Share

Tetap Diam!

Author: Nona Lee
last update Last Updated: 2026-03-14 13:18:43

Kemarahan Long Yuan meledak seketika setelah mendengar penjelasan Shu Mei. Sang Naga Hitam tidak terbiasa menjadi mangsa, apalagi di dalam sarangnya sendiri. Dengan wajah yang menggelap dan mata yang berkilat haus darah, Yuan menyambar jubahnya yang tergeletak di lantai, berniat untuk langsung menuju barak militer meski malam sudah larut.

"Aku akan memenggal setiap kepala yang menyentuh zirahku hari ini!" geram Yuan, suaranya parau oleh amarah. "Siapa pun dia, pengkhianat itu tidak akan meliha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Topeng Yang Retak

    Hening malam itu terasa begitu berat, seolah udara di sekitar taman Paviliun Kediaman Pelayan telah membeku. Shu Mei berdiri dengan napas tersengal, jemarinya mencengkeram erat kantong hitam berisi daun Labah Merah yang baru saja ia gali dari tanah. Di hadapannya, Lin yang selama ini menjadi sandaran hidupnya, berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. "Kenapa?" suara Mei bergetar, pecah oleh rasa sakit yang tak terlukiskan. "Selama ini aku menganggapmu lebih dari sekadar pelayan. Kau adalah ibuku! Kau yang memegang tanganku saat aku menangis karena perlakuan Lian di Shu. Kau juga yang berkata bahwa aku beruntung mendapatkan pria seperti Yuan... Kau bilang kau bahagia melihatku dicintai olehnya! Kenapa kau tega meracuninya?!" Lin tidak menunduk. Ia tidak bersimpuh memohon ampun seperti biasanya. Wanita tua itu justru tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang mengejek setiap tetes air mata Mei. "Bahagia?" Lin tertawa rendah, suara yang biasanya terdengar lembut itu kini terdeng

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Pengkhianat

    Udara malam di sekitar barak elit Jin terasa semakin pekat oleh aroma kematian dan kecurigaan. Di tengah kekacauan itu, suara Long Yuan menggelegar, memberikan instruksi tegas untuk mengunci seluruh gerbang istana. Para prajurit berlarian, obor-obor menari liar menciptakan bayangan raksasa di dinding batu. Di bawah cahaya yang berkedip itu, Shu Mei berdiri mematung, namun matanya tidak tertuju pada suaminya yang sedang murka. Fokusnya terkunci pada sebuah jejak samar di tanah yang sedikit becek, tak jauh dari genangan darah hitam salah satu jenazah. Jejak kaki itu kecil, terlalu ramping untuk ukuran seorang prajurit pria. Dengan jantung yang berdegup kencang, Mei memutuskan untuk melangkah mundur secara perlahan, menjauh dari kerumunan tanpa menarik perhatian Yuan yang sedang sibuk mengintimidasi para perwira. Ia mengikuti jejak itu dengan langkah seringan bulu. Jejak tersebut mengarah menjauhi keramaian barak, menyusup ke jalan setapak yang ditumbuhi semak-semak hias menuju area pa

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Jejak Hitam Sang Pengkhianat

    Suasana di dalam kamar yang tadinya dipenuhi kehangatan gairah kini berubah menjadi sedingin makam. Long Yuan mencengkeram hulu pedangnya hingga buku jarinya memutih, sementara Shu Mei sudah bergerak cepat menyambar kotak medis besarnya. Kabar tentang kematian mendadak para prajurit elit adalah serangan langsung ke jantung pertahanan Naga Hitam. "Yuan... biarkan aku ikut," tegas Mei, suaranya tidak lagi menunjukkan keraguan. "Tidak! Kau tetap di sini, Mei! Ini adalah pembunuhan, dan aku tidak tahu siapa yang masih bersembunyi di balik bayang-bayang!" bentak Yuan sembari mengenakan jubah hitamnya dengan gerakan kasar. Namun, Mei tidak mendengarkan. Ia justru melangkah lebih dulu, melewati Yuan dan prajurit yang masih bersimpuh di lantai. Jubah tidurnya yang tipis kini ia lapisi dengan jubah luar yang tebal, dan langkah kakinya terdengar mantap di koridor kayu. "Mei! Aku bilang jangan ikut campur!" raung Yuan, berusaha mengejar istrinya. "Wanita itu, keras kepala sekali..." Mei ber

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Tetap Diam!

    Kemarahan Long Yuan meledak seketika setelah mendengar penjelasan Shu Mei. Sang Naga Hitam tidak terbiasa menjadi mangsa, apalagi di dalam sarangnya sendiri. Dengan wajah yang menggelap dan mata yang berkilat haus darah, Yuan menyambar jubahnya yang tergeletak di lantai, berniat untuk langsung menuju barak militer meski malam sudah larut. "Aku akan memenggal setiap kepala yang menyentuh zirahku hari ini!" geram Yuan, suaranya parau oleh amarah. "Siapa pun dia, pengkhianat itu tidak akan melihat matahari terbit besok pagi!" Namun, baru saja kakinya melangkah satu tindak menuju pintu, sebuah tangan mungil namun kuat mencengkeram lengannya. "Kau tidak akan pergi ke mana pun, Yuan!" pekik Mei. Ia menarik lengan suaminya dengan seluruh tenaga yang ia punya, memaksanya untuk berhenti. "Lepaskan, Mei! Ini masalah kedaulatan militer. Jika pengkhianat itu melarikan diri—" "Jika kau melangkah keluar dari pintu ini dan memacu kudamu, racun itu akan mengalir lurus ke jantungmu karena detak j

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Racun Di Balik Gairah

    Suasana di dalam kamar utama Paviliun Naga terasa begitu kontras dengan dinginnya angin dari luar. Hanya ada suara deru napas yang saling berburu dan gemertak kayu bakar dari perapian yang mulai meredup. Begitu pintu kamar tertutup rapat dan terkunci, Long Yuan tidak lagi memberikan ruang bagi Shu Mei untuk menghindar. Ia menyudutkan istrinya ke dinding sutra, menciumnya dengan rasa lapar yang telah ia pendam selama berhari-hari. Mei, yang awalnya berniat hanya memberikan pelukan singkat, perlahan luluh dalam kehangatan dekapan suaminya. Tangannya yang mungil merambat naik, meremas bahu kokoh Yuan saat bibir lelaki itu menjelajahi lehernya dengan tuntutan yang mendalam. Aroma maskulin bercampur debu peperangan dari tubuh Yuan terasa begitu memabukkan. "Aku menagih janjimu, Mei," bisik Yuan serak di sela-sela ciumannya. Dengan gerakan yang tidak sabar namun penuh perasaan, Yuan mulai menanggalkan jubah perangnya yang berat, membiarkannya jatuh ke lantai dengan suara dentingan logam

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Cemburu Sang Naga

    Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat warna jingga kemerahan yang perlahan ditelan kegelapan malam. Di barak Jin, Long Yuan tidak lagi bisa memegang kuas strateginya dengan tenang. Pikirannya sudah melesat jauh menuju desa perbatasan. Meski ia telah mengirimkan pasukan elitnya, rasa tidak tenang itu tetap berdenyut di bawah kulitnya. Dengan geraman rendah, ia menyambar jubah hitamnya, menaiki kuda perangnya, dan memacu hewan itu seperti iblis yang mengejar mangsa. Sesampainya di desa, suasana yang tadinya kacau mulai sedikit lebih teratur, namun kedatangan Yuan seketika mengubah atmosfer. Derap kaki kuda hitamnya yang besar dan suara dentingan zirahnya menciptakan aura dominasi yang menyesakkan. Saat Yuan berjalan melewati tenda-tenda darurat, rakyat yang tadinya berbisik-bisik langsung bungkam. Mereka menundukkan kepala sedalam mungkin, tidak berani menatap wajah sang Jenderal yang terkenal tanpa ampun itu. Bahkan anak-anak kecil yang tadi sempat bermain di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status