Share

7. Merah Marum

Author: MyMelody
last update publish date: 2026-07-22 14:58:15

Selena yang mengira kalau Don atau seseorang yang masuk ke kamarnya untuk membebaskannya, ternyata bukan. Tiga orang wanita berpakaian seragam pelayan hitam-putih yang sangat rapi melangkah masuk dengan kepala menunduk dalam-dalam.

Dua di antaranya mendorong gantungan baju beroda yang berisi puluhan gaun malam berbahan sutra, kasmir dan bahan premium lainnya dengan rancangan desainer ternama. Pelayan ketiga membawa nampan berisi berbagai jenis perhiasan dan perlengkapan mandi beraroma mewah.

"Selamat malam, Nona. Tuan Muda Don memerintahkan kami untuk membersihkan diri Nona dan mengganti gaun," ucap pelayan tertua dengan suara yang teramat halus, hampir berbisik.

Selena melompat berdiri, menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu melangkah mundur mendekati kepala ranjang.

"Tidak! Keluar dari sini! Aku tidak mau menyentuh barang-barang itu! Aku mau pakaianku sendiri!"

Mendengar penolakan tajam Selena, ketiga pelayan itu bukannya bersikap tegas, melainkan justru tampak pucat pasi. Tubuh mereka mendadak bergetar hebat. Pelayan tertua langsung menjatuhkan dirinya ke atas lutut, berlutut di atas lantai marmer, diikuti oleh dua pelayan muda di belakangnya.

"Nona ... kami mohon," ratap pelayan tertua dengan mata berkaca-kaca, jemarinya yang gemetar tertangkup di depan dada.

"Tuan Muda Don sangat disiplin dan keras. Jika Nona tidak mengganti pakaian dan menolak layanan kami, Tuan Muda akan menganggap kami gagal. Kami ... kami bisa dipecat atau dibuang ke luar kota malam ini juga. Tolong, Nona ... kasihanilah kami."

"Tolong permudah pekerjaan kami, Nona," cicit pelayan muda di sebelahnya dengan raut wajah ketakutan. "Hukuman di mansion ini sangat berat jika kami membuat tamu istimewa Tuan Muda tidak nyaman."

Selena membeku di tempatnya. Amarahnya yang meluap-luap mendadak goyah saat melihat ketakutan di mata para pekerja ini. Dia tahu persis rasanya menjadi orang kecil yang posisinya terancam akibat kesewenang-wenangan atasan. Hati nuraninya tidak sanggup membiarkan orang lain menderita hanya karena egonya.

Selena menghela napas panjang yang sarat akan kepasrahan. "Baik ... berdirilah. Jangan berlutut seperti itu."

Pelayan-pelayan itu mendongak dengan wajah lega. Dengan cekatan dan lembut, mereka membantu Selena membasuh tubuhnya dengan air hangat, merapikan rambutnya yang agak kusut, dan memasangkan sebuah gaun malam berbahan sutra merah marun yang jatuh anggun di tubuh tirusnya.

Warna gaun itu berkilat sempurna di bawah cahaya lampu kristal kamar, membuat kulit putih pias Selena tampak begitu menonjol dan memikat.

Tepat saat pelayan terakhir selesai merapikan ujung gaunnya, pintu kamar kembali terbuka pelan. Marco, tangan kanan Don yang berwajah dingin, melangkah masuk. Di kedua tangannya, Marco membawa sebuah kotak kayu ukiran usang yang sangat familiar di mata Selena.

Selena terperanjat hebat, matanya membelalak. "Itu ... bagaimana bisa benda itu ada padamu?!"

Benda itu adalah kotak rahasia milik Selena dari rumah kontrakannya, berisi botol-botol kaca kecil racikan minyak esensial vanila dan lavender murni hasil ekstraksi tangan dan idenya sendiri.

Marco meletakkan kotak kayu usang itu dengan hati-hati di atas meja rias marmer yang megah.

"Tuan Muda Don memerintahkan kami menyisir rumah kontrakan Nona setengah jam yang lalu," jawab Marco datar tanpa ekspresi. "Tuan Muda menegaskan bahwa seluruh racikan parfum alami milik Nona tidak boleh ada yang tertinggal satu tetes pun di tempat kumuh itu."

"Tapi untuk apa?" tanya Selena bingung.

"Tuan Muda tahu bahwa Nona suka meracik parfum."

Marco menatap Selena sekilas lalu menunduk kembali.

"Kalau tidak ada pertanyaan lagi, saya permisi dulu, Nona."

Selena tidak menjawab. Dia hanya terpaku menatap kotak kayu usang itu di atas meja mewah itu. Jemarinya yang gemetar menyentuh ukiran kayu yang mulai menipis dimakan usia, satu-satunya hal yang menghubungkannya dengan identitas dirinya yang hilang.

Don Mackenzie tidak hanya menyandera fisiknya dan membiayai pengobatan ibunya, pria itu telah melacak hingga ke akar hidupnya, merenggut seluruh identitas dan karya kecilnya, menguncinya rapat-rapat di dalam sangkar emas ini agar Selena tidak punya alasan lagi untuk berpaling.

Pelayan tertua melangkah mendekat dengan gestur menunduk penuh hormat. "Nona Selena, Tuan Muda Don sudah menunggu di bawah. Beliau meminta Nona untuk turun dan menikmati makan malam di ruang makan utama."

Selena mendongak, matanya yang redup menyipit tajam. "Makan malam? Aku tidak lapar."

"Kami mohon, Nona," cicit pelayan itu lagi, suaranya kembali dibalut nada panik yang getir. "Tuan Muda tidak suka menunggu, apalagi jika soal makanan. Tolong ..."

Selena mendengus kesal. Dia tidak ingin memberikan masalah pada pelayan-pelayan itu karena keras kepalanya. Lagi pula, mereka tidak salah apa-apa.

"Baik. Aku akan turun sebentar lagi."

Para pelayan itu mengangguk kompak dan mulai merapikan kamar tidur Selena.

Selena meremas pinggiran gaun sutra merah marunnya, merutuki nasibnya yang harus terjepit di antara dominasi sang mafia dan rasa kasihan pada para pekerja bawahannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Selena melangkah melewati pintu tebal yang terbuka, menuruni lorong panjang yang dihiasi lukisan-lukisan klasik bercita rasa tinggi.

Setibanya di puncak tangga utama yang melingkar anggun, langkah Selena terhenti sejenak. Di dasar tangga, berdiri sesosok pria tegap dengan kemeja hitam yang tergulung hingga ke siku, menampilkan lengan kokoh berurat dengan beberapa tato gelap yang tersembunyi elegan. Don Mackenzie sedang berdiri, menunggunya.

Begitu derap langkah halus sepatu Selena bergema di anak tangga, Don mendongak. Seketika, manik mata gelap sang pria membeku. Napas Don tertahan di tenggorokan. Gadis yang beberapa jam lalu terlihat begitu rapuh dengan gaun loak yang usang, kini berdiri anggun dibalut sutra merah marum.

Kulitnya yang putih pias tampak bagaikan porselen langka di bawah pendar lampu kristal. Wajah tirus itu memang masih menyimpan jejak kepedihan, tapi justru membuat aura kecantikannya terasa misterius dan memikat.

Don tertegun. Untuk beberapa detik, pria yang biasa menguasai dunia bawah tanah itu kehilangan kata-kata. Dia hampir tidak mengenali penawar yang baru saja dibawanya pulang.

Ketika Selena sampai di anak tangga terakhir, Don melangkah maju. Gerakannya pelan, hampir terkesan begitu hati-hati, seolah takut hembusan angin yang terlalu kencang akan menyakiti gadis di hadapannya. Don mengulurkan tangan tangannya yang besar, berniat menuntun Selena.

Namun, Selena menatap telapak tangan itu dengan tatapan dingin, lalu sengaja melangkah melewatinya begitu saja menuju meja makan panjang yang dipenuhi hidangan mewah ala kerajaan.

Bersambung ...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penawar Sang Boss Mafia   92. Bangun

    "Beratmu tak seberapa, Piccola," balas Don santai seraya melangkah menuju ranjang king-size di tengah ruangan.Pria itu menjatuhkan tubuh Selena ke atas kasur empuk, lalu menyusul menindihnya sebelum Selena sempat melarikan diri. Pegas kasur mencicit pelan saat Don mengepung tubuh istrinya dengan kedua lengan tegapnya."Pelan-pelan, Bos Mafia!" Selena menepuk dada tegap Don yang masih terbalut jas malam. "Nanti seprei sutra ini robek!""Biar kuganti dengan saham pelabuhan milik Julian besok pagi," sahut Don dengan senyum nakalnya yang menawan.Selena tertawa renyah, jemari lentiknya menyusup ke kerah kemeja Don, menarik dasi hitam pria itu hingga wajah mereka hanya berjarak satu inci."Kau ini pamer kekayaan atau pamer keputusasaan, Don Mackenzie?""Dua-duanya, kalau itu menyangkut dirimu." Don menunduk, mengunci bibir Selena dalam ciuman yang tidak memberi ampun.Ciuman itu tidak lembut, melainkan sarat akan tuntutan dan gairah muda yang meledak-ledak. Selena membalasnya dengan inten

  • Penawar Sang Boss Mafia   91. Deretan Kancing

    "Baik, Don. Kami akan menuruti keinginganmu asal kami keluar hidup-hidup dari sini.""Aku tidak janji, cepat tanda-tangani semua berkas yang ada."Dengan tangan bergetar hebat dan wajah pasrah total, ketiga Tetua itu bergantian meraih pena emas tersebut. Satu per satu stempel dan tanda tangan dibubuhkan di atas berkas pengalihan saham.Marco, yang berdiri di dekat pintu, melangkah maju mengambil dokumen yang telah ditandatangani, lalu mengangguk kaku pada Don dan Selena."Seluruh hak operasional Pelabuhan Barat resmi berpindah atas nama Nyonya Selena Mackenzie, Tuan.""Bagus. Sekarang usir para orang tua ini dari mansionku sebelum mereka mengotori karpet," perintah Don datar.Setelah ketiga Tetua kocar-kacir keluar ruangan dikejar pengawal, Don langsung memutarkan tubuh Selena, menarik wanitanya rapat ke dalam dekapannya. Pria itu menunduk, menempelkan dahi mereka seraya mengembuskan napas lega yang hangat. Aroma vanila-lavender memenuhi rongga hidungnya."Langkah yang sangat tajam, N

  • Penawar Sang Boss Mafia   90. Tidak Punya Hati

    Selena meraih gelas yang sudah diteguk sebagian isinya dari tangan Eleanora yang lemas, lalu meletakkannya kembali ke atas nampan perak pelayan di samping mereka. Dia menepuk-nepuk bahu gaun hitam Eleanora seraya tersenyum semanis gula."Terima kasih atas drama pembukanya, Ibu Mertuaku," bisik Selena di telinga Eleanora dengan nada sarkas yang tajam."Sialan kau, Gadis Kasir ...""Makilah sepuasmu, tapi kursi Nyonya Besar di mimbar itu sudah ada pemiliknya. Dan kalau Nyonya masih mau punya sisa martabat malam ini, mending Nyonya cari toilet terdekat sebelum obat pencahar itu bereaksi."Eleanora mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya menancap di telapak tangan. Tanpa sepatah kata pun, wanita itu memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan ballroom dengan langkah terburu-buru, diikuti Julian dan para Tetua yang pucat pasi.Selena berbalik menghadapi ratusan tamu undangan yang masih terpana. Dia mengangkat gelas kristalnya tinggi-tinggi, anggun tanpa rasa takut sedikit pun.

  • Penawar Sang Boss Mafia   89. Tradisi Kuno

    Eleanora melirik Clarissa yang berdiri di belakangnya. Clarissa memberikan anggukan kecil, sinyal bahwa "racun" telah dituangkan ke dalam gelas Don dan Selena.Don mengangkat gelasnya tinggi-tinggi di hadapan ratusan tamu undangan."Untuk masa depan klan Mackenzie dan Nyonya Besar pilihan kita semua!""Untuk klan Mackenzie!" seru para tamu serentak.Eleanora menyunggingkan senyum iblisnya seraya mengangkat gelasnya, bersiap meneguk cairan anggurnya, menantikan detik-detik Don dan Selena ambruk memuntahkan darah. Namun, tepat sebelum bibir Don menyentuh gelas kristal itu, Selena mengetukkan sendok peraknya ke gelas, menciptakan suara tring yang nyaring memotong suasana penuh bahagia itu."Tunggu sebentar," ujar Selena dengan suara jernih yang memantul di seluruh dinding ballroom.Para tamu yang sudah bersiap untuh meneguk anggur mahal itu, menahan gelas mereka, menunggu dengan wajah penasaran."Sebelum kita minum, bukankah ada tradisi kuno klan yang menyatakan bahwa keluarga kandung ha

  • Penawar Sang Boss Mafia   88. Pelembab Bibir

    "Don ... lipstick dan lip gloss-ku," bisik Selena parau, napasnya memburu di leher Don. "Para periasku butuh dua jam untuk meriasku ...""Aku bisa membelikanmu pabrik pelembab bibir yang baru besok pagi," desis Don miring di depan bibir Selena. Jemarinya sudah mulai menggerak kasar, hendak mencari celah di balik lipatan gaun rahasia Selena."Kita punya waktu sepuluh menit sebelum ke aula utama. Cukup untuk membuatmu relax, kan?"Selena tertawa kecil, matanya sayu terpikat oleh gairah Don."Kau gila, Don Mackenzie. Kita bisa seperti ini setelah ...""Nyonya Besar?! Nyonya Selena?!"Tiba-tiba, suara jeritan histeris dari kepala penjahit menggelegar dari balik pintu kamar rias, disertai gedoran pintu yang heboh!"Nyonya Besar! Acara pengukuhan sudah hampir dimulai! Kami belum selesai memasang korset dan gaun Nyonya!"Sentakan suara itu memecahkan gairah di antara mereka. Selena mendorong dada Don pelan seraya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Don yang seketika berubah kaku dan kesa

  • Penawar Sang Boss Mafia   87. Alat Rias

    "Maaf," ujar Selena yang ikut terluka melihat kesedihan di mata Don."Kau tidak salah apa-apa, Selena. Tak perlu meminta maaf." Don memeluk istrinya sambil membelai rambutnya dengan mesra."Besok acara besarmu, tidurlah.""Bukan acara besarku, tapi acara kita berdua, Don.""Iya, tapi kau adalah ratu dalam hatiku dan klan ini.""Terima kasih, Don. Dan kamu adalah raja di hatiku," balas Selena dengan senyum lebar, dia menggenggam tangan Don dan mengajaknya untuk kembali ke kamar.***Suasana di kamar rias utama Mansion Mackenzie riuh rendah. Empat perias profesional dan dua asisten busana sibuk mondar-mandir merapikan kain sutra, memoles riasan, serta menata mahkota berlian mikro di atas kepala Selena."Huuuaaamm, aku ngantuk," bisik Selena menguap lebar. Saat kepala dan rambutnya dihias, membuatnya hampir tertidur.Selena duduk di depan cermin besar berukir emas. Gaun pengantin sutra hitam rancangan khusus Don membalut tubuhnya dengan sempurna, elegan, tegas, sekaligus memancarkan kean

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status