Share

Chapter 17 | Fakta Baru

Penulis: MJeona
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-09 23:59:26
Kennard masih berdiri di depan pintu ketika ia melihat buliran hangat itu jatuh dari mata hazel Joana. Tetesan bening yang tak pernah ia kira akan membuat langkahnya terhenti begitu saja.

Lelaki dingin itu menatapnya dalam. Joana sukses menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan isak. Akan tetapi, gagal. Luka itu sudah terlalu lama dipendam dan malam ini—karena satu nama, Javier—tangisnya pecah juga.

Kennard urung mendekat ke sliding door walk-in closet. Napasnya mengembus berat. Tanpa suara, ia memangkas jarak ke sisi Joana dan menuntunnya ke ranjang.

“Saya batal pergi,” ucapnya datar, tetapi terdengar menggetarkan.

Joana mengerjap. “Apa?”

“Saya bilang, saya tidak akan pergi malam ini.”

Ia meraih ponsel dari atas nakas sisi ranjang dan menekan satu tombol panggilan cepat. Panggilan pun terhubung dalam hitungan detik. “Edmund, jangan lepaskan Javier. Paksa dia bicara. Saya ingin tahu siapa yang menyuruhnya. Kalau perlu, buat dia bicara dengan cara apa pun. Saya beri waktu du
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (54)
goodnovel comment avatar
Dilla dilawan
eh eh...apa daniella tau sesuatu yg berkaitan dengan masa lalu Joanna? kenapa dia langsung pergi ya
goodnovel comment avatar
Kiki Sulandari
Tiba tiba saja Grandpa Lionel mengingat kemiripan Joana yg alergi udang seperti Ivana, ...tapi kenapa tiba tiba Daniella merssa tak senang? Ada apa sebrnarnya?
goodnovel comment avatar
Kiki Sulandari
Kennard menuruti permintaan Joanna untuk tidak perg.....mungkin dia tak tega meninggalkan Joanna yg sedang sadih...so sweet Waah...Edmund sudah dapat perintah untuk membuat Javier mengatakan siapa yg menyuruhnya datang ke mansion Kennard Sepertinya Joanna mulai jatuh cinta pada Kennard, nih....
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pengantin Miskin Milik CEO Dingin   Chapter 121 | Harga yang Harus Dibayar

    Teriakan nyalang seorang pria yang tengah berkomunikasi dengan seluler pintarnya terdengar membabi buta. Sampai membuat dua orang lelaki tambun yang masing-masing bermata cokelat terang dan hijau keabu-abuan di seberang sana sontak terperanjat. Nyaris saja ponsel yang tengah memendar suara sang bos dari loudspeaker itu terjatuh dari tangan salah satunya. “Bodoh kalian, Tommy, Andy! Benar-benar bodoh! Bagaimana bisa kalian meninggalkan Ziola di sana, hah? Astaga!” Mulutnya memencak kasar, sedangkan tangan besarnya tengah merayap nakal untuk meremas seduktif dada seorang wanita malam yang bersandar manja padanya di sofa kamar apartemennya tersebut. “Ma-maaf, Bos, tapi kami yakin perempuan itu sudah mati. Makanya kami tinggalkan saja di sana. Mereka juga tidak akan tahu siapa pelakunya. CCTV beserta panelnya sudah kami hancurkan. Semua aman,” sergah salah satu anak buahnya. Helaan napas berat pun kembali memendar dari pria bongsor tersebut. Ia beralih memijat kuat pangkal hidung mancu

  • Pengantin Miskin Milik CEO Dingin   Chapter 120 | Sang Pelaku?

    Sosok familier yang kini tak berdaya di depan dua pasang mata lelaki tampan itu, sontak membuat keduanya mundur setapak setelah nyaris kehilangan pijakannya. Sungguh, dunia seakan-akan berhenti berputar bagi Kennard dan Ryuzaki.“Zi-Ziola?” seru Kennard terbata. Tubuh Ziola, karyawati butik yang sejak awal dicurigainya, tengah bersandar di sudut kamar mandi lembab itu dalam keadaan lemah tak berdaya. Rambutnya kusut, wajahnya penuh lebam keunguan, dan darah yang belum kering membasahi sudut bibir, menuruni pelipis, dan juga menganak di sisi kedua pahanya. Seragam kerjanya nyaris koyak seluruhnya hingga menyisakan rasa ngilu di dada siapa pun yang memandanginya. Tentu hal tersebut juga dirasakan Kennard yang kini berdiri mematung. “Bagaimana bisa ini terjadi, Ryu? Saya sebelumnya mencurigainya, tapi sekarang ….” Suami sah Joana itu tak sanggup meneruskan kalimatnya. Jelas bukan karena tidak percaya, melainkan karena rasa bersalah yang tiba-tiba mencekik lehernya. Yang ia curigai, se

  • Pengantin Miskin Milik CEO Dingin   Chapter 119 | Kehancuran Butik

    Gaun-gaun pengantin di Darriston Boutique itu hancur dengan cara yang kejam. Bukan terlipat rapi di balik kaca butik, seperti biasanya. Bukan pula menunggu sentuhan halus tangan terampil Joana untuk disempurnakan jahitannya. Gaun-gaun itu robek, tergunting, tercabik-cabik, seperti menjadi korban dari amarah yang tak sempat disalurkan lewat kata-kata.Itulah pemandangan pertama yang menyambut Ryuzaki dan calon istrinya, Dokter Leah, ketika pintu kaca Darriston Boutique mereka dorong perlahan siang itu—puluhan menit setelah roda pesawat yang membawa mereka dari Jepang landing di Paris. Dosen berwajah oriental itu sukses membeku di bibir pintu dengan koper kecil di tangan yang nyaris jatuh begitu saja ke lantai marmer butik. Cukup kontras dengan kekacauan yang membentang nyata di hadapannya.Leah sendiri refleks menutup mulut. Kelewat syok. “Ryu … i-ini? Apa yang terjadi?” tanyanya dengan suara bergetar kalut. Butik itu tempat Joana menuangkan jiwanya sejak dua minggu terakhir. Juga tem

  • Pengantin Miskin Milik CEO Dingin   Chapter 118 | CCTV yang Tiba-tiba Mati

    Waktu seolah berhenti. Suara gesekan sendok dan garpu perlahan terhenti kala mereka berenam tenggelam dalam keheningan yang janggal. Di tengah meja panjang restoran mewah itu, Kennard, Joana, Vernon, Agnesia, Edmund, dan Ester menatap layar ponsel hitam milik Kennard yang tergeletak di tengah meja.Rekaman CCTV dari Darriston Boutique yang baru saja diputar Kennard, menampilkan sesuatu yang membuat perut siapa pun terasa melilit. Di layar itu, seorang perempuan dengan seragam butik warna pastel muncul. Dialah Ziola, karyawan yang selama ini paling dipercaya Kennard dan baru dikenal Joana sejak satu minggu terakhir. Gerak tubuh itu tertangkap, tidak seperti Ziola yang mereka kenal.Gadis itu berjalan perlahan di lorong butik yang sepi, sesekali menoleh ke kanan dan kiri seperti takut ketahuan. Di tangannya, ada gunting panjang dengan gagang hitam, alat pemotong kain profesional butik itu. Akan tetapi, cara ia memegangnya—dengan posisi tegak, bukan mendatar—cukup untuk membuat Kennard

  • Pengantin Miskin Milik CEO Dingin   Chapter 117 | Rekaman CCTV

    Dunia Joana yang awalnya terasa damai mendadak tegang kala bayangan gelap itu jatuh di belakangnya. Refleksi samar di kaca besar memperlihatkan sosok perempuan berambut pendek—Ziola, salah satu karyawan butik yang sudah dua tahun terakhir bekerja di sana—berdiri tepat di belakang Joana sambil mengangkat gunting logam besar setinggi kepala. Cahaya lampu memantul di mata pisaunya, berkilat tajam.Waktu seolah-olah melambat. Joana menoleh cepat dengan mata membesar. Napasnya sukses tercekat.“Zi-Ziola?” serunya nyaris bergetar.Akan tetapi, sebelum sempat Ziola menjawab, pintu gudang bahan desain itu terbuka keras. “Joana!”Kennard muncul dengan langkah panjang dan wajah tegang. Matanya langsung menangkap pemandangan tersebut. Yang mana Ziola dengan gunting terangkat tinggi, berdiri di belakang istrinya yang sedang hamil muda.Refleks CEO dingin itu melangkah cepat dan mendorong tubuh Ziola hingga perempuan itu terjerembap ke lantai. Gunting di tangannya terlepas dan meluncur cepat ke uj

  • Pengantin Miskin Milik CEO Dingin   Chapter 116 | Penguntit

    Atmosfer tegang belum sepenuhnya lenyap ketika mobil hitam Kennard berhenti di depan sebuah butik megah bergaya modern-klasik yang berdiri di kawasan La Défense. Begitu Kennard turun, ia langsung menoleh ke arah istrinya yang tengah berjuang membuka seatbelt sambil menahan mual ringan.“Pelan-pelan, Sayang,” ucapnya lembut, membungkuk sedikit dan membantu Joana keluar dari mobil.Tangannya menyokong punggung Joana dengan hati-hati. Diffuser yang memendar harum mawar itu menyambut mereka begitu melangkah ke dalam butik. Beberapa pegawai berdiri rapi memberi salam, tetapi pandangan mereka segera tertuju pada dua sosok yang tengah menunggu di area tengah butik. Siapa lagi jika bukan Edmund dan Ester.Ester tampak sangat cantik pagi itu dengan dress krem berpotongan sederhana ditambah blazer biru muda, dan rambutnya terurai indah dengan potongan bob layered. Akan tetapi, yang paling mencolok adalah tatapan canggung di wajahnya setiap melirik Edmund, yang berdiri di sebelahnya dengan poton

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status