MasukRoda kereta kayu itu berderit, memecah kesunyian hutan perbatasan yang berkabut. Di dalam ruang sempit yang berbau harum cendana dan sutra baru, Shu Mei duduk mematung. Setiap guncangan kereta terasa seperti detak jantungnya yang tak beraturan. Ia telah meninggalkan gerbang Kekaisaran Shu, meninggalkan satu-satunya dunia yang ia kenal. Betapapun buruknya dunia itu, menuju wilayah musuh bebuyutan yang selama puluhan tahun telah menumpahkan darah rakyatnya.
Mei menyentuh permukaan gaun pengantinnya yang kasar karena sulaman emas. Jemarinya gemetar. Ia belum pernah bertemu dengan Long Yuan. Nama itu selama ini hanya mampir ke telinganya melalui bisikan-bisikan ketakutan para pelayan di dapur istana atau cerita mengerikan para prajurit yang kembali dari medan perang dalam keadaan cacat. Long Yuan, Sang Naga Penelan Darah. Rumor mengatakan bahwa Jenderal itu tidak memiliki jantung. Konon, ia meminum darah musuhnya langsung dari cawan yang terbuat dari tengkorak manusia. Ada yang bilang wajahnya penuh luka parut hingga menyerupai monster, sementara yang lain bersumpah bahwa siapa pun yang menatap matanya terlalu lama akan kehilangan kewarasan. Bulu kuduk Mei meremang. Udara di dalam kereta terasa semakin dingin seiring semakin dekatnya mereka dengan perbatasan Kekaisaran Jin. "Bagaimana jika dia menyadarinya?" bisik Mei pada kesunyian. "Bagaimana jika satu embusan napas saja cukup baginya untuk mencium bau kebohongan ini?" Ketakutan itu bukan tanpa alasan. Long Yuan adalah predator ulung yang menghabiskan separuh hidupnya di medan perang. Menipunya adalah tindakan bunuh diri. Namun, Mei tidak memiliki pilihan. Jika ia mundur, kepala Pelayan Lin akan dipisahkan dari tubuhnya. Tiba-tiba, kereta berhenti dengan sentakan keras. Suara derap kuda yang sangat banyak mengepung kereta itu. Bukan suara musik seruling atau tabuhan gendang pesta yang menyambutnya, melainkan denting senjata dan suara baju zirah yang saling beradu. Tidak ada sambutan hangat bagi putri dari kerajaan musuh. "Turunkan pengantinnya!" sebuah suara bariton yang berat dan penuh wibawa menggelegar dari luar. Pintu kereta terbuka. Seorang prajurit Jin dengan wajah kaku memberikan tangannya. Mei menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya, lalu melangkah turun. Begitu kakinya menyentuh tanah, pemandangan di depannya nyaris membuat lututnya lemas. Ia tidak berdiri di depan sebuah aula pesta, melainkan di tengah barisan ribuan pasukan dengan persenjataan lengkap yang menatapnya dengan penuh kebencian. Di tengah kerumunan itu, di atas kuda hitam yang besar, berdirilah sosok itu. Long Yuan. Pria itu tidak memakai pakaian pengantin formal. Ia mengenakan baju zirah hitam legam dengan jubah bulu serigala yang tersampir di bahunya. Sosoknya tinggi, gagah, dan mengintimidasi. Rumor tentang wajah monster itu ternyata salah besar. Di bawah cahaya obor yang berkobar, Mei bisa melihat wajah yang sangat tampan namun sangat berbahaya. Rahang yang tegas, hidung mancung yang tajam, dan kulit putih walau matahari di medan perang membakarnya. Namun, yang paling mengerikan adalah sorot matanya. Dingin, tajam bagai mata elang, dan sama sekali tidak memiliki binar manusiawi. Yuan tidak turun dari kudanya. Ia hanya menatap tandu itu dari ketinggian dengan tatapan merendahkan. Semua orang di sana menunduk, tidak ada yang berani menatap langsung sang Jenderal. Aura kekuasaan yang dipancarkannya begitu pekat hingga membuat udara terasa berat untuk dihirup. "Bawa dia ke kamarku," ucap Yuan dingin tanpa sedikit pun nada lembut. "Aku ingin melihat apakah Putri Kaisar Shu sepadan dengan perdamaian yang membosankan ini." Tanpa menunggu jawaban, Yuan memacu kudanya meninggalkan tempat itu, membiarkan debu tanah mengotori ujung gaun merah Mei. Mei meremas kain gaunnya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Ucapan itu bukan sambutan seorang suami, melainkan sebuah ancaman. Para pelayan Jin yang bermuka dingin menuntun Mei menuju sebuah paviliun besar di jantung markas militer yang kini merangkap sebagai kediaman sementara. Ruangan itu luas, namun minim hiasan, khas seorang pria yang tidak peduli pada kemewahan dan hanya peduli pada efisiensi perang. Hanya ada sebuah tempat tidur besar dengan sprei hitam dan meja kayu yang dipenuhi peta taktik peperangan. Mei berdiri di tengah ruangan, punggungnya tegak namun kepalanya tertunduk dalam. Ia bisa mendengar langkah kaki yang berat mendekat. Suara sepatu bot yang menghantam lantai batu itu terdengar seperti lonceng kematian baginya. Pintu terbuka. Angin malam yang dingin masuk bersama sosok tinggi yang menutup pintu dengan dentuman keras. Long Yuan telah kembali. Ia melepaskan jubah bulunya dan melemparkannya ke kursi kayu, lalu berjalan mendekati Mei. Aroma keringat, besi, dan wangi maskulin yang tajam segera memenuhi indra penciuman Mei. Mei tidak berani mengangkat wajahnya. Ia hanya bisa melihat sepatu bot hitam Yuan yang berhenti tepat di depan kakinya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Yuan bisa mendengarnya. "Angkat kepalamu, Putri Shu," perintah Yuan. Mei tetap bergeming. Ia terlalu takut jika matanya yang bergetar akan mengkhianatinya. Ia tahu bahwa Shu Lian memiliki tatapan yang sombong dan manja, sesuatu yang tidak bisa ia tiru dalam keadaan terdesak seperti ini. Sebuah tawa rendah dan berbahaya keluar dari tenggorokan Yuan. "Begitu banyak rumor tentang keberanian putri sulung Kekaisaran Shu, namun di depanku, kau tak lebih dari seekor kelinci yang sekarat." Tiba-tiba, suara gesekan logam terdengar tajam. Yuan telah mengeluarkan pedang panjangnya. Mei tersentak, namun sebelum ia sempat bergerak, ujung pedang yang dingin itu sudah berada di bawah dagunya, memaksanya untuk mengangkat wajah. Mata mereka bertemu untuk pertama kalinya. Mata hitam Yuan yang pekat seolah menembus langsung ke dalam jiwanya. Jenderal itu menyipitkan mata, mengamati setiap inci wajah Mei di balik cadar transparan yang bertabur permata itu. Ada sesuatu yang salah. Ia pernah melihat potret Shu Lian, dan ia pernah melihat wanita itu dari kejauhan saat perundingan damai tahun lalu. Wanita di depannya ini memiliki kelembutan yang berbeda, kecantikan yang lebih murni namun sekaligus lebih rapuh. Dengan gerakan cepat dan kasar, Yuan menggunakan ujung pedangnya untuk mengait pinggiran cadar merah itu. Dalam satu tarikan, kain sutra itu terlepas dan jatuh ke lantai seperti kelopak bunga yang layu. Wajah Mei kini terbuka sepenuhnya. Cantik, pucat, dan penuh ketakutan yang berusaha disembunyikan. Rahang Long Yuan mengeras. Sorot matanya yang tadi dingin kini berubah menjadi kemurkaan yang meledak-ledak. Ia menekan ujung pedangnya lebih dalam ke kulit leher Mei, hingga setetes darah segar mengalir perlahan di atas kulit putih wanita itu. "Kau bukan Shu Lian," desis Yuan dengan suara yang sanggup membekukan darah. "Siapa kau, dan mengapa Kekaisaran Shu mengirim mangsa murahan sepertimu ke tempat tidurku?" Mei terengah, merasakan dinginnya maut menyentuh nadinya. Penyamarannya hancur bahkan sebelum pernikahan mereka di mulai. "Aku...""Kau masih saja menanyakan hal yang jawabannya sudah tertulis di setiap hela napasku, Yuan," bisik Shu Mei sembari menyamankan posisinya dalam pelukan sang Kaisar. Long Yuan terkekeh, suara rendahnya menggetarkan dada tempat Mei bersandar. Mereka berdiri di balkon paviliun tertinggi istana, tempat di mana mereka bisa melihat seluruh kota Jin yang kini gemerlap oleh lampion perdamaian. Angin malam berhembus lembut, memainkan ujung rambut mereka yang kini sedikit bersentuh dengan warna perak kehidupan, namun gairah di mata mereka tidak pernah memudar dimakan usia. "Aku hanya ingin memastikannya setiap hari, Mei. Karena bagiku, mendengar pengakuanmu adalah satu-satunya hal yang membuat takhta ini tidak terasa dingin," jawab Yuan sembari mengeratkan dekapannya, seolah takut jika ia melonggarkan pelukan itu, sosok di depannya akan menghilang bak mimpi. Mei menatap langit malam yang bersih. Pikirannya melayang jauh ke belakang, menembus lorong waktu menuju masa-masa di mana ia hanyalah
"Apa Bunda bilang? Menikah dengan Putri Mahkota Utara?" Suara Long Tian Jun memecah keheningan di dalam paviliun medis, tempat ia biasanya bersembunyi dari hiruk-pikuk istana. Ia baru saja meletakkan pedang latihannya ketika Shu Mei masuk dengan gurat kecemasan yang tidak bisa disembunyikan. Wajah tampan Tian Jun mengeras, tanda hitam di dahinya seolah berdenyut mengikuti detak jantungnya yang mulai memacu karena amarah. "Ini adalah tuntutan resmi, Tian. Ayahmu sedang menimbangnya sekarang," ucap Mei sembari melangkah mendekat, mencoba mengusap bahu putranya yang kini sudah jauh lebih tinggi darinya. "Kekaisaran Utara bukanlah lawan yang mudah. Jika ini ditolak secara kasar, mereka mengancam akan melepaskan sesuatu yang bisa menghancurkan perdamaian kita." Tian Jun mendengus kasar, ia memalingkan wajahnya dengan tatapan berapi-api. "Aku tidak peduli! Aku tidak akan pergi ke Utara, apalagi menikahi wanita yang tidak aku kenal. Aku punya pilihanku sendiri, Bunda!" Mei menghela na
"Jangan berikan dia ruang untuk bernapas, Tian! Serang dari sisi kiri bawah, di sana pertahanan Ayahmu selalu goyah!" Teriakan itu melengking jernih di udara pagi yang sejuk, berasal dari balkon paviliun tinggi yang menghadap langsung ke lapangan latihan utama. Shu Mei berdiri di sana, mengenakan jubah permaisuri berwarna biru muda yang tenang, namun matanya berkilat penuh semangat, bukan semangat seorang tabib, melainkan semangat seorang ibu yang sedang mengompori putranya. Di tengah lapangan, debu beterbangan mengikuti setiap gerak lincah dua sosok pria yang memiliki postur tubuh yang hampir serupa. Long Yuan tampak menggeram, otot-otot lengannya menegang saat ia menahan hantaman pedang kayu yang sangat berat. Di hadapannya, Long Tian Jun yang kini telah menginjak usia tujuh belas tahun, berdiri dengan kegagahan yang sanggup mengintimidasi lawan mana pun. Wajah Tian Jun telah kehilangan kebulatan pipi masa kecilnya, berganti dengan rahang yang tegas dan tajam. Tanda hitam di dahi
"Tidak punya bakat seperti itu?! Kau pikir aku buta, Long Yuan?!" Suara Shu Mei memecah keheningan lapangan latihan, lebih tajam daripada denting pedang yang mereka banggakan tadi. Tanpa memedulikan wibawa suaminya sebagai kaisar yang ditakuti seluruh daratan, Mei melangkah maju. Tangannya yang biasanya lembut saat meracik obat, kini dengan cekatan mendarat di daun telinga Yuan. Set!*l "Aduuuh! Mei! Sakit, sayang! Pelankan sedikit, anak kita sedang melihat!" ringis Yuan sembari berjalan jinjit mengikuti tarikan tangan istrinya yang mulai menyeretnya menjauh dari lapangan. "Biar dia melihat! Biar dia tahu bahwa ayahnya ini adalah guru besar dari segala kenakalan tidak berguna ini!" omel Mei tanpa ampun. "Masuk ke paviliun sekarang! Kau harus menjelaskan padaku bagian mana dari strategi militer yang mengajarkan cara mencuri pita rambut gadis kecil!" "Itu... itu hanya taktik pendekatan, Mei! Aduh, aduh! Iya, aku masuk! Aku masuk!" Yuan pasrah, tubuh gagahnya kini tampak menekuk saat
"Kau harus melihatnya sendiri, Mei. Anak itu... dia bukan lagi sekadar bocah yang mengejar kupu-kupu di taman. Gerakan pedangnya sudah mulai memiliki berat, persis seperti tebasanku saat aku pertama kali dikirim ke barak!" Long Yuan berjalan di sepanjang lorong paviliun dengan langkah yang ringan, seolah-olah beban kekaisaran yang dipikulnya menguap begitu saja setiap kali ia membicarakan putra tunggalnya. Ia menoleh ke arah Shu Mei yang berjalan di sampingnya, mencoba menyamai langkah suaminya yang lebar. "Aku tahu dia berbakat, Yuan. Tapi kau tidak perlu sampai menyeretku dari ruang peracikan obat hanya untuk melihat kalian saling mengadu besi," sahut Mei sembari mengusap sisa debu ramuan di tangannya. Meski mengeluh, ada binar kebanggaan yang tak bisa ia sembunyikan di matanya yang teduh. "Ini berbeda! Hari ini dia berhasil menangkis serangan sudut ketigaku. Di usia sepuluh tahun!" Yuan membusungkan dada, senyumnya lebar hingga mencapai telinga. "Dia benar-benar salinan diriku.
"Long Tian Jun! Apa kau tuki?!" Suara Shu Mei tidaklah menggelegar seperti guntur, namun nada dingin dan tajam itu sanggup membuat dedaunan di taman istana seolah berhenti bergoyang. Long Tian Jun, yang tadinya berdiri dengan pongah di atas atap paviliun, seketika membeku. Kilat ungu di matanya padam dalam sekejap, digantikan oleh binar ketakutan yang murni. Dengan gerakan canggung, bocah lima tahun itu turun menggunakan tangga kayu yang ditinggalkan para pekerja, lalu melangkah mendekat dengan kepala tertunduk dalam. Set! "Aduuh! Bunda, sakit!" Tian Jun memekik saat jemari Mei mendarat tepat di telinga kanannya, menjewernya dengan tarikan yang cukup untuk membuat tubuh mungil itu berjinjit. "Sakit? Kau pikir hati para pelayan itu tidak sakit saat kau beri bubuk gatal? Kau pikir prajurit itu tidak malu saat kau buat pingsan hanya karena kau ingin mencoba ramuan curianmu?" omel Mei, wajahnya yang cantik kini memerah karena menahan geram. "Sekarang, minta maaf pada mereka semua. Sat
Udara di dalam kamar Sang Jenderal seolah membeku, meski api di dalam tungku menyala dengan ganas. Shu Mei merasakan tubuhnya dingin, sementara sosok di depannya memancarkan hawa panas yang menyesakkan. Long Yuan, dengan tubuh yang dipenuhi balutan kain putih dan noda darah yang mulai mengering, tam
Medan perang adalah tempat di mana Long Yuan benar-benar menjadi dirinya sendiri. Di bawah langit yang kelam oleh asap pembakaran, sang Jenderal berdiri di atas tumpukan mayat musuh. Zirah peraknya kini berubah warna menjadi merah pekat, bermandikan darah segar yang bahkan belum mengering. Dengan pe
Matahari pagi di Kekaisaran Jin tidak sehangat di Shu. Udara pegunungan yang tajam menusuk kulit saat Shu Mei melangkah keluar dari paviliun utama. Sesuai perintah Long Yuan, ia dipindahkan. Bukan ke kamar selir, melainkan ke sebuah paviliun terbengkalai di ujung taman istana yang nyaris runtuh. Par
"Aku..." Keheningan di dalam kamar itu terasa mencekik. Setetes darah merah segar merembes dari luka kecil di leher Shu Mei, mengotori kerah gaun pengantinnya yang bersih. Pedang di tangan Long Yuan tidak bergetar sedikit pun. Jenderal itu menatap Mei seolah-olah wanita itu adalah kotoran yang me







