Share

3

Author: TIZZZ
last update Last Updated: 2026-02-04 18:01:04

Bab 3

Malam datang dengan angin dingin. Aku duduk di tepi tempat tidur, memeluk lutut. Tubuhku masih terasa panas; terutama di tempat Dillard menyentuhku tadi sore.

Cara dia menatapku. Cara tangannya mengencang di pinggangku. Cara napasnya menyapu wajahku. Lalu tiba-tiba dia pergi; seolah menyentuhku adalah kesalahan besar.

Kenapa? Apa yang salah?

Ketukan pelan di pintu.

"Duchess?"

Aku buka pintu. Pelayan muda berdiri di sana dengan amplop putih.

"Ada surat untuk Anda."

Amplop dengan stempel keluarga Brieris. Jantung langsung berdegup cepat. Aku ambil surat itu dengan tangan gemetar. Menutup pintu. Membuka amplop perlahan.

Tulisan tangan Celestine.

Juliet,

Maafkan aku. Aku tahu ini tidak adil. Tapi aku tidak punya pilihan.

Dillard Donoughoe bukan orang baik. Dia menikahimu untuk balas dendam. Ayah dulu menghancurkan keluarganya; mengambil tanah mereka, merusak nama baik mereka. Ibunya meninggal karena itu.

Dillard tidak akan pernah melupakan itu. Dia akan menghancurkanmu, Juliet.

Kabur. Sebelum terlambat.

– Celestine

Kertas kusut di tanganku.

Balas dendam.

Jadi itu alasannya. Jadi itu kenapa dia menatapku dengan kebencian di altar. Kenapa dia menerimaku meskipun aku pengganti.

Karena aku hanya alat balas dendamnya.

Pintu tiba-tiba terbuka keras.

Dillard berdiri di sana; kemeja setengah terbuka, menampakkan dada bidang dengan otot yang jelas. Celana hitam masih rapi. Rambut sedikit basah; seperti baru mandi. Matanya langsung tertuju pada surat di tanganku.

"Dari siapa?"

Aku sembunyikan surat di belakang punggung. "Bukan urusanmu."

Dia melangkah masuk. Cepat. Dalam tiga langkah dia sudah di depanku.

"Tunjukkan."

"Tidak—"

Tangannya menyambar pergelangan tanganku. Kuat. Menarik tangan dari belakang punggung. Merebut surat itu.

"Lepaskan—"

Tapi dia sudah membaca. Matanya bergerak cepat dari atas ke bawah. Rahangnya mengeras. Otot di leher menegang.

"Celestine," desisnya.

Dia remas surat itu. Buku-buku jari memutih.

"Dia benar, kan?" bisikku. "Kau menikahiku untuk balas dendam."

Dillard menatapku; lama. Mata abu-abunya gelap. Mengerikan.

"Ya."

Satu kata. Tapi rasanya seperti pisau menusuk dada.

Aku mundur. Punggung menabrak dinding.

"Ayahmu menghancurkan keluargaku sepuluh tahun lalu." Suaranya rendah. Bergetar menahan amarah. "Dia ambil tanah kami lewat dokumen palsu. Membuat kami bangkrut. Ibuku sakit; stres berkepanjangan; sampai akhirnya dia meninggal dunia."

Dia melangkah mendekat. Semakin dekat.

"Jadi ya. Aku merencanakan pernikahan ini. Aku ingin keluarga Brieris merasakan bagaimana rasanya kehilangan segalanya."

Napas tersangkut. Air mata mulai memanas di mata.

"Lalu kenapa kau tetap menikahiku? Kenapa tidak menolak?"

Dillard berhenti tepat di depanku. Tingginya memaksa aku mendongak. Leher tegang.

"Karena siapa pun yang jadi istriku, hasilnya sama. Tidak penting." Tangannya menghantam dinding di samping kepalaku dengan keras. "Keluarga Brieris akan jatuh. Dan kau— "

Wajahnya mendekat. Hanya beberapa senti dari wajahku.

"Kau akan jadi bagian dari kehancuran itu."

Air mata jatuh. Panas di pipi.

"Jadi aku tidak pernah jadi apa-apa bagimu? Bukan manusia? Hanya alat?"

Mendengarnya, ekspresi Dillard sedikit berubah. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang tampak lebih lembut, tapi cepat hilang.

"Pergi dari sini, Juliet. Sebelum aku bilang hal yang lebih buruk."

"Tidak." Aku tegakkan punggung meskipun air mata mengalir. "Aku tidak akan pergi. Karena aku sekarang istrimu. Mau kau suka atau tidak."

Dillard menatapku sedikit lebih lama. Matanya menelusuri wajahku. Dari mata yang basah, hidung yang memerah, bibir yang gemetar.

"Kau pikir kau bisa melawanku?"

"Aku tidak tahu." Suaraku serak. "Tapi aku tidak akan menyerah begitu saja."

Kami bertatapan. Jarak hanya sejengkal. Aku bisa rasakan panas tubuhnya. Bisa dengar napasnya yang berat.

Tangannya terangkat perlahan. Jari kasar menyentuh pipiku, menyeka air mata dengan ibu jari. Sentuhan lembut. Sangat kontras dengan amarah di matanya.

"Kau membuatku bingung," bisiknya. Suaranya serak. "Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Tapi kau..."

Ibu jarinya bergerak ke bibir bawahku, menyusur perlahan. Napasku tercekat.

"Kau membuat semuanya rumit."

Lalu dia berbalik cepat. Keluar dari kamar dengan langkah keras.

Pintu tertutup keras.

Aku merosot ke lantai. Punggung bersandar di dinding. Tangan menyentuh bibir yang tadi dia sentuh. Kulit masih terasa hangat. Jantung masih berpacu kencang. Dan aku tidak tahu, apa aku takut pada Dillard, atau lainnya… sebab aku merasakan rasa hangat janggal di area area tubuhku setiap ia mendekat. 

Terlebih melihatnya marah seperti barusan. Apakah aku terangsang padanya? Tubuhku bereaksi dengan sendirinya setiap melihat Dillard marah. Semakin panas dan sesak.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   8

    Pagi datang terlalu cepat. Cahaya pucat masuk lewat celah tirai tebal, membangunkan aku dari tidur yang tidak nyenyak. Aku bahkan tidak yakin aku benar-benar tidur. Setiap kali mata terpejam, yang terlihat adalah wajah Carmen. Senyumnya yang mengejek. Kata-katanya yang menusuk."Dia menikahimu bukan karena cinta."Tentu saja aku tahu itu.Aku menatap langit-langit kamar. Ukiran rumit di kayunya terlihat seperti pola tak berujung. Seperti pikiranku. Berputar tanpa arah jelas.Kamar terkunci. Rahasia Dillard. Peringatan Lincoln."Jangan pernah buka pintu itu."Ketukan keras di pintu membuatku tersentak."Duchess, sarapan sudah siap."Suara pelayan terdengar dari luar. Sopan tapi datar. Tanpa kehangatan yang biasanya ada saat berbicara dengan atasan.Aku bangkit dari tempat tidur dengan tubuh yang terasa berat. Kepala berdenyut sakit. Mata perih—bekas menahan air mata semalam. Tapi aku tidak menangis. Aku tidak boleh menangis.Duchess tidak boleh terlihat lemah.Aku berjalan ke cermin b

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   7

    Aku berdiri di balkon sendirian. Jari masih menyentuh bibir. Hampir. Kami hampir berciuman sebelum pelayan datang dengan berita serangan. Dillard sudah pergi, meninggalkan aku dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan.Angin malam menusuk kulit telanjang punggangku. Gaun hijau zamrud yang tadi terasa indah sekarang hanya terasa dingin. Aku memeluk diri sendiri, mencoba menghangatkan tubuh yang menggigil—tapi bukan karena cuaca. Ada yang salah di dadaku. Kosong. Seperti ada yang hilang.Musik masih terdengar dari dalam. Tawa. Gelas beradu. Pesta terus berlanjut seolah tidak ada yang terjadi. Seolah Duke tidak baru saja pergi meninggalkan istrinya sendirian di acara besar pertama mereka sebagai pasangan.Aku harus kembali. Aku tahu itu. Para tamu pasti sudah memperhatikan ketidakhadiran kami. Mereka pasti sudah berbisik. Bertanya-tanya. Membuat asumsi.Aku tarik napas dalam. Tegakkan bahu. Angkat dagu. Seperti yang Dillard ajarkan. Seperti yang Madame Jourdain latih berk

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   6

    Seluruh aula terdiam.Celestine berdiri dengan napas terengah; seperti baru berlari jauh. Gaun perjalanannya basah, berlumpur di bagian bawah. Rambut lepas dari jepit, jatuh berantakan di bahu.Tapi matanya… matanya menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.Penyesalan."Juliet..." Suaranya pecah. "Maafkan aku. Aku datang untuk bawa kau pulang."Bisikan keras meledak di seluruh ruangan. Dillard melangkah ke depanku; menghalangi. Tubuhnya tegang seperti siap menyerang."Kau tidak punya hak datang ke sini.""Aku punya hak." Celestine angkat dagu. "Karena seharusnya aku yang menikah denganmu. Bukan adikku."Bisikan semakin keras. Mata-mata tajam menatap kami bertiga.Lord Harrigan melangkah maju. "Duke Donoughoe, apa maksudnya ini? Apa benar Celestine pengantin aslimu?"Dillard diam. Rahangnya mengeras sampai otot di pipi bergerak. Celestine manfaatkan keheningan itu. Dia tatap semua orang dengan suara keras."Ya! Aku pengantin aslinya! Tapi aku kabur karena Duke Dono

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   5

    Malam pesta tiba dengan cepat. Madame Jourdain memasangkan korset terlalu ketat. Aku hampir tidak bisa bernapas. Gaun merah marun dengan rok mengembang lebar—berat, menekan bahu. Rasanya mau pingsan."Angkat dagumu, Juliet. Kau Duchess."Tapi aku tidak merasa seperti Duchess. Aku merasa seperti boneka yang didandani untuk dipamerkan. Perhiasan berlian dingin di leher. Rambut ditarik ketat ke atas, terasa sakit menarik kulit kepala."Sempurna." Madame Jourdain tersenyum tipis. "Ingat—jangan gugup. Jangan tunjukkan kelemahan."Ketukan di pintu.Dillard masuk.Setelan hitam formal dengan jas berekor. Kemeja putih rapi. Dasi kupu-kupu hitam. Rambut disisir sempurna ke belakang—mempertegas rahang keras dan tulang pipi tajam.Matanya menyapu tubuhku dari atas ke bawah. Lambat. Teliti. Berhenti sebentar di leher. Di belahan dada yang terbuka. Turun ke pinggang yang ditekan korset.Napasnya tampak tercekat. Apakah ia terpesona melihatku?Dadaku ikut sesak. Bukan karena korset. Tapi karena car

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   4

    Ruang makan keluarga Brieris sepi. Hanya ada tiga orang—Ayah di ujung meja, Ibu di samping, dan Celestine berdiri di depan perapian.Lilin-lilin menyala redup. Bayangan bergerak di dinding."Jadi kau yakin dengan ini?" tanya Ayah. Suaranya rendah.Celestine berbalik. Matanya berbinar. "Sangat yakin."Ibu meletakkan cangkir teh. "Tapi Celestine, kau yang kabur. Kau yang meninggalkan Duke Dillard.""Aku tahu." Celestine duduk dengan punggung tegak. "Dan itu kesalahanku. Aku tidak tahu Duke Dillard seberharga itu."Ayah mengerutkan dahi. "Maksudmu?""Kastilnya, tanahnya, kekuasaannya." Celestine tersenyum tipis. "Aku dengar dia sudah kembali ke posisi teratas di wilayah utara. Bahkan kerajaan mulai mengandalkannya lagi."Ibu menghela napas. "Jadi kau mau dia hanya karena kekuasaan?""Bukan hanya itu." Celestine berdiri, berjalan pelan mengelilingi meja. "Tapi juga karena aku pantas jadi Duchess. Bukan Juliet."Ayah menggebrak meja pelan. "Tapi Juliet sudah sah jadi istrinya!""Pernikahan

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   3

    Bab 3Malam datang dengan angin dingin. Aku duduk di tepi tempat tidur, memeluk lutut. Tubuhku masih terasa panas; terutama di tempat Dillard menyentuhku tadi sore.Cara dia menatapku. Cara tangannya mengencang di pinggangku. Cara napasnya menyapu wajahku. Lalu tiba-tiba dia pergi; seolah menyentuhku adalah kesalahan besar.Kenapa? Apa yang salah?Ketukan pelan di pintu."Duchess?"Aku buka pintu. Pelayan muda berdiri di sana dengan amplop putih."Ada surat untuk Anda."Amplop dengan stempel keluarga Brieris. Jantung langsung berdegup cepat. Aku ambil surat itu dengan tangan gemetar. Menutup pintu. Membuka amplop perlahan.Tulisan tangan Celestine.Juliet,Maafkan aku. Aku tahu ini tidak adil. Tapi aku tidak punya pilihan.Dillard Donoughoe bukan orang baik. Dia menikahimu untuk balas dendam. Ayah dulu menghancurkan keluarganya; mengambil tanah mereka, merusak nama baik mereka. Ibunya meninggal karena itu.Dillard tidak akan pernah melupakan itu. Dia akan menghancurkanmu, Juliet.Kabu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status