Share

7. Sendirian

Author: TIZZZ
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-05 21:14:31

Aku berdiri di balkon sendirian. Jari masih menyentuh bibir. Hampir. Kami hampir berciuman sebelum pelayan datang dengan berita serangan.

Dillard sudah pergi, meninggalkan aku dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa dijelaskan.

Angin malam menusuk kulit telanjang punggangku. Gaun hijau zamrud yang tadi terasa indah sekarang hanya terasa dingin.

Aku memeluk diri sendiri, mencoba menghangatkan tubuh yang menggigil—tapi bukan karena cuaca. Ada yang salah di dadaku. Kosong. Seperti ada yang hilang.

Musik masih terdengar dari dalam. Tawa. Gelas beradu. Pesta terus berlanjut seolah tidak ada yang terjadi.

Seolah Duke tidak baru saja pergi meninggalkan istrinya sendirian di acara besar pertama mereka sebagai pasangan.

Aku harus kembali. Aku tahu itu. Para tamu pasti sudah memperhatikan ketidakhadiran kami. Mereka pasti sudah berbisik. Bertanya-tanya. Membuat asumsi.

Aku tarik napas dalam. Tegakkan bahu. Angkat dagu. Seperti yang Dillard ajarkan. Seperti yang Madame Jourdain latih berkali-kali sampai tubuhku sakit.

Kau Duchess Donoughoe. Kau tidak boleh terlihat lemah.

Aku masuk kembali ke ballroom dengan langkah perlahan. Pintu besar terbuka. Cahaya hangat menyambut.

Musik waltz mengalun lembut—lebih pelan dari sebelumnya. Beberapa pasang masih berdansa.

Yang lain berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, ngobrol dengan gelas champagne di tangan.

Semua mata langsung tertuju padaku.

Aku rasakan tatapan mereka menusuk kulit. Penilaian. Rasa ingin tahu. Gosip yang belum diucapkan tapi sudah terbentuk di pikiran mereka.

"Duchess kembali sendirian," bisik seseorang—tidak cukup pelan. Suaranya menembus musik.

"Di mana Duke?"

"Meninggalkan istrinya di pesta mereka sendiri?"

"Kasihan gadis itu."

Aku jalan dengan kepala tegak meski kakiku gemetar di balik rok panjang. Setiap langkah terasa berat. Setiap mata yang menatap terasa seperti beban tambahan di bahu.

Lady Alice muncul pertama—seolah sudah menunggu. Gaun biru safirnya berkilau di bawah lampu kristal.

Senyum manis menghiasi wajah cantiknya. Tapi mata hijau itu tidak tersenyum. Mata itu menyelidik. Mencari kelemahan.

"Duchess," sapanya lembut. Terlalu lembut. "Duke Dillard sudah pergi?"

Aku berhenti di depannya. Jarak hanya satu langkah. Cukup dekat untuk terlihat sopan. Cukup jauh untuk menjaga jarak.

"Ada urusan mendesak," jawabku. Suara stabil. Aku bangga pada diriku sendiri untuk itu.

Alice mengangguk pelan. Kepala miring sedikit—gerakan yang terlihat simpatik tapi terasa mengejek.

"Tentu saja. Duke selalu sibuk dengan urusan kerajaan. Sangat... mengabdi." Dia berhenti sebentar. Senyum melebar. "Mungkin Duchess belum terbiasa ditinggal sendirian di acara besar seperti ini. Berbeda dengan kehidupan di Brieris, kan?"

Ada racun di kata-kata itu. Tersembunyi di balik nada manis. Penghinaan yang dikemas sebagai perhatian.

Kehidupan di Brieris. Kehidupan di mana aku dikurung di kamar. Diabaikan. Dilupakan. Kehidupan yang semua orang di sini tahu—karena keluarga bangsawan tidak punya rahasia. Semuanya jadi gosip di pesta teh.

"Aku terbiasa banyak hal," jawabku akhirnya. Tidak menjawab pertanyaan langsung. Tidak memberikan kepuasan melihatku lemah.

Alice tersenyum lebih lebar. Seperti menang sesuatu. "Tentu, Duchess. Kalau butuh bantuan beradaptasi dengan kehidupan sebagai istri Duke, aku selalu tersedia. Wanita bangsawan harus saling membantu."

Sebelum aku bisa menjawab, dia sudah berbalik dan pergi. Lagi? Apa dia hobi datang dan pergi seperti itu? Gaun biru berkibar anggun. Meninggalkan aku berdiri sendirian di tengah ballroom.

Beberapa bangsawan tua berkumpul di sudut—pria paruh baya dengan jenggot putih dan perut buncit. Mereka menatapku sambil berbisik. Tidak repot-repot menyembunyikan tatapan lancang mereka.

"Duke meninggalkan Duchess di malam pertama mereka sebagai tuan rumah," kata salah satu—suara cukup keras untuk kudengar.

"Dia tidak peduli padanya. Jelas sekali."

"Pengganti Celestine. Dapat apa yang bukan pilihannya."

"Pernikahan politik yang buruk."

Aku pura-pura tidak mendengar. Aku ambil gelas champagne dari pelayan yang lewat.

Tangan gemetar sedikit saat memegang gelas. Aku minum. Cairan dingin turun ke tenggorokan yang terasa kering.

Musik berganti. Waltz baru dimulai. Beberapa pasangan kembali ke lantai dansa.

Aku berdiri di pinggir. Sendirian. Mengamati mereka berdansa dengan pasangan masing-masing. Tangan di pinggang. Mata bertemu. Senyum. Tawa.

Aku ingat beberapa jam lalu, aku dan Dillard berdansa di lantai yang sama. Tangannya di pinggangku. Matanya menatap intens. Suaranya berbisik agar aku melihatnya, bukan orang lain.

Seperti kami satu-satunya di ruangan itu.

Dan sekarang aku benar-benar sendirian.

"Duchess kelihatan sedih."

Aku tersentak. Berbalik.

Seorang wanita muda berdiri di sampingku—tidak kukenal. Rambut pirang pucat diikat setengah, gaun lavender sederhana tapi elegan. Wajahnya ramah. Senyum tulus—berbeda dari yang lain.

"Aku Stella Gray," katanya. "Istri Baron Fredrick Gray. Maaf mengagetkan."

"Tidak apa-apa." Aku mencoba tersenyum. "Aku hanya... lelah."

Stella mengangguk. Tidak bertanya lebih lanjut, aku hargai itu. Dia berdiri di sampingku dalam diam nyaman. Kami berdua mengamati para penari.

"Pesta pertama sebagai Duchess pasti berat," katanya setelah beberapa saat. Suara lembut. Tidak menghakimi. "Semua mata menatap. Semua orang punya pendapat. Semua orang membandingkan."

Aku lirik dia. "Kau tahu?"

"Aku menikah dengan Baron sebagai istri kedua. Setelah istri pertamanya meninggal—wanita yang sangat dicintai semua orang." Stella tersenyum tipis. Ada kesedihan di sana. "Dua tahun pertama sangat berat. Semua orang membandingkan. Semua orang bilang aku tidak seperti dia. Tidak cukup baik."

Dadaku sesak. Mendengar ceritanya seperti mendengar ceritaku sendiri.

"Bagaimana kau bertahan?" tanyaku pelan.

"Aku berhenti mencoba jadi dia. Aku mulai jadi diriku sendiri." Stella menatapku. Mata biru mudanya serius. "Duchess, kau tidak akan pernah bisa jadi Celestine. Dan itu hal yang baik. Karena Dillard tidak menikahi Celestine. Dia menikahimu."

Kata-kata itu menggantung.

Sebelum aku bisa merespons, suara keras terdengar dari seberang ruangan. Tawa riang yang terlalu familiar.

Carmen.

Dia berdiri di tengah kelompok wanita. Semua mendengarkan dia bicara dengan wajah terpesona. Gaun pink-nya menyala di bawah cahaya. Rambut coklat bergelombang jatuh sempurna di punggung telanjang. Dia cantik. Sangat cantik.

Dan dia menatap ke arahku. Mata bertemu. Senyum muncul di bibirnya. Senyum yang membuat perutku bergejolak.

Dia permisi dari kelompoknya. Berjalan ke arahku dengan langkah percaya diri. Setiap mata mengikuti gerakannya.

Stella menyentuh lenganku pelan. "Aku harus pergi. Tapi ingat apa yang kubilang, Duchess."

Dia pergi sebelum Carmen sampai.

Carmen berhenti tepat di depanku. Jarak sangat dekat, terlalu dekat untuk sopan. Aku bisa cium parfum mawar yang menyengat.

"Duchess Juliet," sapanya. Suara seperti madu, manis tapi lengket menjijikkan. "Sendirian?"

Aku tidak menjawab. Hanya menatap dia dengan wajah datar.

Carmen tertawa kecil. "Duke Dillard meninggalkanmu begitu cepat. Aku ingat dulu, saat kami masih bersama, dia tidak pernah meninggalkan sisiku di acara penting. Dia sangat... perhatian."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   100. "Aku berharap kalian semua menemukan kedamaian."

    "Kau bukan apa-apa lagi," kata Dillard dingin. "Title mu akan dicabut. Tanah mu akan disita. Dan kau akan dihukum untuk semua kejahatanmu.""TIDAK! TIDAK! TIDAK! KAU TIDAK BISA MELAKUKANNYA!" Eugene berteriak seperti anak kecil. Ia tidak tahu bahwa sekarang Dillard adalah Regent yang baru."Bawa dia keluar," perintah Duke Ashford pada guards. "Masukkan ke sel yang sama dengan Viktor. Biarkan mereka saling menyalahkan sampai persidangan."Guards menyeret Eugene keluar. Teriakannya semakin jauh sampai akhirnya hilang.Hening di ballroom.Lalu Celestine berbalik padaku. Jalan mendekat dengan langkah ragu."Juliet—" Suaranya bergetar. "Aku—aku tidak tahu harus bilang apa. Maafkan aku tidak cukup berani membelamu. Aku tahu itu. Tapi—"Aku menatapnya. Kakakku. Satu-satunya yang pernah baik padaku di kastil Brieris."Kau kembali," kataku pelan. "Kau kembali untuk bantu ku. Itu cukup.""Tidak cukup. Aku seharusnya tidak kabur dari awal. Seharusnya aku—"Aku peluk dia. Tiba-tiba. Erat.Celestin

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   99. "AKU MASIH BANGSAWAN!"

    "Itu yang semua orang harus pikir," kata Celestine. Menatapku dengan mata minta maaf. "Maafkan aku, Juliet. Aku ikut rencana ayah. Aku kabur seperti yang dia minta. Karena aku takut apa yang akan terjadi kalau aku tidak.""Tapi kenapa?" tanyaku. "Kenapa kau menurutinya?""Karena dia ancam aku." Celestine tunjuk Eugene. "Dia bilang kalau aku tidak kabur—dia akan kurung aku seperti dia kurung kau. Atau lebih buruk."Air mata turun di pipinya."Aku pengecut. Aku tahu rencana itu akan sakiti kau. Tapi aku lebih takut pada dia. Jadi aku kabur. Dan aku biarkan kau jadi korban.""Celestine—" Aku tidak tahu harus bilang apa."Tapi aku menyesal." Celestine menatapku langsung. "Sangat menyesal. Jadi saat aku dengar tentang pesta ini—tentang Pangeran Viktor yang mau ambil kau—aku tahu aku harus kembali. Harus bilang kebenaran."Dia berbalik ke Eugene. "Aku punya semua surat darimu. Semua perintah. Semua ancaman. Semuanya ada di sini."Dia keluarkan tumpukan surat dari tas."Termasuk surat di man

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   98. "Jangan bicara pada istriku."

    "Eugene Brieris bukan ayah. Dia monster. Dia mengurungku. Dia menjualku. Setelah menjualku pada Duke, dia berencana menyerahkan ku pada Pangeran Viktor seperti barang dagangan.""Dia tidak pantas dipanggil ayah. Tidak pantas dipanggil bangsawan. Dia pengkhianat. Pembohong. Dan saat dia tertangkap dia harus membayar. Untuk Duke Edmund yang dibunuh. Untuk keluarga Donoughoe yang hancur. Dan untuk aku… putrinya sendiri yang dia sia-siakan."Hening setelah aku selesai bicara.Lalu satu orang mulai bertepuk tangan.Lincoln.Lalu yang lain. Dillard.Lalu Celestine yang berdiri di samping. Dengan air mata di pipi. Tepuk tangan ragu.Sampai seluruh ballroom bertepuk tangan.Untuk keberanianku. Untuk kesaksianku. Untuk kebenaran yang aku ungkap.Aku berdiri di sana dengan air mata turun tapi kepala tegak.Akhirnya aku bicara. Akhirnya aku tidak diam lagi.Duke Ashford maju. "Terima kasih, Duchess Juliet, untuk kesaksianmu yang berani. Kami semua—" Dia menatap kerumunan. "Kami semua malu. Karen

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   97. Kesaksian Juliet

    Aku melangkah maju. Berdiri di tengah. Menghadap kerumunan.Ratusan wajah menatapku. Menunggu.Aku tarik napas dalam."Namaku Juliet Donoughoe. Dulu Juliet Brieris." Suaraku gemetar tapi cukup keras. "Dan aku di sini untuk bersaksi tentang Eugene Brieris. Ayahku."Hening total."Sejak kecil—sejak aku ingat—aku selalu diabaikan di kastil Brieris. Aku putri kedua. Putri yang tidak diinginkan. Putri yang tidak berguna."Air mata mulai mengancam tapi kutahan."Kakakku Celestine cantik. Pintar. Berbakat. Semua orang mencintainya. Tapi aku—aku tidak ada yang istimewa. Jadi aku dikurung di kamar. Diberi makan lewat pintu. Tidak boleh keluar bahkan tidak untuk acara penting."Beberapa wanita di kerumunan menangis mendengar ini. Celestine yang sebelumnya tersenyum kehilangan senyumnya. Awalnya ia pikir ini ucapan terima kasihku padanya karena hadir di pengadilan hari ini. Ia lupa bahwa ia bagian dari sistem yang membuatku dan Dillard menderita. Bukan pemain utama, tapi ia turut menikmati kemew

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   96. Pengumuman Kematian

    Lalu dokter berlutut. "Semoga Yang Mulia beristirahat dengan damai."Semua yang ada di kamar berlutut. Termasuk Lincoln. Termasuk aku.Hanya Dillard yang masih berdiri. Menatap wajah Raja yang sudah damai."Maafkan aku, Yang Mulia," bisiknya akhirnya. "Tapi aku tidak bisa maafkan mu. Tidak untuk ayahku. Tidak untuk semua yang hilang."Dia mundur selangkah."Tapi aku janji aku akan jaga kerajaan mu. Sementara. Sampai Duke Theodore tiba. Karena rakyat tidak bersalah atas dosamu."Dia berbalik. Jalan keluar kamar.Aku berdiri. Ikuti dia.Di koridor dia berhenti. Bersandar di dinding. Tutup wajah dengan tangan."Dillard—""Dia mati," bisiknya. "Raja mati. Dan aku… aku tidak merasa apa-apa. Tidak lega. Tidak senang. Hanya—kosong."Aku peluk dia. Erat."Kau boleh merasa kosong. Kau boleh tidak tahu harus merasa apa. Ini normal.""Aku pikir… aku pikir saat kebenaran keluar aku akan merasa lebih baik. Aku selalu berdoa semua orang yang menyebabkan kematian Ayahku, mati. Ini seharusnya jadi ha

  • Pengantin Pengganti Duke Dillard   95. Regent Sementara

    Aku pegang tangannya. Genggam erat.Dia menatapku. Mata abu-abu berkaca-kaca."Kita menang," bisikku. "Kita akhirnya menang.""Tapi dengan harga apa?" bisiknya balik. "Ayahku tetap mati. Elise tetap mati. Sepuluh tahun tetap hilang.""Tapi kau hidup. Aku hidup. Kita bebas sekarang. Bebas dari hutang darah. Bebas dari masa lalu."Dia menarik napas panjang. "Ya. Kau benar. Bebas."Tapi dia tidak terdengar yakin.Lincoln maju. Wajah lelah tapi puas."Kita berhasil," katanya. "Semua bukti keluar. Semua kebenaran terungkap. Viktor ditangkap. Raja mengakui salahnya.""Dan sekarang apa?" tanya Dillard."Sekarang kita tunggu." Lincoln menatap pintu tempat Raja dibawa keluar. "Raja sekarat. Mungkin tidak bertahan malam ini. Kalau dia mati—""Kalau dia mati siapa yang jadi Raja?" tanyaku. "Viktor sudah ditangkap. Tidak ada pewaris lain.""Ada," kata Duke Ashford. Dia masih berdiri dekat kami. "Raja punya sepupu. Duke Theodore. Dia pewaris sah kalau Viktor didiskualifikasi.""Di mana Duke Theodo

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status