หน้าหลัก / Pendekar / Pendekar Kujang Emas / 2. Bangkitnya Pusaka Kujang Emas

แชร์

2. Bangkitnya Pusaka Kujang Emas

ผู้เขียน: Ramdani Abdul
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2022-01-06 12:33:06

Malam kian menggurita di pedalaman hutan Ledok Beurit. Bulan purnama tampak menggantung di cakrawala, memantulkan cahaya keemasan. Langit terlihat cerah dari jajahan awan.

Di salah satu pohon yang tak jauh dari padepokan, Lingga tengah duduk di dahan paling tinggi. Dari tempatnya saat ini, ia bisa melihat pekatnya Ledok Beurit. Kawasan padepokan ini memang berada di tengah hutan, jauh dari lokasi penduduk. Setidaknya butuh setengah hari agar bisa ke perkampungan terdekat.

Berbekal obor kecil, Lingga mulai membuka lembaran gulungan-gulungan berisi gerakan silat yang sengaja ia gambar secara sembunyi-sembunyi. Ia berusaha berkonsentrasi untuk mengamati isi gulungan. Namun, fokusnya justru tertuju pada pekarangan yang ramai. Malam ini, para murid padepokan akan mendapat senjata mereka masing-masing dari Ki Petot sebagai tanda kelulusan dari padepokan ini.

“Aku sangat kesal setiap kali kegiatan ini berlangsung.” Lingga menutup kembali gulungan, memilih berbaring dengan kedua tangan yang dijadikan bantal. Semangatnya mendadak luntur begitu mendengar suara dari pekarangan. Dengan wajah kesal, ia memunggungi bangunan padepokan.

“Kenapa Aki selalu saja melarangku belajar silat? Padahal aku yang lebih lama tinggal di padepokan ini dibanding murid-murid yang lain.”

Lingga kembali berbaring dengan pandangan tertuju pada bulan. “Aku juga heran kenapa Aki tidak pernah mengizinkanku masuk ke kamarnya. Mengintipnya pun aku langsung kena getok, padahal aku cuma ingin membersihkannya. Aki seperti menyimpan harta karun saja di sana.”

“Lingga, kau tidak aku izinkan memasuki kamarku,” ucap Lingga dengan mimik dan gestur yang biasa ditampilkan Ki Petot, bermaksud menghina. “Huh, dasar aki-aki peot!”

Sementara itu, di halaman padepokan, para murid sudah berbaris dengan rapi. Di depan mereka tampak dua meja panjang yang di atasnya terdapat beragam senjata. Ki Petot sendiri berdiri di depan teras, menyaksikan persiapan anak didiknya.

 Begitu menilai anak didiknya siap, Ki Petot melemparkan tongkatnya ke arah halaman. Benda itu langsung menancap di tanah, dan dengan satu kali entakan kaki, tubuhnya langsung melompat dan mendarat dengan sempurna di atas tongkat. “Mulai,” perintahnya dengan wajah datar.

Para murid langsung memasang gerakan kuda-kuda, mengentak tanah dengan kaki kanan. Mereka kemudian menampilkan gerakan silat khas Padepokan Maung Bodas, dimulai  dari jurus pertama hingga jurus ketujuh. Gerakan mereka persis seperti seekor harimau, sesuai dengan nama tempat di mana mereka menimba ilmu.

Di sisi lain, Lingga yang baru saja akan terlelap dikejutkan dengan getaran aneh yang muncul entah dari mana. Anak itu hampir saja jatuh kalau tidak segera berpegangan pada dahan pohon. Tangan dan kakinya dengan cepat menangkap gulungan-gulungan silat yang ikut terjatuh. “Hampir saja,” ujarnya sembari kembali menaiki dahan.  

Lingga memasukkan gulungan ke dalam baju, lalu menaiki puncak pohon. Pandangannya segera memindai sekeliling. Untuk kedua kalinya, ia merasakan getaran. Anak beralis tebal itu segera terpejam, berusaha menajamkan indra pendengaran. Ia seperti mendengar bunyi gerungan di suatu tempat, dan dari suara itulah getaran itu muncul.

“Ada apa ini?” tanya Lingga. Angin yang berembus membuat bulu kuduknya meremang. Tak biasanya Ledok Beurit sedingin ini. “Aku ... harus memberitahu Aki.”

Lingga mulai menuruni satu per satu dahan. Saat kakinya berhasil mendarat di tanah, getaran itu kembali terasa, dan kali ini lebih kuat dibanding yang pertama. Ia terdiam beberapa saat, kembali menajamkan pendengaran. Suara entakan kaki kini sayup-sayup terdengar dari kejauhan.

“Aki,” panggil Lingga sembari berlari ke arah bangunan. Anak berbaju putih dengan ikat kepala berwarna cokelat itu bergegas menuju halaman depan. Hanya saja saat melihat Ki Petot tengah berdiri di atas tongkat di hadapan para murid, ia justru kembali menarik diri, lalu bersembunyi di sebuah ruangan untuk mengintip keadaan luar.

“Aki hebat sekali,” gumam Lingga dengan pandangan berbinar.

 Di halaman bangunan, Ki Petot mengamati satu per satu anak didiknya, lalu berkata, “Malam ini adalah malam terakhir kalian berada di padepokan ini. Esok paginya kalian akan resmi menjadi murid lulusan Padepokan Maung Bodas. Ingat pesanku baik-baik. Kekuatan yang kalian miliki haruslah kalian gunakan untuk menolong sesama, menegakkan kebenaran, meruntuhkan kejahatan dan kezaliman di depan mata. Pendekar yang hebat bukanlah pendekar yang bisa menguasai banyak jurus dan menaklukkan banyak lawan, tetapi pendekar yang bisa menjadi penerang dan pengayom bagi orang-orang di sekelilingnya.”

Ki Petot turun dari tongkat. “Bersiaplah.”

Para murid segera membungkuk, mendaratkan kepalan tangan kanan ke telapak tangan kiri.

Ki Petot mencabut tongkatnya dengan cepat, memutar-mutar benda itu, mengentak tanah dengan tongkat. Kakek tua itu lantas memperagakan jurus pertama hingga jusru ketujuh. Pukulan, tendangan, terjangan, dilakukannya dengan gerakannya cepat, tetapi bertenaga.  Meski sudah tua, kehebatan pria tua yang terampil dalam membuat senjata itu tak boleh diragukan.

Di dalam ruangan, Lingga begitu terpesona dengan gerakan yang dilakukan Ki Petot. Meski tubuhnya tengah berada di deretan senjata yang tergantung di dinding kayu, tetapi otaknya dengan cepat merekam semua gerakan itu.

“Itu gerakan yang belum pernah kulihat,” ucap Lingga dengan senyum melintang, “apa itu jurus baru? Aku harus segera mencatat dan mempelajarinya.”

Ki Petot mengakhiri gerakan dengan kedua telapak tangan saling menyatu. Pandangannya kembali memindai para murid. Kakek tua itu kemudian mengentak tanah sebanyak tiga kali dengan tongkat, lalu secara mengejutkan senjata-senjata di meja meluncur ke tiap-tiap anak didiknya.

“Senjata-senjata itu yang memilih pemiliknya sendiri,” kata Ki Petot dengan satu tangan berada di belakang punggung. Ia berjalan ke arah murid-murid, mengamati satu per satu senjata yang didapat anak didiknya. “Ambillah.”

Para murid mulai menegakkan tubuh, lalu tersenyum saat melihat sebuah senjata melayang di depan mereka. Satu per satu dari mereka mulai menggenggam senjata masing-masing.

Di dalam tempat persembunyian, Lingga ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah para murid-murid meski di sisi lain ia merasa iri dan kesal. “Kakang Wira mendapat pedang perak. Itu cocok sekali dengannya.”  

Lingga bergeser ke samping, hendak mengintip melalui lubang jendela agar lebih jelas. Akan tetapi, ia malah tak sengaja menjatuhkan sebuah senjata. Bunyinya cukup nyaring sampai ia terlonjak kaget. “Aduh,” ujarnya sembari menutup mulut.

Lingga langsung berjongkok. Sebuah golok berada di dekat kakinya. Tatapannya dengan cepat menyisir sekeliling. Ia baru sadar kalau dirinya berada di kamar Ki Petot. “Aki pasti membunuhku kalau dia sampai tahu aku berada di kamarnya,” ujarnya sembari menepuk dahi. Wajahnya mendadak pucat pasi.

Lingga dengan segera keluar dari kamar. Namun, baru saja kaki kanan menginjak luar ruangan,  ia tiba-tiba berhenti. “Tapi, salah sendiri Aki tidak mengunci kamar ini.”

Lingga memindai satu per satu senjata di ruangan. Tampak pedang, panah, kapak, tombak, pecut, golok dan senjata lainnya tersimpan dengan rapi. Matanya berbinar seperti baru saja  menemukan harta karun. “Aki tidak akan rugi jika kehilangan sebuah senjata. Lagi pula, dia sudah tua untuk bisa mengingat jumlah dan letak senjatanya.”

Lingga kembali memasuki kamar, menutup pintu, mulai mencari senjata yang sekiranya cocok dengannya. Pandangannya menyisir ke sekeliling seiring dengan tubuh yang memutar. Tatapannya tertuju pada sebuah lukisan bergambar harimau di tengah-tengah ruangan.

“Apa itu lukisan yang diberikan kakang Wira saat pertama kali masuk ke padepokan ini? Jelek sekali seperti wajah Aki. Sebaiknya aku tidak dekat-dekat dengan lukisan bau itu.”

Lingga mengambil sebuah pedang, mengayun-ayunkannya, lalu meletakkannya kembali. Anak itu mencoba satu per satu senjata yang ada. Saking fokus mencari, ia sampai melupakan niatnya untuk memberitahu Ki Petot soal suara dan getaran yang ia rasakan tadi.

Di saat tenggelam dalam antusiasnya, Lingga mendadak dikejutkan oleh sebuah kotak yang tiba-tiba terbang memutari tubuhnya. Ia sontak mundur hingga punggungnya menabrak dinding. Tak sampai di sana, sebuah benda berselimut kain putih tiba-tiba saja keluar dari dalam kotak tersebut.

“Ju-jurig!” teriak Lingga yang langsung kabur dari kamar. Ia lari pontang-panting ke teras bangunan, dan terjatuh saat hendak menuruni tangga. Tubuhnya berguling-guling dan baru berhenti ketika menabrak kaki Ki Petot.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pendekar Kujang Emas   697. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Pertarungan Lingga dengan Maung Jaya terus berlangsung di dalam kurungan gaib. Keduanya berubah menjadi bayangan putih yang saling berkelebat, saling menubruk dan menjauh.Lingga berkali-kali terjatuh dan ambruk di tanah, tetapi ia kembali bangkit untuk menghindar sekaligus membalas serangan.Bangsa siluman harimau putih masih berada di sekeliling kurungan gaib, menyaksikan pertarungan pemimpin mereka dengan Lingga, anak manusia yang ingin menguasai mustika yang mereka jaga selama ini.“Anak manusia bernama Lingga itu memang hebat. Dia mampu bertahan melawan pemimpin meski dia terdesak berkali-kali,” ujar Maung Hideung yang berada di depan barisan bangsa siluman. Kedua matanya tidak beralih dari dua bayangan yang terus bertabrakan.“Aku setuju denganmu, Maung Hideung.” Maung Beureum menyahut. “Dengan dia sampai di Pasir Maung sudah menjadi bukti kalau dia memang pendekar yang hebat.”Maung Koneng mengamati Lingga yang terdesak hingga ke sisi kurungan gaib. “Dia mampu menguasai jurus-j

  • Pendekar Kujang Emas   696. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Bulan masih menggantung gagah di langit.Kedua belah pasukan masih berada dalam pertarungan yang sangat sengit, baik di alam siluman maupun di wilayah Batu Nangkarak. Ledakan terjadi di berbagai tempat, disusul oleh teriakan dan suara-suara benda jatuh.Di tengah malam yang semakin dingin dan menusuk, Lingga baru saja tiba di Pasir Maung.Lingga mengamati kawanan harimau putih di depannya, mengendalikan napas yang terengah-engah. Ia sudah sangat kelelahan setelah menghadapi berbagai macam pertarungan sejak pagi tadi. Luka-luka kecil terlihat di tangan, leher, wajah, dan kakinya.Kawanan harimau putih itu seketika terbagi menjadi dua bagian, membuka sebuah jalan untuk seekor harimau besar.“Harimau itu ... pasti adalah pemimpin bangsa siluman harimau putih.” Lingga mundur selangkah, mengepalkan tangan erat-erat. “Hanya dengan bertatapan saja, aku merasa tekanan yang sangat luar biasa.”Kawanan harimau putih mulai mengelilingi Lingga dari berbagai arah. Ketika harimau putih yang berukur

  • Pendekar Kujang Emas   695. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Bayangan-bayangan hitam terus berputar-putar di sekeliling tempat pertarungan. Kemunculan mereka mengundang angin kencang dan ombak ganas.Para pendekar golongan putih terpaksa mundur hingga ke pantai. Ombak semakin mengganas, mengguncang jembatan sulur tanaman yang terhubung dengan Batu Nangkarak.Di waktu yang sama, cahaya merah kehitaman muncul dari gerbang tengkorak. Wira, Danuseka, Darmasena, dan pasukan hitam yang berada di dekat gerbang itu terdorong mundur cukup kuat hingga menabrak pendekar dan siluman yang lain.“Gerbang ini menekanku sangat kuat,” gumam Wira di saat embusan angin semakin kencang. “Tapi, aku bisa merasakan kekuatan yang begitu besar dari sana.”Wira menoleh saat bayangan-bayangan hitam mengelilinginya sesekali. “Bayangan-bayangan hitam itu juga membuatku merinding.”“Jangan mati, Wira,” ujar Danuseka sembari menepis bayangan-bayangan hitam yang mendekatinya. “Aku tidak akan menolongmu.”“Siapa yang butuh pertolonganmu, Danuseka? Aku bisa melindungi diriku se

  • Pendekar Kujang Emas   694. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Pelindung merah seketika hancur berkeping-keping karena dorongan batu berapi. Angin panas berembus sangat kencang, menekan para golongan hitam ke tanah dengan sangat kuat.“Terkutuk!” Wira memaki dalam hati saat tubuhnya menempel di tanah. Pemuda itu kesulitan untuk sekadar menggerakkan jari-jarinya.Para Jurig Lolos seketika mengambil palu godam mereka, lantas menahan batu berapi sekuat tenaga. Teriakan dan jeritan mereka berubah menjadi gelombang kejut yang berembus ke segala arah.Tarusbawa berada di atas batu berapi, menatap tajam Nyi Genit yang masih menyempurnakan ajian jurusnya. Gerbang tengkorak mulai terbuka secara perlahan.Nyi Genit tersenyum bengis. “Hanya sedikit lagi sampai aku pergi ke Lemah Kayas untuk membangunkan siluman Tangkurak Hideung.”Tarusbawa menghantam batu berapi dengan sebuah pukulan kuat. Batu berapi seketika terbelah menjadi ribuan potongan kecil batu berapi yang meluncur sangat cepat ke arah musuh.Jeritan terdengar berkali-kali dari pendekar golongan h

  • Pendekar Kujang Emas   693. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Darmasena menghimpun kekuatan di tangan silumannya, melesat menuju arah datangnya serangan pasukan pendekar golongan putih. Cakar siluman berukuran besar seketika meluncur dari tangannya, menghantam satu per satu serangan.Gelombang angin panas dan berdebu seketika tercipta, mengembus ke sekeliling arah. Darmasena terdorong mundur.Pepohonan tampak berguncang saat terkena angin. Sebuah pelindung melindungi para pendekar golongan putih dari serangan itu.Nyi Genit tersenyum tipis, menoleh pada Wira, Danuseka, dan para bawahan lainnya. “Kita pergi ke Lemah Kayas sekarang juga. Ikuti aku.”Nyi Genit menghimpun kekuatan, bersiap untuk membuka sebuah gerbang gaib. Sesaat setelah gerbang muncul, serangan-serangan kuat mendadak muncul.“Terkutuk! Hadang serangan itu agar aku bisa memanggil gerbang gaib!” perintah Nyi Genit sembari melompat mundur.Wira dan Danuseka segera bergerak maju, menghantam serangan dengan kuku-kuku tajam mereka. Saat ledakan terjadi, dua sosok pendekar golongan putih

  • Pendekar Kujang Emas   692. Petaka di Gunung Sereh Awi

    Nyi Genit menghimpun kekuatan hingga tubuhnya diselimuti oleh cahaya kuning kemerahan. Selendang-selendang kuningnya bergerak sangat cepat, melesat menuju Wira, Danuseka, Darmasena, setengah dari pendekar golongan hitam, dan juga bangsa siluman.Saat cahaya kuning kemerahan itu bersinar semakin terang, Nyi Genit dan para bawahannya yang sudah terikat oleh selendang kuningnya mendadak menghilang hingga hanya menyisakan Jatna, Ratih Ningsih, dan setengah dari pasukan.“Mereka menghilang,” ujar Ekawira sembari menangkis serangan musuh yang berdatangan dari sekelilingnya.Wirayuda dan para petinggi golongan putih mengibaskan serangan musuh dengan senjata-senjata mereka. Setelah mengentakkan kaki, mereka berkumpul di dekat Wirayuda.Wirayuda mengamati keadaan sekeliling. “Nyi Genit dan setengah dari pasukannya pasti pergi ke Batu Nangkarak untuk membangunkan siluman Tangkurak Hideung. Kita harus segera mencegahnya.”Wirayuda menatap satu per satu petinggi golongan putih di sekelilingnya.“

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status