Se connecterAku menelan ludah, mencoba menguasai diri sebelum senyum penuh kemenangan terbit di bibirku."Baik," kataku, nada suaraku sengaja dibuat santai untuk menutupi debaran dada. "Tapi aku mau jendela itu."Dillard mengalihkan lirikan matanya menuju jendela besar yang dimaksud. Sudut yang sudah jelas-jelas awalnya akan menjadi tempat mejanya sendiri berada."Jendela itu menghadap langsung ke taman," kilahnya, mencoba mempertahankan posisinya. "Lebih baik untuk konsentrasi—""Aku suka pemandangan," potongku cepat, melangkah melewatinya dengan gerakan anggun. "Dan cahaya matahari pagi dari sana pasti sangat bagus untuk melukis."Dillard mengerutkan dahi, menatapku tidak habis pikir. "Ini ruang kerja, Juliet. Bukan studio seni."
"Orang yang terlihat paling berhati-hati dan hemat bicara saat audiensi resmi," sahut Dillard pelan. Nada suaranya mendatar, namun ada ketegangan yang berbahaya di sana. Matanya perlahan terangkat, menatapku lurus-lurus.Aku mengangguk kecil, membalas tatapannya. Aku ingat betul pria itu. Tatapannya yang tajam, pembawaannya yang tenang, dan bagaimana dia mengamati sekelilingnya seperti seekor predator yang sedang menghitung peluang."Itu artinya ada dua kemungkinan," Theodore mengetuk-ngetuk jarinya di pinggiran meja mahoni, otaknya bekerja cepat. "Brennan mungkin sudah dikontak dan sedang dalam proses negosiasi, atau dia adalah target besar Cavendish berikutnya. Atau..." Dia mendadak ragu, kalimatnya menggantung di udara saat sebuah realitas yang lebih kelam melintasi pikirannya. "...atau dia bukan target sama sekali. Dia menjadi titik akhir dari rantai ini karena dia memang sudah berada di pihak Cavendish sejak awal."Keheningan yang mencekam kembali menyergap ruangan kerja itu. A
Di dalam ruang kerja Theodore—yang dulunya merupakan ruang kerja megah milik mendiang Raja Aldous—suasana terasa menyesakkan.Ruangan itu penuh dengan tumpukan dokumen, gulungan perkamen, dan peta-peta taktis yang berserakan di atas meja mahoni besar tanpa sistem penyimpanan yang jelas.Kekacauan itu menjadi bukti nyata seberapa keras Theodore bekerja sendirian selama ini.Tanpa basa-basi atau basa-basi diplomatik, Theodore langsung membawa kami ke inti masalah."Cavendish bergerak jauh lebih cepat dari perkiraan kita," ujarnya tanpa tedeng aling-aling. Dia membentangkan sebuah peta wilayah yang besar di atas meja, lalu mengetukkan jarinya di area barat."Dalam dua minggu terakhir, dia sudah meng
Secara refleks, tangan Juliet terangkat. Dia mulai menggigit ujung jarinya—sebuah kebiasaan lama yang hanya muncul saat dia merasa gelisah atau sangat kesal. Matanya menatap hamparan pohon yang melesat di luar dengan ekspresi hampa, seperti seseorang yang baru saja dirampok di siang bolong."Kau terlalu patuh pada buku itu," gumamnya. Suaranya tidak tajam, hanya berupa keluhan yang memantul di kaca jendela yang dingin.Dillard menghela napas panjang. Sangat panjang. Jenis napas yang diambil seseorang saat mereka sedang memunguti sisa-sisa kesabaran yang berhamburan di lantai. Dia memperhatikan Juliet dari samping. Wanita itu masih menggigit jarinya, masih menolak menoleh.Melihat Juliet yang tampak seperti kucing kecil yang baru saja diusir dari selimut hangatnya di tengah malam, Dillard merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Perih, tapi ada desakan ingin tertawa yang tertahan."Dua bulan," suara Dillard melunak. Dia mengulurkan tangan, mencoba meraih jemari yang sedang disiksa Jul
Udara di dalam gerbong kereta itu mendadak terasa tipis. Bukan karena oksigen yang berkurang, tapi karena Juliet mulai bergerak.Tanpa drama, dia menggeser duduknya. Helai rambutnya menyapu sisi leher Dillard. Ringan, seperti kecelakaan yang sudah direncanakan dengan matang.Dillard tidak bergeming. Rahangnya mengeras. Juliet mendongak, memperhatikan otot di pipi pria itu yang berkedut. Dia mulai hafal tanda itu. Itu adalah pertempuran antara frustrasi dan gairah yang belum punya nama.Dengan ketenangan yang memprovokasi, Juliet menarik ujung jarinya di sepanjang garis leher pria itu. Lambat. Sengaja."Dillard," bisiknya. Suaranya serak, rendah, dan penuh tuntutan."Ya?" Jawaban itu terdengar berat. Dillard seolah harus menyeret setiap suku kata dari dasar tenggorokannya.Juliet tidak butuh kata-kata. Dia bergerak naik ke pangkuan pria itu. Ruang di kursi kereta ini memang sempit, tapi dia tidak peduli. Dia melingkarkan lengannya di leher Dillard, menariknya lebih dekat hingga ujung
"Lincoln.""Ya?""Tutup mulutmu sekarang," sahut Dillard datar, "sebelum kau mengumumkannya pada tukang pos besok pagi.""Wajahmu."Dia segera pasang ekspresi netral. Yang paling tidak berhasil yang pernah kulihat.Helena menepuk lengannya. "Kau sudah terlihat seperti orang yang menyimpan rahasia terbesar di dunia.""Aku bisa menyimpan rahasia!""Kau tidak bisa menyimpan rahasia," kata Helena datar. "Hei, aku memberitahu Dillard tentang hubungan kita padahal kiya sudah bersama dua tahun.""Itu berbeda—""Kita berangkat besok pagi," potong Dillard. "Tidur. Semua."*Roda kereta kayu menggilas jalanan berbatu. Suara ketukannya berirama. Itu menjadi satu-satunya musik latar di kereta kuda yang sepi ini. Pemandangan di luar jendela berkelebat pelan. Ada hijau hutan dan abu-abu jalanan. Lalu kembali lagi ke hijau.Dulu, tiap putaran roda ini terasa seperti hitung mundur. Sebuah hitung mundur menuju hukuman mati. Bayangan Viktor selalu membuntuti. Ruang sidang yang dingin dan beban masa
"Kau bukan apa-apa lagi," kata Dillard dingin. "Title mu akan dicabut. Tanah mu akan disita. Dan kau akan dihukum untuk semua kejahatanmu." "TIDAK! TIDAK! TIDAK! KAU TIDAK BISA MELAKUKANKU!" Eugene berteriak seperti anak kecil. "Bawa dia keluar," perintah Duke Ashford pada guards. "Masukkan ke sel
"Itu yang semua orang harus pikir," kata Celestine. Menatapku dengan mata minta maaf. "Maafkan aku, Juliet. Aku ikut rencana ayah. Aku kabur seperti yang dia minta. Karena aku takut apa yang akan terjadi kalau aku tidak.""Tapi kenapa?" tanyaku. "Kenapa kau menurutinya?""Karena dia ancam aku." Cel
"Eugene Brieris bukan ayah. Dia monster. Dia mengurungku. Dia menjualku. Setelah menjualku pada Duke, dia berencana menyerahkan ku pada Pangeran Viktor seperti barang dagangan.""Dia tidak pantas dipanggil ayah. Tidak pantas dipanggil bangsawan. Dia pengkhianat. Pembohong. Dan saat dia tertangkap d
Viktor terlihat semakin putus asa. "Tapi Eugene Brieris—dia tetap bersaksi benar tentang Duke Edmund! Dia tetap—""Dia bersaksi palsu." Lincoln maju lagi. Buka dokumen lain. "Dan kami punya bukti lebih banyak."Dia keluarkan setumpuk kertas. "Ini kesaksian dari sepuluh orang yang hadir di kastil Do







