Share

4

Author: TIZZZ
last update Last Updated: 2026-02-04 18:01:33

Ruang makan keluarga Brieris sepi. Hanya ada tiga orang—Ayah di ujung meja, Ibu di samping, dan Celestine berdiri di depan perapian.

Lilin-lilin menyala redup. Bayangan bergerak di dinding.

"Jadi kau yakin dengan ini?" tanya Ayah. Suaranya rendah.

Celestine berbalik. Matanya berbinar. "Sangat yakin."

Ibu meletakkan cangkir teh. "Tapi Celestine, kau yang kabur. Kau yang meninggalkan Duke Dillard."

"Aku tahu." Celestine duduk dengan punggung tegak. "Dan itu kesalahanku. Aku tidak tahu Duke Dillard seberharga itu."

Ayah mengerutkan dahi. "Maksudmu?"

"Kastilnya, tanahnya, kekuasaannya." Celestine tersenyum tipis. "Aku dengar dia sudah kembali ke posisi teratas di wilayah utara. Bahkan kerajaan mulai mengandalkannya lagi."

Ibu menghela napas. "Jadi kau mau dia hanya karena kekuasaan?"

"Bukan hanya itu." Celestine berdiri, berjalan pelan mengelilingi meja. "Tapi juga karena aku pantas jadi Duchess. Bukan Juliet."

Ayah menggebrak meja pelan. "Tapi Juliet sudah sah jadi istrinya!"

"Pernikahan bisa dibatalkan." Celestine berhenti di belakang kursi Ayah. Tangannya menyentuh sandaran kursi. "Dengan alasan yang tepat."

Ibu menatapnya tajam. "Alasan apa?"

Celestine tersenyum—dingin. "Penipuan. Pemaksaan. Kita punya bukti bahwa Duke Dillard memaksa Juliet menikah tanpa persetujuan penuh."

"Tapi itu tidak benar—"

"Tidak perlu benar, Ibu." Celestine memotong. "Hanya perlu terdengar meyakinkan di pengadilan."

Ayah menggeleng. "Ini berbahaya, Celestine. Duke Dillard bukan orang yang bisa dimainkan."

"Justru itu kenapa kita harus cepat." Celestine kembali ke posisinya di depan perapian. "Sebelum dia terlalu terikat dengan Juliet."

Ibu menatap Celestine dengan tatapan khawatir. "Kau yakin dia mau menerimamu lagi? Setelah kau kabur?"

Celestine mengangkat dagu. "Dia akan terima. Karena aku pengantin asli. Akulah yang seharusnya ada di sampingnya dan dia memang butuh pengantin untuk menutupi skandal keluarganya."

"Dan Juliet?" tanya Ibu pelan.

Celestine diam sebentar. "Juliet akan pulang. Kembali ke posisi yang seharusnya—bayangan."

Ayah menghela napas panjang. "Aku tidak suka ini."

"Ayah tidak perlu suka." Celestine berjalan mendekat. "Ayah hanya perlu dukung aku. Seperti dulu."

Ayah menatap putrinya lama. "Seperti dulu..."

"Ya." Celestine berlutut di samping kursi Ayah. Memegang tangannya. "Dulu Ayah bilang keluarga Dillard harus hancur. Dulu Ayah yang ambil tanah mereka, rusak nama baik mereka."

Ayah menarik tangannya kasar. "Dan itu kesalahan terbesar hidupku!"

"Bukan kesalahan." Celestine berdiri. "Itu strategi. Dan sekarang kita punya kesempatan kedua."

Ibu ikut berdiri. "Kesempatan kedua untuk apa?"

"Untuk menguasai kekayaan Dillard sepenuhnya." Celestine berbalik menatap kedua orangtuanya. "Kalau aku jadi Duchess, semua yang dimiliki Duke Dillard jadi milik kita juga. Kita bisa kembalikan kejayaan keluarga Brieris."

Ayah diam lama. Jari-jarinya mengetuk meja—pelan, berirama.

"Kau sudah kirim surat ke pengadilan?" tanyanya akhirnya.

Celestine tersenyum lebar. "Sudah. Atas nama Ayah sebagai kepala keluarga."

Ayah menutup mata. "Kau selalu bertindak duluan."

"Karena kalau aku tunggu, kesempatan akan hilang."

Ibu duduk lagi dengan wajah pucat. "Dan kalau Duke Dillard marah?"

"Dia akan marah." Celestine mengakui. "Tapi dia tidak bisa lawan hukum kerajaan. Dan aku punya saksi yang bisa buktikan Juliet tidak pantas jadi Duchess."

"Saksi siapa?" tanya Ayah.

"Pelayan-pelayan di kastil Thornwick." Celestine berjalan ke jendela. "Aku sudah hubungi beberapa. Mereka setuju bersaksi dengan bayaran yang cukup."

Ayah menggeleng lagi. "Ini terlalu berbahaya."

"Atau terlalu sempurna." Celestine berbalik. Matanya penuh tekad. "Ayah, percaya padaku. Aku bisa dapat Duke Dillard. Dan kita bisa hancurkan keluarga Dillard—untuk kedua kalinya."

Ibu menatap suaminya. "Edmund... apa kita benar-benar akan lakukan ini?"

Ayah diam lama. Sangat lama.

Lalu dia berdiri. Berjalan ke rak buku di sudut ruangan. Mengambil dokumen tebal.

"Ini semua bukti kepemilikan tanah yang dulu aku ambil dari keluarga Dillard." Dia letakkan dokumen di meja. "Kalau kau benar-benar mau lakukan ini, kau harus tahu risikonya."

Celestine membuka dokumen. Membaca cepat.

"Apa risikonya?"

"Duke Dillard punya hak penuh menuntut balik." Ayah menunjuk salah satu halaman. "Kalau dia buktikan aku ambil tanahnya secara ilegal, dia bisa ambil semua kekayaan kita."

Celestine menutup dokumen. "Maka aku harus jadi istrinya sebelum itu terjadi."

Ibu berdiri cepat. "Celestine, ini gila—"

"Ini brilian." Celestine tersenyum. "Kalau aku jadi istrinya, semua aset keluarga kita dan keluarganya jadi satu. Dia tidak bisa tuntut kita tanpa rugikan dirinya sendiri."

Ayah menatap putrinya dengan tatapan campur aduk—kagum dan takut. "Kau sudah pikirkan semuanya."

"Tentu saja." Celestine melipat tangan di dada. "Aku sudah pikirkan ini sejak aku dengar Juliet yang gantikan aku."

"Kenapa tidak dari awal saja?" tanya Ibu. "Kenapa kau kabur kalau memang mau Duke Dillard?"

Celestine diam sebentar. "Karena awalnya aku takut. Aku dengar dia dingin, kejam, tidak punya hati. Tapi setelah lihat bagaimana dia perlakukan Juliet..."

Dia tersenyum lagi—lebih lembut kali ini.

"Aku tahu dia sebenarnya tidak seburuk itu. Dan pria dengan kekuasaan seperti itu... sayang kalau dilewatkan."

Ayah duduk lagi. Mengusap wajah dengan lelah. "Dan kalau Juliet tidak mau lepas?"

"Juliet tidak punya pilihan." Celestine berjalan ke pintu. "Dia tidak pernah punya pilihan. Seperti biasa."

Ibu menatap punggung putrinya. "Kau tidak kasihan padanya?"

Celestine berhenti di ambang pintu. Tidak menoleh.

"Kasihan tidak akan kembalikan posisi kita, Ibu."

Lalu dia pergi. Meninggalkan Ayah dan Ibu dalam diam.

Ibu menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. "Kita menciptakan monster."

Ayah tidak menjawab. Hanya menatap dokumen di meja dengan wajah kosong.

Di luar jendela, langit mulai gelap. Badai akan datang.

Di Kamar Celestine

Celestine menutup pintu kamarnya. Berjalan ke cermin besar di sudut ruangan.

Menatap pantulan dirinya—rambut pirang panjang, mata biru, wajah cantik yang selalu dipuji semua orang.

"Aku yang seharusnya jadi Duchess," bisiknya pada bayangan. "Bukan Juliet."

Dia buka laci meja rias. Mengambil miniatur lukisan—Duke Dillard saat upacara pelantikan tahun lalu. Wajah tampan dengan mata abu-abu tajam. Rahang keras. Postur sempurna.

Jari Celestine menyusuri lukisan itu.

"Kau akan jadi milikku," bisiknya lagi. "Aku akan pastikan itu."

Ketukan di pintu membuat dia menyembunyikan lukisan cepat. "Masuk."

Pelayan masuk dengan surat. "Nona, ada balasan dari pengadilan."

Celestine merebut surat itu. Membuka cepat.

Membaca dengan mata bergerak cepat.

Lalu tersenyum lebar.

"Sidang pertama minggu depan." Dia menatap pelayan. "Siapkan gaun terbaikku. Aku harus terlihat sempurna."

Pelayan membungkuk dan pergi.

Celestine kembali ke cermin. Menatap pantulannya dengan mata berbinar.

"Bersiaplah, Juliet," bisiknya. "Posisimu akan segera diambil. Dan Duke Dillard..."

Dia tersenyum—dingin, tajam.

"Akan jadi milikku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   8

    Pagi datang terlalu cepat. Cahaya pucat masuk lewat celah tirai tebal, membangunkan aku dari tidur yang tidak nyenyak. Aku bahkan tidak yakin aku benar-benar tidur. Setiap kali mata terpejam, yang terlihat adalah wajah Carmen. Senyumnya yang mengejek. Kata-katanya yang menusuk."Dia menikahimu bukan karena cinta."Tentu saja aku tahu itu.Aku menatap langit-langit kamar. Ukiran rumit di kayunya terlihat seperti pola tak berujung. Seperti pikiranku. Berputar tanpa arah jelas.Kamar terkunci. Rahasia Dillard. Peringatan Lincoln."Jangan pernah buka pintu itu."Ketukan keras di pintu membuatku tersentak."Duchess, sarapan sudah siap."Suara pelayan terdengar dari luar. Sopan tapi datar. Tanpa kehangatan yang biasanya ada saat berbicara dengan atasan.Aku bangkit dari tempat tidur dengan tubuh yang terasa berat. Kepala berdenyut sakit. Mata perih—bekas menahan air mata semalam. Tapi aku tidak menangis. Aku tidak boleh menangis.Duchess tidak boleh terlihat lemah.Aku berjalan ke cermin b

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   7

    Aku berdiri di balkon sendirian. Jari masih menyentuh bibir. Hampir. Kami hampir berciuman sebelum pelayan datang dengan berita serangan. Dillard sudah pergi, meninggalkan aku dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan.Angin malam menusuk kulit telanjang punggangku. Gaun hijau zamrud yang tadi terasa indah sekarang hanya terasa dingin. Aku memeluk diri sendiri, mencoba menghangatkan tubuh yang menggigil—tapi bukan karena cuaca. Ada yang salah di dadaku. Kosong. Seperti ada yang hilang.Musik masih terdengar dari dalam. Tawa. Gelas beradu. Pesta terus berlanjut seolah tidak ada yang terjadi. Seolah Duke tidak baru saja pergi meninggalkan istrinya sendirian di acara besar pertama mereka sebagai pasangan.Aku harus kembali. Aku tahu itu. Para tamu pasti sudah memperhatikan ketidakhadiran kami. Mereka pasti sudah berbisik. Bertanya-tanya. Membuat asumsi.Aku tarik napas dalam. Tegakkan bahu. Angkat dagu. Seperti yang Dillard ajarkan. Seperti yang Madame Jourdain latih berk

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   6

    Seluruh aula terdiam.Celestine berdiri dengan napas terengah; seperti baru berlari jauh. Gaun perjalanannya basah, berlumpur di bagian bawah. Rambut lepas dari jepit, jatuh berantakan di bahu.Tapi matanya… matanya menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.Penyesalan."Juliet..." Suaranya pecah. "Maafkan aku. Aku datang untuk bawa kau pulang."Bisikan keras meledak di seluruh ruangan. Dillard melangkah ke depanku; menghalangi. Tubuhnya tegang seperti siap menyerang."Kau tidak punya hak datang ke sini.""Aku punya hak." Celestine angkat dagu. "Karena seharusnya aku yang menikah denganmu. Bukan adikku."Bisikan semakin keras. Mata-mata tajam menatap kami bertiga.Lord Harrigan melangkah maju. "Duke Donoughoe, apa maksudnya ini? Apa benar Celestine pengantin aslimu?"Dillard diam. Rahangnya mengeras sampai otot di pipi bergerak. Celestine manfaatkan keheningan itu. Dia tatap semua orang dengan suara keras."Ya! Aku pengantin aslinya! Tapi aku kabur karena Duke Dono

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   5

    Malam pesta tiba dengan cepat. Madame Jourdain memasangkan korset terlalu ketat. Aku hampir tidak bisa bernapas. Gaun merah marun dengan rok mengembang lebar—berat, menekan bahu. Rasanya mau pingsan."Angkat dagumu, Juliet. Kau Duchess."Tapi aku tidak merasa seperti Duchess. Aku merasa seperti boneka yang didandani untuk dipamerkan. Perhiasan berlian dingin di leher. Rambut ditarik ketat ke atas, terasa sakit menarik kulit kepala."Sempurna." Madame Jourdain tersenyum tipis. "Ingat—jangan gugup. Jangan tunjukkan kelemahan."Ketukan di pintu.Dillard masuk.Setelan hitam formal dengan jas berekor. Kemeja putih rapi. Dasi kupu-kupu hitam. Rambut disisir sempurna ke belakang—mempertegas rahang keras dan tulang pipi tajam.Matanya menyapu tubuhku dari atas ke bawah. Lambat. Teliti. Berhenti sebentar di leher. Di belahan dada yang terbuka. Turun ke pinggang yang ditekan korset.Napasnya tampak tercekat. Apakah ia terpesona melihatku?Dadaku ikut sesak. Bukan karena korset. Tapi karena car

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   4

    Ruang makan keluarga Brieris sepi. Hanya ada tiga orang—Ayah di ujung meja, Ibu di samping, dan Celestine berdiri di depan perapian.Lilin-lilin menyala redup. Bayangan bergerak di dinding."Jadi kau yakin dengan ini?" tanya Ayah. Suaranya rendah.Celestine berbalik. Matanya berbinar. "Sangat yakin."Ibu meletakkan cangkir teh. "Tapi Celestine, kau yang kabur. Kau yang meninggalkan Duke Dillard.""Aku tahu." Celestine duduk dengan punggung tegak. "Dan itu kesalahanku. Aku tidak tahu Duke Dillard seberharga itu."Ayah mengerutkan dahi. "Maksudmu?""Kastilnya, tanahnya, kekuasaannya." Celestine tersenyum tipis. "Aku dengar dia sudah kembali ke posisi teratas di wilayah utara. Bahkan kerajaan mulai mengandalkannya lagi."Ibu menghela napas. "Jadi kau mau dia hanya karena kekuasaan?""Bukan hanya itu." Celestine berdiri, berjalan pelan mengelilingi meja. "Tapi juga karena aku pantas jadi Duchess. Bukan Juliet."Ayah menggebrak meja pelan. "Tapi Juliet sudah sah jadi istrinya!""Pernikahan

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   3

    Bab 3Malam datang dengan angin dingin. Aku duduk di tepi tempat tidur, memeluk lutut. Tubuhku masih terasa panas; terutama di tempat Dillard menyentuhku tadi sore.Cara dia menatapku. Cara tangannya mengencang di pinggangku. Cara napasnya menyapu wajahku. Lalu tiba-tiba dia pergi; seolah menyentuhku adalah kesalahan besar.Kenapa? Apa yang salah?Ketukan pelan di pintu."Duchess?"Aku buka pintu. Pelayan muda berdiri di sana dengan amplop putih."Ada surat untuk Anda."Amplop dengan stempel keluarga Brieris. Jantung langsung berdegup cepat. Aku ambil surat itu dengan tangan gemetar. Menutup pintu. Membuka amplop perlahan.Tulisan tangan Celestine.Juliet,Maafkan aku. Aku tahu ini tidak adil. Tapi aku tidak punya pilihan.Dillard Donoughoe bukan orang baik. Dia menikahimu untuk balas dendam. Ayah dulu menghancurkan keluarganya; mengambil tanah mereka, merusak nama baik mereka. Ibunya meninggal karena itu.Dillard tidak akan pernah melupakan itu. Dia akan menghancurkanmu, Juliet.Kabu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status