Beranda / Fantasi / Pendekar Sinting dari Laut Selatan / 71. Part 1 (TITISAN ILMU IBLIS)

Share

71. Part 1 (TITISAN ILMU IBLIS)

last update Tanggal publikasi: 2025-12-14 01:01:25

KADIPATEN WADASLINTANG.

Sebentang lembah berbukit. Tempat di mana rerumputan liar tumbuh menghampar. Tempat di mana seseorang bisa melihat cakrawala dengan lapang. Juga tempat bagi empat orang yang sedang terlibat satu urusan. Sementara keempatnya seperti tak pernah cukup peduli pada rona langit di atas sana yang berubah murung. Bukan karena mendung meraja. Melainkan kehadiran perlahan sang senja. Bahkan, mereka seperti tak ambil pusing pada gelimpangan dua bangkai kuda dan satu bangka

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   249. Part 17

    Belum lagi gema suara gadis berlesung pipit ini lenyap. Tahu-tahu dia telah jatuhkan diri di atas pasir. Selanjutnya seperti batangan kayu Nila Agung gelindingkan tubuhnya ke arah Pangeran Durjana. Melihat lawan menyerang dengan cara yang aneh.Pangeran Durjana sempat dibuat tertegun. Dia tak tahu kalau Nila Agung yang sangat menguasai jurus sakti Inti Bumi ini tengah mengerahkan jurus-jurus yang menjadi andalannya."Aku hantam dia dari bawah, Kalau benar tubuhnya alot, kebal dengan senjata begitu dia lambungkan diri kau serang dia dari atas. Aku yakin saat tidak menyentuh tanah dia menjadi mudah untuk dilukai." kata Nila Agung melalui ilmu ngiangan suara.Arum Senggini anggukan kepala. Dalam hati dia memuji kecerdikan adiknya."Hiat.... Putus kedua kakimu!" teriak Nila Agung. Sambil berguling tak ubahnya ombak yang bergulung-gulung pedang ditangan sang puteri berkiblat membabat ke arah kedua kaki Pangeran Durjana dengan kecepatan luar biasa. Cahaya putih

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   248. Part 16

    "Ah kau jangan keterlaluan. Aku sudah besar begini kau suruh pipis dicelana?""Perduli apa? Tidak ada yang melihat ini!" Dengus Arum Senggini sinis.Nila Agung terdiam. Dia tidak ingin membuat saudara tuanya jadi tambah marah. Sementara suara tawa menggelegar tiba-tiba terhenti.Deru angin dingin yang membuat butiran pasir beterbangan lenyap. Kemudian ada suara orang berkata. Yang mengejutkan suara itu datang dari balik hamparan pasir tak jauh dari tempat mereka berdiri."Dua orang gadis cantik dan puteri raja pula. Kalian datang terlambat. Sayang lebah-lebahku terlanjur pergi jauh. Padahal seharusnya lebah lebah itu mengantuk dan menyengat kalian. Dengan begitu kalian akan menjadi pengantinku. Tapi tidak mengapa, aku datang menjemput membuang waktu menyempatkan diri menghampiri kalian. Bagiku kalian adalah sebuah karunia dewa serta hadiah yang tak ternilai harganya.""Sayangku, apakah kalian sudah siap pergi bersamaku? Ha ha ha.""Apa katak

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   247. Part 15

    "Iblis itu datang bersama lebah-lebah pembunuh. Dia memasuki rumah seluruh penduduk di pantai ini. Anak-anak gadis entah mengapa mendadak bertingkah aneh begitu disengat oleh kawanan lebah. Mereka pergi mengikuti iblis itu" terangnya dengan suara terbata."Lalu apa yang membuat dirimu dan yang Lainnya terkapar? Kulihat kau menderita keracunan hebat ki..." Puteri Arum Senggini bertanya pula."Yang yang menyerang kami kawanan lebah itu juga." jawab si orang tua dengan tubuh mulai bergetar.Kedua puteri ini saling pandang."Serangan mahluk yang sama, tapi mengapa akibatnya berbeda?" kata Arum Senggini"Seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan ada kawanan lebah bisa membunuh begini banyak."ujar Nila Agung pula. Kemudian sang puteri kembali menatap orang tua itu. Dari keadaan luka dan beberapa dari sengatan yang parah.Gadis sadar jiwa orang tua itu tak bakal tertolong. Tidaklah heran Nila Agung buru-buru ajukan pertanyaan.”Ki kami akan b

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   246. Part 14

    “Penujum kuakui tahu banyak hal-hal yang belum terjadi. Tapi yang aku herankan mengapa sampai sekarang aku belum pernah mendengar tanda-tanda kehadiran pangeran durjana.""Eh, amit-amit. Biarpun tampan aku tak bakal sudi berteman dekat dengan orang yang pernah mati." sahut sang kakak dengan tubuh bergidik dan wajah membayangkan rasa takut sekali.Melihat ini sang adik tertawa tergelak-gelak. Tapi suara merdu sang dara mendadak lenyap, Kedua matanya membelalak lebar begitu melihat di kejauhan sana tepat di dusun nelayan itu para penduduk berlarian tak tentu arah dalam keadaan ketakutan dan menjerit-jerit seperti tak berkeputusan. Dari tempat mereka berada keduanya melihat orang-orang itu begitu sibuk menghalau sesuatu sambil mengibaskan benda apa saja yang berada di tangan mereka"Apa yang terjadi dengan mereka?!" kata puteri Arum Senggini sambil menghentikan lari kuda sekaligus menatap heran ke arah penduduk yang berlarian menyelamatkan diri. Puteri Nila A

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   245. Part 13

    "Astaga! Aku tak pernah menyangka berhadapan dengan orang sehebat dirimu Dewa Mabok. Aku yang berilmu rendah dan tak punya ke pandaian apa-apa ini mohon maaf. Terimalah hormatku." ujar Penujum Aneh Sambil rangkapkan dua tangan di depan dada dengan sikap segan cepat si kakek bungkukkan badan menghormat pada Dewa Mabok. Tapi begitu dia kembali tegak, turunkan kedua tangan dan menatap ke depan.Penujum Aneh dibuat takjub Dewa Mabok hilang raib berubah menjadi kepulan asap."Aneh, Apakah benar aku bertemu dan bercakap-cakap dengin orang tua sakti itu?" desis sikakek seolah tidak percaya dengan penglihatannya sendiri.Seakan mendengar apa yang dikatakan Penujum Aneh. Dikejauhan terdengar suara gelak tawa dan santernya aroma tuak. Lalu sayup sayup terdengar ucapan."Kau telah bertemu dan bercakap-cakap denganku. Jadi jelas kau tak bicara dengan setan yang menyerupai diriku. Namun terus terang kau baru bertemu dengan bayanganku saja, bukan ujudku yang asli. Ha h

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   244. Part 12

    Setelah peristiwa yang memalukan sekaligus menggemparkan itu. Ratu Tria Arutama meninggalkan istana. Sebagian orang berpendapat sang ratu mengasingkan diri dan menetap disebuah tempat rahasia tak jauh dari Malingping. Dia hidup hingga dua ratus tahun kemudian. Seorang pengikut yang sangat setia terus mendampingi dan melayani segala kebutuhan sang ratu sampai akhir hayatnya."Penujum Aneh. Apalagi yang kau renungkan. Jangan melamun nanti setan kuburan malah menyusupimu? Ha ha ha."Suara orang tua berperut besar yang keras membuat si kakek terkejut sekaligus tersadar dari tamunannya. Masih dengan wajah diliputi rasa heran dia menatap laki-laki itu. Kemudian dengan suara perlahan dia bertanya lagi."Aku melihat lebah-lebah, sebelum muncul perempuan-perempuan muda dalam keadaan hamil besar. Apakah yang kulihat di alam gaib itu punya arti tertentu?"Yang ditanya dongakkan kepala. Mata berputar menatap ke arah bintang-bintang yang mulai bermunculan di langit. S

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   165. PEDANG LAUT SELATAN

    KETIKA SUASANA MEMANAS.Dalam ruangan gua Empat Ruang Satu Pintu, altar pertama tiba-tiba saja meledak begitu cahaya bulan empat belas hari menyinari simbol bintang di permukaan altar. Ledakan besar itu membuat lereng bukit Induk mengalami kehancuran disertai munculnya banyak lubang yang l

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   161. Part 21

    "sepertinya aku pernah melhatmu. Tapi aku lupa di mana..!""Paduka, kalau dia mengenalmu mengapa dia memukulku dengan cara pengecut seperti Itu!" Tukas Bocah Ontang Anting kesal.Kakek ini segera berdiri sambil mengusapi perutnya yang berdenyut sakit Angon Luwak tersenyum."T

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   82. Part 13

    Bocah tua memperbaiki posisi duduknya yang miring. Akibat terlalu kekenyangan membuat mata orang tua ini tak bisa diajak bermufakat. Dia mengantuk berat. Perlahan mata yang belo itu terpejam. Tapi belum sempat tidur si kakek diusik mimpi. Tiba-tiba kepalanya yang sulah itu terasa dingin. Seperti

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   71. Part 16

    Seorang bocah bau kencur telah melabrak kehormatan dan harga dirinya! Setelah berjumpalitan gesit beberapa kali menghindari kucuran serangan Pendekar Sinting yang tak terputus. Perempuan Pengumpul Bangkai mencapai jarak aman. Dia berdiri terbungkuk. Mengeram. Matanya menghujam tajam. Kemurkaannya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status