Se connecterSeluruh aula terdiam.
Celestine berdiri dengan napas terengah; seperti baru berlari jauh. Gaun perjalanannya basah, berlumpur di bagian bawah. Rambut lepas dari jepit, jatuh berantakan di bahu.
Tapi matanya… matanya menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Penyesalan.
"Juliet..." Suaranya pecah. "Maafkan aku. Aku datang untuk bawa kau pulang."
Bisikan keras meledak di seluruh ruangan. Dillard melangkah ke depanku; menghalangi. Tubuhnya tegang seperti siap menyerang.
"Kau tidak punya hak datang ke sini."
"Aku punya hak." Celestine angkat dagu. "Karena seharusnya aku yang menikah denganmu. Bukan adikku."
Bisikan semakin keras. Mata-mata tajam menatap kami bertiga.
Lord Harrigan melangkah maju. "Duke Donoughoe, apa maksudnya ini? Apa benar Celestine pengantin aslimu?"
Dillard diam. Rahangnya mengeras sampai otot di pipi bergerak. Celestine manfaatkan keheningan itu. Dia tatap semua orang dengan suara keras.
"Ya! Aku pengantin aslinya! Tapi aku kabur karena Duke Donoughoe merencanakan pernikahan ini untuk balas dendam! Dia tidak cinta siapa pun; dia hanya mau hancurkan keluarga Brieris!"
"Cukup," desis Dillard.
Tapi Celestine tidak berhenti. "Dan adikku… dia dipaksa gantikan aku tanpa tahu apa-apa! Dia tidak tahu pernikahan ini jebakan!"
Semua mata tertuju padaku. Rasanya seperti berdiri telanjang di tengah kerumunan.
"Apa itu benar, Duchess?" tanya seorang wanita bangsawan.
Mulut terbuka; tapi tidak ada suara keluar.
Dillard jawab untukku. "Pernikahan ini sah. Tidak peduli apa alasannya, Juliet istriku sekarang. Dan tidak ada yang bisa ubah itu."
Celestine tertawa pahit. "Sah? Semua orang tahu pernikahan ini penuh tipu muslihat!"
"Cukup, Celestine." Suaraku pelan tapi cukup keras untuk didengar.
Celestine tatap aku dengan mata tidak percaya. "Apa?"
"Sudah terlambat." Aku tegakkan punggung meskipun kaki gemetar. "Aku sudah menikah. Aku Duchess sekarang. Dan aku tidak akan biarkan kau datang dan buat semuanya lebih buruk."
"Juliet, kau tidak mengerti; "
"Aku mengerti!" Aku melangkah maju melewati Dillard. "Aku tahu Dillard menikahiku untuk balas dendam. Aku tahu ini bukan pernikahan berdasar cinta. Tapi itu bukan urusanmu lagi."
Air mata mulai turun di pipi Celestine. "Aku lakukan ini untuk lindungi kau—"
"Tidak." Aku geleng. "Kau lakukan untuk dirimu sendiri. Seperti biasa."
Hening mencekam.
Celestine mundur selangkah. "Kau tidak tahu apa yang kau katakan."
"Aku tahu persis." Suaraku lebih keras. "Dan aku minta kau pergi. Sebelum kau buat semuanya lebih buruk."
Celestine tatap aku lama; seperti mencoba kenali siapa aku sekarang. Lalu dia toleh ke Dillard.
"Kau akan sesali ini," katanya dengan suara dingin. "Suatu hari, kau akan sesali pakai adikku untuk permainanmu."
Dillard tidak jawab. Hanya tatap Celestine dengan mata kosong sampai Celestine akhirnya berbalik dan pergi keluar aula dengan langkah cepat.
Pintu besar tertutup keras.
Semua orang masih menatap kami. Bisikan pelan tapi tajam.
Dillard genggam tanganku kuat. "Pesta selesai. Terima kasih sudah datang."
Tanpa tunggu respons, dia tarik aku keluar dari aula melewati lorong-lorong panjang, sampai kami sampai di kamarnya.
Dia tutup pintu dan lepaskan tanganku. Kami berdiri dalam diam. Napas berat.
"Kenapa kau bela aku?" tanya Dillard tiba-tiba.
Aku toleh. "Apa?"
"Di depan semua orang. Kenapa kau bela aku? Padahal kau tahu aku menikahimu untuk balas dendam."
Aku tidak punya jawaban jelas. Bahkan aku sendiri tidak mengerti.
"Karena..." Napas dalam. "Meskipun kau benci aku, kau tidak pernah sakiti aku. Kau tidak pernah kasar. Dan entah kenapa... aku rasa kau tidak seburuk yang orang bilang."
Dillard tatap aku dengan tatapan aneh, campuran antara terkejut dan sesuatu yang lebih lembut.
"Kau terlalu naif, Juliet."
"Mungkin." Aku senyum pahit. "Tapi setidaknya aku masih punya harapan."
Dillard diam lama. Lalu dia melangkah mendekat dengan lambat. Setiap langkah membuat jantung berdebar lebih keras.
"Harapan untuk apa?"
Dia berhenti tepat di depanku. Tingginya paksa aku mendongak. Leher tegang.
"Harapan bahwa suatu hari..." Suara serak. "Kau akan lihat aku bukan sebagai propertimu. Tapi sebagai... istrimu yang sebenarnya."
Dillard tidak jawab. Tapi tangannya terangkat perlahan. Menyentuh pipiku dengan lembut.
"Kau buat aku bingung, Juliet." Bisiknya. Suara dalam. Serak. "Aku sudah rencanakan semuanya. Tapi kau..."
Jarinya bergerak ke rahang; menyusur garis dengan ibu jari. Napas tercekat. Jantung berpacu kencang. "Kau buat semuanya jadi rumit."
Lalu dia cium aku.
Keras. Lapar. Seperti dia sudah menahan terlalu lama. Bibirnya menekan bibirku; panas, basah. Tangannya melingkar di pinggangku, menarik tubuhku menempel ke dadanya.
Aku tersentak; tapi tubuh tidak mau menjauh. Malah tanganku terangkat, mencengkeram kemeja di dadanya dan menghentakkannya terbuka. Kancing berjatuhan.
Dillard geram pelan, tidak menyangka aku akan melakukan itu. Suara engahannya rendah di tenggorokan. Ia tampak… menyukai perbuatanku. Ia suka tanganku menyusuri kulit dadanya yang telanjang. Tangannya bergerak ke belakang kepala, menarik jepit rambut hingga rambut jatuh lepas.
Jari-jarinya tenggelam di rambut; menarik pelan, membuat kepalaku mendongak lebih dalam dalam ciuman kami.
Ciumannya semakin dalam. Liar. Lidahnya menyapu bibir bawahku, melalang, meminta akses.
Mulutku terbuka tanpa sadar.
Lidahnya masuk, hangat, basah, agresif. Menjelajah setiap sudut mulut dengan gerakan yang membuat lutut lemas.
“Ungh…,”
Tangan di pinggangku turun; menyusur lekuk tubuh, berhenti di pinggul. Kencang meremas bokong. Menarik tubuhku lebih dekat hingga tidak ada jarak sama sekali.
Aku bisa rasakan keras tubuhnya. Otot dada yang tegang. Detak jantung yang cepat. Napas bercampur; panas, berat.
Tiba-tiba dia lepaskan ciuman itu. Napas terengah. Dahi bersandar di dahiku.
"Ini kesalahan," bisiknya. Tapi matanya bilang sesuatu yang berbeda. Tangannya masih di pinggangku, tidak mau lepas.
"Dillard..."
Ketukan keras di pintu membuat kami berdua tersentak.
"Duke! Ada masalah besar!"
Dillard melepaskan aku dengan cepat. Buka pintu dengan wajah keras.
"Apa?"
Pelayan terlihat panik. "Keluarga Brieris kirim surat resmi ke pengadilan kerajaan. Mereka tuntut pembatalan pernikahan dengan alasan penipuan dan pemaksaan!"
Pagi datang terlalu cepat. Cahaya pucat masuk lewat celah tirai tebal, membangunkan aku dari tidur yang tidak nyenyak. Aku bahkan tidak yakin aku benar-benar tidur. Setiap kali mata terpejam, yang terlihat adalah wajah Carmen. Senyumnya yang mengejek. Kata-katanya yang menusuk."Dia menikahimu bukan karena cinta."Tentu saja aku tahu itu.Aku menatap langit-langit kamar. Ukiran rumit di kayunya terlihat seperti pola tak berujung. Seperti pikiranku. Berputar tanpa arah jelas.Kamar terkunci. Rahasia Dillard. Peringatan Lincoln."Jangan pernah buka pintu itu."Ketukan keras di pintu membuatku tersentak."Duchess, sarapan sudah siap."Suara pelayan terdengar dari luar. Sopan tapi datar. Tanpa kehangatan yang biasanya ada saat berbicara dengan atasan.Aku bangkit dari tempat tidur dengan tubuh yang terasa berat. Kepala berdenyut sakit. Mata perih—bekas menahan air mata semalam. Tapi aku tidak menangis. Aku tidak boleh menangis.Duchess tidak boleh terlihat lemah.Aku berjalan ke cermin b
Aku berdiri di balkon sendirian. Jari masih menyentuh bibir. Hampir. Kami hampir berciuman sebelum pelayan datang dengan berita serangan. Dillard sudah pergi, meninggalkan aku dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan.Angin malam menusuk kulit telanjang punggangku. Gaun hijau zamrud yang tadi terasa indah sekarang hanya terasa dingin. Aku memeluk diri sendiri, mencoba menghangatkan tubuh yang menggigil—tapi bukan karena cuaca. Ada yang salah di dadaku. Kosong. Seperti ada yang hilang.Musik masih terdengar dari dalam. Tawa. Gelas beradu. Pesta terus berlanjut seolah tidak ada yang terjadi. Seolah Duke tidak baru saja pergi meninggalkan istrinya sendirian di acara besar pertama mereka sebagai pasangan.Aku harus kembali. Aku tahu itu. Para tamu pasti sudah memperhatikan ketidakhadiran kami. Mereka pasti sudah berbisik. Bertanya-tanya. Membuat asumsi.Aku tarik napas dalam. Tegakkan bahu. Angkat dagu. Seperti yang Dillard ajarkan. Seperti yang Madame Jourdain latih berk
Seluruh aula terdiam.Celestine berdiri dengan napas terengah; seperti baru berlari jauh. Gaun perjalanannya basah, berlumpur di bagian bawah. Rambut lepas dari jepit, jatuh berantakan di bahu.Tapi matanya… matanya menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.Penyesalan."Juliet..." Suaranya pecah. "Maafkan aku. Aku datang untuk bawa kau pulang."Bisikan keras meledak di seluruh ruangan. Dillard melangkah ke depanku; menghalangi. Tubuhnya tegang seperti siap menyerang."Kau tidak punya hak datang ke sini.""Aku punya hak." Celestine angkat dagu. "Karena seharusnya aku yang menikah denganmu. Bukan adikku."Bisikan semakin keras. Mata-mata tajam menatap kami bertiga.Lord Harrigan melangkah maju. "Duke Donoughoe, apa maksudnya ini? Apa benar Celestine pengantin aslimu?"Dillard diam. Rahangnya mengeras sampai otot di pipi bergerak. Celestine manfaatkan keheningan itu. Dia tatap semua orang dengan suara keras."Ya! Aku pengantin aslinya! Tapi aku kabur karena Duke Dono
Malam pesta tiba dengan cepat. Madame Jourdain memasangkan korset terlalu ketat. Aku hampir tidak bisa bernapas. Gaun merah marun dengan rok mengembang lebar—berat, menekan bahu. Rasanya mau pingsan."Angkat dagumu, Juliet. Kau Duchess."Tapi aku tidak merasa seperti Duchess. Aku merasa seperti boneka yang didandani untuk dipamerkan. Perhiasan berlian dingin di leher. Rambut ditarik ketat ke atas, terasa sakit menarik kulit kepala."Sempurna." Madame Jourdain tersenyum tipis. "Ingat—jangan gugup. Jangan tunjukkan kelemahan."Ketukan di pintu.Dillard masuk.Setelan hitam formal dengan jas berekor. Kemeja putih rapi. Dasi kupu-kupu hitam. Rambut disisir sempurna ke belakang—mempertegas rahang keras dan tulang pipi tajam.Matanya menyapu tubuhku dari atas ke bawah. Lambat. Teliti. Berhenti sebentar di leher. Di belahan dada yang terbuka. Turun ke pinggang yang ditekan korset.Napasnya tampak tercekat. Apakah ia terpesona melihatku?Dadaku ikut sesak. Bukan karena korset. Tapi karena car
Ruang makan keluarga Brieris sepi. Hanya ada tiga orang—Ayah di ujung meja, Ibu di samping, dan Celestine berdiri di depan perapian.Lilin-lilin menyala redup. Bayangan bergerak di dinding."Jadi kau yakin dengan ini?" tanya Ayah. Suaranya rendah.Celestine berbalik. Matanya berbinar. "Sangat yakin."Ibu meletakkan cangkir teh. "Tapi Celestine, kau yang kabur. Kau yang meninggalkan Duke Dillard.""Aku tahu." Celestine duduk dengan punggung tegak. "Dan itu kesalahanku. Aku tidak tahu Duke Dillard seberharga itu."Ayah mengerutkan dahi. "Maksudmu?""Kastilnya, tanahnya, kekuasaannya." Celestine tersenyum tipis. "Aku dengar dia sudah kembali ke posisi teratas di wilayah utara. Bahkan kerajaan mulai mengandalkannya lagi."Ibu menghela napas. "Jadi kau mau dia hanya karena kekuasaan?""Bukan hanya itu." Celestine berdiri, berjalan pelan mengelilingi meja. "Tapi juga karena aku pantas jadi Duchess. Bukan Juliet."Ayah menggebrak meja pelan. "Tapi Juliet sudah sah jadi istrinya!""Pernikahan
Bab 3Malam datang dengan angin dingin. Aku duduk di tepi tempat tidur, memeluk lutut. Tubuhku masih terasa panas; terutama di tempat Dillard menyentuhku tadi sore.Cara dia menatapku. Cara tangannya mengencang di pinggangku. Cara napasnya menyapu wajahku. Lalu tiba-tiba dia pergi; seolah menyentuhku adalah kesalahan besar.Kenapa? Apa yang salah?Ketukan pelan di pintu."Duchess?"Aku buka pintu. Pelayan muda berdiri di sana dengan amplop putih."Ada surat untuk Anda."Amplop dengan stempel keluarga Brieris. Jantung langsung berdegup cepat. Aku ambil surat itu dengan tangan gemetar. Menutup pintu. Membuka amplop perlahan.Tulisan tangan Celestine.Juliet,Maafkan aku. Aku tahu ini tidak adil. Tapi aku tidak punya pilihan.Dillard Donoughoe bukan orang baik. Dia menikahimu untuk balas dendam. Ayah dulu menghancurkan keluarganya; mengambil tanah mereka, merusak nama baik mereka. Ibunya meninggal karena itu.Dillard tidak akan pernah melupakan itu. Dia akan menghancurkanmu, Juliet.Kabu







