Home / Mafia / Penawar Sang Boss Mafia / 6. Benci dan Bingung

Share

6. Benci dan Bingung

Author: MyMelody
last update publish date: 2026-07-22 13:00:33

Wajah rupawan berdarah asing itu membungkuk lebih dalam di atas ranjang hingga posisi tubuhnya mengurung Selena sepenuhnya. Kasur sutra yang empuk sedikit ambles di bawah bobot tubuh tegapnya, menyerap sisa-sisa keberanian yang coba Selena pertahankan.

"K-kamu mau apa?!" sentak Selena, telapak tangannya mendorong dada Don yang berotot, tapi tentu saja tenaganya tak sebanding dengan pria itu.

Don mendengus dan tersenyum miring, sebuah gestur dingin yang memabukkan sekaligus mengintimidasi. Pria itu semakin memangkas jarak di antara mereka hingga terkikis habis, menyisakan ruang sempit yang dipenuhi oleh perpaduan wangi maskulin kayu cedar milik Don dan keharuman vanila-lavender yang menguar begitu kuat dari kulit Selena akibat kepanikan yang memuncak.

"Shhh ..." desis Don rendah.

Tatapan Don yang tadinya sedingin es mendadak menggelap, terkunci sepenuhnya pada bibir tebal Selena yang sedikit terbuka dan gemetar. Keharuman manis yang terpancar dari setiap helaan napas Selena seolah menarik Don seperti magnet yang tak bisa dilawan, sebuah penawar yang menghilangkan sakit kepalanya yang menggila.

Selena membeku. Jantungnya bertalu-talu begitu hebat di rongga dada hingga dia yakin pria di atasnya bisa mendengar ketakutannya. Sekuat tenaga ia mencoba sekali lagi mendorong dada bidang itu lagi, bibirnya yang gemetar ingin memaki dan mengutuk takdir buruknya. Namun, tubuhnya mengkhianati akal sehatnya. Saraf-sarafnya lumpuh total di bawah intimidasi pesona Don yang sangat kuat.

"Pergi! Jangan dekati aku," desis Selena gemetar.

Bukan menjauh, kini wajah Don hanya berjarak beberapa milimeter, Selena yang ketakutan setengah mati tidak punya pilihan lain. Dia memejamkan mata erat-erat, meremas kain selimut halus di bawah jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih, bersiap untuk hal paling buruk yang akan dilakukan oleh sang mafia pada kehormatannya.

Napas Don yang panas dan memburu menyapu permukaan bibir Selena yang pias, mengalirkan sensasi menggelitik yang membuat seluruh saraf di tubuh gadis itu meremang ngeri sekaligus pasrah. Selena menunggu sentuhan kasar atau klaim sepihak yang brutal. Namun, beberapa detik berlalu, sentuhan itu tidak pernah datang.

Don menahan pergerakannya tepat di ujung bibir Selena. Kendali dirinya hampir hilang, terlihat dari rahang tegasnya yang mengeras hingga urat lehernya menonjol. Don terbiasa mendapat apa pun yang dia mau, tapi di depan gadis itu, dia harus menahan diri. Dan itu ternyata sangat susah.

Pria itu menarik kembali kepalanya perlahan. Dia menjauhkan wajah rupawannya dari wajah Selena yang masih terpejam erat dengan bulu mata yang basah oleh sisa air mata.

"Pelayan akan mengurus semua keperluanmu," ucap Don dengan bariton berat untuk mengalihkan pikirannya dari gairah dan kebutuhan posesif yang mendadak menerjangnya.

Don tidak ingin merusak penawarnya. Belum sekarang. Dia egois, dan dia menginginkan gadis ini utuh, menyerahkan diri dengan kesadarannya sendiri, bukan hancur karena paksaan kasar. Selena yang masih panik, membuka mata perlahan dengan napas yang memburu, menatap Don dengan pandangan bingung, cemas, dan campur aduk. Aroma dari tubuhnya semakin menguar kuat dan menenangkan pikiran Boss Mafia itu.

Don menegakkan tubuhnya kembali, berdiri tegap di sisi ranjang dengan keanggunan seorang penguasa. Seringai tipisnya yang dingin kembali terukir, menyembunyikan gejolak gila yang baru saja dia redam di dalam dadanya.

"Jangan berpikir aku akan memakanmu secepat itu, Nona. Aku menghargai obatku."

Ekspresi santai itu tidak bertahan lama. Hawa dingin dan berbahaya mendadak kembali terasa terasa dari balik jubah hitamnya, menggantikan kehangatan intim yang sempat terpercik di antara mereka beberapa detik lalu.

"Aku juga tidak sudi disentuh olehmu!" teriak Selena tak mau kalah, mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya yang telah diinjak-injak malam ini.

Don berbalik tanpa memandang atau membalas teriakan Selena lagi. Langkah kakinya yang berat dan mantap membawanya menuju pintu. Dia melangkah keluar dan mengunci pintu kamar dari luar.

Bunyi beep dari sistem keamanan elektronik yang canggih berkumandang nyaring, memutus akses Selena dari dunia luar secara langsung. Meninggalkan Selena yang membeku di tengah kegelapan kamar mewah, terkunci rapat dalam sangkar emas yang mungkin akan mengurungnya entah sampai kapan.

Selena merosot di atas tempat tidur empuk yang terasa begitu asing. Keheningan kamar raksasa itu menghantam dadanya seperti beban ton-tonan. Dia menarik kedua kakinya ke dada, memeluk lututnya sendiri, dan membiarkan tangisan yang seharian ini ditahannya pecah tanpa suara.

Dunia di luarnya telah hancur. Papanya telah menjualnya demi utang judi, dan kini dia terperangkap di bawah ketiak seorang pria mematikan yang memerintah kota dari balik bayang-bayang. Namun, di tengah rasa putus asa yang melilit, perhatian Selena teralih oleh kilatan cahaya hijau kecil di sudut meja samping tempat tidur. Sebuah tablet pintar tergeletak di sana, menampilkan layar yang aktif secara otomatis ketika mendeteksi pergerakan di dalam kamar.

Dengan jemari yang masih bergetar dan kewaspadaan tinggi, Selena merangkak mendekati meja. Matanya melotot saat membaca dokumen digital dan siaran langsung kamera keamanan yang terpampang di layar tablet tersebut.

RUMAH SAKIT PUSAT MACKENZIE – UNIT PERAWATAN INTENSIF VIP

Pasien: Ny. Rebecca

Status: Tindakan Cuci Darah Darurat & Dialisis Utama Sedang Berlangsung.

Dokter Penanggung Jawab: dr. Adrian, Sp.PD-KGH (Kepala Tim Medis Mackenzie)

Napas Selena tertahan di tenggorokan. Di layar itu, dia melihat mamanya tidak lagi berada di bangsal kelas tiga yang kotor dan bising. Wanita itu kini terbaring di dalam ruang perawatan eksklusif dengan peralatan medis paling canggih yang pernah Selena lihat.

Dokter-dokter berseragam putih bersih dan beberapa perawat tampak mengelilingi Ibu Rebecca, memberikan penanganan terbaik yang selama ini hanya bisa Selena impikan. Di bagian bawah layar, terdapat salinan bukti transfer dan pelunasan seluruh biaya perawatan Mamanya hingga satu tahun ke depan, atas nama Don Mackenzie.

"Dia ... dia benar-benar melakukannya?" bisik Selena serak sambil menyeka sudut matanya.

Rasa benci dan bingung bercampur di dadanya. Pria asing berdarah dingin itu baru saja mengurungnya, mengancam, dan memperlakukannya seperti hak milik sepihak. Namun, dalam hitungan jam, pria itu pula yang menyambar nyawa ibunya dari cengkeraman kematian. Pria itu menyiksanya dengan dominasi, tetapi memanjakan kebutuhannya dengan efisiensi yang mengerikan.

Bagaimana bisa seseorang menjadi iblis dan malaikat pelindung di saat yang bersamaan?

Klik.

Belum sempat Selena menata gejolak emosinya yang berkecamuk, pintu kamar kembali terbuka. Selena menatap nanar, berharap dari balik pintu ada penyelamat yang bisa membebaskannya dari sangkar emas yang mengurungnya.

Bersambung ...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penawar Sang Boss Mafia   21. Cepat Selesaikan!

    Begitu bebas dari Don, Selena langsung menjauh dari pria itu. Hampir saja dia ingin membuka jendela di sampingnya agar wajahnya yang memerah terkena angin dari luar. Namun, kukungan lengan Don membuatnya tidak bisa bergerak lebih leluasa. Dia menoleh pada pria itu hendak meminta untuk melepaskan pegangannya, tetapi saat melihat Don yang sedang mengamati situasi dari kaca jendela yang retak, Selena memilih untuk diam.SUV lapis baja itu menerobos keluar dari reruntuhan bata, meluncur liar masuk ke area kawasan industri pelabuhan yang sepi. Di belakang mereka, suara raungan mesin mobil musuh semakin mendekat, disusul suara tembakan beruntun yang kembali memukul bodi belakang SUV.Don kembali membuka penutup di depannya."Marco, belok kanan ke area kontainer terbuka. Kita selesaikan mereka di sana," perintah Don dingin. Matanya menyipit tajam menatap kaca spion."Baik, Tuan!" Marco membanting kemudi. Mobil meluncur miring, menyusuri celah-celah sempit di antara tumpukan kontainer besi be

  • Penawar Sang Boss Mafia   20. Nanti, Piccola!

    "Tuan Muda, jalan masuk ke distrik pelabuhan di depan ditutup dua truk kontainer milik klan Delaros!" lapor Marco dari depan, matanya fokus mengamati barikade yang membentang seratus meter di hadapan mereka. "Mereka menempatkan sepuluh penembak jitu di atas kontainer."Don melirik lewat kaca depan yang retak. Terlihat dengan jelas kalau itu dirancang untuk menghentikan kendaraan jenis apa pun. Pasukan Delaros di atas kontainer mulai menurunkan hujan peluru ke arah konvoi mereka.DOR! Peluru-peluru berkaliber besar menghantam kap mesin SUV, membuat asap tipis yang terlihat di udara dari sela-sela mesin. bunyinya memecah kesunyian alam di sekitarnya."Marco, kita tidak bisa menerobos kontainer itu begitu saja," ujar Don, matanya menyipit tajam menganalisis medan. "Ganti jalur ke celah gang sempit di sebelah kiri. Itu satu-satunya jalan keluar terbaik saat ini.""Tapi Gang itu terlalu sempit untuk SUV ini, Tuan! Kita bisa tersangkut!" balas Marco."Cukup luas kalau kau merobohkan dindin

  • Penawar Sang Boss Mafia   19. Dalam Mimpimu!

    Begitu mendengar perkataan Selena, Don terkekeh rendah. Tawa seksi yang membius."Jawaban yang bagus. Marco, mari kita bantai mereka sampai tak bersisa."BAM!Satu benturan keras mendadak menghantam sisi kiri SUV mereka. Mobil berguncang hebat, membuat tubuh Selena terlempar ke samping. Lengan tegap Don dengan sigap mendekap pinggangnya, menguncinya rapat di dada bidang miliknya."Tuan Muda! Dua pick-up klan Delaros memotong jalur persimpangan jalan di depan kita!" teriak Marco dari balik kemudi, tangannya memutar kemudi dengan lihai menyeimbangkan mobil lapis baja itu."Sial! Mau cari mati ya mereka semua?" umpat Don sambil menyiapkan senjatanya.Dari balik kaca gelap yang mulai retak di bagian kiri, Selena melihat dua mobil pick-up terbuka melaju sejajar. Beberapa pria berseragam biru tua mengacungkan senjata otomatis langsung ke arah kendaraan mereka. Selena menelan salivanya dengan gugup.DOR! DOR! DOR! DOR!Hujan peluru menghantam kaca antipeluru mobil mereka, menciptakan deretan

  • Penawar Sang Boss Mafia   18. Serba Hitam

    "Di mana Don?" tanya Selena sambil melirik ke arah pintu yang setengah terbuka. Di depan pintu, berdiri beberapa pengawal pribadi Don."Tuan Don sedang memimpin eksekusi tawanan di pelataran bawah, Nona Selena," jawab Marco datar, dengan wajah tanpa ekspresi. Dia meletakkan nampan di atas meja. "Tuan meminta Nona berganti pakaian. Mobil sudah disiapkan di belakang.""Pindah lagi?" tanya Selena, mengernyit. "Bukankah dia bilang tempat ini aman?""Bukan pindah, Nona," potong Marco cepat."Lalu apa?""Nanti Nona tanyakan langsung pada Tuan Muda."Selena mendengkus kesal sambil menatap Marco yang membuka koper perak di meja. Di dalamnya berisi celana kargo hitam, kaus pas badan berbahan katun lembut, serta jaket kulit tebal yang juga berwarna hitam."Ini pakaian Nona hari ini?""What?" teriak Selena kaget. "Memangnya aku mau disuruh jadi mata-mata?""Tuan Besar Vargas sudah mengerahkan tiga klan aliansi. Ini bukan lagi gertakan, ini perang terbuka. Jadi Nona tidak boleh terlihat terlalu m

  • Penawar Sang Boss Mafia   17. Tak Bisa Tidur

    Don menatap Selena, lalu terkekeh pelan. "Kau selalu galak saat ketakutan.""Aku tidak takut!""Genggaman tanganmu di bahuku bilang hal lain," sela Don tenang.Selena tertegun. Dia baru menyadari bahwa tangan kirinya sedang mencengkeram erat lengan tegap Don tanpa sadar, mencari pegangan di tengah kekacauan dunia mafia yang baru saja merenggut kehidupan normalnya. Selena buru-buru menarik tangannya seolah baru saja menyentuh besi panas."Sudah selesai," ucap Selena dingin, bergeser mundur sejauh mungkin di atas tempat tidur. "Sekarang keluar dari kamarku."Don berbalik perlahan. Tanpa mengenakan kemeja, dada bidangnya terekspos jelas di bawah cahaya lampu kamar yang remang. Dia menatap Selena yang meringkuk di sudut kasur dengan kemeja miliknya yang kebesaran."Ini kamarku, Selena," ujar Don rendah, melipat kedua tangannya di dada. "Seluruh bangunan ini milikku. Termasuk wanita yang sedang memakai kemejaku.""Aku memakai ini karena kau tidak menyediakan baju yang layak!" semprot Selena

  • Penawar Sang Boss Mafia   16. Alasan yang Bagus

    "Satu. Dua. Tiga," bisik Selena pelan.PRANG! BRAK! Lampu besi yang berat itu menghantam tepat di kepala salah satu penyusup hingga pria itu tersungkur jatuh dari tangga. Tindakan itu memicu kepanikan pada penyusup kedua."Apa-apaan ini?!" teriak penyusup kedua sambil mendongak kaget.Gangguan sekecil itu sudah lebih dari cukup bagi seorang Don Mackenzie. Tanpa perlu melihat ke atas, reaksi refleks Don bekerja secepat kilat. Dari balik meja bar dan melepaskan tiga tembakan beruntun ke arah tangga.DOR! DOR! DOR!Kedua penyusup itu ambruk seketika di anak tangga, tewas sebelum sempat menarik pemicu granat.Don memutar tubuhnya cepat, matanya yang kelabu mendongak tajam ke arah balkon atas. Di sana, Selena berdiri tersengal-sengal dengan rambut berantakan dan pisau daging teracung gemetar di tangannya.Tatapan mata Don membeku seketika. Amarah dan rasa takjub bercampur menjadi satu di dalam iris matanya yang gelap. Pria itu mengumpat rendah, lalu berteriak keras menembus deru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status