Se connecterBegitu kami berhasil keluar ke koridor, Dillard langsung bergerak cepat. Ia membimbingku masuk ke dalam sebuah bilik kecil di samping aula. Bilik itu biasanya digunakan untuk menyimpan barang atau tempat istirahat pengawal. Begitu kami masuk, Dillard langsung menutup pintu kayu itu dengan rapat. "Mual?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Matanya menatapku dengan penuh kecemasan yang tertahan. "Hanya sebentar," jawabku sambil memegangi perutku yang bergejolak. "Ini akan segera lewat." "Duduk," perintah Dillard dengan tegas. "Aku tidak apa-apa, Dillard. Aku bisa berdiri—" "Duduk, Juliet," potongnya lagi. Kali ini suaranya melembut, namun tetap tidak menerima bantahan. Aku akhirnya menyerah pada perintahnya. Aku melangkah dan duduk di atas sebuah kursi kayu kecil di sudut ruangan. Aku menyandarkan kepala belakangku ke dinding tembok yang dingin. Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengambil napas dalam-dalam secara perlahan. Aku berusaha menenangkan detak jantungku yang berp
Ini benar-benar tidak direncanakan. Kejadian ini sama sekali di luar kendaliku. Rapat dewan pagi itu baru saja berjalan sekitar setengah jam. Suasana di dalam aula utama terasa begitu formal dan kaku. Semua orang tampak tegang. Tiba-tiba saja, aku merasakan sebuah gelombang mual yang luar biasa hebat. Rasa mual itu muncul dari dasar perutku. Efeknya jauh lebih buruk daripada yang biasa kurasakan beberapa hari terakhir. Mungkin ini terjadi karena waktu tidurku yang sedikit kurang semalam. Atau, mungkin juga karena aku melewatkan jadwal sarapan pagi ini. Perutku yang kosong tidak bisa berkompromi dengan ketegangan di dalam ruangan. Aku mencoba sekuat tenaga untuk menahannya. Aku menarik napas dalam-dalam secara sembunyi-sembunyi. Aku memaksa mataku untuk tetap fokus pada catatan di depanku. Jemariku meremas pena bulu dengan erat. Aku berusaha mengabaikan keringat dingin yang mulai terbit di tengkukku. Namun, usaha itu sia-sia. Gelombang mual kedua datang melanda dengan jau
Hari-hari di dalam istana berjalan dengan sangat cepat dan melelahkan. Atmosfer di sekitar kami terasa begitu padat dan menyesakkan. Agenda harian kami selalu dipenuhi oleh rapat dewan yang panjang. Tumpukan laporan intelijen dari perbatasan terus datang silih berganti. Setiap sore, kami harus melakukan analisis mendalam mengenai pergerakan musuh. Belum lagi perencanaan taktik politik yang menguras banyak energi. Kepala rasanya mau pecah setiap kali melihat tumpukan kertas di atas meja kerja.Namun, ada satu hal yang berbeda dari Dillard. Ada satu rutinitas baru yang selalu ia lakukan tanpa gagal. Ia melakukannya dengan sangat disiplin dan konsisten setiap malam.Tepat pada pukul sembilan malam, apa pun yang sedang terjadi, Dillard akan berhenti. Ia tidak peduli seberapa genting situasi politik saat itu. Ia tidak peduli jika ada kurir yang baru saja datang membawa pesan. Pria itu akan langsung menutup semua dokumen di atas mejanya dengan bunyi kecipak yang khas. Setelah itu, ia berdiri
Aku menundukkan kepala sejenak. Aku mengalihkan pandangan dari ketegangan di antara kedua pria itu. Mataku tertuju pada lembaran catatan di tanganku. Catatan itu kubuat dengan tergesa-gesa selama rapat dewan tadi.Jari-jariku meraba permukaan kertas yang agak kasar. Di sepanjang pinggiran halaman yang buram, aku telah mencoret-coret beberapa nama bangsawan tinggi.Aku menghubungkan satu nama dengan nama lainnya. Garis-garis tipis yang saling silang membentuk sebuah peta labirin yang rumit.Itu adalah peta dari ambisi rahasia mereka."Mungkin saya bisa meminta izin untuk melihat daftar hadir seluruh acara sosial di istana?" kataku memecah keheningan. "Khususnya untuk dua bulan terakhir."Kalimatku langsung mengalihkan perhatian dari perdebatan buntu mereka. Ruangan yang sempat membeku itu mendadak sunyi.Kedua pria itu seketika menghentikan argumen mereka. Theodore dan Dillard berbalik secara bersamaan. Sepasang mata mereka tertuju lurus ke arahku.Ruang tunggu kecil yang temaram itu
Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa di atas lantai marmer koridor yang dingin itu bergaung, memecah kesunyian yang sempat tercipta sesaat setelah aula rapat utama dikosongkan. Theodore muncul dari belokan koridor dengan jubah resminya yang sedikit berkibar, seolah-olah mempertegas ketegangan dan atmosfer berat yang dibawanya keluar dari ruangan tadi. Ia melangkah cepat, langsung memotong jalur berjalan kami yang searah, memaksa Dillard untuk menghentikan langkahnya secara mendadak.Secara otomatis, aku segera mengambil posisi setengah langkah di belakang Dillard. Berdiri tepat di sampingnya, namun tetap menjaga jarak formal yang semestinya—sebuah posisi yang belakangan ini seakan-akan telah menjadi tempat permanen dan tak tergantikan bagiku sejak badai politik di dalam istana ini mulai memanas dan mengancam kami semua.Theodore tidak langsung membuka suara. Tatapannya bergerak dinamis dan penuh selidik. Sepasang matanya yang tajam itu melirik ke arahku, beralih pada Dillard
Pena bulu di tangan Dillard tidak sekadar menggores perkamen. Benda itu mengetuk permukaan meja kayu ek dengan satu hentakan tunggal yang tegas. Suaranya kecil. Namun, di tengah ruang rapat yang berpenele kayu gelap dan minim sirkulasi itu, bunyinya terdengar seperti vonis mati.Theodore sengaja mengambil posisi di ujung meja terjauh. Jarak itu cukup aman untuk mengamati situasi tanpa harus langsung berhadapan dengan napas dingin sang Duke. Dia segera menegakkan punggungnya. Sepasang matanya yang jeli tidak melewatkan gerakan Dillard. Ujung jemari sang Duke berhenti tepat di atas peta topografi wilayah barat. Peta itu tergelar di antara tumpukan laporan keuangan."Duke Donoughoe," suara Theodore memecah keheningan. Suara itu memantul di antara langit-langit tinggi yang berdebu. "Ada yang ingin disampaikan?"Dillard tidak langsung mendongak. Dia membiarkan keheningan menggantung selama beberapa detik. Hal itu menciptakan ketegangan yang cukup pekat. Beberapa pria paruh baya di ruan
Hening total di ballroom.Semua mata tertuju pada buku kecil di tangan Celestine.Diary Putri Elara.Viktor wajahnya berubah. Dari merah ke putih dalam sekejap. "Dari mana kau dapat itu?""Dari kamar Putri Elara. Sebelum semua barang-barangnya dibakar." Celestine pegang diary erat. "Aku menyimpanny
Viktor menatapku dengan mata menyipit. Waspada sekarang."Kalau begitu—" Raja batuk lagi. Lebih parah kali ini. Sapu tangan penuh darah. "Kalau begitu audiensi dimulai. Duke Donoughoe dan Duchess Juliet—presentasikan bukti kalian."Dia duduk kembali di tahta. Napas tersengal.Dillard menatapku. Ada
"Aku tidak tahu. Tapi kita harus siap." Aku lirik tas dokumen di tangan Lincoln. "Kau bawa semuanya?""Semua ada di sini." Dia menepuk tas. "Tapi Juliet—ini terlalu cepat. Kita belum siap—""Tidak ada pilihan." Aku menatap Dillard yang sudah sampai di depan tahta. "Kita lakukan sekarang atau tidak
Carmen wajahnya merah. Entah malu atau marah."Aku mengerti." Suaranya kaku sekarang. "Maafkan aku kalau kata-kataku menyinggung. Aku hanya... aku hanya ingin tahu apa yang membuatmu memilih dia dibanding... pilihan lain yang ada.""Aku memang tidak memilih Juliet," kata Dillard. Menatap aku sekara







