LOGINHari-hari di dalam istana terasa sangat melelahkan. Waktu berjalan dengan begitu cepat dan padat. Agenda kami selalu dipenuhi oleh rapat demi rapat. Tumpukan laporan terus datang silih berganti. Kami harus melakukan analisis mendalam setiap saat. Belum lagi perencanaan taktik yang menguras banyak energi.Namun, ada satu hal yang berbeda dari Dillard. Ada satu rutinitas yang selalu ia lakukan tanpa gagal. Ia melakukannya dengan sangat disiplin setiap malam.Tepat pada pukul sembilan malam, apa pun yang sedang terjadi, Dillard akan berhenti. Ia tidak peduli seberapa genting situasi saat itu. Ia akan langsung menutup semua dokumen di atas mejanya. Setelah itu, ia meniup lilin kerja hingga padam. Ruangan pun seketika menjadi lebih temaram."Tidur," katanya dengan suara berat.Kalimat itu tidak diucapkan kepada siapa pun secara khusus. Nada suaranya terdengar datar. Namun, matanya selalu bergerak setelah itu. Ia pasti melirik ke arahku dengan tatapan yang penuh arti.Pada malam pertama rut
Aku menundukkan kepala sejenak. Aku mengalihkan pandangan dari ketegangan di antara kedua pria itu. Mataku tertuju pada lembaran catatan di tanganku. Catatan itu kubuat dengan tergesa-gesa selama rapat dewan tadi.Jari-jariku meraba permukaan kertas yang agak kasar. Di sepanjang pinggiran halaman yang buram, aku telah mencoret-coret beberapa nama bangsawan tinggi.Aku menghubungkan satu nama dengan nama lainnya. Garis-garis tipis yang saling silang membentuk sebuah peta labirin yang rumit.Itu adalah peta dari ambisi rahasia mereka."Mungkin saya bisa meminta izin untuk melihat daftar hadir seluruh acara sosial di istana?" kataku memecah keheningan. "Khususnya untuk dua bulan terakhir."Kalimatku langsung mengalihkan perhatian dari perdebatan buntu mereka. Ruangan yang sempat membeku itu mendadak sunyi.Kedua pria itu seketika menghentikan argumen mereka. Theodore dan Dillard berbalik secara bersamaan. Sepasang mata mereka tertuju lurus ke arahku.Ruang tunggu kecil yang temaram itu
Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa di atas lantai marmer koridor yang dingin itu bergaung, memecah kesunyian yang sempat tercipta sesaat setelah aula rapat utama dikosongkan. Theodore muncul dari belokan koridor dengan jubah resminya yang sedikit berkibar, seolah-olah mempertegas ketegangan dan atmosfer berat yang dibawanya keluar dari ruangan tadi. Ia melangkah cepat, langsung memotong jalur berjalan kami yang searah, memaksa Dillard untuk menghentikan langkahnya secara mendadak.Secara otomatis, aku segera mengambil posisi setengah langkah di belakang Dillard. Berdiri tepat di sampingnya, namun tetap menjaga jarak formal yang semestinya—sebuah posisi yang belakangan ini seakan-akan telah menjadi tempat permanen dan tak tergantikan bagiku sejak badai politik di dalam istana ini mulai memanas dan mengancam kami semua.Theodore tidak langsung membuka suara. Tatapannya bergerak dinamis dan penuh selidik. Sepasang matanya yang tajam itu melirik ke arahku, beralih pada Dillard
Pena bulu di tangan Dillard tidak sekadar menggores perkamen. Benda itu mengetuk permukaan meja kayu ek dengan satu hentakan tunggal yang tegas. Suaranya kecil. Namun, di tengah ruang rapat yang berpenele kayu gelap dan minim sirkulasi itu, bunyinya terdengar seperti vonis mati.Theodore sengaja mengambil posisi di ujung meja terjauh. Jarak itu cukup aman untuk mengamati situasi tanpa harus langsung berhadapan dengan napas dingin sang Duke. Dia segera menegakkan punggungnya. Sepasang matanya yang jeli tidak melewatkan gerakan Dillard. Ujung jemari sang Duke berhenti tepat di atas peta topografi wilayah barat. Peta itu tergelar di antara tumpukan laporan keuangan."Duke Donoughoe," suara Theodore memecah keheningan. Suara itu memantul di antara langit-langit tinggi yang berdebu. "Ada yang ingin disampaikan?"Dillard tidak langsung mendongak. Dia membiarkan keheningan menggantung selama beberapa detik. Hal itu menciptakan ketegangan yang cukup pekat. Beberapa pria paruh baya di ruan
Aku menelan ludah, mencoba menguasai diri sebelum senyum penuh kemenangan terbit di bibirku."Baik," kataku, nada suaraku sengaja dibuat santai untuk menutupi debaran dada. "Tapi aku mau jendela itu."Dillard mengalihkan lirikan matanya menuju jendela besar yang dimaksud. Sudut yang sudah jelas-jelas awalnya akan menjadi tempat mejanya sendiri berada."Jendela itu menghadap langsung ke taman," kilahnya, mencoba mempertahankan posisinya. "Lebih baik untuk konsentrasi—""Aku suka pemandangan," potongku cepat, melangkah melewatinya dengan gerakan anggun. "Dan cahaya matahari pagi dari sana pasti sangat bagus untuk melukis."Dillard mengerutkan dahi, menatapku tidak habis pikir. "Ini ruang kerja, Juliet. Bukan studio seni."
"Orang yang terlihat paling berhati-hati dan hemat bicara saat audiensi resmi," sahut Dillard pelan. Nada suaranya mendatar, namun ada ketegangan yang berbahaya di sana. Matanya perlahan terangkat, menatapku lurus-lurus.Aku mengangguk kecil, membalas tatapannya. Aku ingat betul pria itu. Tatapannya yang tajam, pembawaannya yang tenang, dan bagaimana dia mengamati sekelilingnya seperti seekor predator yang sedang menghitung peluang."Itu artinya ada dua kemungkinan," Theodore mengetuk-ngetuk jarinya di pinggiran meja mahoni, otaknya bekerja cepat. "Brennan mungkin sudah dikontak dan sedang dalam proses negosiasi, atau dia adalah target besar Cavendish berikutnya. Atau..." Dia mendadak ragu, kalimatnya menggantung di udara saat sebuah realitas yang lebih kelam melintasi pikirannya. "...atau dia bukan target sama sekali. Dia menjadi titik akhir dari rantai ini karena dia memang sudah berada di pihak Cavendish sejak awal."Keheningan yang mencekam kembali menyergap ruangan kerja itu. A
Namun, kenyataannya, pemberontakan itu belum sepenuhnya berakhir. Para pemberontak yang tersisa justru menyebar dan menyebabkan kekacauan di wilayah-wilayah sekitar. “Pemberontakan ini sebenarnya telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan rasanya tidak masuk akal bagaimana Pangeran Viktor terus-
Jantungku berdebar. "Jadi Eugene, ayahku benar-benar berbohong. Bukan cuma salah paham."Separuh diriku masih berharap ayahku tidak benar benar melakukan itu semua. Masih berharap pada kesalahpahaman. Masih berharap Brieris bukan alasan Donoughoe hancur.Aku salah."Tidak hanya berbohong. Dia bah
Surat ketiga datang minggu kelima. Lebih pendek lagi. Hampir hanya beberapa baris.Juliet,Maaf singkat. Pertempuran terus. Tidak banyak waktu.Aku baik. Masih hidup. Masih berpikir tentangmu.Tunggu aku.D.Itu saja. Tidak ada cerita. Tidak ada detail. Hanya konfirmasi dia masih bernapas.Aku pega
"Aku juga tidak." Lincoln melangkah masuk. Memaksa masuk meski Dillard menghalangi. "Kau sahabatku sejak kita anak-anak. Dan aku sudah lihat kau seperti ini sekali. Aku tidak akan biarkan terjadi lagi."Dillard mundur. Wajah berubah. Ada sesuatu di sana. Rasa sakit lama. Luka yang belum sembuh."La







