LOGINAku angguk. Alice bawa aku ke sudut ruangan, jauh dari keramaian dan musik yang mulai ramai lagi. Dia cantik—mata hijau terang, kulit putih bersih, bibir merah sempurna. Seperti boneka porselen yang mahal.
"Saya cuma mau sapa," katanya dengan senyum hangat yang tidak sampai ke mata. "Pasti berat, ya, jadi Duchess mendadak. Apalagi dengan situasi... kakak kamu." Ah. Tentu saja. Celestine. "Sangat berat," jawabku jujur. Tidak ada gunanya bohong. "Kalau Duchess butuh teman, saya selalu ada. Wanita bangsawan harus saling dukung." Dia sentuh lenganku lembut, tapi ada sesuatu yang tidak nyaman dari sentuhan itu. "Apalagi dengan suami seperti Duke Dillard." Ada sesuatu dalam nada suaranya. Sesuatu yang tersembunyi. Aku tatap dia lebih tajam. "Maksudnya?" Alice tersenyum tipis. Mata hijaunya berkilat. "Tidak ada, Duchess. Cuma... jaga diri baik-baik. Kastil besar ini punya banyak rahasia. Dan tidak semua rahasia menyenangkan untuk diketahui. Ah, aku sebaiknya pergi." Dia pergi sebelum aku bisa tanya lebih lanjut, gaun birunya berkibar saat dia berbalik. Pergi meninggalkan aku begitu saja. Rahasia apa? * Pesta berlangsung sampai larut malam. Aku capek senyum. Capek jawab pertanyaan yang sama terus-terusan. "Bagaimana rasanya jadi Duchess?" "Bagaimana Duke Dillard sebagai suami?" Aku jawab dengan jawaban yang sudah disiapkan Madame Jourdain. Senyum. Angguk. Tidak ngomong terlalu banyak. Seperti boneka yang diprogram. Tapi yang paling menyiksa adalah lihat Dillard dikelilingi wanita-wanita cantik. Mereka ketawa pada setiap kata-katanya. Padahal Dillard sama sekali tidak lucu. Sentuh lengannya. Tatap dia dengan mata berbinar penuh harap. Dan dia... dia biarkan. Tidak menanggapi tapi juga tida tolak. Tidak menjauh. Bahkan tersenyum tipis pada beberapa dari mereka. Senyum yang tidak pernah dia berikan padaku. Dadaku sesak. Aneh. Kenapa aku peduli? Ini bukan pernikahan sungguhan. Dia tidak cinta aku. Aku juga tidak... Tapi kenapa dadaku sakit lihat dia tertawa pada lelucon wanita berambut coklat itu? Kenapa tanganku mengepal saat dia tidak menjauhkan tangan wanita lain dari lengannya? "Duchess kelihatan tidak baik-baik saja." Aku tersentak. Lincoln kembali, bawa dua gelas champagne. Dia kasih satu padaku. "Cuma capek." "Atau cemburu?" Nada suaranya menggoda, ada senyum kecil di bibirnya. "Tidak." Jawaban terlalu cepat. Terlalu defensif. Bahkan aku sendiri tidak yakin. Lincoln ketawa pelan. "Tidak apa-apa cemburu sama suami sendiri, Duchess. Itu wajar." "Aku tidak—" "Lady Carmen Houghton," potong Lincoln, angguk ke arah wanita berambut coklat yang sedang ngobrol dengan Dillard. Tangannya masih di lengan Dillard, terlalu lama, terlalu akrab. "Putri Marquess Chambers. Dulu... dekat dengan Duke." Jantungku berhenti sebentar. "Dekat gimana?" "Hampir bertunangan. Tiga tahun lalu. Sebelum... kejadian itu." "Kejadian apa?" Tapi Lincoln sudah berbalik. Wajahnya berubah, seperti menyesal sudah ngomong terlalu banyak. "Maaf, Duchess. Aku udah bicara kebanyakan. Permisi." Dia pergi, ninggalin aku dengan pertanyaan lebih banyak dari jawaban. Aku tatap Carmen. Dia cantik. Sangat cantik. Rambut bergelombang sempurna jatuh di punggung, gaun pink yang pas di tubuhnya memperlihatkan lekuk yang sempurna. Dia ketawa pada sesuatu yang Dillard katakan, suara riangnya terdengar sampai ke sini. Tangan sentuh lengan Dillard lagi, gerakan yang terlalu familiar. Dan Dillard tidak menjauh. Malah sedikit membungkuk, dengerin dia bicara dengan penuh perhatian. Sesuatu di dadaku terasa panas. Sesak. Seperti ada yang mencengkeram jantungku erat-erat. Aku taruh gelas champagne di meja terdekat dengan gerakan kasar. Aku butuh udara segar. Sekarang. Aku jalan ke balkon, hindari orang-orang yang mencoba ajak bicara. Angin malam menyapu wajah. Dingin. Menenangkan. Aku bersandar di pagar batu, tatap taman gelap di bawah. Bulan purnama menerangi pepohonan yang bergoyang tertiup angin. "Kabur?" Aku tersentak. Dillard berdiri di ambang pintu balkon. Lengan dilipat di dada. Ekspresi tidak terbaca, tapi matanya tajam, mengamati. "Cuma butuh udara segar." Dia melangkah mendekat. Berdiri di sampingku. Kami diam cukup lama. Cuma terdengar suara musik samar dari dalam dan angin yang berhembus pelan. "Lady Carmen kelihatan senang ngobrol sama kamu," kataku akhirnya. Suara terdengar lebih pahit dari yang kuinginkan. Menyesal sudah ngomong, aku gigit bibirku. Dillard lirik aku. Alis terangkat sedikit. Ada senyum kecil di sudut bibirnya. "Cemburu?" "Tidak." "Bohong." Aku berbalik tatap dia. "Aku tidak cemburu sama—" "Carmen mantan tunanganku." Napas terhenti. Dia ngomong begitu saja. Tanpa peringatan. Tanpa emosi. Seperti ngomong tentang cuaca. "Tiga tahun lalu, keluarga kami sepakat nikahkan kami. Kontrak sudah ditandatangani, cincin sudah disiapkan. Tapi satu minggu sebelum pengumuman resmi, dia batalkan pertunangan." Dillard tatap ke kejauhan, ke taman gelap. "Dia nikah dengan Viscount dari kerajaan sebelah. Orang yang lebih kaya. Lebih berkuasa. Lebih menjanjikan masa depan." "Itu... pasti sakit." "Bukan karena aku cinta dia." Dia akhirnya tatap aku. Mata abu-abunya gelap, ada luka lama di sana yang tidak pernah sembuh. "Tapi karena pengkhianatan. Sama seperti Celestine." Oh. Jadi itu alasannya. Kenapa dia marah banget sama keluargaku. Kenapa dia tetap lanjutkan pernikahan meskipun Celestine kabur. Bukan karena dia mau aku. Tapi karena dia tidak mau dikianati lagi. Dia tidak mau terlihat lemah. "Sekarang Carmen cerai," lanjut Dillard. Suaranya datar, tapi ada nada pahit di sana. "Suaminya bangkrut, kehilangan semua hartanya karena judi. Dia kembali, berharap aku akan terima dia kembali. Berharap aku masih bodoh seperti dulu." "Dan... apa kamu akan terima dia?" Dia tatap aku lama. Terlalu lama. Matanya menelusuri wajahku, seperti mencari sesuatu. "Kenapa kamu peduli?" "Aku tidak—" "Kamu istriku, Juliet." Suaranya turun. Lebih rendah. Lebih dalam. "Selama kamu masih jadi Duchess Donoughoe, tidak ada wanita lain. Aku bukan orang yang main-main." Jantung berdebar keras. Terlalu keras. "Tapi kamu tidak... kamu tidak mau aku." "Siapa bilang?" Napas tercekat. Dia melangkah lebih dekat. Jarak kami cuma beberapa senti. Aku bisa cium aroma mint dan cedar yang selalu melekat di tubuhnya. Bisa lihat garis rahangnya yang tegang. "Cuma karena ini pernikahan paksa tidak berarti aku tidak mau kamu." Tangannya terangkat, sentuh pipiku. Hangat. Lembut. Berbeda dari biasanya. Ibu jarinya usap tulang pipi dengan gerakan yang membuat dadaku sesak. "Gaun ini..." Matanya menelusuri tubuhku, berhenti di punggung terbuka, naik lagi ke wajah. "Kamu tahu kenapa aku pilih warna hijau?" Aku geleng pelan. Tidak bisa ngomong. Tenggorokan terlalu kering. "Karena hijau warna Donoughoe. Dan aku mau semua orang tahu kamu milikku." Milikku. Kata itu bikin sesuatu di dadaku menghangat. Menyebar ke seluruh tubuh. Dia membungkuk pelan. Wajahnya semakin dekat. Napas kami bercampur. Hangat. Jantungku berpacu sangat keras sampai aku yakin dia bisa dengar. Matanya tatap bibirku, lalu naik ke mataku lagi. Minta izin tanpa kata-kata. Bibir kami hampir menyentuh—cuma sejengkal lagi— "Duke Dillard!" Kami terpisah cepat. Seorang pelayan lari mendekat. Napas tersengal. Wajah pucat ketakutan. "Ada masalah di perbatasan utara, Yang Mulia. Serangan dari—" "Aku tahu." Dillard potong cepat. Wajahnya berubah—dingin, keras. Duke yang menakutkan kembali. Semua kehangatan tadi hilang dalam sekejap. "Kumpulkan dewan. Sekarang." Pelayan membungkuk dan pergi cepat. Dillard berbalik padaku. Wajahnya kembali datar, tidak ada sisa kelembutan tadi. "Kembali ke pesta. Bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Jangan buat tamu curiga." "Tapi—" "Sekarang, Juliet." Nada perintah. Keras. Tidak ada ruang untuk bantahan. Aku angguk patuh, meskipun ada protes di tenggorokan yang tidak bisa keluar. Dia pergi cepat, langkah panjang yang tegas. Ninggalin aku sendirian di balkon. Dengan bibir yang hampir bersentuhan. Dengan pertanyaan yang tidak terjawab. Dengan perasaan aneh di dada yang tidak bisa kujelaskan. Aku sentuh bibir dengan jari gemetar. Hampir. Hampir saja. *Dillard tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap tanganku yang meremas jemarinya. Bahunya yang tegap tampak turun satu inci, tanda bahwa ketegangan dalam dirinya sedikit mengendur, meski rahangnya masih mengeras. Pria ini selalu mengukur segala hal dengan hasil nyata—pedang yang menebas, dokumen yang ditandatangani, atau wilayah yang dikuasai. Baginya, kehadiran fisik tanpa solusi medis adalah bentuk kegagalan."Logika yang buruk," gumamnya, meski ia tidak menarik tangannya. "Istana ini telah membuat standar keamananmu menjadi terlalu rendah.""Bukan istana," koreksiku, ibu jariku bergerak perlahan di atas kulit punggung tangannya yang kasar oleh bekas kapalan pedang. "Tapi hidupku sebelum ini."Dillard terdiam. Ia tahu persis apa yang kumaksud. Ia tahu tentang tahun-tahun yang kuhabiskan dengan berjalan di atas telur, tentang bagaimana setiap rasa sakit yang kutunjukkan di masa lalu hanya akan dianggap sebagai kelemahan yang siap dieksploitasi oleh ayahku sendiri. Di dunia itu,
Begitu kami berhasil keluar ke koridor, Dillard langsung bergerak cepat. Ia membimbingku masuk ke dalam sebuah bilik kecil di samping aula. Bilik itu biasanya digunakan untuk menyimpan barang atau tempat istirahat pengawal. Begitu kami masuk, Dillard langsung menutup pintu kayu itu dengan rapat. "Mual?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Matanya menatapku dengan penuh kecemasan yang tertahan. "Hanya sebentar," jawabku sambil memegangi perutku yang bergejolak. "Ini akan segera lewat." "Duduk," perintah Dillard dengan tegas. "Aku tidak apa-apa, Dillard. Aku bisa berdiri—" "Duduk, Juliet," potongnya lagi. Kali ini suaranya melembut, namun tetap tidak menerima bantahan. Aku akhirnya menyerah pada perintahnya. Aku melangkah dan duduk di atas sebuah kursi kayu kecil di sudut ruangan. Aku menyandarkan kepala belakangku ke dinding tembok yang dingin. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengambil napas dalam-dalam secara perlahan. Aku berusaha menenangkan detak jantungku yang berp
Ini benar-benar tidak direncanakan. Kejadian ini sama sekali di luar kendaliku. Rapat dewan pagi itu baru saja berjalan sekitar setengah jam. Suasana di dalam aula utama terasa begitu formal dan kaku. Semua orang tampak tegang. Tiba-tiba saja, aku merasakan sebuah gelombang mual yang luar biasa hebat. Rasa mual itu muncul dari dasar perutku. Efeknya jauh lebih buruk daripada yang biasa kurasakan beberapa hari terakhir. Mungkin ini terjadi karena waktu tidurku yang sedikit kurang semalam. Atau, mungkin juga karena aku melewatkan jadwal sarapan pagi ini. Perutku yang kosong tidak bisa berkompromi dengan ketegangan di dalam ruangan. Aku mencoba sekuat tenaga untuk menahannya. Aku menarik napas dalam-dalam secara sembunyi-sembunyi. Aku memaksa mataku untuk tetap fokus pada catatan di depanku. Jemariku meremas pena bulu dengan erat. Aku berusaha mengabaikan keringat dingin yang mulai terbit di tengkukku. Namun, usaha itu sia-sia. Gelombang mual kedua datang melanda dengan jau
Hari-hari di dalam istana berjalan dengan sangat cepat dan melelahkan. Atmosfer di sekitar kami terasa begitu padat dan menyesakkan. Agenda harian kami selalu dipenuhi oleh rapat dewan yang panjang. Tumpukan laporan intelijen dari perbatasan terus datang silih berganti. Setiap sore, kami harus melakukan analisis mendalam mengenai pergerakan musuh. Belum lagi perencanaan taktik politik yang menguras banyak energi. Kepala rasanya mau pecah setiap kali melihat tumpukan kertas di atas meja kerja.Namun, ada satu hal yang berbeda dari Dillard. Ada satu rutinitas baru yang selalu ia lakukan tanpa gagal. Ia melakukannya dengan sangat disiplin dan konsisten setiap malam.Tepat pada pukul sembilan malam, apa pun yang sedang terjadi, Dillard akan berhenti. Ia tidak peduli seberapa genting situasi politik saat itu. Ia tidak peduli jika ada kurir yang baru saja datang membawa pesan. Pria itu akan langsung menutup semua dokumen di atas mejanya dengan bunyi kecipak yang khas. Setelah itu, ia berdiri
Aku menundukkan kepala sejenak. Aku mengalihkan pandangan dari ketegangan di antara kedua pria itu. Mataku tertuju pada lembaran catatan di tanganku. Catatan itu kubuat dengan tergesa-gesa selama rapat dewan tadi.Jari-jariku meraba permukaan kertas yang agak kasar. Di sepanjang pinggiran halaman yang buram, aku telah mencoret-coret beberapa nama bangsawan tinggi.Aku menghubungkan satu nama dengan nama lainnya. Garis-garis tipis yang saling silang membentuk sebuah peta labirin yang rumit.Itu adalah peta dari ambisi rahasia mereka."Mungkin saya bisa meminta izin untuk melihat daftar hadir seluruh acara sosial di istana?" kataku memecah keheningan. "Khususnya untuk dua bulan terakhir."Kalimatku langsung mengalihkan perhatian dari perdebatan buntu mereka. Ruangan yang sempat membeku itu mendadak sunyi.Kedua pria itu seketika menghentikan argumen mereka. Theodore dan Dillard berbalik secara bersamaan. Sepasang mata mereka tertuju lurus ke arahku.Ruang tunggu kecil yang temaram itu
Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa di atas lantai marmer koridor yang dingin itu bergaung, memecah kesunyian yang sempat tercipta sesaat setelah aula rapat utama dikosongkan. Theodore muncul dari belokan koridor dengan jubah resminya yang sedikit berkibar, seolah-olah mempertegas ketegangan dan atmosfer berat yang dibawanya keluar dari ruangan tadi. Ia melangkah cepat, langsung memotong jalur berjalan kami yang searah, memaksa Dillard untuk menghentikan langkahnya secara mendadak.Secara otomatis, aku segera mengambil posisi setengah langkah di belakang Dillard. Berdiri tepat di sampingnya, namun tetap menjaga jarak formal yang semestinya—sebuah posisi yang belakangan ini seakan-akan telah menjadi tempat permanen dan tak tergantikan bagiku sejak badai politik di dalam istana ini mulai memanas dan mengancam kami semua.Theodore tidak langsung membuka suara. Tatapannya bergerak dinamis dan penuh selidik. Sepasang matanya yang tajam itu melirik ke arahku, beralih pada Dillard
Namun, kenyataannya, pemberontakan itu belum sepenuhnya berakhir. Para pemberontak yang tersisa justru menyebar dan menyebabkan kekacauan di wilayah-wilayah sekitar. “Pemberontakan ini sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan rasanya tidak masuk akal bagaimana Pangeran Viktor terus-
Pagi hari setelah pelajaran dansa, aku terbangun dengan tubuh pegal. Setiap otot protes ketika aku mencoba duduk. Bahu kaku, pinggang nyeri seperti habis dipukul. Tapi yang lebih menyiksa adalah ingatan tentang kehangatan tangan Dillard di pinggangku. Cara matanya menatapku—bukan dengan kemarahan a
Pagi datang dengan cahaya berdebu masuk lewat celah tirai. Aku terbangun dengan tubuh kaku. Leher pegal. Bahu sakit. Semalam hampir tidak tidur; setiap kali menutup mata, wajah Dillard muncul. Jari dinginnya di leherku. Suara rendahnya yang mengancam. Ketukan keras di pintu. "Duchess, sarapan sud
Gaun ini berat sekali. Aku menarik napas dalam-dalam, tapi korset terlalu ketat; tulang rusukku terasa ditekan, dadaku sesak. Kerudah tebal menutupi wajah, menghalangi pandangan. Hanya bayangan dan cahaya lilin yang bisa kulihat. Tangan Ibu mencengkeram lenganku. Kuat. Kukunya menggores kulit. "J







