Share

5

Author: TIZZZ
last update Last Updated: 2026-02-04 18:02:14

Malam pesta tiba dengan cepat. Madame Jourdain memasangkan korset terlalu ketat. Aku hampir tidak bisa bernapas. Gaun merah marun dengan rok mengembang lebar—berat, menekan bahu. Rasanya mau pingsan.

"Angkat dagumu, Juliet. Kau Duchess."

Tapi aku tidak merasa seperti Duchess. Aku merasa seperti boneka yang didandani untuk dipamerkan. Perhiasan berlian dingin di leher. Rambut ditarik ketat ke atas, terasa sakit menarik kulit kepala.

"Sempurna." Madame Jourdain tersenyum tipis. "Ingat—jangan gugup. Jangan tunjukkan kelemahan."

Ketukan di pintu.

Dillard masuk.

Setelan hitam formal dengan jas berekor. Kemeja putih rapi. Dasi kupu-kupu hitam. Rambut disisir sempurna ke belakang—mempertegas rahang keras dan tulang pipi tajam.

Matanya menyapu tubuhku dari atas ke bawah. Lambat. Teliti. Berhenti sebentar di leher. Di belahan dada yang terbuka. Turun ke pinggang yang ditekan korset.

Napasnya tampak tercekat. Apakah ia terpesona melihatku?

Dadaku ikut sesak. Bukan karena korset. Tapi karena cara dia menatap. Seperti melihat sesuatu yang tidak pernah dia lihat sebelumnya.

"Sudah siap?"

Suaranya datar. Tapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang membuat bagian terdalam diriku terasa panas.

Aku angguk kecil.

Dia ulurkan lengan. Aku letakkan tangan di lengannya—otot keras di bawah kain. Ugh, ia rajin berkuda, memanah dan berenang. Tubuhnya pasti penuh otot. Aku bayangkan tangannya meremas tubuhku. Cepat-cepat aku geleng kepala mengusir imajinasi liar.

Kami berjalan menuju aula besar.

"Satu aturan," bisiknya ketika hampir sampai. "Jangan lepaskan tanganku. Apa pun yang terjadi."

"Kenapa?"

Dia tatap aku dengan mata tajam. "Karena di luar pintu itu, semua orang musuh."

Pintu besar terbuka. Musik orkestra langsung mengalir keluar. Cahaya lilin berkilauan. Ratusan bangsawan mengenakan pakaian mewah—perhiasan berkilau, sutra, beludru.

Semua mata langsung menoleh.

"Duke Dillard Donoughoe dan Duchess Juliet Donoughoe!"

Bisikan meledak.

"Bukan Celestine."

"Aku dengar dia adiknya."

"Keluarga Brieris benar-benar memalukan."

Dada sesak. Tangan di lengan Dillard gemetar sedikit. Tapi Dillard berjalan tenang—seolah tidak dengar apa pun. Langkah tegap, dagu terangkat.

Kami melewati kerumunan. Tatapan tajam menusuk dari segala arah. Senyum palsu. Bisikan keras.

Aku coba fokus pada langkahku. Jangan sampai tersandung. Jangan sampai jatuh. Gaun ini terlalu panjang. Sepatu terlalu sempit.

Tangan Dillard di lenganku mengencang sedikit—seperti memberikan kekuatan?

Sampai di tengah aula, beberapa bangsawan penting menunggu.

"Duke Donoughoe." Seorang pria tua dengan janggut putih tersenyum lebar. "Dan ini pasti Duchess yang baru?"

"Lord Harrigan." Dillard angguk. "Ya, istriku, Juliet."

Aku bungkuk sedikit. "Senang bertemu, Lord Harrigan."

Lord Harrigan tatap aku dengan mata yang terlalu lama menatap leherku. Turun ke belahan dada. Aku rasakan matanya seperti menjilat kulitku.

Perutku mual.

"Senang juga, Duchess. Pernikahanmu cukup... menarik."

Aku tidak tahu harus jawab apa. Mulut kering.

Dillard jawab untukku. "Sudah berlalu. Sekarang kami fokus ke masa depan."

Percakapan berlanjut. Satu per satu bangsawan mendekat—senyum palsu, pertanyaan tajam dibungkus sopan.

"Duchess, kau mirip sekali dengan kakakmu."

"Apakah Celestine sudah kembali ke rumah?"

"Bagaimana rasanya menggantikan kakakmu di altar?"

Setiap pertanyaan seperti pisau kecil menusuk dada. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Tidak berani bicara takut suara gemetar.

Tangan Dillard tidak pernah lepas dariku. Bahkan ketika dia bicara dengan bangsawan lain, tangannya tetap kokoh di lenganku.

Sampai seseorang datang yang membuat semuanya berubah.

"Duke Donoughoe."

Suara wanita. Merdu. Percaya diri.

Aku toleh.

Wanita cantik dengan gaun hijau zamrud berjalan mendekat. Rambut pirang panjang berkilau di bawah lampu kristal. Mata biru cerah seperti langit musim panas. Tubuh langsing dengan lekuk sempurna—pinggang ramping, pinggul melengkung.

Senyumnya tajam.

Gaun hijau zamrudnya rendah di dada—memperlihatkan belahan payudara penuh. Lehernya jenjang dengan kalung zamrud berkilau. Setiap langkahnya anggun, percaya diri.

Aku langsung merasa kecil. Jelek. Tidak pantas.

"Lady Carmen Houghton," kata Dillard. Nada suaranya berubah lebih tegang. Otot lengannya mengeras di bawah tanganku.

Carmen tatap aku dengan mata menilai. Dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lambat. Seperti sedang menilai barang di pasar.

Matanya berhenti di leherku. Turun ke belahan dadaku. Naik lagi ke wajah dengan tatapan meremehkan.

"Jadi ini Duchess baru?" Bibirnya melengkung. "Tidak seperti yang kubayangkan."

Senyumnya manis. Tapi matanya dingin seperti es musim dingin.

Perutku mulas. Aku rasakan tubuhku menciut di bawah tatapannya.

"Apa maumu di sini?" tanya Dillard, mengabaikan komentarnya.

Carmen tertawa kecil bak suara lonceng yang indah. Tapi ada racun di dalamnya. "Aku diundang. Atau kau lupa keluargaku masih punya pengaruh?"

Dia melangkah lebih dekat. Gaun hijau zamrudnya bergerak anggun. Pinggangnya bergoyang dengan sengaja. Menggoda.

Ada ketegangan kental di antara mereka. Sesuatu yang tidak kuketahui. Sesuatu yang lebih dari sekadar kenalan biasa.

Cara Carmen menatap Dillard terlalu akrab. Mata birunya menelusuri wajah Dillard seperti pernah melakukannya ratusan kali sebelumnya.

Cara Dillard berdiri lebih tegak seperti sedang berjaga. Rahangnya mengencang.

Tangannya di lenganku menegang. Aku bisa rasakan urat di pergelangan tangannya menonjol.

"Dillard," bisikku. Suara hampir tidak keluar. Tenggorokan kering. "Siapa dia?"

Sebelum Dillard jawab, Carmen jawab lebih dulu. Melangkah lebih dekat. Sekarang parfum mawarnya menyengat hidungku.

Senyumnya melebar seperti kucing yang menemukan tikus.

"Aku?" Dia memiringkan kepala. Rambut pirang jatuh indah di bahu putihnya. "Oh, aku mantan tunangannya."

Dunia berhenti.

Mantan tunangan?

Jantung berhenti berdetak. Napas tersangkut di dada.

Carmen seringai melihat reaksiku. Matanya berbinar puas. "Dia tidak pernah cerita? Kami hampir menikah tiga tahun lalu. Sampai... sesuatu terjadi."

Tangannya terangkat menyentuh lengan Dillard. Jari-jari lentiknya menyusur kain jas hitamnya. Perlahan. Intim.

Dillard menyentak lengannya menjauh.

Tapi Carmen hanya tertawa lagi.

Tangan Dillard mengencang di lenganku kuat. Mulai terasa sakit. Kukunya hampir mencengkeram kulitku lewat kain gaun.

"Carmen, cukup."

Suaranya rendah. Berbahaya. Seperti guntur sebelum badai.

"Kenapa?" Carmen melangkah lebih dekat lagi. Sekarang dia berdiri tepat di depanku. Tingginya hampir sama denganku. Tapi dia terlihat jauh lebih besar. Lebih berkuasa.

Matanya menatap langsung padaku. Tajam. Menusuk. "Istrimu berhak tahu, kan?"

Napas mulai berat. Dada sesak. Korset terasa semakin ketat.

"Dillard butuh istri untuk tutupi skandal," lanjut Carmen dengan nada manis yang mematikan. Bibirnya tersenyum tapi matanya penuh kebencian. "Skandal yang aku buat."

Bisikan keras meledak di sekitar kami. Orang-orang mulai mendekat. Membentuk lingkaran. Seperti penonton di arena gladiator.

Aku bisa dengar bisikan mereka.

"Skandal apa?"

"Aku dengar Carmen tidur dengan kakak Duke."

"Memalukan sekali."

Dillard tarik tanganku keras. Hampir membuat aku tersandung. "Kita pergi."

Tapi Carmen menggerakkan tubuhnya—menghalangi jalan. Gaun hijau zamrudnya seperti tembok.

"Jangan kabur, Dillard." Suaranya lebih keras sekarang. Semua orang bisa dengar. "Istrimu yang manis ini berhak tahu siapa yang sebenarnya kau nikahi."

Dia tatap aku lagi. Kali ini senyumnya hilang. Digantikan seringai kejam.

"Kau tahu kenapa dia tiba-tiba menerima tawaran pernikahan dari keluargamu?" Carmen maju selangkah. Aku mundur. Punggung menabrak dada Dillard.

"Karena dia butuh istri. Cepat. Untuk tutupi skandal yang aku buat."

Napas benar-benar berhenti sekarang. Jantung berdegup terlalu keras. Aku takut semua orang bisa dengarnya.

"Skandal apa?" bisikku akhirnya. Suara serak. Kering.

Carmen tertawa. Suara yang indah tapi mengerikan. Seperti kaca pecah. "Aku tidur dengan kakaknya. Pewaris Donoughoe sebelumnya. Di ranjang yang seharusnya jadi ranjang pernikahanku dengan Dillard."

Seluruh aula terdiam.

Tidak ada lagi musik. Tidak ada lagi percakapan. Hanya napas-napas tertahan dan mata-mata yang membelalak.

Aku bisa dengar detak jantungku sendiri. Keras. Cepat. Seperti mau meledak.

Kaki mulai lemas. Lutut gemetar.

"Dan yang paling tragis?" Carmen belum selesai. Matanya menatap Dillard dengan tatapan penuh kepuasan. Seperti sedang menikmati penderitaan. "Kakakmu itu bunuh diri seminggu setelah ayahmu mengusirnya."

Dillard bergerak cepat. Tangan mencengkeram lenganku. Keras. Kasar. Menyeretku melewati Carmen, melewati kerumunan yang sudah berkumpul seperti serigala mencium darah.

Wajahnya keras seperti batu. Rahangnya mengencang sampai otot di pipi bergerak. Matanya lurus ke depan, tidak melirik siapa pun.

Kami keluar dari aula menuju teras belakang. Angin malam langsung menyapu wajah. Dingin. Menusuk kulit.

Sepi. Hanya suara angin dan daun-daun bergesekan.

Dillard melepaskan tanganku dengan cepat seperti tanganku bara api. Seperti menyentuhku adalah dosa.

Berbalik membelakangi. Tangan mencengkeram pagar besi sampai buku-buku jari memutih. Punggungnya naik turun. Napasnya berat, marah.

Aku berdiri di belakangnya. Gemetar. Bukan karena angin dingin. Tapi karena sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang membuat dada sakit.

"Apa itu benar?" bisikku. Suara hampir tertelan angin.

Punggungnya tegang. Bahu menegang. "Ya."

Satu kata. Pendek. Tajam.

Tapi rasanya seperti pukulan telak di dada. Seperti jatuh dari tebing.

Napas keluar gemetar. Mata mulai panas.

"Jadi kau menikahiku hanya untuk tutupi skandal?"

Dillard tidak berbalik. Tidak menjawab.

Hanya berdiri di sana dengan punggung tegang dan kepalan tangan yang semakin kuat di pagar besi. Aku dengar suara logam berderit seperti akan patah.

Dan keheningan itu lebih menyakitkan dari kata-kata apa pun.

Air mata mulai panas di mata. Membakar. Aku gigit bibir kuat-kuat sampai terasa darah di lidah. Tidak mau menangis di sini. Tidak mau dia lihat aku lemah.

Tapi dadaku sakit. Sangat sakit. Seperti ada sesuatu meremas jantung dengan keras.

"Jawab aku, Dillard." Suaraku lebih keras sekarang. Gemetar tapi keras. "Jawab aku!"

Akhirnya dia berbalik.

Mata abu-abunya gelap. Penuh amarah. Tapi bukan padaku—pada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa kulihat.

"Kau mau tahu?" Rahangnya mengeras. Gigi bergemeretak. "Baik."

Dia melangkah mendekat. Setiap langkah berat. Menggetarkan lantai batu.

Aku mundur sampai punggung menabrak dinding batu. Dingin menusuk kulit.

"Tiga tahun lalu, Carmen tidur dengan kakakku." Suaranya rendah. Bergetar menahan amarah. "Kakakku, Garrett, pewaris Donoughoe. Dia yang seharusnya jadi Duke setelah Ayah."

Napas tercekat. Tidak bisa bergerak.

"Ayah menemukan mereka di kamar Carmen. Malam sebelum pernikahan kami." Tangannya terkepal di samping tubuh. "Ayah mengusir Garrett. Membatalkan semua haknya. Mengumumkan di depan seluruh bangsawan bahwa dia bukan lagi bagian dari keluarga Donoughoe."

Matanya menatap langsung padaku. Tajam. Penuh luka yang tidak pernah sembuh.

"Seminggu kemudian, Garrett gantung diri di kamarnya. Meninggalkan surat yang bilang dia tidak tahan dengan malu."

Air mata jatuh. Panas di pipi. Tidak bisa kutahan lagi.

"Dan aku?" Dillard tertawa pahit. "Aku jadi pewaris dadakan. Aku yang tidak pernah disiapkan. Aku yang selalu di bayangan kakakku."

Tangannya menghantam dinding di samping kepalaku. Keras. Batu retak sedikit.

Aku tersentak. Jantung melompat.

"Jadi ya—aku butuh istri." Wajahnya mendekat. Hanya beberapa senti dari wajahku. "Bukan untuk cinta. Untuk tunjukkan aku sudah fokus dengan masa depan. Untuk tutup mulut semua bangsawan yang bilang aku tidak pantas jadi Duke."

Napasnya hangat di wajahku. Berat. Marah.

"Dan keluargamu menawarkan Celestine."

Semuanya jadi jelas sekarang. Kenapa dia terima pernikahan ini. Kenapa dia tidak peduli siapa pengantinnya.

Karena sejak awal aku hanya alat. Alat untuk membenahi citra kebangsawanannya. Alat untuk balas dendam pada keluargaku.

"Jadi aku..." bisikku. Air mata mengalir deras. "Aku juga sebuah solusi?"

Dillard tidak jawab. Hanya tatap aku dengan mata kosong. Dingin.

Baginya itu pertanyaan bodoh yang sudah jelas jawabannya.

Dan tatapan kosong itu lebih sakit dari kata-kata apa pun.

Dadaku hancur. Benar-benar hancur.

Aku merosot, kaki tidak kuat menahan berat tubuh lagi. Tapi sebelum jatuh ke lantai, tangan Dillard menangkap pinggangku.

Kuat. Erat.

Menarik tubuhku berdiri lagi.

Kami berdiri seperti itu. Wajah hanya sejengkal. Napas bercampur.

Matanya menatap mataku. Ada sesuatu di sana—sesuatu selain amarah. Sesuatu yang lebih lembut. Tapi cepat hilang.

Tiba-tiba teriakan keras dari dalam aula.

Suara kaca pecah. Jeritan. Langkah kaki berlarian.

Dillard melepaskanku. Kami berlari masuk.

Kerumunan sudah berkumpul di tengah aula. Membentuk lingkaran besar. Semua orang berteriak, berbisik, menunjuk.

Kami menerobos kerumunan.

Dan di sana—

Celestine.

Kakakku berdiri di tengah aula. Gaun perjalanan cokelat kotor—berlumpur di bagian bawah, robek di beberapa tempat. Rambut pirang lepas dari jepit, acak menutupi wajah. Wajah pucat seperti hantu. Namun ia tetap begitu cantic.

Tapi matanya… matanya penuh tekad. Nyala api yang tidak bisa dipadamkan. Aku kenal dia.

Di tangannya ada pecahan gelas anggur. Masih menetes merah, entah anggur atau darah.

"Juliet." Suaranya gemetar tapi keras. Semua orang bisa dengar. "Ayo pulang. Kau tidak seharusnya di sini."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   8

    Pagi datang terlalu cepat. Cahaya pucat masuk lewat celah tirai tebal, membangunkan aku dari tidur yang tidak nyenyak. Aku bahkan tidak yakin aku benar-benar tidur. Setiap kali mata terpejam, yang terlihat adalah wajah Carmen. Senyumnya yang mengejek. Kata-katanya yang menusuk."Dia menikahimu bukan karena cinta."Tentu saja aku tahu itu.Aku menatap langit-langit kamar. Ukiran rumit di kayunya terlihat seperti pola tak berujung. Seperti pikiranku. Berputar tanpa arah jelas.Kamar terkunci. Rahasia Dillard. Peringatan Lincoln."Jangan pernah buka pintu itu."Ketukan keras di pintu membuatku tersentak."Duchess, sarapan sudah siap."Suara pelayan terdengar dari luar. Sopan tapi datar. Tanpa kehangatan yang biasanya ada saat berbicara dengan atasan.Aku bangkit dari tempat tidur dengan tubuh yang terasa berat. Kepala berdenyut sakit. Mata perih—bekas menahan air mata semalam. Tapi aku tidak menangis. Aku tidak boleh menangis.Duchess tidak boleh terlihat lemah.Aku berjalan ke cermin b

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   7

    Aku berdiri di balkon sendirian. Jari masih menyentuh bibir. Hampir. Kami hampir berciuman sebelum pelayan datang dengan berita serangan. Dillard sudah pergi, meninggalkan aku dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan.Angin malam menusuk kulit telanjang punggangku. Gaun hijau zamrud yang tadi terasa indah sekarang hanya terasa dingin. Aku memeluk diri sendiri, mencoba menghangatkan tubuh yang menggigil—tapi bukan karena cuaca. Ada yang salah di dadaku. Kosong. Seperti ada yang hilang.Musik masih terdengar dari dalam. Tawa. Gelas beradu. Pesta terus berlanjut seolah tidak ada yang terjadi. Seolah Duke tidak baru saja pergi meninggalkan istrinya sendirian di acara besar pertama mereka sebagai pasangan.Aku harus kembali. Aku tahu itu. Para tamu pasti sudah memperhatikan ketidakhadiran kami. Mereka pasti sudah berbisik. Bertanya-tanya. Membuat asumsi.Aku tarik napas dalam. Tegakkan bahu. Angkat dagu. Seperti yang Dillard ajarkan. Seperti yang Madame Jourdain latih berk

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   6

    Seluruh aula terdiam.Celestine berdiri dengan napas terengah; seperti baru berlari jauh. Gaun perjalanannya basah, berlumpur di bagian bawah. Rambut lepas dari jepit, jatuh berantakan di bahu.Tapi matanya… matanya menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya.Penyesalan."Juliet..." Suaranya pecah. "Maafkan aku. Aku datang untuk bawa kau pulang."Bisikan keras meledak di seluruh ruangan. Dillard melangkah ke depanku; menghalangi. Tubuhnya tegang seperti siap menyerang."Kau tidak punya hak datang ke sini.""Aku punya hak." Celestine angkat dagu. "Karena seharusnya aku yang menikah denganmu. Bukan adikku."Bisikan semakin keras. Mata-mata tajam menatap kami bertiga.Lord Harrigan melangkah maju. "Duke Donoughoe, apa maksudnya ini? Apa benar Celestine pengantin aslimu?"Dillard diam. Rahangnya mengeras sampai otot di pipi bergerak. Celestine manfaatkan keheningan itu. Dia tatap semua orang dengan suara keras."Ya! Aku pengantin aslinya! Tapi aku kabur karena Duke Dono

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   5

    Malam pesta tiba dengan cepat. Madame Jourdain memasangkan korset terlalu ketat. Aku hampir tidak bisa bernapas. Gaun merah marun dengan rok mengembang lebar—berat, menekan bahu. Rasanya mau pingsan."Angkat dagumu, Juliet. Kau Duchess."Tapi aku tidak merasa seperti Duchess. Aku merasa seperti boneka yang didandani untuk dipamerkan. Perhiasan berlian dingin di leher. Rambut ditarik ketat ke atas, terasa sakit menarik kulit kepala."Sempurna." Madame Jourdain tersenyum tipis. "Ingat—jangan gugup. Jangan tunjukkan kelemahan."Ketukan di pintu.Dillard masuk.Setelan hitam formal dengan jas berekor. Kemeja putih rapi. Dasi kupu-kupu hitam. Rambut disisir sempurna ke belakang—mempertegas rahang keras dan tulang pipi tajam.Matanya menyapu tubuhku dari atas ke bawah. Lambat. Teliti. Berhenti sebentar di leher. Di belahan dada yang terbuka. Turun ke pinggang yang ditekan korset.Napasnya tampak tercekat. Apakah ia terpesona melihatku?Dadaku ikut sesak. Bukan karena korset. Tapi karena car

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   4

    Ruang makan keluarga Brieris sepi. Hanya ada tiga orang—Ayah di ujung meja, Ibu di samping, dan Celestine berdiri di depan perapian.Lilin-lilin menyala redup. Bayangan bergerak di dinding."Jadi kau yakin dengan ini?" tanya Ayah. Suaranya rendah.Celestine berbalik. Matanya berbinar. "Sangat yakin."Ibu meletakkan cangkir teh. "Tapi Celestine, kau yang kabur. Kau yang meninggalkan Duke Dillard.""Aku tahu." Celestine duduk dengan punggung tegak. "Dan itu kesalahanku. Aku tidak tahu Duke Dillard seberharga itu."Ayah mengerutkan dahi. "Maksudmu?""Kastilnya, tanahnya, kekuasaannya." Celestine tersenyum tipis. "Aku dengar dia sudah kembali ke posisi teratas di wilayah utara. Bahkan kerajaan mulai mengandalkannya lagi."Ibu menghela napas. "Jadi kau mau dia hanya karena kekuasaan?""Bukan hanya itu." Celestine berdiri, berjalan pelan mengelilingi meja. "Tapi juga karena aku pantas jadi Duchess. Bukan Juliet."Ayah menggebrak meja pelan. "Tapi Juliet sudah sah jadi istrinya!""Pernikahan

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   3

    Bab 3Malam datang dengan angin dingin. Aku duduk di tepi tempat tidur, memeluk lutut. Tubuhku masih terasa panas; terutama di tempat Dillard menyentuhku tadi sore.Cara dia menatapku. Cara tangannya mengencang di pinggangku. Cara napasnya menyapu wajahku. Lalu tiba-tiba dia pergi; seolah menyentuhku adalah kesalahan besar.Kenapa? Apa yang salah?Ketukan pelan di pintu."Duchess?"Aku buka pintu. Pelayan muda berdiri di sana dengan amplop putih."Ada surat untuk Anda."Amplop dengan stempel keluarga Brieris. Jantung langsung berdegup cepat. Aku ambil surat itu dengan tangan gemetar. Menutup pintu. Membuka amplop perlahan.Tulisan tangan Celestine.Juliet,Maafkan aku. Aku tahu ini tidak adil. Tapi aku tidak punya pilihan.Dillard Donoughoe bukan orang baik. Dia menikahimu untuk balas dendam. Ayah dulu menghancurkan keluarganya; mengambil tanah mereka, merusak nama baik mereka. Ibunya meninggal karena itu.Dillard tidak akan pernah melupakan itu. Dia akan menghancurkanmu, Juliet.Kabu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status