Inicio / Fantasi / Pendekar Sinting dari Laut Selatan / 71. Part 1 (TITISAN ILMU IBLIS)

Compartir

71. Part 1 (TITISAN ILMU IBLIS)

last update Fecha de publicación: 2025-12-14 01:01:25

KADIPATEN WADASLINTANG.

Sebentang lembah berbukit. Tempat di mana rerumputan liar tumbuh menghampar. Tempat di mana seseorang bisa melihat cakrawala dengan lapang. Juga tempat bagi empat orang yang sedang terlibat satu urusan. Sementara keempatnya seperti tak pernah cukup peduli pada rona langit di atas sana yang berubah murung. Bukan karena mendung meraja. Melainkan kehadiran perlahan sang senja. Bahkan, mereka seperti tak ambil pusing pada gelimpangan dua bangkai kuda dan satu bangka

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   248. Part 16

    "Ah kau jangan keterlaluan. Aku sudah besar begini kau suruh pipis dicelana?""Perduli apa? Tidak ada yang melihat ini!" Dengus Arum Senggini sinis.Nila Agung terdiam. Dia tidak ingin membuat saudara tuanya jadi tambah marah. Sementara suara tawa menggelegar tiba-tiba terhenti.Deru angin dingin yang membuat butiran pasir beterbangan lenyap. Kemudian ada suara orang berkata. Yang mengejutkan suara itu datang dari balik hamparan pasir tak jauh dari tempat mereka berdiri."Dua orang gadis cantik dan puteri raja pula. Kalian datang terlambat. Sayang lebah-lebahku terlanjur pergi jauh. Padahal seharusnya lebah lebah itu mengantuk dan menyengat kalian. Dengan begitu kalian akan menjadi pengantinku. Tapi tidak mengapa, aku datang menjemput membuang waktu menyempatkan diri menghampiri kalian. Bagiku kalian adalah sebuah karunia dewa serta hadiah yang tak ternilai harganya.""Sayangku, apakah kalian sudah siap pergi bersamaku? Ha ha ha.""Apa katak

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   247. Part 15

    "Iblis itu datang bersama lebah-lebah pembunuh. Dia memasuki rumah seluruh penduduk di pantai ini. Anak-anak gadis entah mengapa mendadak bertingkah aneh begitu disengat oleh kawanan lebah. Mereka pergi mengikuti iblis itu" terangnya dengan suara terbata."Lalu apa yang membuat dirimu dan yang Lainnya terkapar? Kulihat kau menderita keracunan hebat ki..." Puteri Arum Senggini bertanya pula."Yang yang menyerang kami kawanan lebah itu juga." jawab si orang tua dengan tubuh mulai bergetar.Kedua puteri ini saling pandang."Serangan mahluk yang sama, tapi mengapa akibatnya berbeda?" kata Arum Senggini"Seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan ada kawanan lebah bisa membunuh begini banyak."ujar Nila Agung pula. Kemudian sang puteri kembali menatap orang tua itu. Dari keadaan luka dan beberapa dari sengatan yang parah.Gadis sadar jiwa orang tua itu tak bakal tertolong. Tidaklah heran Nila Agung buru-buru ajukan pertanyaan.”Ki kami akan b

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   246. Part 14

    “Penujum kuakui tahu banyak hal-hal yang belum terjadi. Tapi yang aku herankan mengapa sampai sekarang aku belum pernah mendengar tanda-tanda kehadiran pangeran durjana.""Eh, amit-amit. Biarpun tampan aku tak bakal sudi berteman dekat dengan orang yang pernah mati." sahut sang kakak dengan tubuh bergidik dan wajah membayangkan rasa takut sekali.Melihat ini sang adik tertawa tergelak-gelak. Tapi suara merdu sang dara mendadak lenyap, Kedua matanya membelalak lebar begitu melihat di kejauhan sana tepat di dusun nelayan itu para penduduk berlarian tak tentu arah dalam keadaan ketakutan dan menjerit-jerit seperti tak berkeputusan. Dari tempat mereka berada keduanya melihat orang-orang itu begitu sibuk menghalau sesuatu sambil mengibaskan benda apa saja yang berada di tangan mereka"Apa yang terjadi dengan mereka?!" kata puteri Arum Senggini sambil menghentikan lari kuda sekaligus menatap heran ke arah penduduk yang berlarian menyelamatkan diri. Puteri Nila A

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   245. Part 13

    "Astaga! Aku tak pernah menyangka berhadapan dengan orang sehebat dirimu Dewa Mabok. Aku yang berilmu rendah dan tak punya ke pandaian apa-apa ini mohon maaf. Terimalah hormatku." ujar Penujum Aneh Sambil rangkapkan dua tangan di depan dada dengan sikap segan cepat si kakek bungkukkan badan menghormat pada Dewa Mabok. Tapi begitu dia kembali tegak, turunkan kedua tangan dan menatap ke depan.Penujum Aneh dibuat takjub Dewa Mabok hilang raib berubah menjadi kepulan asap."Aneh, Apakah benar aku bertemu dan bercakap-cakap dengin orang tua sakti itu?" desis sikakek seolah tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.Seakan mendengar apa yang dikatakan Penujum Aneh. Dikejauhan terdengar suara gelak tawa dan santernya aroma tuak. Lalu sayup sayup terdengar ucapan."Kau telah bertemu dan bercakap-cakap denganku. Jadi jelas kau tak bicara dengan setan yang menyerupai diriku. Namun terus terang kau baru bertemu dengan bayanganku saja, bukan ujudku yang asli. Ha h

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   244. Part 12

    Setelah peristiwa yang memalukan sekaligus menggemparkan itu. Ratu Tria Arutama meninggalkan istana. Sebagian orang berpendapat sang ratu mengasingkan diri dan menetap disebuah tempat rahasia tak jauh dari Malingping. Dia hidup hingga dua ratus tahun kemudian. Seorang pengikut yang sangat setia terus mendampingi dan melayani segala kebutuhan sang ratu sampai akhir hayatnya."Penujum Aneh. Apalagi yang kau renungkan. Jangan melamun nanti setan kuburan malah menyusupimu? Ha ha ha."Suara orang tua berperut besar yang keras membuat si kakek terkejut sekaligus tersadar dari tamunannya. Masih dengan wajah diliputi rasa heran dia menatap laki-laki itu. Kemudian dengan suara perlahan dia bertanya lagi."Aku melihat lebah-lebah, sebelum muncul perempuan-perempuan muda dalam keadaan hamil besar. Apakah yang kulihat di alam gaib itu punya arti tertentu?"Yang ditanya dongakkan kepala. Mata berputar menatap ke arah bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit. S

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   243. Part 11

    "Hua ha ha. Aku sudah tahu. Dan aku juga tahu yang kaulakukan di makam Loh Seta. Bukankah karena kau ingin tahu siapa yang telah membunuhnya?" ucap laki-laki itu sambil meneguk tuaknya.Penujum Aneh terdiam belum sempat dia membuka mulut orang di depannya lanjutkan ucapan."Aku sudah melihat dengan kekuatan yang aku miliki. Kau baru saja kembali dari alam gaib. Dan dari alam yang tak mudah dimasuki oleh manusia itu bukankah kau mendengar suara deburan ombak, kau melihat dua peti mati, kawanan lebah. Kau juga melihat gadis-gadis yang dimabuk cinta. Tidak hanya itu. Aku berpikir kemungkinan kau juga melihat banyaknya perempuan muda yang hamil mendadak serta ratusan bayi yang baru terlahir ke dunia?" terang laki-laki itu.Mendengar suara petir di siang bolong si Penujum Aneh tentu tak akan seterkejut mendengar ucapan orang di depannya."Bagaimana kau bisa mengetahui segalanya? Bagaimana kau bisa melihat apa yang aku lihat. Siapa kau yang sebenarnya? Hidup ta

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   202. Part 16

    Diserang dari dua arah sekaligus. Giri Soradana terpaksa menggunakan ilmu meringankan tubuh serta kecepatan gerak untuk menyelamatkan diri. Ketika pukulan dan tendangan yang dilakukan oleh dua lawannya meleset.Kini giliran si kakek merangsak maju. Satu jotosan keras diarahkan ke wajah Pur

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   185. Part 21

    Sementara itu Pendekar Sinting hentikan tawanya. Sekali melirik pada sahabatnya dia segera tahu pasti Bocah Ontang Anting yang telah berlaku jahil dengan meletakkan pakaian dan benda-benda di dalam kotak. Walau demikian dia tetap berkata."Mahluk alam roh bertubuh seperti tengkorak dan bat

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   169. Part 5

    "Kkk... kau.., apakah kau putra terakhir prabu Sangga Langit? Apakah kau yang bernama Angon Luwak dan dikenal dengan sebutan Pendekar Sinting?" Tanya Maha Sesat dengan bergetar.Walau dendam dan kemarahannya pada Maha Sesat setinggi langit sedalam lautan namun Pendekar Sinting malah manggu

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   167. Part 3

    Sosok tinggi hitam berpakaian berupa jubah hitam berambut panjang memakai ikat kepala hitam yang tak lain adalah Maha Sesat itu merasa usahanya untuk memasuki gua di dalam perut bukit semakin jauh dari harapan.Angin Pesut ternyata tidak hanya memiliki tubuh dengan ukuran sangat besar, nam

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status