แชร์

71. Part 1 (TITISAN ILMU IBLIS)

ผู้เขียน: KSATRIA PENGEMBARA
last update วันที่เผยแพร่: 2025-12-14 01:01:25

KADIPATEN WADASLINTANG.

Sebentang lembah berbukit. Tempat di mana rerumputan liar tumbuh menghampar. Tempat di mana seseorang bisa melihat cakrawala dengan lapang. Juga tempat bagi empat orang yang sedang terlibat satu urusan. Sementara keempatnya seperti tak pernah cukup peduli pada rona langit di atas sana yang berubah murung. Bukan karena mendung meraja. Melainkan kehadiran perlahan sang senja. Bahkan, mereka seperti tak ambil pusing pada gelimpangan dua bangkai kuda dan satu bangka

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   190. Part 4

    "Malam ini? Apakah tidak menunggu esok? Dengan begitu saya bisa membantu gusti mempersiapkan segala keperluan untuk pemakaman!" Tawar laki-laki itu. Sekedar menunjukkan rasa simpati dan itikat baik. Tapi tawaran itu disambut gelengan kepala sang adipati."Aku berterima kasih atas pengertianmu. Tapi segalanya sudah sangat mendesak. Kau boleh pergi, bawa pasukan untuk menyertaimu. Aku berharap esok sore sebelum matahari terbenam kau sudah kembali bersama orang-orang yang kita butuhkan.”"Perintah gusti saya junjung tinggi, namun saya merasa lebih baik pergi sendiri. Dengan begitu perjalanan bisa lebih cepat.”"Baiklah. Kau bebas menentukan pilihan. Aku yakin dengan kemampuanmu. Kau boleh pergi sekarang!"Senopati Gagak Panangkaran anggukan kepala. Setelah menjura hormat, laki-laki itu bangkit berdiri. Tak ingin berlama-lama dia balikkan badan lalu bergegas tinggalkan ruangan itu.Setelah senopati pergi, adipati Seta Kurana bangkit. Dia ke

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   189. Part 3

    Senopati menggeleng seolah berusaha mengingkari semua kenyataan yang dilihatnya. Tapi ketika semua ciri korban yang tewas dengan kondisi yang tak jauh berbeda. Sebagaimana pengakuan si Mata Bara.Senopati merasa tidak ada gunanya menutupi kenyataan."Lima tumenggung, penguasa lima wilayah dalam kekuasaan gusti semua tewas, bersama keluarganya gusti.” Terang laki-laki itu dengan suara lirih.Dengan perlahan diucapkan namun bagi adipati keterangan senopatinya tak ubah seperti lima tusukan senjata berbisa yang menembus jantungnya.Dia terkesima.Mata mendelik.Menatap ke arah senopati seolah tak percaya dengan pendengaran sendiri."Semua terbantai. Gila! ini kenyataan yang sulit kuterima," dengus adipati dengan nafas mengengah. Pertanda laki-laki itu sedang dilanda kemarahan luar biasa."Kau sudah bertemu atau setidaknya sudah melihat pembunuh keparat itu? Atau mungkin kau melihat pembunuh itu keluar dari gedung keluarga?!"

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   188. Part 2

    Satu kejadian yang sulit dipercaya membuat senopati Gagak Panangkaran belalakkan matanya. Tanpa terduga dengan mudah serangan senopati itu dihindari lawan.Bahkan senopati tidak sempat melihat kapan Mata Bara berkelit menghindar. Yang jelas tahu-tahu si Mata Bara telah berada di belakangnya.Secepat kilat dia balikkan badan sekaligus kiblatkan senjata dalam genggaman. Namun secepat apapun serangan bertenaga dalam tinggi dia lakukan tetap saja gerakannya kalah cepat dengan pukulan yang dilakukan si Mata Bara.Blek!Satu pukulan yang mengarah di wajah yang disusul dengan tamparan keras ke bagian bahu senopati mendarat telak, membuat senopati terjungkal dengan wajah seperti remuk, hidung mengucurkan darah dan bahu sakit laksana ditindih batu sebesar kerbau.Penuh kemarahan sambil menggerung akibat menahan sakit luar biasa. Dengan tubuh termiring-miring laki-laki ini bangkit. Jelalatan dia memperhatikan sekelilingnya.Dia tidak melihat si Mata B

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   187. PEMBALASAN KAUM KUTUKAN

    ANGIN MENDERU.Kilat dan petir sambung menyambung tiada henti. Hingga larut malam hujan lebat yang mengguyur kadipaten Blora belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda. Padahal luapan air sungai telah menggenang dimana-mana.Di tengah suasana alam yang tidak bersahabat. Dalam sebuah gedung megah tempat kediaman adipati dan pati kerabatnya justru terjadi peristiwa yang menggemparkan.Beberapa kerabat adipati Seta Kurana termasuk istri dan dua putrinya tewas menemui ajal dengan kondisi mengenaskan. Enam pengawal yang bertugas di tempat kediaman keluarga juga tak luput dari kematian.Adalah senopati Gagak Panangkaran orang yang paling pertama mengetahui terjadinya malapetaka ini. Saat itu senopati gagah berpakaian serba hitam berusia sekitar empat puluh tahun baru saja kembali dari beberapa wilayah katemenggungan yang masih berada di bawah pemerintahan adipati Blora.Pada saat senopati bersama rombongan kecil memasuki pintu gerbang utama. Dia yang

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   186. Part 22

    Sama seperti yang dialami sahabatnya. Begitu tangan Hyang Kelam terjulur memanjang. Dari setiap kuku jarinya yang berubah menjadi akar merambat hidup. Akar-akar aneh yang bercabang-cabang itu langsung menyerang leher dan berusaha melibatnya juga berusaha menggelung dua tangan dan kaki Pendekar Sinting.Pemuda ini terkesima. Tapi segera lambungkan diri ke udara. Tak disangka akar-akar itu terus mengejar kemana pun dirinya bergerak. Dengan kecepatan gerak yang sangat luar biasa, Pendekar Sinting berjumpalitan tiga kali lalu jejakkan kaki di atas gundukan batu tinggi di ujung gua.Ketika melihat akar-akar menyambar ke arahnya. Berturut-turut dia melepaskan pukulan Seribu Jejak Kematian dan Gelombang Badai Laut Merah. Untuk diketahui, pukulan sakti Seribu Jejak Kematian adalah pemberian Tabib Tangan Dewa Dari Pulau Hantu. Sedangkan Gelombang Badai Laut Merah adalah pemberian Kanjeng Ratu Nyai Roro Kidul.Menggunakan salah satu ilmu pukulan sakti itu saja akibatnya s

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   185. Part 21

    Sementara itu Pendekar Sinting hentikan tawanya. Sekali melirik pada sahabatnya dia segera tahu pasti Bocah Ontang Anting yang telah berlaku jahil dengan meletakkan pakaian dan benda-benda di dalam kotak. Walau demikian dia tetap berkata."Mahluk alam roh bertubuh seperti tengkorak dan batang pohon. Aku tidak merasa telah meletakkan benda atau sepotong tulisanpun dalam kotak yang kau bawa lari. Kalaupun itu dilakukan oleh sahabatku. Maka kukira semuanya wajar. Temanku mungkin tahu kau suka dengan pakaian dalam wanita. Jadi apa salahnya bila temanku Bocah Ontang Anting memberimu tanda kenang-kenangan?"Hyang Kelam keluarkan suara seperti kerbau disembelih. Matanya yang cekung menjorok ke dalam rongga mendelik besar. Tubuhnya yang hanya berupa kulit pembalut tulang bergetar hebat pertanda kemarahannya sudah sampai ke ubun-ubun. Selagi Hyang Kelam diamuk amarah.Bocah Ontang Anting dengan agak ragu-ragu membuka mulut."Hyang Kelam, Mahluk jelek sedunia. Aku

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   38. Pergi

    Gadis ayu yang kini mulai menginjak masa ranumnya selaku seorang dara itu memang mudah mempengaruhi diri Angon Luwak. Dalam keadaan kacau, pemuda itu masih bisa menikmati desir perasaannya terhadap Tresnasari.Gadis itu ibarat gerimis kecil dalam kemarau panjang bagi Angon Luwak. Ibarat ke

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   36. Tantangan Pertama

    Sungguh dia tak menyangka berhasil lolos dari terjangan tubuh orang tadi. Sebab di samping luncuran tubuh orang itu demikian cepat, juga begitu mendadak. Sedangkan jaraknya dengan pintu kedai saja tak lebih dari dua langkah.Dalam jarak sedekat itu, tentu amat sulit melakukan elakan. Tapi

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   35. Gusar

    Kekokohan kakinya yang selama dua tahun setengah selalu berkutat mengayuh dalam gelombang, membuatnya sanggup berlari seperti seekor rubah. Tak beberapa tarikan napas, Angon Luwak sudah sampai di atas bukit karang di mana Ki Kusumo berdiri. Anak muda tanggung itu hendak menyerahkan seikat bunga k

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   34. Benda apa sebenarnya?

    Keanehan susulan tersebut menyebabkan Angon Luwak semakin penasaran saja. Dia tetap bersikeras untuk mencabut batu pemantik tadi dari tempat menempelnya. Dikerahkannya kembali seluruh tenaga.Sekali ini, tangannya tergelincir dari permukaan batu pemantik. Rupanya batu itu cukup licin. Satu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status