Share

Di Balik Cadar Merah

Author: Nona Lee
last update Last Updated: 2025-12-22 08:15:39

Roda kereta kayu itu berderit, memecah kesunyian hutan perbatasan yang berkabut. Di dalam ruang sempit yang berbau harum cendana dan sutra baru, Shu Mei duduk mematung. Setiap guncangan kereta terasa seperti detak jantungnya yang tak beraturan. Ia telah meninggalkan gerbang Kekaisaran Shu, meninggalkan satu-satunya dunia yang ia kenal. Betapapun buruknya dunia itu, menuju wilayah musuh bebuyutan yang selama puluhan tahun telah menumpahkan darah rakyatnya.

Mei menyentuh permukaan gaun pengantinnya yang kasar karena sulaman emas. Jemarinya gemetar. Ia belum pernah bertemu dengan Long Yuan. Nama itu selama ini hanya mampir ke telinganya melalui bisikan-bisikan ketakutan para pelayan di dapur istana atau cerita mengerikan para prajurit yang kembali dari medan perang dalam keadaan cacat.

Long Yuan, Sang Naga Penelan Darah.

Rumor mengatakan bahwa Jenderal itu tidak memiliki jantung. Konon, ia meminum darah musuhnya langsung dari cawan yang terbuat dari tengkorak manusia. Ada yang bilang wajahnya penuh luka parut hingga menyerupai monster, sementara yang lain bersumpah bahwa siapa pun yang menatap matanya terlalu lama akan kehilangan kewarasan. Bulu kuduk Mei meremang. Udara di dalam kereta terasa semakin dingin seiring semakin dekatnya mereka dengan perbatasan Kekaisaran Jin.

"Bagaimana jika dia menyadarinya?" bisik Mei pada kesunyian. "Bagaimana jika satu embusan napas saja cukup baginya untuk mencium bau kebohongan ini?"

Ketakutan itu bukan tanpa alasan. Long Yuan adalah predator ulung yang menghabiskan separuh hidupnya di medan perang. Menipunya adalah tindakan bunuh diri. Namun, Mei tidak memiliki pilihan. Jika ia mundur, kepala Pelayan Lin akan dipisahkan dari tubuhnya.

Tiba-tiba, kereta berhenti dengan sentakan keras. Suara derap kuda yang sangat banyak mengepung kereta itu. Bukan suara musik seruling atau tabuhan gendang pesta yang menyambutnya, melainkan denting senjata dan suara baju zirah yang saling beradu. Tidak ada sambutan hangat bagi putri dari kerajaan musuh.

"Turunkan pengantinnya!" sebuah suara bariton yang berat dan penuh wibawa menggelegar dari luar.

Pintu kereta terbuka. Seorang prajurit Jin dengan wajah kaku memberikan tangannya. Mei menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya, lalu melangkah turun.

Begitu kakinya menyentuh tanah, pemandangan di depannya nyaris membuat lututnya lemas. Ia tidak berdiri di depan sebuah aula pesta, melainkan di tengah barisan ribuan pasukan dengan persenjataan lengkap yang menatapnya dengan penuh kebencian. Di tengah kerumunan itu, di atas kuda hitam yang besar, berdirilah sosok itu.

Long Yuan.

Pria itu tidak memakai pakaian pengantin formal. Ia mengenakan baju zirah hitam legam dengan jubah bulu serigala yang tersampir di bahunya. Sosoknya tinggi, gagah, dan mengintimidasi. Rumor tentang wajah monster itu ternyata salah besar. Di bawah cahaya obor yang berkobar, Mei bisa melihat wajah yang sangat tampan namun sangat berbahaya. Rahang yang tegas, hidung mancung yang tajam, dan kulit putih walau matahari di medan perang membakarnya. Namun, yang paling mengerikan adalah sorot matanya. Dingin, tajam bagai mata elang, dan sama sekali tidak memiliki binar manusiawi.

Yuan tidak turun dari kudanya. Ia hanya menatap tandu itu dari ketinggian dengan tatapan merendahkan. Semua orang di sana menunduk, tidak ada yang berani menatap langsung sang Jenderal. Aura kekuasaan yang dipancarkannya begitu pekat hingga membuat udara terasa berat untuk dihirup.

"Bawa dia ke kamarku," ucap Yuan dingin tanpa sedikit pun nada lembut. "Aku ingin melihat apakah Putri Kaisar Shu sepadan dengan perdamaian yang membosankan ini."

Tanpa menunggu jawaban, Yuan memacu kudanya meninggalkan tempat itu, membiarkan debu tanah mengotori ujung gaun merah Mei. Mei meremas kain gaunnya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Ucapan itu bukan sambutan seorang suami, melainkan sebuah ancaman.

Para pelayan Jin yang bermuka dingin menuntun Mei menuju sebuah paviliun besar di jantung markas militer yang kini merangkap sebagai kediaman sementara. Ruangan itu luas, namun minim hiasan, khas seorang pria yang tidak peduli pada kemewahan dan hanya peduli pada efisiensi perang. Hanya ada sebuah tempat tidur besar dengan sprei hitam dan meja kayu yang dipenuhi peta taktik peperangan.

Mei berdiri di tengah ruangan, punggungnya tegak namun kepalanya tertunduk dalam. Ia bisa mendengar langkah kaki yang berat mendekat. Suara sepatu bot yang menghantam lantai batu itu terdengar seperti lonceng kematian baginya.

Pintu terbuka. Angin malam yang dingin masuk bersama sosok tinggi yang menutup pintu dengan dentuman keras. Long Yuan telah kembali. Ia melepaskan jubah bulunya dan melemparkannya ke kursi kayu, lalu berjalan mendekati Mei. Aroma keringat, besi, dan wangi maskulin yang tajam segera memenuhi indra penciuman Mei.

Mei tidak berani mengangkat wajahnya. Ia hanya bisa melihat sepatu bot hitam Yuan yang berhenti tepat di depan kakinya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Yuan bisa mendengarnya.

"Angkat kepalamu, Putri Shu," perintah Yuan.

Mei tetap bergeming. Ia terlalu takut jika matanya yang bergetar akan mengkhianatinya. Ia tahu bahwa Shu Lian memiliki tatapan yang sombong dan manja, sesuatu yang tidak bisa ia tiru dalam keadaan terdesak seperti ini.

Sebuah tawa rendah dan berbahaya keluar dari tenggorokan Yuan. "Begitu banyak rumor tentang keberanian putri sulung Kekaisaran Shu, namun di depanku, kau tak lebih dari seekor kelinci yang sekarat."

Tiba-tiba, suara gesekan logam terdengar tajam. Yuan telah mengeluarkan pedang panjangnya. Mei tersentak, namun sebelum ia sempat bergerak, ujung pedang yang dingin itu sudah berada di bawah dagunya, memaksanya untuk mengangkat wajah.

Mata mereka bertemu untuk pertama kalinya. Mata hitam Yuan yang pekat seolah menembus langsung ke dalam jiwanya. Jenderal itu menyipitkan mata, mengamati setiap inci wajah Mei di balik cadar transparan yang bertabur permata itu. Ada sesuatu yang salah. Ia pernah melihat potret Shu Lian, dan ia pernah melihat wanita itu dari kejauhan saat perundingan damai tahun lalu. Wanita di depannya ini memiliki kelembutan yang berbeda, kecantikan yang lebih murni namun sekaligus lebih rapuh.

Dengan gerakan cepat dan kasar, Yuan menggunakan ujung pedangnya untuk mengait pinggiran cadar merah itu. Dalam satu tarikan, kain sutra itu terlepas dan jatuh ke lantai seperti kelopak bunga yang layu.

Wajah Mei kini terbuka sepenuhnya. Cantik, pucat, dan penuh ketakutan yang berusaha disembunyikan.

Rahang Long Yuan mengeras. Sorot matanya yang tadi dingin kini berubah menjadi kemurkaan yang meledak-ledak. Ia menekan ujung pedangnya lebih dalam ke kulit leher Mei, hingga setetes darah segar mengalir perlahan di atas kulit putih wanita itu.

"Kau bukan Shu Lian," desis Yuan dengan suara yang sanggup membekukan darah. "Siapa kau, dan mengapa Kekaisaran Shu mengirim mangsa murahan sepertimu ke tempat tidurku?"

Mei terengah, merasakan dinginnya maut menyentuh nadinya. Penyamarannya hancur bahkan sebelum pernikahan mereka di mulai.

"Aku..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Luka Di Balik Zirah Hitam

    Keheningan malam di istana Jin terasa lebih berat dari biasanya. Pangeran Long Yuan berjalan dengan langkah yang masih tampak kokoh menuju kamar pribadinya, namun jika seseorang memperhatikan dengan sangat teliti, bahu kanannya sedikit turun dan langkahnya tidak seimbang. Di belakangnya, ia menyeret Shu Mei dengan cengkeraman yang tidak menyisakan ruang untuk melawan. Begitu pintu jati besar itu tertutup dan terkunci, Yuan melepaskan tangan Mei dengan sentakan kasar. Ia segera membuka jubah beludru merahnya yang telah koyak dan melemparkannya ke lantai begitu saja. Aroma besi dari darah kering segera menyerbak di ruangan itu. "Siapkan peralatanmu. Cepat!" perintah Yuan dengan suara parau yang menahan nyeri. Mei tidak membantah. Ia segera mengambil kotak herbal yang selalu ia bawa. Saat ia berbalik, ia melihat Yuan sudah menanggalkan zirah besinya. Di balik pakaian dalam sutra putih yang kini berubah menjadi merah pekat, terlihat luka robek yang cukup panjang di bahu hingga ke pungg

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Melindungi Tahanan Berharga

    Rombongan besar Kekaisaran Jin baru saja meninggalkan gerbang perbatasan Shu, melintasi lembah sempit yang diapit oleh tebing-tebing tinggi yang curam. Di dalam kereta, suasana kembali membeku setelah perdebatan kecil Mei dan Yuan. Ia duduk dengan mata terpejam, namun tangannya tidak pernah lepas dari hulu pedangnya. Ketajaman instingnya sebagai seorang jenderal perang mulai menangkap sesuatu yang tidak beres di udara,keheningan yang terlalu sunyi, bahkan untuk hutan sejauh ini."Jika kau tidak mau mengatakannya, maka aku-"Tiba-tiba, suara siulan anak panah membelah kesunyian.Jleb! Jleb!Dua orang prajurit kavaleri yang mengawal kereta jatuh tersungkur dengan leher tertembus panah. Detik berikutnya, jeritan perang bergema dari atas tebing. Sekelompok pembunuh bayaran berpakaian hitam, yang diduga merupakan sisa-sisa pemberontak yang membenci aliansi Jin-Shu, melompat turun dengan senjata terhunus."Serangan!" teriak komandan pasukan Jin.Di dalam kereta, Shu Mei tersentak, namun seb

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Pelukan Di Ambang Kehancuran

    Aula perjamuan Kekaisaran Shu yang biasanya dipenuhi dengan musik kecapi yang mendayu, kini terasa seperti medan perang yang sunyi. Aroma dupa yang mahal berbaur dengan ketegangan yang menyesakkan paru-paru. Di meja utama, Pangeran Long Yuan duduk dengan gagah, tangannya yang kekar sesekali memutar cawan emas berisi arak, sementara matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik pelayan Shu seolah-olah mereka adalah mata-mata yang siap menyerang.Di sampingnya, Shu Mei duduk dengan punggung tegak, meskipun hatinya terasa remuk. Sesuai tugasnya, ia harus mencicipi setiap hidangan yang disajikan sebelum Yuan menyentuhnya. Namun, di tengah proses itu, Kaisar Shu yang duduk di sisi lain meja membungkuk sedikit, berpura-pura hendak menawarkan hidangan tambahan, namun sebenarnya ia membisikkan kata-kata yang tajam ke telinga Mei. Kata-kata terus ia ucapkan setelah pembicaraan singkat mereka tadi, jika ia harus bersikap manis."Bersikaplah manis, Mei," desis Kaisar Shu, suaranya hampir tidak

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Pengadilan Di Tanah Kelahiran

    Gerbang besar Kekaisaran Shu terbuka dengan derit yang memilukan, seolah-olah kayu tua itu pun merasakan beban kengerian yang dibawa oleh kavaleri Jin. Di sepanjang jalan menuju istana, rakyat Shu berdiri dengan kepala menunduk, tidak berani menatap panji Naga Hitam yang berkibar pongah. Di dalam kereta, Shu Mei merasakan jemarinya mendingin. Setiap jengkal tanah yang mereka lalui adalah ingatan akan pengabaian yang ia terima selama belasan tahun. Saat pintu kereta dibuka di depan aula utama, pemandangan yang menyambut mereka adalah kemewahan yang dipaksakan. Kaisar Shu berdiri di puncak tangga, dikelilingi oleh para menterinya yang berpakaian serba sutra, namun wajah mereka sepucat kain kafan. Long Yuan melangkah turun terlebih dahulu. Denting zirahnya yang berat menghantam lantai batu istana, menciptakan gema yang mengintimidasi. Ia tidak menunggu protokol istana, ia justru meraih tangan Mei dan menariknya dengan kasar namun posesif untuk berdiri di sampingnya. "Selamat datang, M

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Putri Yang Tidak Berharga

    "Siapkan semua yang menantuki butuhkan! Jangan ada yang terlewat. Buat putriku itu secantik mungkin."Pagi itu, paviliun utama Kekaisaran Jin disibukkan oleh para pelayan yang berlalu-lalang membawa nampan berisi perhiasan giok dan kain sutra bermutu tinggi. Atas perintah khusus dari Ibu Suri, Shu Mei tidak diperbolehkan mengenakan pakaian linen sederhananya. Hari ini adalah hari keberangkatan mereka menuju Kekaisaran Shu, dan Ibu Suri bersikeras bahwa Mei harus tampil dengan martabat seorang Permaisuri Jin, terlepas dari status aslinya.Ibu Suri sendiri yang mengawasi riasan wajah Mei. Ia memulas bibir Mei dengan pemerah dari sari bunga mawar dan menyapukan bedak tipis yang membuat kulit pucat Mei tampak bersinar seperti porselen. Rambut hitam panjang Mei yang biasanya dibiarkan jatuh lurus, kini disanggul rumit dengan tusuk konde emas berbentuk sayap phoenix."Kau sangat cantik, Mei," bisik Ibu Suri lembut, menatap pantulan Mei di cermin. "Tunjukkan pada ayahmu bahwa kau bukan lagi

  • Pengantin Pengganti Sang Jenderal   Surat Dari Naga Hitam

    Langit di atas ibukota Kekaisaran Shu tampak muram, diselimuti kabut tipis yang seolah membawa firasat buruk. Di dalam istana yang megah namun rapuh, Kaisar Shu duduk di singgasananya yang berhias ukiran emas. Di depannya, tersaji berbagai hidangan mewah dan arak terbaik, namun selera makannya telah lenyap sejak seorang utusan dari Kekaisaran Jin tiba beberapa jam yang lalu.Tangan sang Kaisar gemetar saat ia kembali membaca gulungan surat yang tergeletak di atas meja gioknya. Surat itu memiliki segel lilin merah darah dengan lambang Naga Hitam. Simbol pribadi Long Yuan. Kata-kata yang tertulis di dalamnya tidaklah panjang, namun setiap goresan tintanya terasa seperti mata pedang yang siap menyayat lehernya."Kami telah mengetahui kebusukan di balik kerudung merah itu. Pengantin yang kau kirim bukanlah Shu Lian. Minggu depan, aku akan membawa putri selirmu kembali ke hadapanmu untuk menuntut penjelasan yang setimpal."Kaisar Shu meremas pinggiran jubah suteranya hingga kuku-kukunya me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status