แชร์

Bab 3. Tenggelam

ผู้เขียน: Abigail Kusuma
last update วันที่เผยแพร่: 2024-04-01 13:37:16

Langkah kaki Amora begitu pelan, melangkah masuk ke dalam mansion milik Aiden. Desain elegan dan tertata sangat rapi dan sempurna. Bahkan debu pun tak terlihat. Bisa dikatakan Aiden adalah sosok pria yang perfectionist.

“Kamarmu ada di ujung kanan,” ucap Aiden di kala sudah tiba di lantai tiga.

Amora menatap Aiden dengan tatapan bingung. “Kamarku? Maksudmu, kita tidur terpisah?” tanyanya memastikan sambil mengerjapkan mata.

Aiden membalas tatapan Amora dengan tatapan tajam. “Kau berharap kita tidur bersama?!” balasnya seperti biasa sarkas, dan menusuk.

Amora tersentak karena nada bicara Aiden satu oktaf lebih tinggi. “A-aku hanya memastikan saja, Aiden.”

Aiden melangkah mendekat. Refleks, Amora mundur dengan wajah panik.

Amora menelan salivanya susah payah, dan mengangguk di balik wajah ketakutan. Detik selanjutnya Aiden melangkah pergi meninggalkan Amora yang bergeming di tempatnya, dengan raut wajah ketakutan.

“Nyonya,” sapa sang pelayan sontak membuat Amora terkejut.

“M-maaf, Nyonya. Saya tidak bermaksud membuat Anda terkejut.” Pelayan itu menundukkan kepalanya, meminta maaf.

Amora gelagapan melihat pelayan meminta maaf. “K-kau tidak salah. Aku saja yang melamun hingga membuatku terkejut. Tidak perlu minta maaf.”

Sang pelayan tersenyum sopan. “Mari, Nyonya, saya antar ke kamar Anda.”

Amora mengangguk merespon ucapan sang pelayan. Dia melangkah bersama dengan pelayan itu menuju kamar, yang tadi ditunjuk Aiden. Entah ke mana Aiden, Amora sama sekali tidak berani bertanya. Tinggal di mansion megah, bersama dengan pria yang tak pernah Amora kenal bagaikan mimpi buruk.

Sebuah kamar dengan desain warna cokelat muda dipadukan dengan cokelat tua, begitu menunjukkan keindahan. Lukisan besar sangat indah terletak sempurna di dinding megah kamar yang berukuran besar itu.

“Nyonya, ini kamar Anda. Di sebelah kiri ada walk-in closet.” Sang pelayan menunjuk dengan sopan walk-in closet yang ada di kamar megah itu.

Amora mengangguk. “Terima kasih. Kau boleh pergi sekarang. Selesaikan pekerjaanmu yang lain. Aku ingin istirahat.”

“Baik, Nyonya. Saya permisi.” Pelayan menundukkan kepalanya, lalu pamit undur diri dari hadapan Amora.

Amora duduk di pinggir kamar, mengendarkan pandangannya ke sekitar. Tidak pernah dia sangka akan berada di posisi ini. Posisi di mana menjadi pengantin pengganti adik tirinya. Hidup Amora seolah berhenti di sini. Dia tidak lagi bebas, karena sekarang telah menikah.

Menikah adalah impian semua kaum hawa. Namun yang diinginkan Amora adalah menikah dengan pria yang dia cintai. Dia dipaksa menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal, hanya demi menjalankan wasiat kakek dan neneknya. 

“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumam Amora dengan raut wajah muram, “Mungkinkah pernikahan ini bisa bertahan?”

***

Sore hari, Amora merasa jenuh terus menerus berada di dalam kamar. Sejak tiba di mansion milik Aiden, wanita itu tak keluar kamar. Ada rasa takut untuk keluar kamar, tapi rasa bosan telah menyergap dirinya membuatnya menjadi tak nyaman.

“Jalan-jalan keliling mansion sepertinya tidak apa-apa,” gumam Amora memiliki ide, berjalan-jalan keliling mansion. Wanita itu bangkit berdiri, dan melangkah keluar dari kamar.

“Nyonya,” sapa pelayan di kala Amora keluar dari kamar.

Amora tersenyum lembut. “Aku bosan di kamar. Aku ingin jalan-jalan berkeliling mansion.”

“Apa Anda ingin saya temani, Nyonya?” tawar sang pelayan.

Amora menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, tunjukkan saja di mana tempat yang bagus untuk menghilangkan rasa bosan.”

Sang pelayan tersenyum sopan. “Di sebelah kiri ada taman, dan di sebelah kanan ada ruang kolam renang.”

Amora manggut-manggut paham. “Hmm, Aiden di mana?”

“Tuan Aiden ada di ruang kerjanya, Nyonya. Apa Anda ingin saya panggilkan Tuan Aiden?” tawar sang pelayan sopan.

Amora panik. “Eh! Jangan! Jangan panggilkan dia. Biarkan dia di ruang kerjanya. Aku ingin berkeliling sendiri.”

“Baik, Nyonya.” Pelayan itu menjawab sopan—lalu Amora memilih melangkah menuju ruang kolam renang.

Setibanya di ruang kolam renang, Amora kagum dengan tatanan ruang kolam renang di mansion Aiden. Bisa dikatakan keluarga Aiden memang jauh lebih kaya dan lebih hebat dari keluarganya. Hal itu yang membuat Trice dijodohkan, tapi sayang Trice melarikan diri—dan Amora yang harus menggantikannya.

Angin berembus menyentuh kulit mulus Amora. Beberapa kali dia memejamkan mata, menikmati angin berembus yang menyentuh kulitnya. Namun, di kala dia membuka mata—dia melihat ada seekor anjing kecil yang terjebur ke kolam.

Amora mencoba menyelamatkan anak anjing tersebut dari tepian, tetapi sayangnya kakinya tergelincir. Keseimbangan tubuh Amora tak terjaga, dan berakhir dia tercebur ke kolam renang.

“Astaga! Nyonya Amora!” Seorang pelayan yang sedang bertugas membersihkan di area kolam renang pun sontak saja berlari karena terkejut melihat Amora jatuh ke kolam, dan berlari untuk meminta bantuan.

Di sisi lain, Aiden berdiri di balkon, menatap terkejut Amora yang tercebur di kolam.

“T-tuan … Nyonya Amora—” pelayan itu berpapasan dengan Aiden yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.

Aiden melihat sang pelayan berlari dengan napas tergesa-gesa dan raut wajah yang panik, dia tak menjawab ucapan dari sang pelayan. Detik itu juga, dia bergegas turun dari lantai dua dan langsung menuju kolam renang. Pelayan itu pun mengekor di belakang Aiden.

Setibanya di ruang kolam renang, Aiden melompat ke kolam renang yang kedalamannya lebih dari dua meter itu, dan kini dia meraih tubuh Amora yang sudah mengambang. Pun dia membopong tubuh Amora, membaringkan tubuh wanita itu ke tepi kolam.

Aiden segera melakukan tindakan CPR. Namun, hasilnya nihil, Amora tetap tidak membuka mata. Langkah terakhir yang dia lakukan adalah memberikan napas buatan. Dan berhasil! Napas buatan Aiden membuat Amora kembali mendapatkan oksigen, tapi juga membuat wanita itu terbatuk-batuk.

“Kau berniat bunuh diri di rumahku, hah?! Kolamku dalam! Jika kau tidak terlalu mahir renang, kau harusnya tanya dulu pada pelayan!” bentak Aiden emosi.

Wajah Amora memerah dan masih terbatuk-batuk. Ingatannya langsung mengingat apa yang terjadi padanya. “M-maafkan aku, Aiden. A-aku tadi menyelamatkan seekor anak anjing.”

Aiden mendecakkan lidahnya tak suka. “Kau menyelamatkan anak anjing, dan membiarkan dirimu hampir mati?! Begitu maksudmu?!”

Amora menunduk dengan air mata yang berlinang jatuh membasahi pipinya, di kala mendapatkan bentakan dari Aiden. Dia menyadari dirinya ceroboh, tapi dia tak mengira Aiden akan semarah ini padanya.

“Keringkan tubuhmu. Jangan lagi bertindak konyol! Jika kau ingin bunuh diri, jangan di rumahku!” seru Aiden meninggalkan Amora yang masih bergeming di tepi kolam, dengan air mata yang masih berlinang. Namun di kala Aiden beranjak, dia mendengar Amora mengaduh kesakitan.

Aiden menoleh dan mengembuskan napas kesal. Tanpa banyak bicara, dia langsung menggendong Amora dengan gaya bridal.

“A-apa yang kau lakukan? A-aku bisa berjalan!” seru Amora panik.

“Lebih baik kau diam,” seru Aiden seraya mengambil tangan Amora untuk dikalungkan di lehernya, “Aku tidak ingin ada orang yang terluka di rumahku.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pengantin Pengganti Pewaris Angkuh    Bab 37. Kau Menguji Kesabaranku?!

    Hari beranjak siang ketika mobil sedan hitam mewah yang mengantar Amora tiba di pelataran toko bunga miliknya. Begitu turun dari mobil, dia menarik napas panjang, mencoba menepis bayang-bayang wajah dingin serta tatapan tajam Aiden yang terus berkelebat di kepalanya sejak pagi.“Pagi, Nyonya Amora!” sapa Enola ramah begitu melihat bosnya melangkah masuk ke dalam toko yang dipenuhi harumnya bunga segar.“Pagi, Enola,” balas Amora singkat, mencoba memasang senyuman senormal mungkin.Amora berjalan ke arah meja kasir, meletakkan tas tangannya, lalu mulai merapikan beberapa gunting dan pita hias. Namun, pikirannya tampak melayang jauh. Kejadian semalam—di mana dirinya terjebak di kamar Aiden, insiden memalukan saat dia memeluk pria itu layaknya guling, hingga ancaman terselubung Aiden pagi tadi—terus berputar di kepalanya.Meski begitu, Amora sama sekali tidak menceritakan kepada Enola tentang kehidupan rumah tangganya. Jelas dia sengaja menutup rapat-rapat rahasia itu, tidak ingin Enola

  • Pengantin Pengganti Pewaris Angkuh    Bab 36. Canggung di Atas Ranjang dan Bayangan Rahasia

    Malam makin larut, merayap lewat dinding-dinding kamar utama yang luas dan didominasi warna monokrom. Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu padat, seolah oksigen di sekitar ranjang king-size milik Aiden menipis secara drastis.Amora berbaring telentang dengan tubuh kaku bak sebatang kayu yang baru ditebang. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang dihiasi lampu tidur temaram. Di sebelah kanannya, Aiden berbaring membelakanginya. Pria itu tampak begitu tenang, terbukti dari deru napasnya yang teratur dan lambat, kontras dengan jantung Amora yang berdegup kencang seperti tabuhan genderang perang di dadanya.‘Ya Tuhan, bagaimana bisa aku bernapas di ruangan yang sama, di atas ranjang yang sama dengan pria ini?’ batin Amora merutuki kecerobohannya sendiri. Semua ini berawal dari lidahnya yang terlalu blak-blakan menuntut kejelasan status pernikahan. Kini, senjata makan tuan itu benar-benar menghantamnya telak.Amora mencoba sedikit menggeser posisi tubuhnya ke sisi kiri

  • Pengantin Pengganti Pewaris Angkuh    Bab 35. Pindah Kamar 

    Tatapan Aiden semakin tajam dan dingin, mendengar pertanyaan konyol Amora. Aura wajah pria itu menunjukkan jelas tampak kesal, tapi semua ditahan tak langsung diledakan. “Cemburu? Apa kau sudah tidak waras menanyakan pertanyaan konyol itu?” seru Aiden dengan nada marah. Amora gelagapan melihat kemarahan Aiden. “A-Aiden, a-aku hanya bertanya saja. A-aku menceritakan pada Enola tentang kemarahanmu, dan Enola bilang kau cemburu. Apa itu benar?” Aiden memejamkan mata singkat. “Kenapa kau harus bercerita pada Enola, Amora?!” “Aku hanya meminta penadapat pada Enola saja, Aiden. A-aku bingung tadi kau bilang aku murahan. Jadi, aku meminta pendapat pada Enola,” kata Amora sedikit panik. Aiden mendecakkan lidahnya. “Kau meminta pendapat pada Enola, dan karyawanmu itu sama bodohnya denganmu! Aku mengatakan kau murahan, karena kau terlalu ramah pada pria! Harusnya kau memberikan batasan!” Mata Amora mengerjap beberapa kali. “Apa aku harus melayani pelanggan dengan nada ketus?” Aiden meng

  • Pengantin Pengganti Pewaris Angkuh    Bab 34. Pendapat dari Enola 

    Enola keluar dari dapur, membawakan satu kopi hitam, dan satu kopi susu yang dipesan oleh Amora. Namun, saat dia melangkah keluar tatapannya menatap Amora muram, dan tidak ada Aiden. “Nyonya Amora? Ke mana Tuan Aiden?” tanya Enola sopan, sembari meletakan minuman yang dia buat ke atas meja. Amora menghela napas panjang. “Aiden sudah pergi. Dia marah padaku.” “Marah pada Anda?” ulang Enola memastikan. Amora mengangguk. “Iya, Aiden marah padaku, Enola. Dia bilang aku murahan.” Kening Enola mengerut dalam. “Maaf, jika saya lancang, tapi kenapa Tuan Aiden mengatakan Anda murahan?” Amora duduk di kursi, seraya menopang dagu. “Aku tadi melayani pelanggan. Menurutku, aku hanya tersenyum ramah pada pelanggan. Tapi, Aiden mengatakan aku murahan. Aku memberikan senyuman yang menggoda pelanggan.” Enola semakin bingung. “Tunggu, Nyonya, apa pelanggan yang Anda layani seorang pria?” Amora kembali mengangguk. “Iya, pelanggan pria. Dia mencari bunga untuk orang yang dia cintai. Dia juga bil

  • Pengantin Pengganti Pewaris Angkuh    Bab 33. Bedakan Antara Ramah dan Murahan!

    Pagi menyapa, Amora bersiap-siap untuk pergi ke toko bunganya. Rasanya sudah lama dia tak mengunjungi toko bunganya. Pun sekarang dia sudah menyiapkan oleh-oleh untuk karyawannya. Hatinya senang, karena bisa kembali menjaga toko. “Aiden, aku berangkat ke toko bungaku dulu, ya?” pamit Amora dengan riang, seraya menatap Aiden. “Aku akan mengantarku,” ucap Aiden dingin, dan sontak membuat Amora terkejut. Mata Amora melebar. “Kau akan mengantarku? Kenapa, Aiden?” “Memangnya kenapa jika aku mengantarmu? Ada yang salah?” balas Aiden tak ramah. Amora menghela napas dalam. “Bukan seperti itu, aku hanya bingung saja. Hari ini kau harus ke kantor, kan?” “Aku tidak ingin kau membuat masalah. Aku akan mengantarmu ke toko bunga, lalu aku akan ke kantorku.” “Kau bisa terlambat, Aiden.” “Aku pemilik perusahaan.” “Aiden, tapi—” “Amora, kenapa kau keras kepala sekali? Sudahku katakan, aku akan mengantarmu, maka artinya aku mengantarmu! Jangan keras kepala!” seru Aiden dengan nada tinggi. A

  • Pengantin Pengganti Pewaris Angkuh    Bab 32. Tunggu Saat yang Tepat

    Aiden menatap dingin Richard yang muncul di hadapannya. Ya, tepat di kala Richard muncul, Colby langsung pamit undur diri. Asisten Aiden itu tak ingin mengganggu percakapan tuannya. “Well, kau masih tidak berubah, Aiden,” ucap Richard, sambil duduk di depan Aiden. “Gengsi mengaku cinta, huh?” ledeknya pada sepupunya itu. “Ada apa kau ke sini?” Aiden tak suka berbasa-basi, dia langsung menanyakan maksud dan tujuan sepupunya mendatanginya. Richard terkekeh. “Aku baru pulang dari luar negeri, dan aku dengar kau juga baru saja kembali dari Hong Kong, begini cara menyambut sepupumu? Ck! Sangat tidak sopan.” Aiden mendecakkan lidahnya. “Cepat katakan, ada apa kau ke sini?” Aiden yakin bahwa pasti ada sesuatu hal yang diinginkan oleh sepupunya itu. Dia sudah sangat mengenal dengan baik sepupunya. Meski bukan saudara kandung, tapi hubungannya dengan Richard terbilang sangat dekat. Aiden menyilangkan kaki kanan, dan bertumpu ke paha kiri. “Kau memang cerdas. Kau mampu membaca tujuanku k

  • Pengantin Pengganti Pewaris Angkuh    Bab 6. Ibuku Bukan Seorang Pelacur!

    “Kita duduk di sana!” Aiden menarik tangan Amora, mengajak secara paksa wanita itu duduk di kursi yang tersisa. Richard yang melihat Aiden menarik tangan Amora—membuatnya menyapa para tamu undangan.Amora terkejut di kala tangannya ditarik paksa Aiden. Wanita cantik itu bingung Aiden mengajaknya du

  • Pengantin Pengganti Pewaris Angkuh    Bab 5. Pesta Ulang Tahun Richard

    Menemani Aiden ke pesta ulang tahun Richard adalah hal yang Amora tak sangka. Wanita cantik itu berpikir, Aiden akan pergi sendiri, tapi ternyata malah mengajaknya. Jujur, Amora sangat malu untuk menghadiri pesta ulang tahun sepupu Aiden, tapi wanita itu tidak mungkin menolak apa yang sudah diingin

  • Pengantin Pengganti Pewaris Angkuh    Bab 4. Kedatangan Richard Reficco

    “S-sakit …” Amora mengerang kesakitan ketika Aiden mencoba mengobati pergelangan kakinya yang terluka.“Ini tidak akan selesai jika kau tidak bisa diam.” Aiden menghela napas berat, karena kaki Amora yang tidak bisa diam ketika ia sedang mengoleskan salep.“A-aku bisa sendiri,” Amora menatap mata A

  • Pengantin Pengganti Pewaris Angkuh    Bab 2. Tidur Terpisah

    “Tidurlah di ranjang, aku akan tidur di sofa.”Suara berat Aiden begitu menusuk ke indra pendengaran Amora. Pasangan yang baru saja menikah itu, masuk ke dalam kamar pengantin mereka. Tampak jelas kegugupan dan ketakutan di wajah Amora, sedangkan Aiden menunjukkan aura arogan dan amarah tertahan.A

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status