ログインPagi datang dengan cahaya berdebu masuk lewat celah tirai.
Aku terbangun dengan tubuh kaku. Leher pegal. Bahu sakit. Semalam hampir tidak tidur; setiap kali menutup mata, wajah Dillard muncul. Jari dinginnya di leherku. Suara rendahnya yang mengancam.
Ketukan keras di pintu.
"Duchess, sarapan sudah siap."
Aku bangkit cepat. Gaun tidur putih yang kukenakan semalaman terasa tipis. Aku ambil selendang dan balutkan di bahu. Keluar, pelayan tua menunggu. Kami berjalan melewati lorong yang lebih terang; tapi tetap dingin. Tidak ada dekorasi. Tidak ada kehidupan.
Sampai di ruang makan.
Dillard sudah duduk di ujung meja panjang. Kemeja hitam dengan lengan digulung. Rambut rapi disisir ke belakang. Wajah fokus pada surat di tangannya.
Tidak menoleh ketika aku masuk.
"Duchess, silakan duduk."
Pelayan menunjuk kursi di sebelah Dillard. Bukan di seberang. Sebelah. Aku duduk pelan. Jarak kami hanya sejengkal. Aku bisa mencium aroma mint dan kopi dari tubuhnya.
Makanan disajikan; roti, telur, daging. Terlalu banyak.
Aku ambil roti kecil. Tangan masih gemetar.
"Kau tidak makan daging?"
Aku tersentak. Dillard akhirnya bicara. Tapi matanya masih di surat.
"Aku... tidak terbiasa makanan sebanyak ini."
Dia meletakkan surat. Menatapku; singkat. Tajam. "Kau Duchess sekarang. Terbiasalah."
Aku ambil sepotong daging. Mengunyah pelan. Rasanya enak, tapi tenggorokan terasa tersumbat.
Dillard kembali fokus pada surat. Keheningan mencekam.
Aku ingin bertanya. Banyak hal. Tapi mulut tidak bisa bicara.
"Hari ini kau akan bertemu Madame Jourdain," katanya tiba-tiba. "Dia akan ajarkan semua yang perlu kau tahu."
"Semua?"
"Etiket. Cara bicara. Cara berjalan." Nada suaranya datar. "Semua yang seharusnya sudah kau kuasai."
Aku menunduk. Malu. Marah. Tapi tidak bisa melawan.
"Dua hari lagi ada pesta. Kau harus siap."
Pesta? Dua hari?
"Aku tidak bisa; "
"Kau harus bisa." Dia berdiri. Tinggi. Besar. Memenuhi ruangan. "Jangan buat aku malu di depan mereka."
Lalu dia pergi. Meninggalkan aku dengan piring penuh yang tidak tersentuh.
Madame Jourdain galak.
"Punggung tegak! Dagu angkat! Kau Duchess, bukan pelayan!"
Aku berdiri di tengah ruang latihan. Buku tebal di atas kepala; jatuh untuk ketiga kalinya.
"Lagi!"
Kakiku sakit. Punggung tegang. Keringat mengalir di pelipis.
"Sekarang berjalan. Pelan. Anggun. Jangan membungkuk!"
Aku berjalan dengan buku di kepala. Lima langkah; buku jatuh lagi.
Madame Jourdain menghela napas panjang. "Kita tidak punya banyak waktu, Juliet."
"Maaf..."
"Jangan minta maaf. Perbaiki."
Kami latihan sampai siang. Cara duduk tanpa membungkuk. Cara memegang cangkir teh. Cara tersenyum tanpa terlihat gugup.
"Lebih lembut. Kau bukan tentara."
Aku coba lagi. Lagi. Lagi.
Sampai akhirnya; pelajaran terburuk.
Berdansa.
"Taruh tangan di sini. Postur tegak. Ikuti irama."
Aku menginjak kakinya. Berkali-kali.
"Maaf; "
"Berhenti minta maaf dan fokus!"
Aku coba lagi. Tapi kakiku tidak mau menurut. Langkahku kacau.
Madame Jourdain berhenti. "Kau butuh pasangan yang lebih tinggi. Aku akan minta Duke; "
"Tidak perlu."
Terdengar suara dalam dari pintu. Dillard berdiri di sana. Pakaian berkuda; celana kulit ketat, kemeja putih sedikit basah keringat. Rambut agak acak.
Dia tampan. Jika Celeste tahu kalau Dillard setampan ini mungkin ia tidak akan kabur, tapi hubungan keluarga kami buruk. Dillard membenci keluargaku. Napasku tercekat.
"Aku akan jadi pasangannya sebentar."
Madame Jourdain langsung membungkuk dan pergi cepat. Kami berdua sendirian. Dillard melangkah mendekat. Setiap langkahnya membuat jantung berdebar lebih keras.
"Ayo."
Dia mengulurkan tangan; besar, dengan jari panjang dan urat yang menonjol di punggung tangan.
Aku letakkan tanganku di atasnya. Tangannya hangat. Keras. Menelan tanganku sepenuhnya. Dia tarik aku mendekat; terlalu dekat. Tangan kirinya melingkar di pinggangku. Tanpa ragu. Tegas
Jarak kami hanya beberapa senti. Aku bisa lihat garis rahangnya yang keras. Leher yang tegang. Dada yang naik turun perlahan.
"Tatap aku."
Aku angkat kepala. Mata abu-abunya menatap langsung; intens.
"Ikuti langkahku. Jangan berpikir terlalu banyak."
Dia mulai bergerak. Langkah halus, terkontrol.
Aku coba ikuti; tapi seperti biasa, kakiku yang kikuk menginjak kakinya.
"Maaf—"
"Berhenti bicara. Fokus."
Tangannya di pinggangku mengencang. Menarik tubuhku lebih dekat. Sekarang dada kami hampir menyentuh. Napasku kian tercekat. Panas mulai menjalar dari wajah ke leher.
"Lagi."
Kami coba lagi. Kali ini aku lebih fokus. Langkah kami mulai sinkron perlahan.
"Bagus." Suaranya lebih rendah. Hampir seperti bisikan. "Tapi jangan tegang. Percaya padaku."
Percaya padanya? Pada orang yang terpaksa kunikahi? Yang benar saja?
Tapi tubuhku sudah bergerak sendiri. Mengikuti ritme langkahnya. Kami berputar perlahan di tengah ruangan. Tangannya di pinggangku terasa kokoh; menahan agar aku tidak jatuh. Tangan yang lain memegang tanganku erat.
Aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Detak jantungnya yang stabil; berbeda dengan jantungku yang berpacu kencang.
Matanya tidak lepas dariku. Menatap wajahku seperti sedang mencari sesuatu. Perlahan, jarak kami menyempit lagi. Dada kami sekarang benar-benar bergesekan. Aku bisa rasakan keras otot dadanya di balik kemeja tipis.
Napas kami bercampur. Hangat.
"Juliet..." Namaku di bibirnya terdengar berbeda. Lebih lembut. Lebih...
Tiba-tiba dia berhenti. Melepaskan tanganku cepat seakan terbakar. Mundur dua langkah cepat.
"Cukup untuk hari ini."
Suaranya kembali dingin. Datar. Dia berbalik dan pergi dengan cepat. Dan tidak menoleh.
Pagi datang terlalu cepat. Cahaya pucat masuk lewat celah tirai tebal, membangunkan aku dari tidur yang tidak nyenyak. Aku bahkan tidak yakin aku benar-benar tidur. Setiap kali mata terpejam, yang terlihat adalah wajah Carmen. Senyumnya yang mengejek. Kata-katanya yang menusuk."Dia menikahimu bukan karena cinta."Tentu saja aku tahu itu.Aku menatap langit-langit kamar. Ukiran rumit di kayunya terlihat seperti pola tak berujung. Seperti pikiranku. Berputar tanpa arah jelas.Kamar terkunci. Rahasia Dillard. Peringatan Lincoln."Jangan pernah buka pintu itu."Ketukan keras di pintu membuatku tersentak."Duchess, sarapan sudah siap."Suara pelayan terdengar dari luar. Sopan tapi datar. Tanpa kehangatan yang biasanya ada saat berbicara dengan atasan.Aku bangkit dari tempat tidur dengan tubuh yang terasa berat. Kepala berdenyut sakit. Mata perih—bekas menahan air mata semalam. Tapi aku tidak menangis. Aku tidak boleh menangis.Duchess tidak boleh terlihat lemah.Aku berjalan ke cermin b
Aku berdiri di balkon sendirian. Jari masih menyentuh bibir. Hampir. Kami hampir berciuman sebelum pelayan datang dengan berita serangan. Dillard sudah pergi, meninggalkan aku dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan.Angin malam menusuk kulit telanjang punggangku. Gaun hijau zamrud yang tadi terasa indah sekarang hanya terasa dingin. Aku memeluk diri sendiri, mencoba menghangatkan tubuh yang menggigil—tapi bukan karena cuaca. Ada yang salah di dadaku. Kosong. Seperti ada yang hilang.Musik masih terdengar dari dalam. Tawa. Gelas beradu. Pesta terus berlanjut seolah tidak ada yang terjadi. Seolah Duke tidak baru saja pergi meninggalkan istrinya sendirian di acara besar pertama mereka sebagai pasangan.Aku harus kembali. Aku tahu itu. Para tamu pasti sudah memperhatikan ketidakhadiran kami. Mereka pasti sudah berbisik. Bertanya-tanya. Membuat asumsi.Aku tarik napas dalam. Tegakkan bahu. Angkat dagu. Seperti yang Dillard ajarkan. Seperti yang Madame Jourdain latih berk
Seluruh aula terdiam.Celestine berdiri dengan napas terengah; seperti baru berlari jauh. Gaun perjalanannya basah, berlumpur di bagian bawah. Rambut lepas dari jepit, jatuh berantakan di bahu.Tapi matanya… matanya menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.Penyesalan."Juliet..." Suaranya pecah. "Maafkan aku. Aku datang untuk bawa kau pulang."Bisikan keras meledak di seluruh ruangan. Dillard melangkah ke depanku; menghalangi. Tubuhnya tegang seperti siap menyerang."Kau tidak punya hak datang ke sini.""Aku punya hak." Celestine angkat dagu. "Karena seharusnya aku yang menikah denganmu. Bukan adikku."Bisikan semakin keras. Mata-mata tajam menatap kami bertiga.Lord Harrigan melangkah maju. "Duke Donoughoe, apa maksudnya ini? Apa benar Celestine pengantin aslimu?"Dillard diam. Rahangnya mengeras sampai otot di pipi bergerak. Celestine manfaatkan keheningan itu. Dia tatap semua orang dengan suara keras."Ya! Aku pengantin aslinya! Tapi aku kabur karena Duke Dono
Malam pesta tiba dengan cepat. Madame Jourdain memasangkan korset terlalu ketat. Aku hampir tidak bisa bernapas. Gaun merah marun dengan rok mengembang lebar—berat, menekan bahu. Rasanya mau pingsan."Angkat dagumu, Juliet. Kau Duchess."Tapi aku tidak merasa seperti Duchess. Aku merasa seperti boneka yang didandani untuk dipamerkan. Perhiasan berlian dingin di leher. Rambut ditarik ketat ke atas, terasa sakit menarik kulit kepala."Sempurna." Madame Jourdain tersenyum tipis. "Ingat—jangan gugup. Jangan tunjukkan kelemahan."Ketukan di pintu.Dillard masuk.Setelan hitam formal dengan jas berekor. Kemeja putih rapi. Dasi kupu-kupu hitam. Rambut disisir sempurna ke belakang—mempertegas rahang keras dan tulang pipi tajam.Matanya menyapu tubuhku dari atas ke bawah. Lambat. Teliti. Berhenti sebentar di leher. Di belahan dada yang terbuka. Turun ke pinggang yang ditekan korset.Napasnya tampak tercekat. Apakah ia terpesona melihatku?Dadaku ikut sesak. Bukan karena korset. Tapi karena car
Ruang makan keluarga Brieris sepi. Hanya ada tiga orang—Ayah di ujung meja, Ibu di samping, dan Celestine berdiri di depan perapian.Lilin-lilin menyala redup. Bayangan bergerak di dinding."Jadi kau yakin dengan ini?" tanya Ayah. Suaranya rendah.Celestine berbalik. Matanya berbinar. "Sangat yakin."Ibu meletakkan cangkir teh. "Tapi Celestine, kau yang kabur. Kau yang meninggalkan Duke Dillard.""Aku tahu." Celestine duduk dengan punggung tegak. "Dan itu kesalahanku. Aku tidak tahu Duke Dillard seberharga itu."Ayah mengerutkan dahi. "Maksudmu?""Kastilnya, tanahnya, kekuasaannya." Celestine tersenyum tipis. "Aku dengar dia sudah kembali ke posisi teratas di wilayah utara. Bahkan kerajaan mulai mengandalkannya lagi."Ibu menghela napas. "Jadi kau mau dia hanya karena kekuasaan?""Bukan hanya itu." Celestine berdiri, berjalan pelan mengelilingi meja. "Tapi juga karena aku pantas jadi Duchess. Bukan Juliet."Ayah menggebrak meja pelan. "Tapi Juliet sudah sah jadi istrinya!""Pernikahan
Bab 3Malam datang dengan angin dingin. Aku duduk di tepi tempat tidur, memeluk lutut. Tubuhku masih terasa panas; terutama di tempat Dillard menyentuhku tadi sore.Cara dia menatapku. Cara tangannya mengencang di pinggangku. Cara napasnya menyapu wajahku. Lalu tiba-tiba dia pergi; seolah menyentuhku adalah kesalahan besar.Kenapa? Apa yang salah?Ketukan pelan di pintu."Duchess?"Aku buka pintu. Pelayan muda berdiri di sana dengan amplop putih."Ada surat untuk Anda."Amplop dengan stempel keluarga Brieris. Jantung langsung berdegup cepat. Aku ambil surat itu dengan tangan gemetar. Menutup pintu. Membuka amplop perlahan.Tulisan tangan Celestine.Juliet,Maafkan aku. Aku tahu ini tidak adil. Tapi aku tidak punya pilihan.Dillard Donoughoe bukan orang baik. Dia menikahimu untuk balas dendam. Ayah dulu menghancurkan keluarganya; mengambil tanah mereka, merusak nama baik mereka. Ibunya meninggal karena itu.Dillard tidak akan pernah melupakan itu. Dia akan menghancurkanmu, Juliet.Kabu







