หน้าหลัก / Pendekar / Pendekar Pedang Mirabilis / BAB 5. Pedang yang Mengenali Tuannya

แชร์

BAB 5. Pedang yang Mengenali Tuannya

ผู้เขียน: Enday Hidayat
last update วันที่เผยแพร่: 2025-04-04 23:59:54

Udara di lembah seolah menahan napas menanti apa yang akan terjadi. Banga berdiri tenang di hadapan batu hitam itu, matanya tak lepas memandang gagang pedang tua yang tertancap kokoh di tengahnya.

Ia sudah mendengar banyak kisah tentang benda pusaka yang dijaga kekuatan gaib, namun melihatnya langsung membuatnya terpesona dan mengundang penasaran.

Ia membaca tulisan yang terukir di sisi batu: "Kekuatan ini bukan milik sembarang orang, hanya untuk pewaris yang mempunyai hati lurus dan tujuan mulia."

Banga mengingat kembali perjalanan yang telah dilaluinya—kepergiannya demi menjaga martabat keluarga, melindungi orang lemah, serta janji yang diucapkan kepada ibunya. Semua itu jadi pegangan, membuang keraguan dan ketakutan yang menghalanginya.

Ia teringat pesan ibunya sebelum berangkat: "Kekuatan sejati tidak datang dari senjata tajam, melainkan dari hati yang tidak pernah melupakan siapa dirinya."

Ia menarik nafas dengan teratur, lalu mengeratkan genggaman pada gagang pedang. Ia merasakan sensasi aneh yang mengalir ke dalam tubuhnya. Sekejap ia terdiam.

"Pedang ini terasa dingin tapi memberi kehangatan yang merambat masuk ke tanganku, seolah energi di dalamnya menyambut kehadiranku," ucapnya. "Tidak ada rasa sakit atau beban berat di dalam diriku, hanya keselarasan yang terasa sejak sentuhan pertama."

Ia mengerahkan tenaga dalam yang telah dilatih bertahun-tahun, mengalirkannya ke seluruh lengan. Ia membayangkan dirinya menyatu dengan kekuatan di sekelilingnya, lalu mulai menarik gagang pedang secara perlahan.

Terlintas di benaknya cerita yang pernah didengar; tokoh sakti, raja, dan ksatria dari berbagai zaman telah mencoba mencabut pedang ini, namun semuanya gagal. Akhirnya pusaka ini terlupakan.

"Ada yang menarik hingga ototnya robek, tapi pedang ini tidak bergeser sedikit pun," gumam Banga. "Ada pula yang mengerahkan tenaga dalam tingkat tinggi, justru terlempar dengan luka parah. Selama berabad-abad, pedang ini tetap diam di tempatnya, menjadi bukti bahwa tidak sembarang orang bisa memilikinya."

Banga menahan napas, siap menghadapi kemungkinan apa pun. Namun apa yang terjadi kemudian benar-benar di luar dugaan. Begitu ia mencoba menariknya sedikit, tidak ada hambatan sama sekali. Tidak ada tekanan yang melawan, seolah pedang itu hanya tertancap biasa dan menunggu untuk diambil.

Pedang itu seolah menyatu dengan aliran tenaga dalamnya, meluncur keluar dengan lembut. Terdengar suara mendesir halus seperti hembusan angin berputar, disertai cahaya kemerahan yang memancar dari celah batu, menerangi area sekitar dengan cahaya menyilaukan.

Dalam hitungan detik, Banga berhasil mencabut pedang itu. Ia memegangnya dengan kedua tangan, dan tidak percaya melihat apa yang baru saja dilakukan. Tidak ada rasa lelah atau sakit, bahkan tenaganya semakin kuat, seolah ada energi baru mengalir masuk ke tubuhnya melalui gagang pusaka itu.

"Aku tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis," keluhnya. "Tanggung jawab pewaris pedang ini sangat berat."

Batu hitam yang menjadi tempat pedang itu kini tampak mulus kembali, seolah tidak pernah ada benda yang menancap di atasnya selama ribuan tahun. Cahaya pedang semakin berkilau, seolah menyambut kedatangan tuannya.

Banga memutar pedang di tangannya, ia merasakan keseimbangan yang sempurna. Ukiran di sepanjang bilahnya tampak unik dan indah. Saat ia mencoba memainkan pedang, ia merasakan getaran halus yang menjawab setiap keinginan hatinya. Seolah senjata itu benar-benar mengenali siapa pemiliknya, mengetahui apa yang ada di dalam jiwanya, dan bersedia memenuhi apa yang diinginkan.

“Pedang ini memilih sendiri tuannya,” ujar Banga, suaranya bergetar karena takjub. “Bukan untuk orang yang paling kuat atau paling berkuasa, tapi untuk orang yang ditakdirkan menerimanya.”

Kilauan lembut dari pedang mendadak menjadi sinar yang sangat terang, seolah memberi tanda kedatangan sesuatu. Kemudian terdengar suara yang berat dan bergema. Suara itu datang dari segala arah, entah dari mana asalnya. Bukan dari makhluk biasa, tapi dari ingatan ribuan tahun silam.

“Kau adalah pewaris yang kutunggu-tunggu kedatangannya," kata suara tanpa wujud. "Namun ketahuilah, kekuatan yang kau genggam itu adalah pedang bermata dua.”

"Aku tahu pedang ini bermata dua," sahut Banga pelan. "Maksudnya apa?"

Suara itu melanjutkan dengan berwibawa. “Pedang itu bisa menjadi perisai yang melindungi orang lemah, atau menjadi api yang membakar dirimu jika dikuasai oleh amarah dan dendam. Jalan yang kau pilih akan menentukan nasib bukan hanya dirimu, juga orang-orang di sekitarmu.”

Suara itu menghilang meninggalkan keheningan yang kembali menyelimuti lembah. Banga memegang pedang itu erat-erat. Ia telah mendapatkan apa yang dibutuhkan, namun sadar bahwa ia baru saja melangkah masuk ke dalam tanggung jawab yang besar.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pendekar Pedang Mirabilis   BAB 43. Pengakuan yang Tidak Membatalkan Kesalahan

    Setelah kapaknya terlepas dan kekuatannya terbukti kalah jauh, Komandan Rendra berdiri diam di tempatnya, napasnya memburu dan pandangannya tidak lagi berani menatap lurus ke arah Banga. Ia tahu bahwa perlawanan lebih lanjut hanya akan membawa kematian yang sia-sia, dan kebenaran tidak bisa lagi disembunyikan. Dengan suara yang lebih rendah dan tidak sekeras sebelumnya, ia mulai berbicara, seolah membebani hatinya yang selama ini menyimpan rasa tidak tenang. “Benar… aku ikut serta dalam penyerangan itu. Ketika perintah resmi datang dari pusat, aku diminta mengerahkan pasukanku untuk memblokir semua jalan keluar dari wilayah Klan Adikara, memastikan tidak ada seorang pun yang bisa melarikan diri.” Ia mengangkat wajahnya sebentar, lalu segera menunduk lagi seolah menghindari tatapan yang tajam. “Namun perlu kau dengar, aku hanya menjalankan tugas yang diberikan. Jika aku menolak perintah istana, maka bukan hanya aku yang akan dihukum, tapi juga seluruh keluargaku dan anak buahku. Ka

  • Pendekar Pedang Mirabilis   BAB 42. Satu Bayangan Melawan Seluruh Pasukan

    Saat malam beranjak dini hari, Banga bangkit dan melangkah masuk melewati pagar kayu di bagian belakang markas. Tanpa suara, ia mendarat di atas tanah basah yang berbau garam dan lumpur. Cahaya remang dari obor-obor itu hanya cukup untuk membayangi sosoknya, bukan menampakkannya.Namun gerakan itu tidak luput dari pengawasan terakhir. Dua penjaga yang sedang memeriksa muara sungai segera berteriak keras, “Ada penyusup! Tangkap dia!”Suara itu menggema, dan dalam hitungan detik seluruh markas bergemuruh. Pintu bangunan utama terbuka lebar, dan keluar puluhan prajurit bersenjata tombak, pedang, serta perisai. Di depan mereka berdiri seorang lelaki bertubuh tegap, berambut pendek, mengenakan baju besi lapisan tebal dan memegang kapak perang yang besar. Komandan Rendra, pemimpin pasukan pesisir yang dikenal kejam dan bengis.“Siapa yang berani menyusup ke tempat ini?” bentak Rendra, suaranya menggelegar menutupi suara ombak. “Kau sendirian? Apa kau tidak tahu tempat ini dijaga lebih dari

  • Pendekar Pedang Mirabilis   BAB 41. Menuju Markas di Tepi Laut

    BAB 41. Menuju Markas di Tepi Laut Setelah menyelesaikan urusan di perkampungan dan memastikan warga menerima bagian yang menjadi hak mereka, Banga tidak berlama-lama di sana. Ia tahu bahwa pasukan istana akan segera menyebar ke seluruh jalan utama, sehingga ia harus memilih jalur yang lebih jauh namun lebih aman. Pilihannya jatuh ke arah pesisir pantai — wilayah yang jarang dilalui orang, menjadi tempat berdirinya markas besar pasukan yang bertugas mengawasi seluruh pergerakan penduduk dan arus barang masuk ke daerah itu. Perjalanan memakan waktu dua hari penuh. Ia menyusuri jalan setapak di tepi hutan, melintasi sungai dangkal, dan bergerak hanya saat malam tiba agar tidak terlihat oleh patroli yang mulai bertebaran. Di siang hari, ia bersembunyi di gua-gua kecil atau di balik rimbunnya semak belukar, menggunakan tenaga dalamnya untuk menenangkan napas dan memulihkan kekuatan tanpa perlu banyak istirahat. Malam itu ia mulai mencium bau garam dan mendengar suara deburan ombak yan

  • Pendekar Pedang Mirabilis   BAB 40. Janji Lama yang Terpanggil Kembali

    Jauh di seberang pegunungan, di lembah yang lebih sejuk dan tertutup kabut, berdiri Akademi Han Barat — tempat ilmu pengobatan, strategi, dan seni bela diri yang lebih halus diajarkan. Di sanalah Mahira menghabiskan tujuh tahun terakhir, mengasah ketajaman pikiran dan kepekaan hati yang menjadi ciri khas keluarganya.Ia sedang merapikan gulungan catatan tanaman obat saat seekor merpati pos terbang masuk lewat celah jendela, sayapnya sedikit lelah setelah perjalanan jauh. Begitu melihat tanda lilin di kaki burung itu, jantungnya berdegup kencang — itu adalah lambang yang hanya digunakan oleh keluarga besar Klan Adikara dan kerabat dekatnya.Setelah membuka dan membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Abiyasa, wajah Mahira memucat perlahan. Kata-kata yang tertulis jelas menyebutkan nasib klan, kebangkitan satu-satunya keturunan yang tersisa, dan panggilan bagi siapa saja yang masih memiliki ikatan darah dan janji.Nama Banga terlintas seketika di benaknya.Sejak kecil, mereka tumbuh b

  • Pendekar Pedang Mirabilis   BAB 39. Pesan yang Membangkitkan Semangat Lama

    Setelah meninggalkan Akademi Han Timur, Abiyasa tidak hanya bergerak sendirian. Sebelum melintasi pegunungan menuju wilayah barat, ia mengirimkan beberapa ekor merpati pos yang terlatih—yang biasa digunakan klan untuk berkomunikasi secara rahasia selama seratus tahun terakhir. Setiap burung itu membawa gulungan kecil yang disegel dengan lilin berukir lambang Klan Adikara, ditujukan kepada teman-teman dan kerabat dekat yang juga sedang menuntut ilmu atau menetap di berbagai daerah.Pesan yang tertulis di dalamnya singkat, tidak berlebihan namun menyampaikan maksud yang jelas: “Darah kita telah tumpah, nama kita diinjak-injak, dan janji seratus tahun telah gugur. Jika kau masih menganggap bagian dari klan ini, kembalilah. Kita tidak datang untuk memulai perang, tapi untuk menegakkan kembali harga diri yang telah dirampas.”Surat pertama sampai ke tangan Kala, seorang pemuda tangguh yang tinggal di desa pertanian di daerah selatan. Ia sedang memeriksa ladang saat merpati itu mendarat di

  • Pendekar Pedang Mirabilis   BAB 38. Kabar yang Menggema ke Negeri Seberang

    Jauh di timur, di sebuah lembah tersembunyi yang dikelilingi pegunungan tinggi, berdiri Akademi Han Timur — tempat para pemuda dari berbagai daerah datang untuk mengasah ilmu, kekuatan, dan kebijaksanaan. Di sanalah Abiyasa, sepupu sekaligus saudara seklan Banga, menghabiskan waktu selama tiga tahun terakhir untuk mendalami ajaran leluhur dan seni bela diri tingkat tinggi.Suatu sore, saat ia sedang beristirahat setelah berlatih, seorang pengembara yang baru tiba dari daerah barat menceritakan kabar yang mengejutkan. Di tengah percakapan santai, disebutkan tentang peristiwa di wilayah Kadipaten: kebangkitan sosok yang membawa lambang Klan Adikara, pembalasan terhadap pengkhianat, dan pergerakan kekuasaan istana yang semakin ketat.Nama klan itu langsung membuat telinga Abiyasa terasa lebih tajam. Selama ini, ia hanya mendengar kabar samar bahwa keluarganya hidup dalam damai dan tetap menjaga sumpah yang diwariskan turun-temurun — untuk tidak mencampuri urusan politik dan menahan diri

  • Pendekar Pedang Mirabilis   Bab 6. Penerus Dinasti

    Percuma kepala kampung memohon ampun, pintu itu sudah ditutup. Pemusnahan klan Adikara adalah jalan kematian bagi orang-orang yang menjadi kaki tangan istana. Banga hanya mengijinkan sembilan istrinya untuk pergi. Mereka hanyalah selimut yang diambil secara paksa dari orang tua. Banga bukan ibli

  • Pendekar Pedang Mirabilis   Bab 4. Rumah Terkutuk

    Rumah itu sangat megah dengan halaman luas, dikelilingi pagar tinggi dari papan tebal. Brak! Banga menendang pintu gerbang sehingga palang pintu patah dan pintu terbuka lebar. Di dalam sudah menunggu satu kompi prajurit sena dan dua puluh pendekar bayaran. Kepala kampung berdiri dengan pongah di

  • Pendekar Pedang Mirabilis   Bab 3. Bukan Perampok

    Separuh kampung hangus terbakar, pemandangan yang terlihat hanyalah gundukan abu. Tersisa beberapa gudang rempah dan dikuasai kepala kampung. Licik sekali. Klan Adikara mayoritas tinggal di kampung ini, membuka usaha perkebunan dan pertanian. Beberapa keluarga tinggal di perkotaan, sebagian selamat

  • Pendekar Pedang Mirabilis   Bab 2. Tragedi

    Arjuna tiba di perkampungan menjelang makan siang. Pemilik kedai kopi yang biasa dipanggil Pak Tua terkejut melihat kemunculan Banga dengan membawa pedang di punggung. Beberapa warga yang minum kopi di meja panjang memandang khawatir. "Untuk apa anak itu pulang? Cari mati!" "Ia membawa pedan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status