Home / Zaman Kuno / Pengantin Pengganti Sang Jenderal / Syarat Memaafkan Dari Permaisuri

Share

Syarat Memaafkan Dari Permaisuri

Author: Nona Lee
last update Last Updated: 2026-02-24 14:43:24

Pagi itu, istana Jin diselimuti kabut tipis yang mendinginkan pilar-pilar batu marmernya. Di lorong menuju aula utama, Shu Mei melangkah perlahan. Kakinya masih terasa senat-senut akibat terkilir semalam, namun ia menolak bantuan pelayan. Ia ingin merasakan setiap rasa sakit itu sebagai bentuk hukuman atas kekacauan yang telah ia perbuat. Dengan pakaian yang sangat bersahaja, tanpa perhiasan mewah dan riasan yang mencolok, Mei menunjukkan kerendahan hati yang paling dalam.

Di depan pintu aula
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Harga Sebuah Kesetiaan

    Di bawah tatapan intens Long Yuan, jantung Shu Mei serasa ingin melompat keluar dari dadanya. Tekanan di dagunya dan hembusan napas suaminya yang sarat akan kecurigaan membuatnya merasa terpojok di antara jurang. Namun, sebagai seorang wanita yang terbiasa hidup di tengah intrik istana Shu yang kejam, Mei menarik napas dalam, memaksakan sebuah ketenangan semu menyelimuti wajahnya. "Yuan, kau menyakitiku," ucap Mei dengan suara yang sengaja dilembutkan, matanya menatap sayu ke dalam manik mata hitam suaminya. "Aku mengerti kau sedang stres karena pengkhianatan di barak, tapi menuduhku menyembunyikan sesuatu... itu sangat melukai hatiku. Aku hanya seorang tabib yang sedang ketakutan melihat suaminya dalam bahaya. Tidak ada rahasia, Yuan. Hanya ada rasa cemas yang luar biasa." Yuan menatapnya lama, mencari celah kebohongan di balik sepasang mata jernih itu. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, ketegangan di rahang Yuan perlahan mengendur. Ia melepaskan cengkeramannya d

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Duri Dalam Kedamaian Palsu

    Malam itu, Paviliun Naga terasa lebih sunyi dari biasanya, namun bagi Shu Mei, kesunyian itu justru memekakkan telinga. Setelah Lin keluar dari kamar dengan senyum penuh kemenangan yang tersembunyi, Mei jatuh terduduk di tepi ranjang. Tangannya masih gemetar hebat, dan kantong berisi daun Labah Merah itu kini ia sembunyikan di dalam lipatan terdalam kotak obat rahasianya. Ia menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Di baliknya, Lin mungkin sedang berdiri berjaga, atau mungkin sedang menyiapkan teh pagi yang kini Mei sadari adalah media penyalur maut bagi suaminya. Pikiran Mei berkecamuk. Ia harus menetralkan racun di tubuh Long Yuan, tetapi ia harus melakukannya tanpa memancing kecurigaan Lin, dan yang lebih sulit lagi, tanpa memancing kecurigaan Yuan sendiri. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Yuan masuk dengan langkah berat. Zirah perangnya sudah dilepaskan, menyisakan jubah tidur hitam yang kontras dengan wajahnya yang pucat karena kelelahan dan pengaruh racun yang mulai bekerja.

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Topeng Yang Retak

    Hening malam itu terasa begitu berat, seolah udara di sekitar taman Paviliun Kediaman Pelayan telah membeku. Shu Mei berdiri dengan napas tersengal, jemarinya mencengkeram erat kantong hitam berisi daun Labah Merah yang baru saja ia gali dari tanah. Di hadapannya, Lin yang selama ini menjadi sandaran hidupnya, berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. "Kenapa?" suara Mei bergetar, pecah oleh rasa sakit yang tak terlukiskan. "Selama ini aku menganggapmu lebih dari sekadar pelayan. Kau adalah ibuku! Kau yang memegang tanganku saat aku menangis karena perlakuan Lian di Shu. Kau juga yang berkata bahwa aku beruntung mendapatkan pria seperti Yuan... Kau bilang kau bahagia melihatku dicintai olehnya! Kenapa kau tega meracuninya?!" Lin tidak menunduk. Ia tidak bersimpuh memohon ampun seperti biasanya. Wanita tua itu justru tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang mengejek setiap tetes air mata Mei. "Bahagia?" Lin tertawa rendah, suara yang biasanya terdengar lembut itu kini terdeng

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Pengkhianat

    Udara malam di sekitar barak elit Jin terasa semakin pekat oleh aroma kematian dan kecurigaan. Di tengah kekacauan itu, suara Long Yuan menggelegar, memberikan instruksi tegas untuk mengunci seluruh gerbang istana. Para prajurit berlarian, obor-obor menari liar menciptakan bayangan raksasa di dinding batu. Di bawah cahaya yang berkedip itu, Shu Mei berdiri mematung, namun matanya tidak tertuju pada suaminya yang sedang murka. Fokusnya terkunci pada sebuah jejak samar di tanah yang sedikit becek, tak jauh dari genangan darah hitam salah satu jenazah. Jejak kaki itu kecil, terlalu ramping untuk ukuran seorang prajurit pria. Dengan jantung yang berdegup kencang, Mei memutuskan untuk melangkah mundur secara perlahan, menjauh dari kerumunan tanpa menarik perhatian Yuan yang sedang sibuk mengintimidasi para perwira. Ia mengikuti jejak itu dengan langkah seringan bulu. Jejak tersebut mengarah menjauhi keramaian barak, menyusup ke jalan setapak yang ditumbuhi semak-semak hias menuju area pa

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Jejak Hitam Sang Pengkhianat

    Suasana di dalam kamar yang tadinya dipenuhi kehangatan gairah kini berubah menjadi sedingin makam. Long Yuan mencengkeram hulu pedangnya hingga buku jarinya memutih, sementara Shu Mei sudah bergerak cepat menyambar kotak medis besarnya. Kabar tentang kematian mendadak para prajurit elit adalah serangan langsung ke jantung pertahanan Naga Hitam. "Yuan... biarkan aku ikut," tegas Mei, suaranya tidak lagi menunjukkan keraguan. "Tidak! Kau tetap di sini, Mei! Ini adalah pembunuhan, dan aku tidak tahu siapa yang masih bersembunyi di balik bayang-bayang!" bentak Yuan sembari mengenakan jubah hitamnya dengan gerakan kasar. Namun, Mei tidak mendengarkan. Ia justru melangkah lebih dulu, melewati Yuan dan prajurit yang masih bersimpuh di lantai. Jubah tidurnya yang tipis kini ia lapisi dengan jubah luar yang tebal, dan langkah kakinya terdengar mantap di koridor kayu. "Mei! Aku bilang jangan ikut campur!" raung Yuan, berusaha mengejar istrinya. "Wanita itu, keras kepala sekali..." Mei ber

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Tetap Diam!

    Kemarahan Long Yuan meledak seketika setelah mendengar penjelasan Shu Mei. Sang Naga Hitam tidak terbiasa menjadi mangsa, apalagi di dalam sarangnya sendiri. Dengan wajah yang menggelap dan mata yang berkilat haus darah, Yuan menyambar jubahnya yang tergeletak di lantai, berniat untuk langsung menuju barak militer meski malam sudah larut. "Aku akan memenggal setiap kepala yang menyentuh zirahku hari ini!" geram Yuan, suaranya parau oleh amarah. "Siapa pun dia, pengkhianat itu tidak akan melihat matahari terbit besok pagi!" Namun, baru saja kakinya melangkah satu tindak menuju pintu, sebuah tangan mungil namun kuat mencengkeram lengannya. "Kau tidak akan pergi ke mana pun, Yuan!" pekik Mei. Ia menarik lengan suaminya dengan seluruh tenaga yang ia punya, memaksanya untuk berhenti. "Lepaskan, Mei! Ini masalah kedaulatan militer. Jika pengkhianat itu melarikan diri—" "Jika kau melangkah keluar dari pintu ini dan memacu kudamu, racun itu akan mengalir lurus ke jantungmu karena detak j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status