LOGIN
Langit di atas Kekaisaran Shu tampak mendung, seolah-olah awan sendiri tahu bahwa kedamaian yang sedang dirayakan di aula utama adalah sebuah kebohongan besar. Di sudut paling terpencil dari istana yang megah itu, berdiri sebuah bangunan tua yang nyaris runtuh yang dikenal sebagai Paviliun Teratai Layu. Di sanalah seorang wanita bernama Shu Mei menghabiskan seluruh hidupnya. Jauh dari pesta pora, jauh dari kasih sayang, dan jauh dari pandangan dunia.
Shu Mei berdiri mematung di tengah ruangan yang remang-remang. Rambutnya yang hitam legam mengalir lurus hingga ke pinggang, berkilau seperti sutra terbaik meskipun ia hanya menggunakan minyak kelapa sederhana untuk merawatnya. Wajahnya yang berbentuk hati memiliki kecantikan yang murni, mata yang jernih seperti air telaga dan bibir ranum yang jarang tersenyum. Namun, kecantikan itu kini terkubur di bawah lapisan kain sutra merah yang berat dan sulaman emas yang rumit. Ia menatap pantulan dirinya di cermin perunggu yang mulai berkarat. Di sana, seorang pengantin tampak berdiri dengan gagah, namun Mei merasa seperti seekor domba yang sedang dihias sebelum disembelih di atas altar. "Indah sekali," sebuah suara berat dan dingin memecah keheningan. Mei tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Ia melihat pantulan ayahnya, Kaisar Shu, berdiri di ambang pintu. Pria itu tidak pernah menginjakkan kaki di paviliun ini selama sepuluh tahun, sejak pemakaman ibunda Mei, seorang selir rendah yang mati dalam kesepian. "Gaun itu seharusnya milik kakakmu, Lian," ucap Kaisar sembari melangkah masuk, suaranya tidak mengandung penyesalan sedikit pun. "Tapi sekarang, kau harus memastikan dunia percaya bahwa kau adalah dia." Mei mengepalkan tangannya di balik lengan baju yang lebar. "Mengapa harus aku, Yang Mulia? Mengapa bukan salah satu putri sah anda yang lain? Lian melarikan diri karena dia takut pada Jenderal Long Yuan. Dia takut mati. Lalu, apakah hidupku begitu tidak berharga hingga anda melemparkanku ke sarang harimau tanpa kedip?" Kaisar mendengus, matanya menatap Mei dengan tatapan menghina. "Hidupmu adalah milik Kekaisaran ini sejak kau dilahirkan. Kau adalah putriku hanya dalam nama. Selama ini kau hanya memakan nasi istana tanpa memberikan kontribusi apa pun. Inilah saatnya kau membalas budi." "Membalas budi?" Mei tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Anda tidak pernah menganggapku sebagai putri. Anda membiarkanku kelaparan di paviliun ini, membiarkan para pelayan menindasku, dan sekarang saat Kekaisaran Jin menuntut janji, anda mengingat bahwa anda memiliki seorang cadangan. Ini bukan pengabdian, Yang Mulia. Ini adalah pengkhianatan terhadap darah anda sendiri." Wajah Kaisar Shu memerah karena marah. Ia melangkah maju dan mencengkeram rahang Mei dengan kasar, memaksanya menatap mata tua yang penuh ambisi itu. "Dengarkan aku baik-baik, Mei," desisnya. "Long Yuan bukan pria yang bisa kau ajak bicara. Dia adalah iblis yang berjalan di muka bumi. Jika dia tahu bahwa Shu telah menipunya, dia tidak hanya akan memenggal kepalamu, tapi dia akan meratakan seluruh istana ini. Dan jika kau berani membuka mulutmu atau mencoba melarikan diri seperti Lian..." Kaisar memberi isyarat ke arah pintu. Dua prajurit masuk sambil menyeret seorang wanita tua yang terisak. Pelayan Lin, satu-satunya orang yang merawat Mei sejak kecil. Sebuah pedang dingin ditempelkan ke leher wanita tua itu. "Lin..." Mei berbisik, matanya mulai berkaca-kaca. "Satu kata yang salah keluar dari mulutmu, atau satu gerakan yang mencurigakan di hadapan Long Yuan, maka kepala pelayan tua ini akan jatuh ke tanah sebelum kau sempat bernapas," ancam Kaisar. "Pilihlah. Menjadi Permaisuri Jin yang terhormat, atau menjadi alasan mengapa pengasuhmu mati bersimbah darah." Mei merasakan dadanya sesak, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah habis. Ia menatap Pelayan Lin yang menggelengkan kepala, memohon agar Mei tidak memikirkannya. Namun, bagi Mei, Lin adalah satu-satunya alasan ia masih bertahan hidup di istana yang dingin ini. Dengan perlahan, Mei melepaskan diri dari cengkeraman ayahnya. Ia berdiri tegak, membiarkan martabat yang selama ini ia simpan di balik kemiskinan terpancar keluar. "Baiklah," kata Mei dengan nada datar, suaranya kini terdengar seperti es yang membeku. "Aku akan pergi. Aku akan menjadi persembahan bagi Jenderal haus darah itu. Tapi ingatlah ini, Yang Mulia... mulai saat ini, aku bukan lagi putri dari Kekaisaran Shu. Jika suatu saat aku kembali, itu bukan sebagai anakmu, melainkan sebagai badai yang akan menghancurkan segalanya." Kaisar hanya tertawa meremehkan, menganggap ucapan Mei hanyalah gertakan seorang gadis lemah. "Pakai cadarmu. Kereta sudah menunggu. Jangan biarkan ada setetes air mata pun yang merusak riasan wajahmu. Di mata dunia, kau adalah Shu Lian, mutiara dari Shu." Setelah Kaisar pergi, Mei kembali menatap cermin. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengambil cadar kain sutra merah transparan yang dihiasi butiran permata kecil. Ia memakainya, menutupi wajah cantiknya yang kini pucat pasi. Di balik cadar itu, ia bukan lagi Shu Mei yang tidak terlihat. Ia adalah seorang pengantin pengganti yang memikul beban kematian. Ia tahu, di perbatasan sana, Long Yuan menunggunya dengan pedang terhunus. Dan ia juga tahu, ia harus belajar untuk mencintai kegelapan jika ia ingin bertahan hidup di antara para serigala. Mei melangkah keluar paviliun untuk terakhir kalinya. Gaun merahnya menyapu lantai kayu yang berdebu, seolah-olah menyeret semua kenangan pahit masa kecilnya menuju masa depan yang penuh darah. Ia tersenyum pahit, "Tumbal..." gumamnya pelan. "Aku hanya wanita yang di tumbalkan bagi Kekaisaran Shu." **semoga kalian suka dgn cerita baruku ya.. jangan sungkan untuk meninggalkan komentar, karena author selalu menunggu komen-komen dari kalian huhu. jangan lupa tinggalkan riview nya juga ya** selamat membaca~~Hening malam itu terasa begitu berat, seolah udara di sekitar taman Paviliun Kediaman Pelayan telah membeku. Shu Mei berdiri dengan napas tersengal, jemarinya mencengkeram erat kantong hitam berisi daun Labah Merah yang baru saja ia gali dari tanah. Di hadapannya, Lin yang selama ini menjadi sandaran hidupnya, berdiri dengan ketenangan yang mengerikan. "Kenapa?" suara Mei bergetar, pecah oleh rasa sakit yang tak terlukiskan. "Selama ini aku menganggapmu lebih dari sekadar pelayan. Kau adalah ibuku! Kau yang memegang tanganku saat aku menangis karena perlakuan Lian di Shu. Kau juga yang berkata bahwa aku beruntung mendapatkan pria seperti Yuan... Kau bilang kau bahagia melihatku dicintai olehnya! Kenapa kau tega meracuninya?!" Lin tidak menunduk. Ia tidak bersimpuh memohon ampun seperti biasanya. Wanita tua itu justru tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang mengejek setiap tetes air mata Mei. "Bahagia?" Lin tertawa rendah, suara yang biasanya terdengar lembut itu kini terdeng
Udara malam di sekitar barak elit Jin terasa semakin pekat oleh aroma kematian dan kecurigaan. Di tengah kekacauan itu, suara Long Yuan menggelegar, memberikan instruksi tegas untuk mengunci seluruh gerbang istana. Para prajurit berlarian, obor-obor menari liar menciptakan bayangan raksasa di dinding batu. Di bawah cahaya yang berkedip itu, Shu Mei berdiri mematung, namun matanya tidak tertuju pada suaminya yang sedang murka. Fokusnya terkunci pada sebuah jejak samar di tanah yang sedikit becek, tak jauh dari genangan darah hitam salah satu jenazah. Jejak kaki itu kecil, terlalu ramping untuk ukuran seorang prajurit pria. Dengan jantung yang berdegup kencang, Mei memutuskan untuk melangkah mundur secara perlahan, menjauh dari kerumunan tanpa menarik perhatian Yuan yang sedang sibuk mengintimidasi para perwira. Ia mengikuti jejak itu dengan langkah seringan bulu. Jejak tersebut mengarah menjauhi keramaian barak, menyusup ke jalan setapak yang ditumbuhi semak-semak hias menuju area pa
Suasana di dalam kamar yang tadinya dipenuhi kehangatan gairah kini berubah menjadi sedingin makam. Long Yuan mencengkeram hulu pedangnya hingga buku jarinya memutih, sementara Shu Mei sudah bergerak cepat menyambar kotak medis besarnya. Kabar tentang kematian mendadak para prajurit elit adalah serangan langsung ke jantung pertahanan Naga Hitam. "Yuan... biarkan aku ikut," tegas Mei, suaranya tidak lagi menunjukkan keraguan. "Tidak! Kau tetap di sini, Mei! Ini adalah pembunuhan, dan aku tidak tahu siapa yang masih bersembunyi di balik bayang-bayang!" bentak Yuan sembari mengenakan jubah hitamnya dengan gerakan kasar. Namun, Mei tidak mendengarkan. Ia justru melangkah lebih dulu, melewati Yuan dan prajurit yang masih bersimpuh di lantai. Jubah tidurnya yang tipis kini ia lapisi dengan jubah luar yang tebal, dan langkah kakinya terdengar mantap di koridor kayu. "Mei! Aku bilang jangan ikut campur!" raung Yuan, berusaha mengejar istrinya. "Wanita itu, keras kepala sekali..." Mei ber
Kemarahan Long Yuan meledak seketika setelah mendengar penjelasan Shu Mei. Sang Naga Hitam tidak terbiasa menjadi mangsa, apalagi di dalam sarangnya sendiri. Dengan wajah yang menggelap dan mata yang berkilat haus darah, Yuan menyambar jubahnya yang tergeletak di lantai, berniat untuk langsung menuju barak militer meski malam sudah larut. "Aku akan memenggal setiap kepala yang menyentuh zirahku hari ini!" geram Yuan, suaranya parau oleh amarah. "Siapa pun dia, pengkhianat itu tidak akan melihat matahari terbit besok pagi!" Namun, baru saja kakinya melangkah satu tindak menuju pintu, sebuah tangan mungil namun kuat mencengkeram lengannya. "Kau tidak akan pergi ke mana pun, Yuan!" pekik Mei. Ia menarik lengan suaminya dengan seluruh tenaga yang ia punya, memaksanya untuk berhenti. "Lepaskan, Mei! Ini masalah kedaulatan militer. Jika pengkhianat itu melarikan diri—" "Jika kau melangkah keluar dari pintu ini dan memacu kudamu, racun itu akan mengalir lurus ke jantungmu karena detak j
Suasana di dalam kamar utama Paviliun Naga terasa begitu kontras dengan dinginnya angin dari luar. Hanya ada suara deru napas yang saling berburu dan gemertak kayu bakar dari perapian yang mulai meredup. Begitu pintu kamar tertutup rapat dan terkunci, Long Yuan tidak lagi memberikan ruang bagi Shu Mei untuk menghindar. Ia menyudutkan istrinya ke dinding sutra, menciumnya dengan rasa lapar yang telah ia pendam selama berhari-hari. Mei, yang awalnya berniat hanya memberikan pelukan singkat, perlahan luluh dalam kehangatan dekapan suaminya. Tangannya yang mungil merambat naik, meremas bahu kokoh Yuan saat bibir lelaki itu menjelajahi lehernya dengan tuntutan yang mendalam. Aroma maskulin bercampur debu peperangan dari tubuh Yuan terasa begitu memabukkan. "Aku menagih janjimu, Mei," bisik Yuan serak di sela-sela ciumannya. Dengan gerakan yang tidak sabar namun penuh perasaan, Yuan mulai menanggalkan jubah perangnya yang berat, membiarkannya jatuh ke lantai dengan suara dentingan logam
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan semburat warna jingga kemerahan yang perlahan ditelan kegelapan malam. Di barak Jin, Long Yuan tidak lagi bisa memegang kuas strateginya dengan tenang. Pikirannya sudah melesat jauh menuju desa perbatasan. Meski ia telah mengirimkan pasukan elitnya, rasa tidak tenang itu tetap berdenyut di bawah kulitnya. Dengan geraman rendah, ia menyambar jubah hitamnya, menaiki kuda perangnya, dan memacu hewan itu seperti iblis yang mengejar mangsa. Sesampainya di desa, suasana yang tadinya kacau mulai sedikit lebih teratur, namun kedatangan Yuan seketika mengubah atmosfer. Derap kaki kuda hitamnya yang besar dan suara dentingan zirahnya menciptakan aura dominasi yang menyesakkan. Saat Yuan berjalan melewati tenda-tenda darurat, rakyat yang tadinya berbisik-bisik langsung bungkam. Mereka menundukkan kepala sedalam mungkin, tidak berani menatap wajah sang Jenderal yang terkenal tanpa ampun itu. Bahkan anak-anak kecil yang tadi sempat bermain di







