Se connecter"Hmmm.... Pemuda lugu itu tahu kalau aku membawa batu mustika 'Menembus Laut Bernapas Dalam Air' karena diberi tahu oleh Ratu Perut Bumi. Sungguh aku tak menduga. Kiranya, Ratu Perut Bumi benar-benar memiliki mata siluman yang bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh manusia biasa...," pikir Iblis Seribu Wajah.
Karena khawatir kata-kata Baraka tadi didengar oleh Raja Penyasar Sukma, Iblis Seribu Wajah mengedarkan pandangan ke segenap penjuru. Namun, kekhawatirannya tidak beralasan
2 Hari itu tidak ada gadis yang lebih beruntung daripada si Gadis Dungu. Tepat nyawanya terancam 'Racun Jamur Setan' Pendekar Kera Sakti datang menolongnya. Dalam keadaan sekarat, Baraka berhasil menyedot 'Racun Jamur Setan' itu dengan Suling Naga Krishna-nya dan dilanjutkan dengan menyembuhkan luka Gadis Dungu dengan hawa ‘Kristal Bening’. Akibatnya, keganasan 'Racun Jamur Setan' pun dapat dikalahkan. Gadis Dungu menjadi sehat, bahkan merasa seperti tidak pernah mengalami luka apa pun.Bilur-bilur merah akibat jurus 'Petir Menangis' yang hampir mencabik-cabik kulitnya itu pun lenyap tanpa bekas seujung jarum pun. Ketika gadis berjubah merah menyadari keadaannya yang telah pulih kembali, bukan ucapan terima kasih yang terlontar pertama kali dari mulutnya, melainkan sebuah pertanyaan yang bernada heran ditujukan untuk dirinya sendiri."Mengapa aku masih hidup?" sambil pandangi tubuhnya sendiri, tangannya, kakinya, dadanya, lalu buru-buru menatap ke depan. Di
Wuuutt...! Deeeb...!"Eehg...!" Gadis Dungu tersentak dan terjungkal ke depan, lalu berguling-guling. Suara gendang lenyap seketika. Kedua orang berwajah angker itu terkulai lemas di rerumputan. Tubuh mereka terkapar bermandi darah dengan napas masih ngos-ngosan.Sementara itu, si Gadis Dungu segera memuntahkan darah kental kehitam-hitaman. Tubuhnya berlutut dengan tangan berpegangan pada sebongkah batu setinggi perut manusia dewasa. Ia memuntahkan darah beberapa kali dan tampaknya tak bisa bergerak lagi. Keadaan itulah yang membuat mata si Pendekar Kera Sakti menjadi tegang tak berkedip."Celaka! Siapa orang yang menghantam si Gadis Dungu dengan sinar merah yang mirip senjata cakra tadi!" pikir Baraka dengan mata mulai bergerak nanar."Pertarungan ini benar-benar pertarungan yang curang!" geram Baraka, seakan hatinya tak bisa menerima perlakuan si penyerang gelap yang membokong Gadis Dungu itu.Baru saja ia ingin bergerak terjun ke tengah pertarungan tersebut, tiba-tiba sekelebat bay
Baraka membatin, "Siapa pun mereka, aku harus hentikan pertarungan ini. Karena jika ada orang lain yang tidak terlibat tapi mendengar desing gesekan kedua golok tadi, pasti akan mengalami luka yang cukup berbahaya!"Si kumis lebat berkata kepada si brewok, "Togayo, jangan biarkan ia bertahan! Kita cabik-cabik tubuh gadis bodoh itu dengan jurus kita sekali lagi!""Aku sudah siap, Gayong! Heeeeaah...!"Gayong, si kumis lebat, dan Togayo si brewok, mulai kelebatkan senjata mereka untuk saling digesekkan kembali. Baraka sudah bersiap melepaskan pukulan jarak jauhnya berupa sentilan dari jari tangannya yang mengandung kekuatan tenaga dalam sebesar tendangan kuda binal itu.Namun agaknya jurus 'Jari Guntur' si Pendekar Kera Sakti terpaksa ditahan untuk sementara. Baraka menjadi penasaran karena ingin melihat sejauh mana perempuan yang dipanggil Gadis Dungu itu bertahan. Karena beberapa kejap setelah Gayong berseru membangkitkan tenaga dalamnya, Gadis Dungu tamp
"Mengapa kedua orang itu terengah-engah kecapekan!" tanya Baraka dalam batinnya. "Tampaknya gadis itu tak keluarkan tenaga sedikit pun, sehingga tampak tenang dan tak ada kelelahan pada dirinya. Diapakan kedua orang berwajah angker itu!"Dari tempatnya bersembunyi, Baraka mendengar ucapan si gadis yang ditujukan kepada kedua lawannya dalam jarak sepuluh langkah kurang itu. "Sebaiknya kalian tak perlu memburuku lagi. Ku ingatkan pada kalian agar pulang dan temui guru kailan, katakan bahwa aku bukan gadis kemarin sore yang mudah ditumbangkan!"Si brewok berusaha bangkit berdiri dengan sedikit sempoyongan karena kedua kakinya terasa lemas. Ia masih mencoba untuk bersikap angker dan bicaranya masih bernada penuh geram kemarahan. Ia menuding si gadis dengan pergunakan goloknya."Jangan merasa unggul dulu, Gadis Dungu! Kami belum merasa kalah melawanmu. Kalau kau sanggup menghindari jurus gabungan kami yang bernama jurus 'Petir Menangis', barulah kau boleh merasa ungg
KAKI Gunung Tunggir yang biasanya dilanda sunyi, kali ini dihiasi dengan suara-suara aneh. Hembusan angin yang menuju ke barat membawa gelombang suara aneh terasa janggal bagi telinga seorang pemuda berambut poni. Pemuda yang memiliki rajah naga emas melingkar di punggung lengannya itu hentikan langkah sejenak kala telinganya menangkap suara aneh tersebut."Suara apa itu sebenarnya? Seperti suara kodok, tapi lebih mirip suara burung gagak? Atau jangan-jangan suara kodok yang sedang mau ditelan burung gagak? Jangan-jangan suara burung gagak yang sudah ditelan seekor kodok?" pikir si pemuda berompi tanpa lengan itu. Pemuda itu tak lain adalah Pendekar Kera Sakti atau yang lebih dikenal dengan nama Baraka. Kadang ada yang menjulukinya dengan nama Tabib Suling Dewa, sebab ia mampu sembuhkan berbagai macam penyakit dengan kesaktiannya.Namun beberapa orang sering memanggilnya dengan nama sanjungan 'si tampan', karena memang ia mempunyai wajah tampan dan senyum menawan yang
Kedua perempuan itu mengadu kipas di udara. Ledakan besar terjadi bersama menyebarnya sinar biru terang dari perpaduan kedua kipas tersebut. Salah satu kipas terpental dan hancur berkeping-keping. Tapi perempuan yang tanpa kipas itu masih tampak berani lakukan penyerangan terhadap lawannya, ia berjumpalitan di tanah beberapa kali, kemudian berhenti dalam keadaan berlutut satu kaki dan sentakkan tangannya ke depan. Sinar merah lurus keluar dari ujung jari tangannya yang menguncup itu.Slaaap...!Sinar lurus dihadang oleh kipas yang dikembangkan di depan dada.Deeb...! Blaaarr...!Zlaaap...! Orang yang memegang kipas lenyap seketika. Bukan hancur karena hantaman sinar tadi, melainkan berpindah tempat di belakang orang yang tidak memegang kipas, ia mampu bergerak luar biasa cepatnya, hingga tak terlihat ke mana arah gerakannya. Tahu-tahu ia tebaskan kipasnya ke punggung la wan.Wuuuut...! Breeett...!"Aaahg...!" perempuan yang tak berkipas meme
"Baraka ... hidupku ... tidak ... lama lagi ... ""Ningrum, aku yakin kau pasti sembuh!" potong Baraka dengan cepat.Ningrum menggeleng dengan lemah. "Percuma aku hidup... kalau keadaanku seperti ini Baraka"Baraka hanya diam tak menjawab ucapan Ningrum. Sementara Ningrum mulai
“Buktinya kau sudah pandai mencium bibirku""mencium bibir itu kan pekerjaan yang mudah. Yang sulit mencium anak panah!" Baraka menanggapi dengan kelakar, Muria Wardani geli. Keiakar itulah yang sering membuat Muria Wardani merasa betah bicara dengan Pendekar Kera Sakti.&ldqu
Orang yang tidur dengan berjalan, yang bisa bertarung sambil mendengkur, tak ada lain kecuali si Bwana Sekarat utusan dari Pulau Serindu yang mempunyai ratu Hyun Jelita alias Gusti Mahkota Sejati Ratu Ayu Sejagat. maka ketika Baraka tampil di depan para prajurit kadipaten, maka ia beri isyarat ke
Gusraak...!Ia buru-buru bangkit karena mendengar seruan Dewi Gapit Mesra yang bergegas menyerangnya kembali."Hiaaat...!" Lompatannya kali ini menyerupai seekor singa betina yang buas dan sangat bernafsu terhadap mangsanya. Senjata cakra bergerigi itu dikibaskan ke arah dada Telaga







