Share

71. Part 24

last update publish date: 2026-01-05 01:05:45

Pendekar Sinting mengulang semadi singkatnya. Sewaktu dua cakar Perempuan Pengumpul Bangkai hendak merobek tenggorokannya, Pendekar Sinting telah siap kembali. Bahkan pandangannya dapat lebih jernih dan tajam dari sebelum terkena pengaruh tenung lawan. Dia bergerak sigap satu tindak ke samping.

Wuk!

Sambaran lawan pun lewat begitu saja. Hanya setengah jengkal dari tenggorokannya. Sebuah cara menghindar yang terlalu berisiko besar. Seakan-akan pendekar muda itu hendak mengejek la

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   318. Part 19

    Namun yang lolos dari jaring terus menyerbu ke arah perajurit perajurit itu. Setiap kali lebah berhasil menyengat maka yang menjadi korbannya segera menemul ajal. Walau perangkap yang dipergunakan cukup berhasil menjebak lawan. Namun senopati ini nampaknya kurang puas. Terlebih ketika dia mengetahui di luar sana sebagian besar perwira dan perajurit banyak berjatuhan menjadi korban.Dengan gerakan cepat yang didukung dengan ilmu meringankan tubuh senopati melesat ke atas tembok benteng. Begitu jejakkan kaki dari atas benteng pasukan yang berada. berseru ditujukan pada seluruh"Kalian semua masuk ke tempat persembunyian"Karena jauh sebelumnya perwira dan para perajurit telah diberi tahu. Tentu saja mereka segera menyadari makna teriakan pemimpinnya. Puluhan perajurit dan perwira tiba-tiba hentakkan kakinya masing-masing.Begitu kaki menghantam tanah. Tanah pun amblas dan setiap tubuh kemudian terjeblos masuk lubang persembunylan. Para bocah iblis yang meny

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   317. Part 18

    "Aku tahu. sekarang waktu yang ditunggu sudah datang. Jangan berlaku lengah!" Kata Rangga Wulung.Orang tua itu kemudian bangkit dan bergegas menuju ke arah pintu. Belum sempat dia berlari menuruni anak tangga. Dari empat sudut penjuru benteng terdengar suara terompet sebagai peringatan tanda bahaya. Lalu dari atas sebuah menara tinggi yang terdapat di sebelah kiri gerbang utama terdengar suara prajurit pengintai."Musuh sudah datang. Mereka muncul dari delapan penjuru arah. Aku melihat seseorang berjubah hitam melayang. Aku juga melihat mahluk mahluk hitam melesat ke arah sini!" Teriaknya lantang"Lalu kau melihat apa lagi?" Bertanya salah seorang perwira yang siaga di gerbang tak jauh dari menara."Mahluk-mahluk itu... eeh, maksudku bocah bocah aneh. Mereka muncul seperti kawanan iblis. Bocah-bocah itu kini menyerang semua penjaga perwira yang berada di luar benteng istana," Sahut perajurit di menara pengintai.Penjelasan perajurit di menara peng

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   316. Part 17

    Bulan beranjak menuju titik tertingginya. Sebagian langit tertutup awan putih. Di beberapa tempat belahan langit beberapa bintang masih setia memunculkan diri melewati waktu. Sementara angin dingin berhembus sepoi sepoi.Di sudut sebelah selatan diatas tembok tinggi bertangga batu. Di sebuah ruangan yang biasa disebut pusat benteng. Pejabat tinggi istana bertubuh loreng merah bernama Jatulaka yang juga biasa disebut Maung Berem atau Harimau Merah terlihat mondar mandir di ruang arena panggung dengan gelisah. Sesekali laki-laki bertubuh tinggi dan suka berganti-ganti pakaian ini layangkan pandang ke seluruh penjuru sebelah atas benteng.Dia melihat puluhan perajurit bersenjata panah api bersiaga di tempatnya masing masing. Tak jauh di belakang mereka ratusan perajurit lain dengan tombak pedang dan golok mendekam siap menghadapi setiap kemungkinan yang datang.Tak dapat disangsikan para perajurit yang rata-rata memiliki ilmu silat dan kepandaian cukup tinggi itu s

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   315. Part 16

    "Penguasa kegelapan yang memberi kesenangan. Wahai yang berdiam di atas singgasana Sitaloka. Aku pangeran Durjana. Pangerannya orang yang sudah mati memohon padamu agar kau Sudi kiranya mengijinkan Mata Tunggal yaitu Mata Setan datang menghadap kepadaku sekarang juga!"Suara seruan sang pangeran lenyap. Para bocah meraung keras. Sementara dikejauhan sana terdengar suara lolong anjing hutan membuat merinding bulu kuduk. Sambil melayang Pangeran Durjana terus menunggu. Ternyata penantiannya tidak berlangsung lama.Di atas ketinggian langit yang biru tiba tiba terlihat kilat menyambar yang disusul dengan pijaran api. Pangeran Durjana dongakkan kepala menatap ke atas. Dia tersenyum begitu satu cahaya merah yang mencuat diantara pijaran api bergerak turun dari ketinggian. Cahaya itu menderu menuju ke arah dimana dirinya berada."Ikuti aku!" Seru Pangeran Durjana.Sang cahaya merah yang ternyata sebuah mata tunggal berukuran besar sebagaimana yang diperintahkan

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   314. Part 15

    Nini Burangrang tersenyum.Dia dekati suaminya.Mengira hendak dicium, Aki Kolot tampak gembira dan tersenyum-senyum. Tak disangka sang istri cuma berbisik di telinganya.Selesai Nini Burangrang berbisik dan jauhkan diri dari Aki Kolot. Kakek itu malah tercengang mulut ternganga mata terbelalak."Apakah kau sudah gila. Cara itu bisa membuat kita tersesat ke dunia alam gaib." Sentak K Kolot"Hi hi hi. Kau takut mati? Kau takut lenyap di alam roh? Mengapa kau mengatakan rencanaku ini penuh kegilaan. Apakah kau tidak sadar ketika bercinta denganku kau suka bertindak aneh dan berlaku gila?!" Sindir si cantik. Si kakek jadi bingung."Kau tidak mau? Kalau kau tidak mau memenuhi permintaanku. Aku memutuskan hubungan kita bakal berakhir sampai disini saja!" Ancam si nenek lagi.Aki Kolot Raga lagi-lagi dibuat terkejut. Tentu saja dia tidak ingin Nini Burangrang meninggalkannya. Dia tak bakal sanggup hidup tanpa sang Nini. Cepat orang tua ini

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   313. Part 14

    "Aku juga sama. Rambutku basah, tidak cuma rambut yang di atas di bagian lain juga ikutan basah." sahut Aki Kolot sambil menyusul berenang ke tepi.Mereka akhirnya duduk diatas batu cadas yang menyembul di tepi sungai. Nini Burangrang beberapa saat lamanya dibuat sibuk mengeringkan rambut yang panjang. Sesekali dia juga mengelap air yang membasahi wajah. Sementara itu Aki Kolot segera melepas pakaian disebelah atas lalu memerasnya berikut giliran topi kupluknya yang selalu menempel bertengger di atas kepala yang mendapat giliran. Baju, dan kupluk lain dibenbeng diletakkan diantara ranting kering yang menjuntai ke sungal."Apakah perutmu juga gembung Ki?" Tanya Nini Burangrang.Aki Kolot terdiam, dia melirik ke arah istrinya. Dia melihat kebaya dan kain yang membalut tubuh istrinya yang basah. Pakaian yang mencetak lekuk liku bentuk tubuh si Nini yang indah dan masih bagus. Aki Kolot menelan ludah. Sadar dirinya diperhatikan si nenek mendamprat."Jangan berpikir macam-macam. Malam ini

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   4. Muda Mudi Perkasa

    "Biar tahu rasa kau!"Terdengar bentakan dari si penyerang gelap. Siapa lagi kalau bukan Angon Luwak? Menyaksikan cara menyerang si bocah yang begitu konyol, mendadak saja terurailah tawa kecil Tresnasari."Hi-hi-hi!"Ditertawakan begitu, Angon Luwak jadi tersinggung. Sudah ditolong kok malah mener

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   3. Keberanian

    Dia sebenarnya tidak ngeri pada pelototan mata bocah ayu itu. Sebaliknya, Angon Luwak malah jadi senang bukan alang kepalang. Hanya saja dia tak tahu, kenapa merasa berdebar-debar.Biasalah, cinta monyet! Saking gugupnya, tak sengaja dia menginjak jempol kaki Pale Tua pemilik warung.Untung lelaki

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   2. Hilang Ingatan

    Sepekan berlalu.Siang di pusat Kadipaten Ketawang. Saat itu matahari terhalang mendung. Sinarnya tak terlalu menyiksa. Angin sejuk sepoi-sepoi berdenyut, mempermainkan dedaunan pepohonan.Seorang anak lelaki dekil berjalan gontai dijalan pusat pemerintahan Kadipaten Ketawang. Wajahnya demikian lus

  • Pendekar Sinting dari Laut Selatan   1. Kemurkaan Alam

    HARI itu alam murka. Badai besar mendatangi wilayah tersebut. Ombak raksasa bergulung-gulung di kejauhan bagai tembok hidup menggapai angkasa. Sulit memastikan berapa ketinggian ombak saat itu. Lima enam meter bisa jadi lebih. Dan untuk ombak setinggi itu, tak diragukan lagi akan sanggup memporak-p

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status