Beranda / Zaman Kuno / Pengantin Pengganti Duke Dillard / 4. “Kau Duchess Donoughoe. “

Share

4. “Kau Duchess Donoughoe. “

Penulis: TIZZZ
last update Tanggal publikasi: 2026-02-04 18:01:33

Sore harinya, empat pelayan datang membawa kotak-kotak besar berbalut kain beludru.

"Gaun untuk pesta, Duchess."

Mereka membuka kotak. Satu per satu gaun dikeluarkan dengan hati-hati, ditata di atas sofa panjang.

Biru laut dengan sulaman mutiara di bagian dada. Hijau zamrud dengan renda halus di pinggang. Ungu tua dengan ekor panjang yang menyeret di lantai. Semuanya indah. Mewah. Mahal. Bukan untukku.

"Yang mana yang Duchess sukai?"

Aku menunjuk yang biru laut. Paling sederhana. Paling tidak mencolok.

Namun pelayan lain lekas memotong?

"Maaf, Duchess. Duke Dillard sudah memilih yang ini."

Pelayan mengangkat gaun hijau zamrud. Korset ketat dengan punggung terbuka sampai hampir ke pinggang.

Rok mengembang dengan layer-layer kain sutra yang berkilau. Kerah tinggi dengan detail bordir emas di sepanjang tulang selangka.

Gaun yang dirancang untuk menarik perhatian, bukan menyembunyikannya.

Jantungku berdebar.

"Terlalu... mencolok."

"Ini pilihan Duke, Duchess."

Tentu saja. Dia ingin aku terlihat seperti Duchess sejati. Seperti Celestine. Seperti seseorang yang tidak akan pernah bisa kucontoh.

*

Malam harinya, aku tidak bisa tidur. Pesta besok. Ratusan bangsawan. Semua mata akan menatapku. Menilai. Berbisik. "Itu pengganti Celestine. Yang kabur dengan lelaki rendahan. Sekarang Duke terpaksa menikahi adiknya yang tidak pantas."

Aku bangun, berjalan ke jendela. Bulan purnama menerangi hutan gelap di belakang kastil. Pepohonan tinggi bergoyang ditiup angin malam yang dingin.

Tiba-tiba pintu terbuka.

Dillard masuk tanpa ketukan. Lagi.

"Kau belum tidur?"

Aku berbalik cepat. Dia memakai kemeja hitam longgar, celana tidur.

Rambut basah, baru selesai mandi. Ruangan tiba-tiba terasa lebih sempit.

"Aku... tidak bisa tidur."

Dia melangkah mendekat. Berhenti di sampingku, menatap ke luar jendela. Kami berdiri dalam diam. Jarak hanya sejengkal. Aku bisa merasakan panas dari tubuhnya, bisa mendengar napasnya yang teratur.

"Takut?"

Aku mengangguk pelan.

"Bagus."

Aku menoleh, menatapnya bingung.

"Rasa takut membuatmu waspada. Membuatmu tidak lengah." Dia akhirnya menatapku. Mata abu-abunya lebih gelap di bawah cahaya bulan. "Besok akan banyak orang yang ingin melihatmu gagal. Ingin melihat Duchess Donoughoe yang lemah. Yang tidak seperti kakakmu."

Kakakmu. Bukan Celestine. Seperti dia sudah tidak ingin menyebut namanya lagi.

"Aku memang lemah."

"Maka berpura-puralah kuat." Suaranya keras, tidak ada ruang untuk bantahan. "Di depan mereka, kau bukan Juliet yang takut. Kau Duchess Donoughoe. Istriku."

Istriku. Kata itu terdengar asing. Seperti bahasa yang tidak kupahami.

"Bagaimana caranya?"

"Tegakkan bahu. Angkat dagu. Tatap mata mereka tanpa berkedip." Dia berbalik menghadapku sepenuhnya. "Dan ingat, kau punya nama Donoughoe sekarang. Itu lebih kuat dari apapun yang mereka miliki."

Jari panjangnya tiba-tiba menyentuh daguku, mengangkatnya perlahan. Sama seperti malam pertama. Tapi kali ini lebih lembut. Tidak dingin. Tidak kasar.

"Kau bisa melakukan ini."

Napas tercekat. Jantung berpacu kencang sampai terasa di telinga.

Dia melepaskan daguku, melangkah mundur. Kehangatan di wajahku menghilang.

"Tidur. Besok akan sangat panjang."

Lalu dia pergi. Pintu tertutup pelan.

Aku berdiri di sana, sendirian lagi, dengan jantung yang masih berdetak terlalu cepat dan tangan yang gemetar.

Entah karena takut menghadapi pesta besok, atau karena sentuhan Dillard yang masih terasa di daguku.

*

Gaun hijau pas sempurna di tubuhku. Terlalu sempurna.

Korset menekan tulang rusuk sampai napas terasa pendek, tapi kali ini tidak seketat gaun pengantin yang kemarin hampir membuatku pingsan.

Rok mengembang lebar dengan lapisan-lapisan kain sutra yang berat, menutupi kaki hingga menyapu lantai.

Punggung terbuka memperlihatkan kulit putih pucat yang jarang kena matahari.

"Duchess sangat cantik."

Pelayan mengepang rambutku dengan telaten, beberapa helai dibiarkan jatuh di sisi wajah untuk membingkai pipi.

Mahkota kecil—simbol Duchess Donoughoe yang terbuat dari emas putih dengan ukiran rumit—dipasang di puncak kepala. Berat. Asing. Seperti memakai mahkota orang lain. Mahkota Celestine.

"Duke sudah menunggu di bawah."

Aku turun tangga pelan-pelan. Setiap langkah seperti berjalan menuju hukuman mati.

Tangan kanan mencengkeram pegangan tangga erat sampai buku-buku jari memutih.

Tangan kiri sedikit mengangkat rok agar tidak tersandung.

Madame Jourdain bilang Duchess yang baik tidak pernah tersandung gaun sendiri.

Di bawah, Dillard berdiri di tengah hall besar. Setelan hitam sempurna dengan rompi abu-abu gelap yang pas di tubuhnya.

Rambut disisir rapi ke belakang, garis rahang terlihat jelas.

Dia tampak... tampan sekali. Seperti pangeran dari buku dongeng yang dulu Celestine bacakan untukku.

Matanya terangkat saat mendengar langkah kakiku di tangga marmer.

Dan untuk pertama kali, aku melihat ekspresi berbeda di wajahnya.

Kaget.

Matanya menelusuri tubuhku dari atas ke bawah. Berhenti di mahkota. Turun ke gaun hijau. Berhenti lama di bahu terbuka. Kembali ke wajah. Rahangnya mengeras, otot di pipi berkedut. Ada sesuatu di matanya, sesuatu yang membuat dadaku sesak.

Aku sampai di hadapannya. Jantung berdebar keras sampai terdengar di telinga sendiri.

"Kau..." Suaranya serak. Dia berdehem, memalingkan wajah sebentar. "Bagus."

Hanya itu?

Dia mengulurkan lengan tanpa menatapku lagi. "Ayo."

Aku taruh tanganku di lengannya. Otot keras di bawah kain setelan, hangat meskipun ada kain yang memisahkan kulit kami.

Kami berjalan ke ruang ballroom yang pintunya sudah terbuka.

Musik sudah terdengar dari dalam—biola, cello, harpa. Suara orang-orang ngobrol. Ketawa. Gelas beradu.

"Ingat yang kubilang," bisik Dillard, suaranya rendah di dekat telingaku. "Kau Duchess Donoughoe. Jangan menunduk. Jangan tampak meminta maaf."

Pintu besar terbuka lebar.

"Duke Dillard Donoughoe dan Duchess Juliet Donoughoe!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) 145. Logika Yang Buruk

    Dillard tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap tanganku yang meremas jemarinya. Bahunya yang tegap tampak turun satu inci, tanda bahwa ketegangan dalam dirinya sedikit mengendur, meski rahangnya masih mengeras. Pria ini selalu mengukur segala hal dengan hasil nyata—pedang yang menebas, dokumen yang ditandatangani, atau wilayah yang dikuasai. Baginya, kehadiran fisik tanpa solusi medis adalah bentuk kegagalan."Logika yang buruk," gumamnya, meski ia tidak menarik tangannya. "Istana ini telah membuat standar keamananmu menjadi terlalu rendah.""Bukan istana," koreksiku, ibu jariku bergerak perlahan di atas kulit punggung tangannya yang kasar oleh bekas kapalan pedang. "Tapi hidupku sebelum ini."Dillard terdiam. Ia tahu persis apa yang kumaksud. Ia tahu tentang tahun-tahun yang kuhabiskan dengan berjalan di atas telur, tentang bagaimana setiap rasa sakit yang kutunjukkan di masa lalu hanya akan dianggap sebagai kelemahan yang siap dieksploitasi oleh ayahku sendiri. Di dunia itu,

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) 144. Cukup

    Begitu kami berhasil keluar ke koridor, Dillard langsung bergerak cepat. Ia membimbingku masuk ke dalam sebuah bilik kecil di samping aula. Bilik itu biasanya digunakan untuk menyimpan barang atau tempat istirahat pengawal. Begitu kami masuk, Dillard langsung menutup pintu kayu itu dengan rapat. "Mual?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Matanya menatapku dengan penuh kecemasan yang tertahan. "Hanya sebentar," jawabku sambil memegangi perutku yang bergejolak. "Ini akan segera lewat." "Duduk," perintah Dillard dengan tegas. "Aku tidak apa-apa, Dillard. Aku bisa berdiri—" "Duduk, Juliet," potongnya lagi. Kali ini suaranya melembut, namun tetap tidak menerima bantahan. Aku akhirnya menyerah pada perintahnya. Aku melangkah dan duduk di atas sebuah kursi kayu kecil di sudut ruangan. Aku menyandarkan kepala belakangku ke dinding tembok yang dingin. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengambil napas dalam-dalam secara perlahan. Aku berusaha menenangkan detak jantungku yang berp

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) 143. Gelombang Mual

    Ini benar-benar tidak direncanakan. Kejadian ini sama sekali di luar kendaliku. Rapat dewan pagi itu baru saja berjalan sekitar setengah jam. Suasana di dalam aula utama terasa begitu formal dan kaku. Semua orang tampak tegang. Tiba-tiba saja, aku merasakan sebuah gelombang mual yang luar biasa hebat. Rasa mual itu muncul dari dasar perutku. Efeknya jauh lebih buruk daripada yang biasa kurasakan beberapa hari terakhir. Mungkin ini terjadi karena waktu tidurku yang sedikit kurang semalam. Atau, mungkin juga karena aku melewatkan jadwal sarapan pagi ini. Perutku yang kosong tidak bisa berkompromi dengan ketegangan di dalam ruangan. Aku mencoba sekuat tenaga untuk menahannya. Aku menarik napas dalam-dalam secara sembunyi-sembunyi. Aku memaksa mataku untuk tetap fokus pada catatan di depanku. Jemariku meremas pena bulu dengan erat. Aku berusaha mengabaikan keringat dingin yang mulai terbit di tengkukku. Namun, usaha itu sia-sia. Gelombang mual kedua datang melanda dengan jau

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) 142. Batas Jam Malam

    Hari-hari di dalam istana berjalan dengan sangat cepat dan melelahkan. Atmosfer di sekitar kami terasa begitu padat dan menyesakkan. Agenda harian kami selalu dipenuhi oleh rapat dewan yang panjang. Tumpukan laporan intelijen dari perbatasan terus datang silih berganti. Setiap sore, kami harus melakukan analisis mendalam mengenai pergerakan musuh. Belum lagi perencanaan taktik politik yang menguras banyak energi. Kepala rasanya mau pecah setiap kali melihat tumpukan kertas di atas meja kerja.Namun, ada satu hal yang berbeda dari Dillard. Ada satu rutinitas baru yang selalu ia lakukan tanpa gagal. Ia melakukannya dengan sangat disiplin dan konsisten setiap malam.Tepat pada pukul sembilan malam, apa pun yang sedang terjadi, Dillard akan berhenti. Ia tidak peduli seberapa genting situasi politik saat itu. Ia tidak peduli jika ada kurir yang baru saja datang membawa pesan. Pria itu akan langsung menutup semua dokumen di atas mejanya dengan bunyi kecipak yang khas. Setelah itu, ia berdiri

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2)141. Rahasia Paling Rapuh Saat Ini

    Aku menundukkan kepala sejenak. Aku mengalihkan pandangan dari ketegangan di antara kedua pria itu. Mataku tertuju pada lembaran catatan di tanganku. Catatan itu kubuat dengan tergesa-gesa selama rapat dewan tadi.Jari-jariku meraba permukaan kertas yang agak kasar. Di sepanjang pinggiran halaman yang buram, aku telah mencoret-coret beberapa nama bangsawan tinggi.Aku menghubungkan satu nama dengan nama lainnya. Garis-garis tipis yang saling silang membentuk sebuah peta labirin yang rumit.Itu adalah peta dari ambisi rahasia mereka."Mungkin saya bisa meminta izin untuk melihat daftar hadir seluruh acara sosial di istana?" kataku memecah keheningan. "Khususnya untuk dua bulan terakhir."Kalimatku langsung mengalihkan perhatian dari perdebatan buntu mereka. Ruangan yang sempat membeku itu mendadak sunyi.Kedua pria itu seketika menghentikan argumen mereka. Theodore dan Dillard berbalik secara bersamaan. Sepasang mata mereka tertuju lurus ke arahku.Ruang tunggu kecil yang temaram itu

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   (S2) Bab 140. Hanyalah Sebuah Bidak

    Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa di atas lantai marmer koridor yang dingin itu bergaung, memecah kesunyian yang sempat tercipta sesaat setelah aula rapat utama dikosongkan. Theodore muncul dari belokan koridor dengan jubah resminya yang sedikit berkibar, seolah-olah mempertegas ketegangan dan atmosfer berat yang dibawanya keluar dari ruangan tadi. Ia melangkah cepat, langsung memotong jalur berjalan kami yang searah, memaksa Dillard untuk menghentikan langkahnya secara mendadak.Secara otomatis, aku segera mengambil posisi setengah langkah di belakang Dillard. Berdiri tepat di sampingnya, namun tetap menjaga jarak formal yang semestinya—sebuah posisi yang belakangan ini seakan-akan telah menjadi tempat permanen dan tak tergantikan bagiku sejak badai politik di dalam istana ini mulai memanas dan mengancam kami semua.Theodore tidak langsung membuka suara. Tatapannya bergerak dinamis dan penuh selidik. Sepasang matanya yang tajam itu melirik ke arahku, beralih pada Dillard

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   7. Sendirian

    Aku berdiri di balkon sendirian. Jari masih menyentuh bibir. Hampir. Kami hampir berciuman sebelum pelayan datang dengan berita serangan. Dillard sudah pergi, meninggalkan aku dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan. Angin malam menusuk kulit telanjang punggangku. Gaun hijau zamrud

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   6. Masalah di Perbatasan Utara

    Aku angguk. Alice bawa aku ke sudut ruangan, jauh dari keramaian dan musik yang mulai ramai lagi. Dia cantik—mata hijau terang, kulit putih bersih, bibir merah sempurna. Seperti boneka porselen yang mahal. "Saya cuma mau sapa," katanya dengan senyum hangat yang tidak sampai ke mata. "Pasti berat, y

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   5. Marquess Lincoln Cooper

    Semua orang diam. Menatap. Ratusan pasang mata tertuju pada kami seperti panah yang siap ditembakkan. Kakiku ingin mundur. Ingin lari kembali ke kamar dan sembunyi di bawah selimut. Tapi tangan Dillard memegang tanganku erat, jari-jarinya menekan ke kulitku. Menahan aku di tempat. Kami turun tangg

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   3. Hari ini lebih buruk dari kemarin.

    Pagi hari setelah pelajaran dansa, aku terbangun dengan tubuh pegal. Setiap otot protes ketika aku mencoba duduk. Bahu kaku, pinggang nyeri seperti habis dipukul. Tapi yang lebih menyiksa adalah ingatan tentang kehangatan tangan Dillard di pinggangku. Cara matanya menatapku—bukan dengan kemarahan a

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status