Beranda / Zaman Kuno / Pengantin Pengganti Duke Dillard / 2. “Cukup untuk hari ini.”

Share

2. “Cukup untuk hari ini.”

Penulis: TIZZZ
last update Tanggal publikasi: 2026-02-04 18:00:42

Pagi datang dengan cahaya berdebu masuk lewat celah tirai.

Aku terbangun dengan tubuh kaku. Leher pegal. Bahu sakit. Semalam hampir tidak tidur; setiap kali menutup mata, wajah Dillard muncul. Jari dinginnya di leherku. Suara rendahnya yang mengancam.

Ketukan keras di pintu.

"Duchess, sarapan sudah siap."

Aku bangkit cepat. Gaun tidur putih yang kukenakan semalaman terasa tipis. Aku ambil selendang dan balutkan di bahu. Keluar, pelayan tua menunggu. Kami berjalan melewati lorong yang lebih terang; tapi tetap dingin. Tidak ada dekorasi. Tidak ada kehidupan.

Sampai di ruang makan.

Dillard sudah duduk di ujung meja panjang. Kemeja hitam dengan lengan digulung. Rambut rapi disisir ke belakang. Wajah fokus pada surat di tangannya.

Tidak menoleh ketika aku masuk.

"Duchess, silakan duduk."

Pelayan menunjuk kursi di sebelah Dillard. Bukan di seberang. Sebelah. Aku duduk pelan. Jarak kami hanya sejengkal. Aku bisa mencium aroma mint dan kopi dari tubuhnya.

Makanan disajikan; roti, telur, daging. Terlalu banyak.

Aku ambil roti kecil. Tangan masih gemetar.

"Kau tidak makan daging?"

Aku tersentak. Dillard akhirnya bicara. Tapi matanya masih di surat.

"Aku... tidak terbiasa makanan sebanyak ini."

Dia meletakkan surat. Menatapku; singkat. Tajam. "Kau Duchess sekarang. Terbiasalah."

Aku ambil sepotong daging. Mengunyah pelan. Rasanya enak, tapi tenggorokan terasa tersumbat.

Dillard kembali fokus pada surat. Keheningan mencekam.

Aku ingin bertanya. Banyak hal. Tapi mulut tidak bisa bicara.

"Hari ini kau akan bertemu Madame Jourdain," katanya tiba-tiba. "Dia akan ajarkan semua yang perlu kau tahu."

"Semua?"

"Etiket. Cara bicara. Cara berjalan." Nada suaranya datar. "Semua yang seharusnya sudah kau kuasai."

Aku menunduk. Malu. Marah. Tapi tidak bisa melawan.

"Dua hari lagi ada pesta. Kau harus siap."

Pesta? Dua hari?

"Aku tidak bisa; "

"Kau harus bisa." Dia berdiri. Tinggi. Besar. Memenuhi ruangan. "Jangan buat aku malu di depan mereka."

Lalu dia pergi. Meninggalkan aku dengan piring penuh yang tidak tersentuh.

Madame Jourdain galak.

"Punggung tegak! Dagu angkat! Kau Duchess, bukan pelayan!"

Aku berdiri di tengah ruang latihan. Buku tebal di atas kepala; jatuh untuk ketiga kalinya.

"Lagi!"

Kakiku sakit. Punggung tegang. Keringat mengalir di pelipis.

"Sekarang berjalan. Pelan. Anggun. Jangan membungkuk!"

Aku berjalan dengan buku di kepala. Lima langkah; buku jatuh lagi.

Madame Jourdain menghela napas panjang. "Kita tidak punya banyak waktu, Juliet."

"Maaf..."

"Jangan minta maaf. Perbaiki."

Kami latihan sampai siang. Cara duduk tanpa membungkuk. Cara memegang cangkir teh. Cara tersenyum tanpa terlihat gugup.

"Lebih lembut. Kau bukan tentara."

Aku coba lagi. Lagi. Lagi.

Sampai akhirnya; pelajaran terburuk.

Berdansa.

"Taruh tangan di sini. Postur tegak. Ikuti irama."

Aku menginjak kakinya. Berkali-kali.

"Maaf; "

"Berhenti minta maaf dan fokus!"

Aku coba lagi. Tapi kakiku tidak mau menurut. Langkahku kacau.

Madame Jourdain berhenti. "Kau butuh pasangan yang lebih tinggi. Aku akan minta Duke; "

"Tidak perlu."

Terdengar suara dalam dari pintu. Dillard berdiri di sana. Pakaian berkuda; celana kulit ketat, kemeja putih sedikit basah keringat. Rambut agak acak.

Dia tampan. Jika Celeste tahu kalau Dillard setampan ini mungkin ia tidak akan kabur, tapi hubungan keluarga kami buruk. Dillard membenci keluargaku. Napasku tercekat.

"Aku akan jadi pasangannya sebentar."

Madame Jourdain langsung membungkuk dan pergi cepat. Kami berdua sendirian. Dillard melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat jantung berdebar lebih keras.

"Ayo."

Dia mengulurkan tangan; besar, dengan jari panjang dan urat yang menonjol di punggung tangan.

Aku letakkan tanganku di atasnya. Tangannya hangat. Keras. Menelan tanganku sepenuhnya. Dia tarik aku mendekat; terlalu dekat. Tangan kirinya melingkar di pinggangku. Tanpa ragu. Tegas

Jarak kami hanya beberapa senti. Aku bisa lihat garis rahangnya yang keras. Leher yang tegang. Dada yang naik turun perlahan.

"Tatap aku."

Aku angkat kepala. Mata abu-abunya menatap langsung; intens.

"Ikuti langkahku. Jangan berpikir terlalu banyak."

Dia mulai bergerak. Langkah halus, terkontrol.

Aku coba ikuti; tapi seperti biasa, kakiku yang kikuk menginjak kakinya.

"Maaf—"

"Berhenti bicara. Fokus."

Tangannya di pinggangku mengencang. Menarik tubuhku lebih dekat. Sekarang dada kami hampir menyentuh. Napasku kian tercekat. Panas mulai menjalar dari wajah ke leher.

"Lagi."

Kami coba lagi. Kali ini aku lebih fokus. Langkah kami mulai sinkron perlahan.

"Bagus." Suaranya lebih rendah. Hampir seperti bisikan. "Tapi jangan tegang. Percaya padaku."

Percaya padanya? Pada orang yang terpaksa kunikahi? Yang benar saja?

Tapi tubuhku sudah bergerak sendiri. Mengikuti ritme langkahnya. Kami berputar perlahan di tengah ruangan. Tangannya di pinggangku terasa kokoh; menahan agar aku tidak jatuh. Tangan yang lain memegang tanganku erat.

Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Detak jantungnya yang stabil; berbeda dengan jantungku yang berpacu kencang.

Matanya tidak lepas dariku. Menatap wajahku seperti sedang mencari sesuatu. Perlahan, jarak kami menyempit lagi. Dada kami sekarang benar-benar bergesekan. Aku bisa rasakan keras otot dadanya di balik kemeja tipis.

Napas kami bercampur. Hangat.

"Juliet..." Namaku di bibirnya terdengar berbeda. Lebih lembut. Lebih...

Tiba-tiba dia berhenti. Melepaskan tanganku cepat seakan terbakar. Mundur dua langkah cepat.

"Cukup untuk hari ini."

Suaranya kembali dingin. Datar. Dia berbalik dan pergi dengan cepat. Dan tidak menoleh.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   100. "Aku berharap kalian semua menemukan kedamaian."

    "Kau bukan apa-apa lagi," kata Dillard dingin. "Title mu akan dicabut. Tanah mu akan disita. Dan kau akan dihukum untuk semua kejahatanmu.""TIDAK! TIDAK! TIDAK! KAU TIDAK BISA MELAKUKANNYA!" Eugene berteriak seperti anak kecil. Ia tidak tahu bahwa sekarang Dillard adalah Regent yang baru."Bawa dia keluar," perintah Duke Ashford pada guards. "Masukkan ke sel yang sama dengan Viktor. Biarkan mereka saling menyalahkan sampai persidangan."Guards menyeret Eugene keluar. Teriakannya semakin jauh sampai akhirnya hilang.Hening di ballroom.Lalu Celestine berbalik padaku. Jalan mendekat dengan langkah ragu."Juliet—" Suaranya bergetar. "Aku—aku tidak tahu harus bilang apa. Maafkan aku tidak cukup berani membelamu. Aku tahu itu. Tapi—"Aku menatapnya. Kakakku. Satu-satunya yang pernah baik padaku di kastil Brieris."Kau kembali," kataku pelan. "Kau kembali untuk bantu ku. Itu cukup.""Tidak cukup. Aku seharusnya tidak kabur dari awal. Seharusnya aku—"Aku peluk dia. Tiba-tiba. Erat.Celestin

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   99. "AKU MASIH BANGSAWAN!"

    "Itu yang semua orang harus pikir," kata Celestine. Menatapku dengan mata minta maaf. "Maafkan aku, Juliet. Aku ikut rencana ayah. Aku kabur seperti yang dia minta. Karena aku takut apa yang akan terjadi kalau aku tidak.""Tapi kenapa?" tanyaku. "Kenapa kau menurutinya?""Karena dia ancam aku." Celestine tunjuk Eugene. "Dia bilang kalau aku tidak kabur—dia akan kurung aku seperti dia kurung kau. Atau lebih buruk."Air mata turun di pipinya."Aku pengecut. Aku tahu rencana itu akan sakiti kau. Tapi aku lebih takut pada dia. Jadi aku kabur. Dan aku biarkan kau jadi korban.""Celestine—" Aku tidak tahu harus bilang apa."Tapi aku menyesal." Celestine menatapku langsung. "Sangat menyesal. Jadi saat aku dengar tentang pesta ini—tentang Pangeran Viktor yang mau ambil kau—aku tahu aku harus kembali. Harus bilang kebenaran."Dia berbalik ke Eugene. "Aku punya semua surat darimu. Semua perintah. Semua ancaman. Semuanya ada di sini."Dia keluarkan tumpukan surat dari tas."Termasuk surat di man

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   98. "Jangan bicara pada istriku."

    "Eugene Brieris bukan ayah. Dia monster. Dia mengurungku. Dia menjualku. Setelah menjualku pada Duke, dia berencana menyerahkan ku pada Pangeran Viktor seperti barang dagangan.""Dia tidak pantas dipanggil ayah. Tidak pantas dipanggil bangsawan. Dia pengkhianat. Pembohong. Dan saat dia tertangkap dia harus membayar. Untuk Duke Edmund yang dibunuh. Untuk keluarga Donoughoe yang hancur. Dan untuk aku… putrinya sendiri yang dia sia-siakan."Hening setelah aku selesai bicara.Lalu satu orang mulai bertepuk tangan.Lincoln.Lalu yang lain. Dillard.Lalu Celestine yang berdiri di samping. Dengan air mata di pipi. Tepuk tangan ragu.Sampai seluruh ballroom bertepuk tangan.Untuk keberanianku. Untuk kesaksianku. Untuk kebenaran yang aku ungkap.Aku berdiri di sana dengan air mata turun tapi kepala tegak.Akhirnya aku bicara. Akhirnya aku tidak diam lagi.Duke Ashford maju. "Terima kasih, Duchess Juliet, untuk kesaksianmu yang berani. Kami semua—" Dia menatap kerumunan. "Kami semua malu. Karen

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   97. Kesaksian Juliet

    Aku melangkah maju. Berdiri di tengah. Menghadap kerumunan.Ratusan wajah menatapku. Menunggu.Aku tarik napas dalam."Namaku Juliet Donoughoe. Dulu Juliet Brieris." Suaraku gemetar tapi cukup keras. "Dan aku di sini untuk bersaksi tentang Eugene Brieris. Ayahku."Hening total."Sejak kecil—sejak aku ingat—aku selalu diabaikan di kastil Brieris. Aku putri kedua. Putri yang tidak diinginkan. Putri yang tidak berguna."Air mata mulai mengancam tapi kutahan."Kakakku Celestine cantik. Pintar. Berbakat. Semua orang mencintainya. Tapi aku—aku tidak ada yang istimewa. Jadi aku dikurung di kamar. Diberi makan lewat pintu. Tidak boleh keluar bahkan tidak untuk acara penting."Beberapa wanita di kerumunan menangis mendengar ini. Celestine yang sebelumnya tersenyum kehilangan senyumnya. Awalnya ia pikir ini ucapan terima kasihku padanya karena hadir di pengadilan hari ini. Ia lupa bahwa ia bagian dari sistem yang membuatku dan Dillard menderita. Bukan pemain utama, tapi ia turut menikmati kemew

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   96. Pengumuman Kematian

    Lalu dokter berlutut. "Semoga Yang Mulia beristirahat dengan damai."Semua yang ada di kamar berlutut. Termasuk Lincoln. Termasuk aku.Hanya Dillard yang masih berdiri. Menatap wajah Raja yang sudah damai."Maafkan aku, Yang Mulia," bisiknya akhirnya. "Tapi aku tidak bisa maafkan mu. Tidak untuk ayahku. Tidak untuk semua yang hilang."Dia mundur selangkah."Tapi aku janji aku akan jaga kerajaan mu. Sementara. Sampai Duke Theodore tiba. Karena rakyat tidak bersalah atas dosamu."Dia berbalik. Jalan keluar kamar.Aku berdiri. Ikuti dia.Di koridor dia berhenti. Bersandar di dinding. Tutup wajah dengan tangan."Dillard—""Dia mati," bisiknya. "Raja mati. Dan aku… aku tidak merasa apa-apa. Tidak lega. Tidak senang. Hanya—kosong."Aku peluk dia. Erat."Kau boleh merasa kosong. Kau boleh tidak tahu harus merasa apa. Ini normal.""Aku pikir… aku pikir saat kebenaran keluar aku akan merasa lebih baik. Aku selalu berdoa semua orang yang menyebabkan kematian Ayahku, mati. Ini seharusnya jadi ha

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   95. Regent Sementara

    Aku pegang tangannya. Genggam erat.Dia menatapku. Mata abu-abu berkaca-kaca."Kita menang," bisikku. "Kita akhirnya menang.""Tapi dengan harga apa?" bisiknya balik. "Ayahku tetap mati. Elise tetap mati. Sepuluh tahun tetap hilang.""Tapi kau hidup. Aku hidup. Kita bebas sekarang. Bebas dari hutang darah. Bebas dari masa lalu."Dia menarik napas panjang. "Ya. Kau benar. Bebas."Tapi dia tidak terdengar yakin.Lincoln maju. Wajah lelah tapi puas."Kita berhasil," katanya. "Semua bukti keluar. Semua kebenaran terungkap. Viktor ditangkap. Raja mengakui salahnya.""Dan sekarang apa?" tanya Dillard."Sekarang kita tunggu." Lincoln menatap pintu tempat Raja dibawa keluar. "Raja sekarat. Mungkin tidak bertahan malam ini. Kalau dia mati—""Kalau dia mati siapa yang jadi Raja?" tanyaku. "Viktor sudah ditangkap. Tidak ada pewaris lain.""Ada," kata Duke Ashford. Dia masih berdiri dekat kami. "Raja punya sepupu. Duke Theodore. Dia pewaris sah kalau Viktor didiskualifikasi.""Di mana Duke Theodo

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status