah merengkuh pinggang Selena, menarik tubuh gadis itu tanpa bantahan agar bersandar di dadanya.

Anehnya, meskipun Selena terus menolak dalam hati, kehangatan tubuh Don dan aroma maskulin yang mahal berpadu dengan wangi vanilanya sendiri mulai membuat kelopak matanya yang bengkak terasa berat. Kelelahan setelah dua belas jam berdiri kini menuntut haknya.

"Aku bukan milikmu," gumam Selena setengah sadar, suaranya mulai melemah saat mobil mewah itu membelah jalanan kota dengan mulus tanpa guncangan. "Aku menolak ... Aku akan lari. Jangan kira aku akan menyerah begitu saja."

Don hanya mengusap rambut panjang Selena dengan gerakan perlahan, hampir seperti menidurkan seekor kucing liar yang terluka. "Silakan dicoba, Sweetheart. Tapi duniamu kini sudah menyempit ... hanya sejauh jangkauan lenganku."

Sambil menenangkan Selena, salah satu tangannya membuka ponsel. Sebuah pesan singkat dari Kakeknya membuatnya menggeram kesal.

'Apa yang kamu lakukan pada Valerie? Dan siapa wanita yang kamu bawa pulang ke mansion?'

"Hah! Betapa cepatnya kabar ini menyebar," gumam Don dingin dengan rahang mengeras.

Dia tidak membalas, hanya menggeletakkan ponsel itu di sampingnya dan kembali menatap Selena yang hampir tertidur.

Satu jam perjalanan yang sunyi membawa mereka melewati gerbang besi raksasa setinggi lima meter yang dijaga ketat oleh pria-pria bersenjata laras panjang. Sebuah istana bergaya Gotik modern berdiri megah di atas perbukitan sepi, dikelilingi oleh taman mawar putih yang luas.

Tempat itu adalah kediaman utama Don Mackenzie—sebuah sangkar emas yang tak tertembus oleh lawan mau pun kawan. Semua harus melewati proses pemeriksaan yang ketat sebelum menginjakkan kaki ke dalam istana Don.

Saat mobil berhenti, Don kembali menggendong Selena yang kini sudah terlalu lemas untuk memberontak. Langkah kaki mereka menggema di aula utama yang berlantai marmer mahal berkilau. Dua baris pelayan berpakaian seragam rapi menunduk hormat saat Don lewat.

"Selamat datang kembali, Tuan Muda Don," ucap seorang kepala pelayan tua dengan hormat.

Don tidak berhenti atau pun menjawab. Dia terus membawa Selena naik ke lantai atas, menuju kamar tidur utamanya yang bernuansa gelap dan mewah. Tubuh Selena diletakkan di atas ranjang king-size berselimut sutra beludru.

Selena mengerjapkan matanya, memandang sekeliling kamar yang luasnya tiga kali lipat dari rumah kontrakannya. Kemewahan ini terasa mencekik, membuatnya merasa semakin terasing.

Ketika Don berbalik seolah hendak meninggalkannya, Selena mengumpulkan sisa keberaniannya. Dia bangkit duduk, mencengkeram ujung selimut mahal itu.

"Kenapa kau melakukan ini?" tuntut Selena, suaranya memecah keheningan kamar. "Kau kaya dan berkuasa. Kau bisa mendapatkan wanita mana pun di kota ini hanya dengan menjentikkan jarimu. Kenapa harus aku yang jadi tawananmu hanya karena salah masuk ruanganmu?! Apa maumu?"

Don menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu geser yang terbuat dari kaca antipeluru. Dia berbalik lambat, separuh wajah rupawannya tenggelam dalam kegelapan malam, sementara separuhnya lagi diterangi lampu temaram kamar.

Sepasang mata gelapnya berkilat dengan intensitas yang sanggup menghentikan detak jantung.

"Karena kau adalah satu-satunya alasan mengapa kepalaku tidak pecah malam ini, Selena," ucap Don, untuk pertama kalinya menyebut nama gadis itu dengan penekanan yang dalam.

"Kau adalah penawar sekaligus kutukanku. Dan di dunia yang penuh dengan orang yang ingin membunuhku, aku butuh obatku tetap hidup."

"Penawar? Apa maksudmu?" tanya Selena bingung. "Aku bukan dokter atau tabib ajaib yang bisa meramu obat untukmu."

Don terdiam sejenak, gadis itu ternyata belum menyadari kalau aroma parfum dan aroma tubuhnya telah meredakan migrain akut yang menyiksanya.

Dia melangkah mendekat, membungkuk di atas ranjang hingga wajah mereka sejajar. Hawa dingin mendadak menguar dari balik jubah hitamnya. Begitu mematikan sekaligus mempesona.

"Aku tidak perlu obat ramuan karena kamu adalah penawar itu sendiri. Tapi jangan mengira tempat ini adalah surga amanmu, Nona" bisik Don, suaranya mendadak berubah menjadi desisan tajam yang sarat akan ancaman luar biasa.

"Apa maksudmu?" cicit Selena ketakutan.

"Kakekku, kepala tertinggi Mackenzie, baru saja mengetahui bahwa aku membawa pulang seorang gadis asing, bukan wanita pilihan keluarga yang seharusnya kunikahi malam ini."

Don menjeda kalimatnya, kilat bahaya di matanya kini bercampur dengan ketegangan yang nyata.

"Besok pagi, seluruh eksekutor keluarga Mackenzie akan datang ke mansion ini untuk menuntut kepalamu, Nona. Jadi bersiaplah, karena mulai besok, taruhan untuk tetap berada di sampingku bukan lagi sekadar utang yang telah lunas ..." Don menyentuh bibir pias Selena dengan ibu jarinya yang hangat, "... melainkan nyawamu sendiri."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Penawar Sang Boss Mafia   111. Penerus Mackenzie

    Kakek Vargas menatap Don tajam selama beberapa detik. Hening merayapi ruang makan utama, membuat para pelayan yang berdiri di sudut ruangan menahan napas kaku dan tegang.Suasana tegang mengendap, seolah satu kata salah dari Don bisa memicu ledakan amarah sang Patriarch.Tiba-tiba, tawa renyah dan bersahabat meledak dari dada Kakek Vargas. Pria tua itu tertawa terbahak-bahak sambil memukul lantai marmer dengan ujung tongkat kayunya keras-keras."Hahaha! Luar biasa! Bagus sekali, Don!" seru Kakek Vargas dengan mata berbinar bangga, sama sekali tidak tersinggung."Aku kira Kakek bakal marah," gumam Don nyaris tak terdengar karena suara Kakek Vargas yang menggelegar."Pria Mackenzie yang sejati tidak boleh percaya bahkan pada bayangannya sendiri jika itu menyangkut nyawa anak dan istrinya!"Don tidak mengendurkan garis rahangnya yang tegas, tetapi ketegangan di bahunya sedikit mencair. "Aku cuma tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun, Kakek. Terutama setelah apa yang terjadi di Milan

  • Penawar Sang Boss Mafia   110. Bayi yang Tangguh

    "Kau terlambat dua puluh menit, Don," sambut Kakek Vargas dengan suara baritonnya yang bergema di aula batu."Penerbangan sedikit terlambat karena Paman Dante, Kakek," sahut Don datar seraya menuntun Selena mendekati sang Patriarch.Kakek Vargas mengabaikan Don, matanya langsung tertuju pada Selena. Pandangan tuanya melunak seketika saat menatap wanita muda itu."Bagaimana keadaannya, Selena? Anak di dalam perutmu tidak terganggu oleh suara helikopter bising ini, kan?"Selena menyunggingkan senyum anggun, membungkuk hormat."Cicit Kakek sangat tangguh seperti Papanya dan Kakeknya. Dia bahkan tertidur lelap sepanjang penerbangan."Tawa renyah Kakek Vargas meledak, memukul lantai batu dengan tongkatnya. "Luar biasa! Darah sejati Mackenzie memang tidak pernah takut pada letusan senjata!"Pria tua itu kemudian menoleh ke arah Marco yang baru saja menyeret Dante yang terikat rantai besi tebal ke tengah aula. Wajah Dante sudah bonyok dan berdarah-darah, tidak ada lagi sisa keangkuhan dari p

  • Penawar Sang Boss Mafia   109. Singgasana

    Deru mesin helikopter milik Don membelah kegelapan malam di atas langit Italia. Di dalam kabin yang luas dan terisolasi dari bising luar, lampu temaram berwarna keemasan menyinari interior kemewahan berbalut kulit.Don duduk di sofa kulit kabin, menarik Selena ke dalam pangkuannya. Pria itu menyelimuti tubuh Selena dengan mantel bulu tebal, melingkarkan kedua tangannya di perut rata istrinya yang terbalut gaun santai."Kau baik-baik saja, Piccola?""Hmm," jawab Selana sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Don, jemarinya sibuk mengetik instruksi di atas tablet pintar yang terhubung langsung dengan satelit komunikasi klan."Minum air hangatmu," gumam Don dengan suara beratnya di telinga Selena, menyodorkan gelas termos kecil ke bibir istrinya.Selena tidak memalingkan mata dari layar tablet, tapi menurut dan menyesap air hangat itu pelan."Jalur penerbangan kita aman, Don. Helikopter pengawal membendung rute udara dari arah pelabuhan.""Matikan tablet itu, Selena," pangkas Don da

  • Penawar Sang Boss Mafia   108. Penyambutan

    Titik-titik merah sinar laser dari luar jendela jatuh tepat di dahi Dante dan para pengawalnya. Suara gemuruh baling-baling helikopter tempur yang menderu memecah keheningan malam Milan, membuat kaca-kaca tebal penthouse bergetar hebat."Apa maksud kau, Don?" sentaknya sambil menatap Don yang sedang tersenyum miring seperti biasa saat tahu kelemahan musuh."Aku cuma ingin menyambut kau, Paman," ucapnya santai.Dante mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya bergerak liar menatap titik laser di dadanya. Pria tua itu mencoba menyembunyikan getaran di lututnya, menyunggingkan senyum sengit."Ini pasti kerjaanmu kan! Kau gertak aku, Gadis Kasir?" desis Dante yang kini menuduh Selena dengan suara paraunya yang berisik . Tangan kanannya perlahan menyusup ke balik saku jas mewahnya."Jangan susah-sudah cari senjatamu, Paman. Oh ya, memangnya kenapa kalau aku yang lakukan semua ini?" tantang Selena yang membuat darah Dante semakin mendidih."Kau pikir helikopter di luar itu bisa menghentikan pe

  • Penawar Sang Boss Mafia   107. Selamat Datang di Milan!

    Pria itu mengenakan setelan hitam tanpa lambang klan apa pun, wajahnya tertutup topeng kain rapat. Di tangan kanannya, sebuah peredam senjata panjang teracung lurus ke arah dada Don.Namun, yang membuat Don mematungkan langkahnya bukan senjata itu, melainkan pria kedua yang melangkah masuk secara perlahan di belakang sang penyergap.Pria tua itu berjalan menggunakan tongkat perak berukir khusus. Rambut peraknya tertata rapi, dan matanya memancarkan kejamnya aura dingin yang teramat dikenal oleh Don sejak kecil."Luar biasa, Cucuku." Suara pria tua itu bergema rendah, penuh celaan yang menusuk."Kau menghancurkan keluarga Delaros hanya karena umpan murahan dari seorang gadis kasir?"Don menyipitkan mata, rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menegang hebat."Dante Mackenzie?"Pria tua itu menyunggingkan senyum sinis yang mampu mendinginkan udara di sekitar. Dante Mackenzie, paman kandung Don, yang seharusnya sudah diasingkan ke

  • Penawar Sang Boss Mafia   106. Mati Listrik

    'Pengumuman tentang kehamilan ini tidak boleh berhenti sampai di sini saja," titah Kakek Vargas.'Apa kita perlu membuat gala dinner?' tanya Don bersemangat.'Tepat sekali. Dengar! Minggu depan, aku menggelar Pesta Besar Pengukuhan Pewaris Utama di kediaman Tuscany. Seluruh petinggi klan, sekutu internasional, dan para musuh dalam selimut, termasuk Eleanora dan Julian, wajib hadir.''Kakek mau memancing mereka keluar?' tanya Don, matanya berkilat menangkap maksud sang kakek.'Aku mau menunjukkan ke seluruh Eropa siapa pemilik takhta Mackenzie yang sesungguhnya," sahut Kakek Vargas tanpa ragu sedikit pun.Selena tersenyum puas mendengar ucapan Kakek Vargas. Dia tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah 180 derajat hanya dalam sekejap mata.'Baik, Kakek.''Bagus! Bersiaplah. Pesta minggu depan bukan sekadar perayaan, tapi panggung pembantaian politik untuk siapa pun yang masih

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status