تسجيل الدخولSeringai tipis yang sarat akan ketertarikan terukir di bibir Don. Dia menarik kembali tangannya tanpa rasa tersinggung, lalu menyusul Selena dan menarikkan kursi berukir klasik untuk gadis itu.
"Makanlah," ucap Don dengan suara bariton yang teratur, duduk di ujung meja yang tak jauh dari Selena. "Kau belum menyentuh makanan sejak kemarin." Selena hanya menatap piring porselen berisi potongan daging premium dan saus kismis di hadapannya dengan ekspresi mual. "Aku tidak butuh belas kasihanmu. Lepaskan aku, maka aku bisa makan dengan tenang di tempatku." Don menghentikan gerakan jemarinya yang hendak meraih gelas anggur. Tatapan matanya mendadak meredup. Kemudahan yang coba dia berikan baru saja dihantam keras oleh benteng pertahanan Selena. "Aku memberimu makanan terbaik di kota ini, Selena," suara Don merendah, menekan setiap kata. "Jangan menguji kesabaranku." "Aku tidak pernah memintamu untuk memberiku makanan." Selena bersedekap, menatap lurus ke dalam manik mata Don yang tajam. "Kau bisa membeli obat-obatan untukibuku di rumah sakit, membayar dokter terbaik, juga mencuri barang-barangku dari rumah, tapi kau tidak bisa memaksa tenggorokanku untuk menelan makananmu!" Rasa panas amarah akibat penolakan itu merayapi rahang Don. Pria itu bangkit dari kursinya, melangkah lebar mendekatinya. Sebelum Selena sempat bereaksi, Don menarik kursi gadis itu dan berdiri tepat di depannya. "Makan, Selena. Atau aku yang akan memasukkannya paksa ke dalam mulutmu," desis Don, jemarinya meraih sendok perak yang berisi potongan daging lembut. Selena mengatupkan bibirnya rapat-rapat, memalingkan wajahnya dengan keras kepala. Matanya menyala oleh sisa-sisa harga diri yang dia pertahankan mati-matian. Melihat pembangkangan yang menguji batas kesabarannya, kemarahan di dalam diri Don meledak. SRRT—BRAK! Dengan satu sentakan kuat yang tak terduga, Don merengkuh pinggang ramping Selena dan mengangkat tubuh mungil itu dalam sekejap mata, mendudukkannya paksa di atas meja makan kayu mahoni yang tinggi. "Aah!" Pekikan kaget lolos dari tenggorokan Selena. Karena kehilangan keseimbangan mendadak dan refleks ketakutan akan jatuh, kedua lengan halus Selena serta merta melingkar erat di sekeliling leher tegap Don. Tubuh mereka menempel tanpa jarak, membiarkan kehangatan dan keharuman vanila-lavender menguar hebat memenuhi udara di antara wajah mereka. Don memiringkan kepala ke arah ceruk leher Selena yang mengeluarkan aroma yang menenangkan. "Dasar pria mesum!" Napas Selena memburu, berusaha menjauhkan diri dari jarak mereka yang hanya seujung kuku dari wajah Don yang rupawan, tapi mematikan. "Lepaskan ..." bisik Selena gemetar, menyadari posisi mereka yang teramat intim dan provokatif. Don tidak melepaskannya. Tangan besarnya justru mengunci pinggang Selena di atas meja, sementara tangannya yang lain menahan belakang kepala gadis itu. Mata gelap Don terpaku sepenuhnya pada bibir tebal Selena yang gemetar karena panik. Dia mencondongkan wajahnya, napas panasnya menyapu permukaan bibir Selena hingga membuat gadis itu meremang hebat. "Kau mau makan sendiri ..." bisik Don dengan suara serak yang memabukkan sekaligus mengancam, "... atau kau mau aku menyuapimu langsung menggunakan mulutku, hmm?" Selena memejamkan mata erat-erat, bibirnya gemetar hebat saat merasakan kehangatan napas Don menggelitik sudut bibirnya, bersiap untuk meraup dan mengklaimnya secara brutal. Namun, tepat pada detik yang paling menegangkan itu— BRAK! Pintu ganda ruang tamu dibuka dengan kasar hingga bergetar hebat. Suara langkah kaki berderap teratur, memecah keheningan mansion, disusul oleh teriakan bariton tua yang berwibawa, sarat akan murka dan hawa membunuh yang tak terbantahkan. "DON MACKENZIE! KELUAR KAU BERSAMA KASIR TAK JELAS ASAL USULNYA ITU!" Suara Kakek Vargas, penguasa tertinggi Mafia Mackenzie, menggelegar memenuhi seluruh sudut istana emas tersebut, menghentikan sapuan bibir Don tepat di atas bibir Selena. Belum selesai gema teriak sang kakek, terdengar suara hantaman keras di aula luar lantai satu. menggetarkan pintu ruang tamu yang masih terbuka lebar. "Berani-beraninya kau menyembunyikan jalang murahan di mansion utama dan menolak perjodohanmu dengan Delaros?! Kau pikir kau sudah menjadi penguasa tunggal keluarga Mackenzie, hah?! Tunjukkan batang hidungmu sekarang atau Kakekmu yang kau anggap sudah tua bangka ini akan meratakan tempat ini!" Suara derak kokang puluhan senjata api berlaras panjang memantul tajam di aula utama. Keheningan manis dan intim yang baru saja terjalin di atas meja makan musnah seketika, digantikan oleh kepanikan dalam diri Selena. Don tidak langsung bergerak. Tubuh tegapnya masih mengunci Selena di atas meja, jemarinya menyapu bibir Selena yang gemetar. "Sial, tua bangka itu mengganggu saja," umpat Don. matanya masih terkunci pada bibir Selena yang basah dan tebal. "S-siapa itu?" bisik Selena serak. Don tidak merespon. Kehangatan dan gairah yang beberapa detik lalu menguasai pria itu kini menguap, berganti menjadi aura membunuh yang jauh lebih mengerikan daripada ancaman Kakek Vargas. Perlahan ia memejamkan mata, meresapi aroma vanila-lavender yang menguar deras dari leher Selena akibat ketakutan gadis itu—menyerap sisa-sisa ketenangan terakhir sebelum perlawanan dimulai. "Don ..." cicit Selena, cengkeraman tangannya di leher Don mengerat tanpa sadar. Ketakutannya pada Don mendadak kalah oleh rasa ngeri mendengar bentakan dari luar. Don membuka matanya. Manik hitam itu kini berkilat tertimpa cahaya dari lampu kristal yang menggantung megah di tengah ruang makan. "Tetap di sini. Jangan turun dari meja ini sebelum aku kembali," bisik Don dengan suara baritonnya. Dia melepaskan cengkeramannya di pinggang Selena dengan perlahan, lalu mundur satu langkah. Diraih lap kain linen bersih di meja, mengusap sudut bibirnya dengan gerakan elegan yang teratur, seolah gertakan kepala keluarga mafia terkaya itu hanyalah masalahnkecil baginya. Marco melangkah masuk ke ruang makan dengan gerakan cepat, wajahnya yang biasa datar kini dipenuhi kewaspadaan tinggi. Senjata api berperedam sudah menggantung di jemarinya. "Tuan Muda," bisik Marco cepat. "Tuan Besar Vargas membawa dua puluh eksekutif Black Guard. Beliau bahkan merusak gerbang depan." "Aku punya telinga, Marco," sahut Don dingin. Pria itu membetulkan letak jam tangan mewahnya, lalu melirik Selena yang duduk mematung di atas meja makan dengan gaun sutra merah marunnya yang kontras. "Jaga dia. Jika ada satu peluru yang menggores kulitnya, kau tahu konsekuensinya." Bersambung ...Selena yang kebingungan, terpaksa mengikuti Don. Kemeja yang dia kenakan membuatnya terlihat seperti gadis kecil nakal yang dipaksa menurut agar tidak mendapat hukuman."Kamu mau ngapain?""Duduk di pinggir ranjang," ucap Don tegas, mengabaikan pertanyaan Selena. Matanya tertuju pada pergelangan tangan halus Selena yang memar kebiruan, bekas cengkeraman kasar pengawal Vargas saat kejadian di ruang makan tadi."Aku bisa obati sendiri! Lepaskan!" sentak Selena saat Don menarik pergelangan tangannya dan mendudukkannya paksa di tepi ranjang berseprai sutra."Diamlah jika kau tidak ingin kutiduri malam ini," bisik Don rendah. Ancaman dalam suaranya membuat Selena bungkam seketika, meski matanya tetap menyala menatap Don penuh amarah.Don berlutut di satu kaki di hadapan Selena. Jemari besarnya yang kasar bergerak teramat lembut saat mengoleskan salep dingin ke kulit Selena yang memar. Kontras antara kekejaman Don saat mematahkan leher orang dan kelembutan jemarinya saat ini membuat dada Se
Don tertawa pelan, membiarkan dorongan Selena menggeser tubuhnya satu langkah ke belakang. Tatapan matanya yang gelap mengunci wanita mungil milikmya"Sampai sejauh mana kamu akan mendorongku, Piccola?" ejek Don. Dia dengan sengaja menangkap tangan Selena dan mengecupnya dengan bibir yang basah.Selana menahan napas, ciuman itu mungkin biasa saja bagi orang lain, tapi bagi Selena, ciuman itu begitu menggoda dan membangunkan saraf-saraf dalam tubuhnya."Pelayan di kamar atas sudah menyiapkan semua kebutuhanmu," ujar Don santai. sambil merapikan lengan kemejanya. Dia tak sadar kalau sudah membuat Selena hampir gila."Apa aku harus melakukan semua perintahmu?" protes Selena menutupi gejolak aneh dari bagian bawah perutnya. "Tentu saja! Dan aku tidak suka dibantah. Pergilah! Aku ada urusan di bawah."Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Selena berbalik dan setengah berlari menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Dia harus segera kabur dari hadapan pria itu sebelum ikutan sinting sepertiny
Mobil sedan lapis baja itu melaju menembus kegelapan perbukitan. Selena memeluk dirinya sendiri di sudut kursi, napasnya masih tersengal-sengal. Noda darah kering di gaun sutra merah marunnya terasa gatal dan panas, tetapi yang lebih membakar adalah bekas hembusan napas Don di lehernya.Mengapa dadaku berdebar segila ini?! Hanya karena bisikan pria sinting ini?! Tidak, tidak boleh! Dia seorang monster! batin Selena panik, berusaha menekan desiran aneh yang terus merayapi dadanya.Mobil akhirnya berhenti di pelataran safehouse beton yang terisolasi di tengah hutan. Don melepas sabuk pengamannya, melangkah keluar, lalu membukakan pintu untuk Selena."Turunlah," perintah Don singkat, mengulurkan tangannya.Selena menepis tangan itu dengan kasar hingga menimbulkan suara tepukan nyaring. "Jangan sentuh aku! Aku punya kaki sendiri!"Don tersenyum miring, menarik tangannya santai. "Galak sekali. Padahal tadi di meja makan kau memeluk leherku erat sekali, Selena.""Itu karena aku hampir jatuh
Hanya butuh waktu kurang dari lima detik. Don menerobos sebelum pengawal Vargas sempat menembak, Don sudah mencengkeram rahang pria itu, memutarnya dengan sudut mematikan hingga bunyi remukan tulang bergema mengerikan, lalu menyarangkan dua timah panas tepat di dadanya dari jarak dekat.DOR! DOR!Darah segar terpercik ke atas gaun sutra merah marun Selena. Sedangkan tubuh pengawal itu roboh tak bernyawa ke atas marmer.Selena terperanjat dengan napas tertahan saat melihat kematian di depan matanya secara langsung."Apa yang sudah kamu lakukan?" ucapnya bingung.Lututnya lemas seketika. Namun, sebelum tubuhnya menghantam lantai, sepasang lengan kokoh berotot merengkuh pinggangnya dengan cepat.Don menarik Selena rapat ke dada bidangnya. Detak jantung pria itu bergemuruh kencang, bukan karena panik, melainkan karena kemurkaan yang memuncak."Tuan, apa kau perlu memanggil dokter?" tanya Marco panik.Bukannya menjawan, Don malah menikmati aroma vanila-lavender yang menguar dari leher Sele
"Ingat! Apa pun yang terjadi, jangan pernah meninggalkannya sendirian.""Baik, Tuan Muda," jawab Marco patuh.Don berbalik, melangkah lebar meninggalkan ruang makan menuju aula utama. Setiap pijakan langkah sepatu kulitnya bergema, menyongsong bahaya yang menunggunya di luar.Di atas meja makan, Selena merosotkan bahunya, napasnya memburu cepat. Reaksi kimia dalam tubuhnya, perpaduan antara lonjakan adrenalin akibat bentakan Vargas dan kedekatan fisiknya dengan Don, membuat aroma minyak parfum racikannya kian tercium di sekitar ruang makan.Selena menatap Marco yang berdiri tegap menjaga ambang pintu, bersiap menghajar siapa saja yang berani menyentuh wanita milik Tuannya."Siapa yang berteriak di luar itu? Apa dia benar-benar kakek dari Don?"Marco menatap Selena dari sudut matanya, suaranya tetap formal dan tanpa emosi."Itu Tuan Vargas Mackenzie. Pria yang mendirikan kekaisaran ini dari darah dan tulang. Beliau yang mengatur perjodohan Tuan Muda Don dengan putri tunggal keluarga De
Seringai tipis yang sarat akan ketertarikan terukir di bibir Don. Dia menarik kembali tangannya tanpa rasa tersinggung, lalu menyusul Selena dan menarikkan kursi berukir klasik untuk gadis itu. "Makanlah," ucap Don dengan suara bariton yang teratur, duduk di ujung meja yang tak jauh dari Selena. "Kau belum menyentuh makanan sejak kemarin." Selena hanya menatap piring porselen berisi potongan daging premium dan saus kismis di hadapannya dengan ekspresi mual. "Aku tidak butuh belas kasihanmu. Lepaskan aku, maka aku bisa makan dengan tenang di tempatku." Don menghentikan gerakan jemarinya yang hendak meraih gelas anggur. Tatapan matanya mendadak meredup. Kemudahan yang coba dia berikan baru saja dihantam keras oleh benteng pertahanan Selena. "Aku memberimu makanan terbaik di kota ini, Selena," suara Don merendah, menekan setiap kata. "Jangan menguji kesabaranku." "Aku tidak pernah memintamu untuk memberiku makanan." Selena bersedekap, menatap lurus ke dalam manik mata Don yang taja







