เข้าสู่ระบบ"Kau sudah siap, Piccola?" tanya Don begitu mendengar suara kapten jet pribadi yang mereka tumpangi akan mendarat dalam waktu lima belas menit lagi."Sebenarnya kita mau ke mana sih?" tanya Selena penasaran. Rupanya Don belum memberitahu kalau itu adalah perjalanan bulan madu mereka. Selena mengira kalau itu perjalanan bisnis biasa."Tenang aja, kamu pasti suka," goda Don sambil mengusap kepala Selena dengan lembut.Tak lama kemudian, mereka sudah berada di mobil yang mengantarkan mereka villa pribadi milik keluarga Mackenzie.Angin laut Pesisir Amalfi menyambut kedatangan Selena dan Don. Menyapu lembut gorden sutra di teras villa pribadi keluarga Mackenzie."Wanitaku, kamu ingin menikmati sore yang indah ini bersama suamimu?" bisik Don lembut."Sure! Aku tidak akan pernah menolak tawaran menggoda seperti itu," balas Selena."Ikut aku, akan kutunjukkan tempat paling indah di sekitar villa ini."Mereka berdua menuruti tangga kecil dan tiba di suatu tempat yang indah.Di bawah naungan
Beberapa wartawan mengangguk cepat, jemari mereka sibuk mencatat semua dusta yang diucapkan Julian. Selena hanya bisa geleng kepala melihat bagaimana mereka melahap berita palsu hanya untuk menaikan trafik di media mereka."Piccola, kau mau aku libas para wartawan bodoh itu begitu kita tiba di sana?" geram Don sambil tangannya menyentuh pistol otomatis yang terselip di pinggangnya. Di depan mereka, layar kecil terus menampilkan apa yang sedang terjadi.Belum sempat Selena menjawab, mobil Roll-Royce hitam mengkilap yang mereka tumpangi berhenti tepat di balik garis polisi. Pengawal bersetelan jas hitam dengan cepat membuka pintu.Don Mackenzie melangkah keluar lebih dulu, memancarkan aura dominasi yang mendinginkan suasana seketika. Namun, perhatian seluruh wartawan seketika teralih saat Don mengulurkan tangannya, membimbing Selena keluar dari mobil.Selena tampil sempurna tanpa cela. Dia mengenakan gaun terusan formal berwarna abu-abu gelap yang membalut tubuhnya dengan anggun, dipadu
"Wooww, tahan amarahmu, Bos Mafia," potong Selena tenang seraya berbalik menatap suaminya."Aku sudah tidak tahan melihat tindakan mereka," balas Don geram."Kalau kau pakai kekerasan sekarang, rumor yang disebar Eleanora malah kelihatan benar. Mereka mau memancingmu jadi monster di mata media.""Lalu kau mau biarkan pria brengsek itu membakar aset hadiah dari aku untukmu dengan begitu saja, Wanitaku?" desis Don, matanya menyipit tajam."Siapa bilang asetku yang terbakar?" Selena tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kecerdikan yang membuat Don menaikkan sebelah alisnya."Julian pikir dia membakar gudang berisi barang berharga klan. Pria bodoh itu tidak tahu kalau seluruh isi gudang Dermaga Tiga sudah kupindahkan tadi malam sebelum Pesta Gala dimulai."Don dan Marco tertegun sejenak."Kau memindahkannya?" ulang Don tak percaya."Dua tahun aku kerja di area dermaga itu, Don," sahut Selena santai seraya merapikan kerah jas Don yang dikenakannya."Bukannya kamu kerja di mini market?""T
Don tidak menggerakkan lengan yang menutupi matanya. Hanya sudut bibirnya yang terangkat tipis. "Masih punya energi buat menggangguku, Piccola?""Tubuhku," Selena menghentikan kalimatnya untuk menelan ludah, mencoba mengumpulkan udara. "Rasanya seperti habis dilempar dari lantai tiga ballroom."Don terkekeh rendah. Suara baritonnya saat bangun tidur terdengar sangat berat dan pecah. Dia memindahkan tangannya dari mata, lalu memalingkan wajah menatap Selena yang matanya cuma terbuka sebelah."Salahmu sendiri," gumam Don datar. "Siapa yang tadi malam menyebut namaku jam tiga pagi?""Aku tidak memanggilmu, kau saja yang mengigau," protes Selena lambat, kelopak matanya menolak bekerja sama.Don mendesis pelan, lalu dengan sisa kekuatannya, dia mengulurkan tangan melingkari pinggang polos Selena. Pria itu menarik tubuh Selena yang pasrah mendekat, menyeretnya hingga kepala Selena terkulai tepat di atas dada bidangnya."Awas kalau mengeras lagi ..." gerutu Selena dengan wajah tertanam di ku
"Beratmu tak seberapa, Piccola," balas Don santai seraya melangkah menuju ranjang king-size di tengah ruangan.Pria itu menjatuhkan tubuh Selena ke atas kasur empuk, lalu menyusul menindihnya sebelum Selena sempat melarikan diri. Pegas kasur mencicit pelan saat Don mengepung tubuh istrinya dengan kedua lengan tegapnya."Pelan-pelan, Bos Mafia!" Selena menepuk dada tegap Don yang masih terbalut jas malam. "Nanti seprei sutra ini robek!""Biar kuganti dengan saham pelabuhan milik Julian besok pagi," sahut Don dengan senyum nakalnya yang menawan.Selena tertawa renyah, jemari lentiknya menyusup ke kerah kemeja Don, menarik dasi hitam pria itu hingga wajah mereka hanya berjarak satu inci."Kau ini pamer kekayaan atau pamer keputusasaan, Don Mackenzie?""Dua-duanya, kalau itu menyangkut dirimu." Don menunduk, mengunci bibir Selena dalam ciuman yang tidak memberi ampun.Ciuman itu tidak lembut, melainkan sarat akan tuntutan dan gairah muda yang meledak-ledak. Selena membalasnya dengan inten
"Baik, Don. Kami akan menuruti keinginganmu asal kami keluar hidup-hidup dari sini.""Aku tidak janji, cepat tanda-tangani semua berkas yang ada."Dengan tangan bergetar hebat dan wajah pasrah total, ketiga Tetua itu bergantian meraih pena emas tersebut. Satu per satu stempel dan tanda tangan dibubuhkan di atas berkas pengalihan saham.Marco, yang berdiri di dekat pintu, melangkah maju mengambil dokumen yang telah ditandatangani, lalu mengangguk kaku pada Don dan Selena."Seluruh hak operasional Pelabuhan Barat resmi berpindah atas nama Nyonya Selena Mackenzie, Tuan.""Bagus. Sekarang usir para orang tua ini dari mansionku sebelum mereka mengotori karpet," perintah Don datar.Setelah ketiga Tetua kocar-kacir keluar ruangan dikejar pengawal, Don langsung memutarkan tubuh Selena, menarik wanitanya rapat ke dalam dekapannya. Pria itu menunduk, menempelkan dahi mereka seraya mengembuskan napas lega yang hangat. Aroma vanila-lavender memenuhi rongga hidungnya."Langkah yang sangat tajam, N







