MasukPendekar Sinting mengulang semadi singkatnya. Sewaktu dua cakar Perempuan Pengumpul Bangkai hendak merobek tenggorokannya, Pendekar Sinting telah siap kembali. Bahkan pandangannya dapat lebih jernih dan tajam dari sebelum terkena pengaruh tenung lawan. Dia bergerak sigap satu tindak ke samping.
Wuk!
Sambaran lawan pun lewat begitu saja. Hanya setengah jengkal dari tenggorokannya. Sebuah cara menghindar yang terlalu berisiko besar. Seakan-akan pendekar muda itu hendak mengejek la
Namun yang lolos dari jaring terus menyerbu ke arah perajurit perajurit itu. Setiap kali lebah berhasil menyengat maka yang menjadi korbannya segera menemul ajal. Walau perangkap yang dipergunakan cukup berhasil menjebak lawan. Namun senopati ini nampaknya kurang puas. Terlebih ketika dia mengetahui di luar sana sebagian besar perwira dan perajurit banyak berjatuhan menjadi korban.Dengan gerakan cepat yang didukung dengan ilmu meringankan tubuh senopati melesat ke atas tembok benteng. Begitu jejakkan kaki dari atas benteng pasukan yang berada. berseru ditujukan pada seluruh"Kalian semua masuk ke tempat persembunyian"Karena jauh sebelumnya perwira dan para perajurit telah diberi tahu. Tentu saja mereka segera menyadari makna teriakan pemimpinnya. Puluhan perajurit dan perwira tiba-tiba hentakkan kakinya masing-masing.Begitu kaki menghantam tanah. Tanah pun amblas dan setiap tubuh kemudian terjeblos masuk lubang persembunylan. Para bocah iblis yang meny
"Aku tahu. sekarang waktu yang ditunggu sudah datang. Jangan berlaku lengah!" Kata Rangga Wulung.Orang tua itu kemudian bangkit dan bergegas menuju ke arah pintu. Belum sempat dia berlari menuruni anak tangga. Dari empat sudut penjuru benteng terdengar suara terompet sebagai peringatan tanda bahaya. Lalu dari atas sebuah menara tinggi yang terdapat di sebelah kiri gerbang utama terdengar suara prajurit pengintai."Musuh sudah datang. Mereka muncul dari delapan penjuru arah. Aku melihat seseorang berjubah hitam melayang. Aku juga melihat mahluk mahluk hitam melesat ke arah sini!" Teriaknya lantang"Lalu kau melihat apa lagi?" Bertanya salah seorang perwira yang siaga di gerbang tak jauh dari menara."Mahluk-mahluk itu... eeh, maksudku bocah bocah aneh. Mereka muncul seperti kawanan iblis. Bocah-bocah itu kini menyerang semua penjaga perwira yang berada di luar benteng istana," Sahut perajurit di menara pengintai.Penjelasan perajurit di menara peng
Bulan beranjak menuju titik tertingginya. Sebagian langit tertutup awan putih. Di beberapa tempat belahan langit beberapa bintang masih setia memunculkan diri melewati waktu. Sementara angin dingin berhembus sepoi sepoi.Di sudut sebelah selatan diatas tembok tinggi bertangga batu. Di sebuah ruangan yang biasa disebut pusat benteng. Pejabat tinggi istana bertubuh loreng merah bernama Jatulaka yang juga biasa disebut Maung Berem atau Harimau Merah terlihat mondar mandir di ruang arena panggung dengan gelisah. Sesekali laki-laki bertubuh tinggi dan suka berganti-ganti pakaian ini layangkan pandang ke seluruh penjuru sebelah atas benteng.Dia melihat puluhan perajurit bersenjata panah api bersiaga di tempatnya masing masing. Tak jauh di belakang mereka ratusan perajurit lain dengan tombak pedang dan golok mendekam siap menghadapi setiap kemungkinan yang datang.Tak dapat disangsikan para perajurit yang rata-rata memiliki ilmu silat dan kepandaian cukup tinggi itu s
"Penguasa kegelapan yang memberi kesenangan. Wahai yang berdiam di atas singgasana Sitaloka. Aku pangeran Durjana. Pangerannya orang yang sudah mati memohon padamu agar kau Sudi kiranya mengijinkan Mata Tunggal yaitu Mata Setan datang menghadap kepadaku sekarang juga!"Suara seruan sang pangeran lenyap. Para bocah meraung keras. Sementara dikejauhan sana terdengar suara lolong anjing hutan membuat merinding bulu kuduk. Sambil melayang Pangeran Durjana terus menunggu. Ternyata penantiannya tidak berlangsung lama.Di atas ketinggian langit yang biru tiba tiba terlihat kilat menyambar yang disusul dengan pijaran api. Pangeran Durjana dongakkan kepala menatap ke atas. Dia tersenyum begitu satu cahaya merah yang mencuat diantara pijaran api bergerak turun dari ketinggian. Cahaya itu menderu menuju ke arah dimana dirinya berada."Ikuti aku!" Seru Pangeran Durjana.Sang cahaya merah yang ternyata sebuah mata tunggal berukuran besar sebagaimana yang diperintahkan
Nini Burangrang tersenyum.Dia dekati suaminya.Mengira hendak dicium, Aki Kolot tampak gembira dan tersenyum-senyum. Tak disangka sang istri cuma berbisik di telinganya.Selesai Nini Burangrang berbisik dan jauhkan diri dari Aki Kolot. Kakek itu malah tercengang mulut ternganga mata terbelalak."Apakah kau sudah gila. Cara itu bisa membuat kita tersesat ke dunia alam gaib." Sentak K Kolot"Hi hi hi. Kau takut mati? Kau takut lenyap di alam roh? Mengapa kau mengatakan rencanaku ini penuh kegilaan. Apakah kau tidak sadar ketika bercinta denganku kau suka bertindak aneh dan berlaku gila?!" Sindir si cantik. Si kakek jadi bingung."Kau tidak mau? Kalau kau tidak mau memenuhi permintaanku. Aku memutuskan hubungan kita bakal berakhir sampai disini saja!" Ancam si nenek lagi.Aki Kolot Raga lagi-lagi dibuat terkejut. Tentu saja dia tidak ingin Nini Burangrang meninggalkannya. Dia tak bakal sanggup hidup tanpa sang Nini. Cepat orang tua ini
"Aku juga sama. Rambutku basah, tidak cuma rambut yang di atas di bagian lain juga ikutan basah." sahut Aki Kolot sambil menyusul berenang ke tepi.Mereka akhirnya duduk diatas batu cadas yang menyembul di tepi sungai. Nini Burangrang beberapa saat lamanya dibuat sibuk mengeringkan rambut yang panjang. Sesekali dia juga mengelap air yang membasahi wajah. Sementara itu Aki Kolot segera melepas pakaian disebelah atas lalu memerasnya berikut giliran topi kupluknya yang selalu menempel bertengger di atas kepala yang mendapat giliran. Baju, dan kupluk lain dibenbeng diletakkan diantara ranting kering yang menjuntai ke sungal."Apakah perutmu juga gembung Ki?" Tanya Nini Burangrang.Aki Kolot terdiam, dia melirik ke arah istrinya. Dia melihat kebaya dan kain yang membalut tubuh istrinya yang basah. Pakaian yang mencetak lekuk liku bentuk tubuh si Nini yang indah dan masih bagus. Aki Kolot menelan ludah. Sadar dirinya diperhatikan si nenek mendamprat."Jangan berpikir macam-macam. Malam ini
Ketika hari berganti, kalangan persilatan tanah Jawa malah lebih mengenalnya dengan julukan Tabib Tangan Dewa. Ketika Majapahit dilanda perang saudara sepeninggalan Prabu Rajasanegara, Ki Kusumo mengasingkan diri di sebuah pulau karang yang terpencil di sekitar Laut Selatan.Dia benci pada setiap p
Bunyi gemeritik bara api yang dimainkan Tresnasari terdengar, ditingkahi derik ramai jangkrik di kejauhan. Nyai Cemarasari merebahkan tubuhnya yang demikian penat dan lunglai di atas rumput. Dengan caping, diganjalnya kepalanya. Tampaknya dia mulai mengantuk. Keadaan tubuhnya memang tak memungkinka
Hari makin tua.Sinar merah tembaganya meredup dan terengah-engah. Matahari terkapar disudut barat bumi. Di batas Kadipaten Ketawang, dua perempuan berjalan perlahan menuju arah matahari tenggelam. Mereka adalah Nyai Cemarawangi dan anaknya, Tresnasari."Kita membutuhkan kuda untuk sampai di Jogobo
TEMPAT keributan kembali tenang. Beberapa orang yang menjadi penonton kejadian memulai kembali kegiatan masing-masing. Sementara si perempuan berpakaian silat warna ungu mendekati anak gadisnya."Kapan kau mempelajari gerakan secepat itu, Anakku?" Tanyanya, ingin tahu bagaimana anaknya bisa bergera







