登入Selena tersentak. Sentuhan ibu jari Don di atas kulitnya yang lebam terasa panas membakar akal sehatnya. Kata-kata pria itu bukan sekadar bualan. Rasa ngeri menjalar dari ujung kaki hingga ke dada Selena.
"Kau ... monster kejam dan berdarah dingin," bisik Selena, suaranya bergetar dengan amarah yang bercampur dengan rasa tidak berdaya. Dia menarik tangannya dengan paksa, menyentakkannya dari cengkeraman Don, lalu memeluk tubuhnya sendiri, mencoba membangun benteng pertahanan terakhir di sudut jok Rolls-Royce yang teramat luas itu.
"Kau menguntitku? Menguliti hidupku seolah aku ini seonggok daging di pasar? Aku manusia, Tuan! Aku punya nama dan punya kehidupan, dan aku bukan salah satu dari barang-barang mewah di mobil sialanmu ini!" pekik Selena, matanya yang basah menyala oleh sisa harga diri yang menolak untuk tunduk.
Don tidak memaksanya. Dia membiarkan Selena menjauh beberapa sentimeter. Namun, sepasang mata gelapnya tetap mengunci pergerakan gadis itu tanpa putus. Ekspresinya tetap datar dan dingin. Baginya, ledakan amarah Selena hanyalah riak kecil di permukaan air yang tenang.
"Manusia katamu?" Don mendengus rendah, sebuah tawa sinis yang menyakitkan.
"Manusia yang harganya ditentukan oleh selembar kertas utang ayahnya? Atau manusia yang nyawa ibunya dihargai tenggat waktu malam ini?"
Don condong ke depan, memangkas kembali jarak yang baru saja Selena buat.
"Jika aku tidak menguliti hidupmu malam ini, ibumu sudah menjadi mayat di bangsal kotor itu, dan kau sudah merangkak di lantai kasino murahan milik bandot tambun tadi. Seharusnya kau berterima kasih karena monster ini yang memilihmu."
Selena terkesiap, kata-kata Don menghantamnya telak di ulu hati. Kenyataan pahit itu membungkam bibirnya seketika. Dia ingin membantah, ingin memaki pria arogan di hadapannya ini. Namun, logikanya tahu bahwa setiap kata yang diucapkan Don adalah kebenaran yang berdarah. Dia telah diselamatkan oleh iblis, dan harga yang harus dibayar adalah kebebasannya sendiri.
Selena memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil, menatap lampu-lampu kota yang mengabur karena air mata yang kembali menggenang. Dia menggigit bibir bawahnya erat-erat hingga terasa anyir, merutuki nasibnya yang kini sepenuhnya berada di bawah cengkeraman jemari kejam Don Mackenzie. Dia benci pria itu.
Don tidak mengucapkan sepatah kata lagi, dia malah merengkuh pinggang Selena, menarik tubuh gadis itu tanpa bantahan agar bersandar di dadanya. Anehnya, meskipun Selena terus menolak dalam hati, kehangatan tubuh Don dan aroma maskulin yang mahal berpadu dengan wangi vanilanya sendiri mulai membuat kelopak matanya yang bengkak terasa berat. Kelelahan setelah dua belas jam berdiri kini menuntut haknya.
"Aku bukan milikmu," gumam Selena setengah sadar, suaranya mulai melemah saat mobil mewah itu membelah jalanan kota dengan mulus tanpa guncangan. "Aku menolak ... Aku akan lari. Jangan kira aku akan menyerah begitu saja."
Don hanya mengusap rambut panjang Selena dengan gerakan perlahan, hampir seperti menidurkan seekor kucing liar yang terluka. "Silakan dicoba, Sweetheart. Tapi duniamu kini sudah menyempit ... hanya sejauh jangkauan lenganku."
Sambil menenangkan Selena, salah satu tangannya membuka ponsel. Sebuah pesan singkat dari Kakeknya membuatnya menggeram kesal.
'Apa yang kamu lakukan pada Valerie? Dan siapa wanita yang kamu bawa pulang ke mansion?'
"Hah! Betapa cepatnya kabar ini menyebar," gumam Don dingin dengan rahang mengeras.
Dia tidak membalas, hanya menggeletakkan ponsel itu di sampingnya dan kembali menatap Selena yang hampir tertidur.
Satu jam perjalanan yang sunyi membawa mereka melewati gerbang besi raksasa setinggi lima meter yang dijaga ketat oleh pria-pria bersenjata laras panjang. Sebuah istana bergaya Gotik modern berdiri megah di atas perbukitan sepi, dikelilingi oleh taman mawar putih yang luas. Tempat itu adalah kediaman utama Don Mackenzie—sebuah sangkar emas yang tak tertembus oleh lawan mau pun kawan. Semua harus melewati proses pemeriksaan yang ketat sebelum menginjakkan kaki ke dalam istana Don.
Saat mobil berhenti, Don kembali menggendong Selena yang kini sudah terlalu lemas untuk memberontak. Langkah kaki mereka menggema di aula utama yang berlantai marmer mahal berkilau. Dua baris pelayan berpakaian seragam rapi menunduk hormat saat Don lewat.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda Don," ucap seorang kepala pelayan tua dengan hormat.
Don tidak berhenti atau pun menjawab. Dia terus membawa Selena naik ke lantai atas, menuju kamar tidur utamanya yang bernuansa gelap dan mewah. Tubuh Selena diletakkan di atas ranjang king-size berselimut sutra beludru.
Selena mengerjapkan matanya, memandang sekeliling kamar yang luasnya tiga kali lipat dari rumah kontrakannya. Kemewahan ini terasa mencekik, membuatnya merasa semakin terasing. Ketika Don berbalik seolah hendak meninggalkannya, Selena mengumpulkan sisa keberaniannya. Dia bangkit duduk, mencengkeram ujung selimut mahal itu.
"Kenapa kau melakukan ini?" tuntut Selena, suaranya memecah keheningan kamar. "Kau kaya dan berkuasa. Kau bisa mendapatkan wanita mana pun di kota ini hanya dengan menjentikkan jarimu. Kenapa harus aku yang jadi tawananmu hanya karena salah masuk ruanganmu?! Apa maumu?"
Don menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu geser yang terbuat dari kaca antipeluru. Dia berbalik lambat, separuh wajah rupawannya tenggelam dalam kegelapan malam, sementara separuhnya lagi diterangi lampu temaram kamar.
Sepasang mata gelapnya berkilat dengan intensitas yang sanggup menghentikan detak jantung.
"Karena kau adalah satu-satunya alasan mengapa kepalaku tidak pecah malam ini, Selena," ucap Don, untuk pertama kalinya menyebut nama gadis itu dengan penekanan yang dalam.
"Kau adalah penawar sekaligus kutukanku. Dan di dunia yang penuh dengan orang yang ingin membunuhku, aku butuh obatku tetap hidup."
"Penawar? Apa maksudmu?" tanya Selena bingung. "Aku bukan dokter atau tabib ajaib yang bisa meramu obat untukmu."
Don terdiam sejenak, gadis itu tertanya belum menyadari kalau aroma parfum dan aroma tubuhnya telah meredakan migrain akut yang menyiksanya. Dia melangkah mendekat, membungkuk di atas ranjang hingga wajah mereka sejajar. Hawa dingin mendadak menguar dari balik jubah hitamnya. Begitu mematikan sekaligus mempesona.
"Aku tidak perlu obat ramuan karena kamu adalah penawar itu sendiri. Tapi jangan mengira tempat ini adalah surga amanmu, Nona" bisik Don, suaranya mendadak berubah menjadi desisan tajam yang sarat akan ancaman luar biasa.
"Apa maksudmu?" cicit Selena ketakutan.
"Kakekku, kepala tertinggi Mackenzie, baru saja mengetahui bahwa aku membawa pulang seorang gadis asing, bukan wanita pilihan keluarga yang seharusnya kunikahi malam ini."
Don menjeda kalimatnya, kilat bahaya di matanya kini bercampur dengan ketegangan yang nyata.
"Besok pagi, seluruh eksekutor keluarga Mackenzie akan datang ke mansion ini untuk menuntut kepalamu, Nona. Jadi bersiaplah ... karena mulai besok, taruhan untuk tetap berada di sampingku bukan lagi sekadar utang yang telah lunas ..." Don menyentuh bibir pias Selena dengan ibu jarinya yang hangat, "... melainkan nyawamu sendiri."
"Gunakan pisaumu, Selena!" seru Don di tengah deru napasnya yang memburu. Selena yang panik karena kegelapan dan bunyi tembakan tadi, berusaha untuk mengumpulkan keberaniannya kembali. “Lakukan sekarang, Piccola!” Don yang masih terus memberikan pukulan membabi-buta, semakin cemas kalau sampai terjadi sesuatu pada wanita miliknya. Di detik yang sama, Selena tiba-tiba merasakan hembusan napas asing dan hangat tepat di belakang lehernya. Sebuah lengan tebal berkulit kasar melilit lehernya dari belakang, mengunci jalur pernapasannya hingga gaun sutra merah yang dikenakannya tertarik ke atas. "Ikut kami, Gadis Kasir," bisik suara berat pengawal klan di telinganya. Oksigen di paru-paru Selena mendadak terkuras habis. Pandangannya mulai memburam, tapi ingatan akan sentuhan Don saat menyembunyikan pisau di balik gaunnya memicu refleks murni. Jemari Selena bergerak kilat menyambar gagang pisau tersebut di dalam lipatan gaunnya. SRET! Selena memutar tubuhnya dan menancapkan bilah titani
"Alaaaah, bilang aja kau tidak tahu apa-apa tentang anggur mahal.""Oh ya? Aku tak peduli. Tapi aku tahu nilai sebuah kehidupan. Berbeda dengan orang-orang di meja ini yang menumpahkan darah hanya demi ego."Selena melirik Valeria dengan senyum tipis yang mengejek."Dan satu hal lagi, Valeria. Kau perlu belajar tata krama bagaimana menghargai orang lain.""Aku tahu bagaimana menghargai orang lain. Tapi orang seperti kau tak pantas dihargai," dengus Valerie."Hmm, sepertinya kelas sosial yang kau banggakan itu tidak ada harganya."Wajah Valeria memerah padam. "Kau! Dasar wanita tidak tahu diri!""Cukup, Valeria," potong Tuan Vargas singkat membuat Valerie langsung cemberut. Pria tua itu justru mengamati Selena dengan senyum miring yang makin dalam. Keberanian gadis di depannya ini benar-benar di luar ekspektasinya.Tuan Vargas meletakkan alat makannya, menyilangkan jemarinya di atas meja, lalu memajukan tubuhnya."Lidahmu memang sangat tajam, Gadis Kasir. Kau punya keberanian yang jara
"Racun Sianida berdosis tinggi," desis Don dingin, menatap lurus ke dalam mata Tuan Vargas yang masih bersikap tenang di ujung meja. "Kau benar-benar tidak sabar untuk mati malam ini, Kakek?"Pelayan tua yang melayani Selena tadinya, seketika pucat pasi dan melangkah mundur ketakutan, menundukkan kepala di hadapan Tuan Vargas."Kenapa diam, Kakek?" potong Don dengan suara sedingin es. Pria itu berdiri perlahan dari kursinya, meraih pisau daging tebal di meja, lalu menancapkannya kuat-kuat ke tengah meja makan.BAM!"Racun dosis tinggi di hidangan pertama," desis Don, menatap lurus Tuan Vargas yang masih santai menyesap anggurnya. "Kau sengaja memasang perangkap selicik ini di hadapanku?"Tuan Vargas mengusap bibirnya dengan serbet kain, lalu menatap Don tanpa rasa bersalah sedikit pun."Itu bukan perangkap, Don, tapi ujian," balas Tuan Vargas tenang, suaranya berat dan penuh intimidasi. "Wanita yang berdiri di samping penguasa klan tidak boleh ceroboh. Kalau dia mati hanya karena sep
Tuan Vargas memutar tubuhnya dan menatap Don bersama Selena yang masuk dan berjalan berdampingan, senyum hangat di wajah pria tua itu seketika sirna. Matanya menatap tajam, memancarkan kilatan kebencian yang dingin. Bola matanya narik turun atas bawah, menilai gadis pilihan Don yang berdiri di depannya.Don tetap santai, menuntun Selena mendekati ujung meja tempat Tuan Vargas berdiri. Begitu berdiri di depan Kakek Vargas, Selena memberanikan diri melangkah maju, mengulurkan tangannya secara sopan sebagai bentuk tata krama seorang tamu."Selamat malam, Tuan Vargas," ujar Selena tenang.Tuan Vargas hanya menatap tangan halus Selena yang terulur di depannya. Pria tua itu malah memilih menyilangkan kedua tangannya di belakang punggung, sama sekali tidak bergerak untuk menyambut uluran tangan itu.Suasana di dalam ruangan mendadak hening seketika. Para pengawal di sudut ruangan mulai meletakkan tangan mereka di atas gagang senjata."Rumahku hanya menerima ucapan selamat malam dari orang-o
"Aku tidak sedang mulai apa-apa, Piccola," sahut Don rendah, suaranya makin serak. Bukannya mundur, dia justru melangkah lebih merapat sampai dada telanjang Selena menempel di tubuhnya. "Aku cuma memakaikanmu selembar gaun.""I know! Tapi caramu memandangku tidak seperti orang yang mau membantuku mengenakan gaun sialan ini!" sergah Selena, pipinya mulai memerah panas.Don terkekeh tipis. Tangan besarnya tanpa permisi menyelusup ke belakang punggung Selena, menarik pinggang gadis itu hingga tak ada jarak tersisa di antara mereka.Niat awalnya memang murni untuk membantu, tetapi sentuhan kulit mulus Selena di bawah telapak tangannya yang kasar mendadak membakar sisa-sisa kontrol diri yang susah payah dia tahan sejak di kapal tadi."Kau terlalu banyak protes, dan bibirmu terlalu menggoda," gumam Don, lalu meraih gaun merah sutra itu dan meloloskannya melewati kepala Selena.Kain sutra dingin itu meluncur jatuh, membungkus tubuh Selena dengan pas. Namun, sebelum Selena sempat bernapas leg
"Kau tuli ya? Lepaskan tanganku, Brengsek!" bentak Valerie.Selena menatap Valerie tajam sebelum akhirnya menghentakkan tangannya hingga wanita bergaun merah itu terdorong mundur dua langkah dan hampir kehilangan keseimbangan di atas sepatu hak tingginya.Valerie mendengkus kesal, dadanya naik-turun menahan malu dan marah yang memuncak di depan belasan pengawal. "Don! Kau membiarkan wanita liar dan murahan ini mengancamku?!"Don yang sejak tadi berdiri diam di belakang Selena akhirnya tertawa, tawa puas dan penuh kebanggaan yang menggema di area dermaga yang sepi.Pria itu melangkah maju, lalu merengkuh pinggang Selena dari belakang dengan sangat posesif, menarik tubuh Selena merapat ke dadanya."Aku tidak membiarkannya, Valeria," sahut Don dingin, matanya menatap wanita itu dengan kilatan mata yang menyimpan amarah. "Aku cuma menikmati saat melihat wanitaku memberi pelajaran pada orang yang tidak tahu tata krama."Don memiringkan wajahnya, mencium pelipis Selena di hadapan Valerie ya







