Beranda / Zaman Kuno / Pengantin Pengganti Duke Dillard / 6. Masalah di Perbatasan Utara

Share

6. Masalah di Perbatasan Utara

Penulis: TIZZZ
last update Tanggal publikasi: 2026-02-05 09:24:52

Aku angguk. Alice bawa aku ke sudut ruangan, jauh dari keramaian dan musik yang mulai ramai lagi. Dia cantik—mata hijau terang, kulit putih bersih, bibir merah sempurna. Seperti boneka porselen yang mahal.

"Saya cuma mau sapa," katanya dengan senyum hangat yang tidak sampai ke mata. "Pasti berat, ya, jadi Duchess mendadak. Apalagi dengan situasi... kakak kamu."

Ah. Tentu saja. Celestine.

"Sangat berat," jawabku jujur. Tidak ada gunanya bohong.

"Kalau Duchess butuh teman, saya selalu ada. Wanita bangsawan harus saling dukung." Dia sentuh lenganku lembut, tapi ada sesuatu yang tidak nyaman dari sentuhan itu. "Apalagi dengan suami seperti Duke Dillard."

Ada sesuatu dalam nada suaranya. Sesuatu yang tersembunyi. Aku tatap dia lebih tajam.

"Maksudnya?"

Alice tersenyum tipis. Mata hijaunya berkilat. "Tidak ada, Duchess. Cuma... jaga diri baik-baik. Kastil besar ini punya banyak rahasia. Dan tidak semua rahasia menyenangkan untuk diketahui. Ah, aku sebaiknya pergi."

Dia pergi sebelum aku bisa tanya lebih lanjut, gaun birunya berkibar saat dia berbalik. Pergi meninggalkan aku begitu saja.

Rahasia apa?

*

Pesta berlangsung sampai larut malam. Aku capek senyum. Capek jawab pertanyaan yang sama terus-terusan. "Bagaimana rasanya jadi Duchess?" "Bagaimana Duke Dillard sebagai suami?"

Aku jawab dengan jawaban yang sudah disiapkan Madame Jourdain. Senyum. Angguk. Tidak ngomong terlalu banyak. Seperti boneka yang diprogram.

Tapi yang paling menyiksa adalah lihat Dillard dikelilingi wanita-wanita cantik. Mereka ketawa pada setiap kata-katanya. Padahal Dillard sama sekali tidak lucu. Sentuh lengannya. Tatap dia dengan mata berbinar penuh harap.

Dan dia... dia biarkan.

Tidak menanggapi tapi juga tida tolak. Tidak menjauh. Bahkan tersenyum tipis pada beberapa dari mereka. Senyum yang tidak pernah dia berikan padaku.

Dadaku sesak. Aneh. Kenapa aku peduli? Ini bukan pernikahan sungguhan. Dia tidak cinta aku. Aku juga tidak...

Tapi kenapa dadaku sakit lihat dia tertawa pada lelucon wanita berambut coklat itu? Kenapa tanganku mengepal saat dia tidak menjauhkan tangan wanita lain dari lengannya?

"Duchess kelihatan tidak baik-baik saja."

Aku tersentak. Lincoln kembali, bawa dua gelas champagne. Dia kasih satu padaku.

"Cuma capek."

"Atau cemburu?" Nada suaranya menggoda, ada senyum kecil di bibirnya.

"Tidak." Jawaban terlalu cepat. Terlalu defensif. Bahkan aku sendiri tidak yakin.

Lincoln ketawa pelan. "Tidak apa-apa cemburu sama suami sendiri, Duchess. Itu wajar."

"Aku tidak—"

"Lady Carmen Houghton," potong Lincoln, angguk ke arah wanita berambut coklat yang sedang ngobrol dengan Dillard. Tangannya masih di lengan Dillard, terlalu lama, terlalu akrab. "Putri Marquess Chambers. Dulu... dekat dengan Duke."

Jantungku berhenti sebentar. "Dekat gimana?"

"Hampir bertunangan. Tiga tahun lalu. Sebelum... kejadian itu."

"Kejadian apa?"

Tapi Lincoln sudah berbalik. Wajahnya berubah, seperti menyesal sudah ngomong terlalu banyak. "Maaf, Duchess. Aku udah bicara kebanyakan. Permisi."

Dia pergi, ninggalin aku dengan pertanyaan lebih banyak dari jawaban.

Aku tatap Carmen. Dia cantik. Sangat cantik. Rambut bergelombang sempurna jatuh di punggung, gaun pink yang pas di tubuhnya memperlihatkan lekuk yang sempurna. Dia ketawa pada sesuatu yang Dillard katakan, suara riangnya terdengar sampai ke sini. Tangan sentuh lengan Dillard lagi, gerakan yang terlalu familiar.

Dan Dillard tidak menjauh. Malah sedikit membungkuk, dengerin dia bicara dengan penuh perhatian.

Sesuatu di dadaku terasa panas. Sesak. Seperti ada yang mencengkeram jantungku erat-erat. Aku taruh gelas champagne di meja terdekat dengan gerakan kasar. Aku butuh udara segar. Sekarang.

Aku jalan ke balkon, hindari orang-orang yang mencoba ajak bicara. Angin malam menyapu wajah. Dingin. Menenangkan. Aku bersandar di pagar batu, tatap taman gelap di bawah. Bulan purnama menerangi pepohonan yang bergoyang tertiup angin.

"Kabur?"

Aku tersentak. Dillard berdiri di ambang pintu balkon. Lengan dilipat di dada. Ekspresi tidak terbaca, tapi matanya tajam, mengamati.

"Cuma butuh udara segar."

Dia melangkah mendekat. Berdiri di sampingku. Kami diam cukup lama. Cuma terdengar suara musik samar dari dalam dan angin yang berhembus pelan.

"Lady Carmen kelihatan senang ngobrol sama kamu," kataku akhirnya. Suara terdengar lebih pahit dari yang kuinginkan. Menyesal sudah ngomong, aku gigit bibirku.

Dillard lirik aku. Alis terangkat sedikit. Ada senyum kecil di sudut bibirnya. "Cemburu?"

"Tidak."

"Bohong."

Aku berbalik tatap dia. "Aku tidak cemburu sama—"

"Carmen mantan tunanganku."

Napas terhenti. Dia ngomong begitu saja. Tanpa peringatan. Tanpa emosi. Seperti ngomong tentang cuaca.

"Tiga tahun lalu, keluarga kami sepakat nikahkan kami. Kontrak sudah ditandatangani, cincin sudah disiapkan. Tapi satu minggu sebelum pengumuman resmi, dia batalkan pertunangan." Dillard tatap ke kejauhan, ke taman gelap. "Dia nikah dengan Viscount dari kerajaan sebelah. Orang yang lebih kaya. Lebih berkuasa. Lebih menjanjikan masa depan."

"Itu... pasti sakit."

"Bukan karena aku cinta dia." Dia akhirnya tatap aku. Mata abu-abunya gelap, ada luka lama di sana yang tidak pernah sembuh. "Tapi karena pengkhianatan. Sama seperti Celestine."

Oh.

Jadi itu alasannya. Kenapa dia marah banget sama keluargaku. Kenapa dia tetap lanjutkan pernikahan meskipun Celestine kabur.

Bukan karena dia mau aku. Tapi karena dia tidak mau dikianati lagi. Dia tidak mau terlihat lemah.

"Sekarang Carmen cerai," lanjut Dillard. Suaranya datar, tapi ada nada pahit di sana. "Suaminya bangkrut, kehilangan semua hartanya karena judi. Dia kembali, berharap aku akan terima dia kembali. Berharap aku masih bodoh seperti dulu."

"Dan... apa kamu akan terima dia?"

Dia tatap aku lama. Terlalu lama. Matanya menelusuri wajahku, seperti mencari sesuatu. "Kenapa kamu peduli?"

"Aku tidak—"

"Kamu istriku, Juliet." Suaranya turun. Lebih rendah. Lebih dalam. "Selama kamu masih jadi Duchess Donoughoe, tidak ada wanita lain. Aku bukan orang yang main-main."

Jantung berdebar keras. Terlalu keras. "Tapi kamu tidak... kamu tidak mau aku."

"Siapa bilang?"

Napas tercekat.

Dia melangkah lebih dekat. Jarak kami cuma beberapa senti. Aku bisa cium aroma mint dan cedar yang selalu melekat di tubuhnya. Bisa lihat garis rahangnya yang tegang.

"Cuma karena ini pernikahan paksa tidak berarti aku tidak mau kamu."

Tangannya terangkat, sentuh pipiku. Hangat. Lembut. Berbeda dari biasanya. Ibu jarinya usap tulang pipi dengan gerakan yang membuat dadaku sesak.

"Gaun ini..." Matanya menelusuri tubuhku, berhenti di punggung terbuka, naik lagi ke wajah. "Kamu tahu kenapa aku pilih warna hijau?"

Aku geleng pelan. Tidak bisa ngomong. Tenggorokan terlalu kering.

"Karena hijau warna Donoughoe. Dan aku mau semua orang tahu kamu milikku."

Milikku.

Kata itu bikin sesuatu di dadaku menghangat. Menyebar ke seluruh tubuh.

Dia membungkuk pelan. Wajahnya semakin dekat. Napas kami bercampur. Hangat. Jantungku berpacu sangat keras sampai aku yakin dia bisa dengar. Matanya tatap bibirku, lalu naik ke mataku lagi. Minta izin tanpa kata-kata.

Bibir kami hampir menyentuh—cuma sejengkal lagi—

"Duke Dillard!"

Kami terpisah cepat. Seorang pelayan lari mendekat. Napas tersengal. Wajah pucat ketakutan.

"Ada masalah di perbatasan utara, Yang Mulia. Serangan dari—"

"Aku tahu." Dillard potong cepat. Wajahnya berubah—dingin, keras. Duke yang menakutkan kembali. Semua kehangatan tadi hilang dalam sekejap. "Kumpulkan dewan. Sekarang."

Pelayan membungkuk dan pergi cepat.

Dillard berbalik padaku. Wajahnya kembali datar, tidak ada sisa kelembutan tadi. "Kembali ke pesta. Bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Jangan buat tamu curiga."

"Tapi—"

"Sekarang, Juliet."

Nada perintah. Keras. Tidak ada ruang untuk bantahan. Aku angguk patuh, meskipun ada protes di tenggorokan yang tidak bisa keluar.

Dia pergi cepat, langkah panjang yang tegas. Ninggalin aku sendirian di balkon. Dengan bibir yang hampir bersentuhan.

Dengan pertanyaan yang tidak terjawab. Dengan perasaan aneh di dada yang tidak bisa kujelaskan.

Aku sentuh bibir dengan jari gemetar.

Hampir.

Hampir saja.

*

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   100. "Aku berharap kalian semua menemukan kedamaian."

    "Kau bukan apa-apa lagi," kata Dillard dingin. "Title mu akan dicabut. Tanah mu akan disita. Dan kau akan dihukum untuk semua kejahatanmu.""TIDAK! TIDAK! TIDAK! KAU TIDAK BISA MELAKUKANNYA!" Eugene berteriak seperti anak kecil. Ia tidak tahu bahwa sekarang Dillard adalah Regent yang baru."Bawa dia keluar," perintah Duke Ashford pada guards. "Masukkan ke sel yang sama dengan Viktor. Biarkan mereka saling menyalahkan sampai persidangan."Guards menyeret Eugene keluar. Teriakannya semakin jauh sampai akhirnya hilang.Hening di ballroom.Lalu Celestine berbalik padaku. Jalan mendekat dengan langkah ragu."Juliet—" Suaranya bergetar. "Aku—aku tidak tahu harus bilang apa. Maafkan aku tidak cukup berani membelamu. Aku tahu itu. Tapi—"Aku menatapnya. Kakakku. Satu-satunya yang pernah baik padaku di kastil Brieris."Kau kembali," kataku pelan. "Kau kembali untuk bantu ku. Itu cukup.""Tidak cukup. Aku seharusnya tidak kabur dari awal. Seharusnya aku—"Aku peluk dia. Tiba-tiba. Erat.Celestin

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   99. "AKU MASIH BANGSAWAN!"

    "Itu yang semua orang harus pikir," kata Celestine. Menatapku dengan mata minta maaf. "Maafkan aku, Juliet. Aku ikut rencana ayah. Aku kabur seperti yang dia minta. Karena aku takut apa yang akan terjadi kalau aku tidak.""Tapi kenapa?" tanyaku. "Kenapa kau menurutinya?""Karena dia ancam aku." Celestine tunjuk Eugene. "Dia bilang kalau aku tidak kabur—dia akan kurung aku seperti dia kurung kau. Atau lebih buruk."Air mata turun di pipinya."Aku pengecut. Aku tahu rencana itu akan sakiti kau. Tapi aku lebih takut pada dia. Jadi aku kabur. Dan aku biarkan kau jadi korban.""Celestine—" Aku tidak tahu harus bilang apa."Tapi aku menyesal." Celestine menatapku langsung. "Sangat menyesal. Jadi saat aku dengar tentang pesta ini—tentang Pangeran Viktor yang mau ambil kau—aku tahu aku harus kembali. Harus bilang kebenaran."Dia berbalik ke Eugene. "Aku punya semua surat darimu. Semua perintah. Semua ancaman. Semuanya ada di sini."Dia keluarkan tumpukan surat dari tas."Termasuk surat di man

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   98. "Jangan bicara pada istriku."

    "Eugene Brieris bukan ayah. Dia monster. Dia mengurungku. Dia menjualku. Setelah menjualku pada Duke, dia berencana menyerahkan ku pada Pangeran Viktor seperti barang dagangan.""Dia tidak pantas dipanggil ayah. Tidak pantas dipanggil bangsawan. Dia pengkhianat. Pembohong. Dan saat dia tertangkap dia harus membayar. Untuk Duke Edmund yang dibunuh. Untuk keluarga Donoughoe yang hancur. Dan untuk aku… putrinya sendiri yang dia sia-siakan."Hening setelah aku selesai bicara.Lalu satu orang mulai bertepuk tangan.Lincoln.Lalu yang lain. Dillard.Lalu Celestine yang berdiri di samping. Dengan air mata di pipi. Tepuk tangan ragu.Sampai seluruh ballroom bertepuk tangan.Untuk keberanianku. Untuk kesaksianku. Untuk kebenaran yang aku ungkap.Aku berdiri di sana dengan air mata turun tapi kepala tegak.Akhirnya aku bicara. Akhirnya aku tidak diam lagi.Duke Ashford maju. "Terima kasih, Duchess Juliet, untuk kesaksianmu yang berani. Kami semua—" Dia menatap kerumunan. "Kami semua malu. Karen

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   97. Kesaksian Juliet

    Aku melangkah maju. Berdiri di tengah. Menghadap kerumunan.Ratusan wajah menatapku. Menunggu.Aku tarik napas dalam."Namaku Juliet Donoughoe. Dulu Juliet Brieris." Suaraku gemetar tapi cukup keras. "Dan aku di sini untuk bersaksi tentang Eugene Brieris. Ayahku."Hening total."Sejak kecil—sejak aku ingat—aku selalu diabaikan di kastil Brieris. Aku putri kedua. Putri yang tidak diinginkan. Putri yang tidak berguna."Air mata mulai mengancam tapi kutahan."Kakakku Celestine cantik. Pintar. Berbakat. Semua orang mencintainya. Tapi aku—aku tidak ada yang istimewa. Jadi aku dikurung di kamar. Diberi makan lewat pintu. Tidak boleh keluar bahkan tidak untuk acara penting."Beberapa wanita di kerumunan menangis mendengar ini. Celestine yang sebelumnya tersenyum kehilangan senyumnya. Awalnya ia pikir ini ucapan terima kasihku padanya karena hadir di pengadilan hari ini. Ia lupa bahwa ia bagian dari sistem yang membuatku dan Dillard menderita. Bukan pemain utama, tapi ia turut menikmati kemew

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   96. Pengumuman Kematian

    Lalu dokter berlutut. "Semoga Yang Mulia beristirahat dengan damai."Semua yang ada di kamar berlutut. Termasuk Lincoln. Termasuk aku.Hanya Dillard yang masih berdiri. Menatap wajah Raja yang sudah damai."Maafkan aku, Yang Mulia," bisiknya akhirnya. "Tapi aku tidak bisa maafkan mu. Tidak untuk ayahku. Tidak untuk semua yang hilang."Dia mundur selangkah."Tapi aku janji aku akan jaga kerajaan mu. Sementara. Sampai Duke Theodore tiba. Karena rakyat tidak bersalah atas dosamu."Dia berbalik. Jalan keluar kamar.Aku berdiri. Ikuti dia.Di koridor dia berhenti. Bersandar di dinding. Tutup wajah dengan tangan."Dillard—""Dia mati," bisiknya. "Raja mati. Dan aku… aku tidak merasa apa-apa. Tidak lega. Tidak senang. Hanya—kosong."Aku peluk dia. Erat."Kau boleh merasa kosong. Kau boleh tidak tahu harus merasa apa. Ini normal.""Aku pikir… aku pikir saat kebenaran keluar aku akan merasa lebih baik. Aku selalu berdoa semua orang yang menyebabkan kematian Ayahku, mati. Ini seharusnya jadi ha

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   95. Regent Sementara

    Aku pegang tangannya. Genggam erat.Dia menatapku. Mata abu-abu berkaca-kaca."Kita menang," bisikku. "Kita akhirnya menang.""Tapi dengan harga apa?" bisiknya balik. "Ayahku tetap mati. Elise tetap mati. Sepuluh tahun tetap hilang.""Tapi kau hidup. Aku hidup. Kita bebas sekarang. Bebas dari hutang darah. Bebas dari masa lalu."Dia menarik napas panjang. "Ya. Kau benar. Bebas."Tapi dia tidak terdengar yakin.Lincoln maju. Wajah lelah tapi puas."Kita berhasil," katanya. "Semua bukti keluar. Semua kebenaran terungkap. Viktor ditangkap. Raja mengakui salahnya.""Dan sekarang apa?" tanya Dillard."Sekarang kita tunggu." Lincoln menatap pintu tempat Raja dibawa keluar. "Raja sekarat. Mungkin tidak bertahan malam ini. Kalau dia mati—""Kalau dia mati siapa yang jadi Raja?" tanyaku. "Viktor sudah ditangkap. Tidak ada pewaris lain.""Ada," kata Duke Ashford. Dia masih berdiri dekat kami. "Raja punya sepupu. Duke Theodore. Dia pewaris sah kalau Viktor didiskualifikasi.""Di mana Duke Theodo

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status