登入Marvel melihat Lucia tajam, bisa bisa nya gadis di depannya ini malah memerintah nya.
"Kirim semua baju yang dia coba tadi ke alamat ini!" Lucia menggigit bibir bawahnya menahan kesal, dia sudah lelah memilih dan melihat Marvel dari tadi terus menggelengkan kepalanya, berpikir jika Marvel tak menyukai semua baju itu. Tapi ternyata malah bajunya di kirim semua. "Pakai itu dan buang baju lama mu yang sudah lusuh tadi." Lucia mengangguk pasrah, sementara Kenzo terus mengikuti mereka dari belakang. Tak berani mengatakan apapun kepada tuannya atau dia yang akan terkena amukan Marvel. Saat Lucia ingin naik ke dalam mobil tak sengaja Nadia melihatnya. "Tunggu, bukannya itu Lucia? Dia naik mobil mewah? Bajunya juga? Apa aku salah lihat? Tapi tak mungkin, aku hapal postur tubuh Lucia?" gumam Nadia. Nadia mengejar mobil Marvel tapi mobil itu sudah menghilang dari jarak pandangnya. "Sialan, tak mungkin itu Lucia. Aku harus cepat cepat pulang dan bilang sama mama. Kalau sampai dia benar Lucia biar dia di hukum sama mama." Nadia sudah merencanakan semua dengan liciknya. Dia selalu senang ketika Lucia disiksa sang mama terlebih ketika sampai tubuh Lucia penuh luka. Nadia selalu iri dengan Lucia yang mempunyai wajah lebih cantik dari pada dirinya. Postur tubuh Lucia juga lebih tinggi dari pada Nadia. Untuk itulah, Nadia selalu mencari cara agar mamanya menyiksa Lucia bahkan tak segan memukulnya. Nadia bergegas pulang tanpa tahu apa yang terjadi pada Lucia dan dirinya. # Mobil Marvel memasuki area sebuah rumah yang mewah dan sangat besar bagi Lucia. Sesaat dia melongo melihat itu tapi dia langsung kembali menunduk saat sadar dia berada dimana. "Kau tak perlu menjawab berlebihan ketika di dalam, biar aku yang menjawab semuanya. Dan ingat, setelah itu kita kembali ke rumah ku sendiri." "Baik tuan," jawab Lucia patuh. Langkah kaki Marvel seketika terhenti saat mendengar panggilan Lucia kepadanya . "Tunggu, kenapa kau masih memanggilku dengan sebutan tuan? Aku suami mu!" Lucia mengerjap, dia melihat bingung ke arah Marvel, lalu beralih pada Kenzo yang juga sama bingungnya dengan nya. "Jadi aku harus panggil apa tuan?" tanya Lucia polos. Marvel mengusap wajahnya kasar, berbeda dengan Kenzo yang langsung melipat bibir nya ke dalam menahan tawa. "Kau bodoh? Aku suamimu, jadi panggil langsung nama. Tapi itu hanya di depan semua orang, jika kau hanya bersama ku, aku tetap menjadi tuanmu!" Akhirnya Lucia mengangguk paham. "Aku mengerti, Marvel." Marvel kembali terdiam, tapi detik berikutnya dia berdehem dan mengulurkan tangannya pada Lucia. Lucia awalnya ragu, tapi dia tak ingin membuat Marvel kembali mengomelinya. Dia mengikuti langkah lebar Marvel yang membawanya masuk ke dalam rumah besar itu. Ketika sampai di depan pintu, tiba tiba pintu itu terbuka dari dalam. Berjejer beberapa pelayan yang langsung membungkukkan badannya di ketika Marvel melenggang masuk ke dalam rumah. "Selamat datang tuan Marvel, dan?" Kepala pelayan yang menyambut melihat Lucia dengan bingung terlebih ketika tangan Lucia menggandeng lengan Marvel sedikit dekat. Marvel yang sadar arah pandang Kepala pelayan langsung berdeham. "Dia Lucia Amara istriku, paman Hiro!" Semua orang terkejut, karena baru kemarin Marvel mengatakan tak ingin menikah lagi tapi hari ini dia tiba tiba pulang ke rumah utama dan langsung membawa seorang wanita bersamanya. "Is-istri tuan muda?" Marvel mengangguk, dia lalu menarik tangan Lucia dan di bawanya masuk ke ruang tengah melewati kepala pelayan yang masih syok mendengar perkataan Marvel. Kepala pelayan langsung mengikuti Marvel ke dalam. Tak lama, seorang perempuan paruh baya turun dari lantai atas, mengamati semua orang yang masih syok. "Kalian kenapa? Dan kau Marvel, kau bawa siapa? Kau culik anak orang dari mana?" Lucia yang sejak tadi menunduk langsung mengangkat wajahnya. Matanya bersitubruk dengan wanita paruh baya itu. "Mom, jangan sembarangan kalau bicara. Kau mau menantu, aku bawakan sekarang. Kalau kau tak mau aku akan pulang dan menukarnya lagi!" dumel Marvel kesal. Mata sang Mommy berkedip lucu, lalu tak lama senyum lebar muncul di wajah perempuan paruh baya itu. Dia berjalan cepat ke arah Lucia, lalu memeluknya erat, bahkan Mommy nya Marvel langsung mendorong tubuh Marvel agar dia menjauh. "Mom....." pekik Marvel keras. Hanabi sang Mommy tak peduli, Hanabi lebih memilih menarik tangan Lucia dan dibawanya untuk duduk di ruang tengah. "Kau kenal anak mommy yang nakal itu dimana? Kau tak di paksa atau di ancam kan biar mau menikah sama laki laki tua itu?" Mata Lucia kembali berkedip, dia menatap Hanabi setengah tak percaya. Diluar sana rumor mengenai keluarga Vanderick santer terdengar kejam dan bengis, jangan lupakan sifat arogan dan juga hal negatif lainnya. Terlebih bagaimana Marvel yang kejam menghukum musuh musuhnya. Marvel yang mendengar semua pertanyaan sang Mommy memutar bola matanya jengah. Bisa bisanya dia bertanya hal seperti itu pada Lucia. "Aku memang dipaksa Aunty, juga di ancam. Lebih parahnya aku dijual keluarga ku sendiri. " Semua kalimat itu hanya bisa Lucia katakan dalam hati. Dia tak berani menjawab apapun karena Marvel terus memperhatikannya. "Mom, jangan di tanya macam macam. Kau menakutinya. " Seorang laki laki ikut serta bergabung bersama Hanabi juga Marvel. "Dia Daddynya Marvel, Digo. Kau bisa memanggil nya Daddy sama seperti Marvel memanggilnya. Kau juga bisa memanggilku dengan Mommy. Oke?" Lucia memperhatikan Hanabi seksama, tanpa dia sadari matanya berkaca kaca dan itu membuatnya panik. "Mom, lebih baik siapkan makanan untuk kami. Setelah makan ada hal penting yang ingin aku katakan, sekarang aku mau bicara dengan Daddy." Digo yang mendengar itu merasa aneh, tapi kemudian dia mengangguk dan mengajak Marvel pergi ke ruang kerjanya. Sementara itu, Hanabi menarik tangan Lucia untuk di bawanya pergi ke dapur. "Kau tunggu disini, biar Mommy yang siapkan makanan." Hanabi ingin beranjak memasak tapi tangan Lucia memegangnya. "Aunty- ah, Mom... maksud ku. Biarkan aku membantumu, aku tak enak jika hanya diam saja. Itu jika Mommy tak keberatan. " Hanabi yang melihat jika Lucia berkata dengan hati hati pun terdiam. Tak sengaja dia melihat luka lebam di tangan Lucia. Tapi Hanabi tak langsung bertanya. Sepertinya dia harus bicara dengan Marvel, jangan sampai berita tentang Marvel yang suka memukul pasangannya semakin memanas. Hanabi menepuk pelan punggung tangan Lucia. "Baiklah, kita masak kesukaan para lelaki kita. Kau juga bisa request semua makanan yang kau suka. Dan jika kau ada alergi makanan, kau juga harus bilang padaku." to be continuedSebelum masuk ke dalam ruangannya, Marvel mengambil napas panjang lalu menghembuskannya cepat. Dia tahu jika Lucia juga terganggu dengan ucapan beberapa orang yang mengatakan hal setara dalam sebuah hubungan. Meskipun Lucia sudah berusaha sebaik mungkin dia pasti akan memikirkan asal mula dia dan Marvel bersama. "Sayang ..." Marvel mengusap puncak kepala Lucia lembut, tak lupa dia mencium puncak kepala itu lama. Lucia langsung memeluk pinggang Marvel yang membuat Marvel semakin merasakan kesakitan yang juga di rasakan Lucia. "Jangan di pikirkan lagi ya?" Pinta Marvel lembut. Ia benci ketika sudah berusaha membuat Lucia bahagia tapi orang lain yang menghancurkan. Lucia masih memeluk pinggang Marvel erat. Sementara Marvel memilih membiarkan apapun yang Lucia ingin lakukan. Rasanya dia tak sanggup melihat Lucia dalam keadaan seperti itu. Setelah beberapa saat, Lucia melepaskan pelukannya pada Marvel. Dia mengangkat kepalanya lalu melihat Marvel dengan wajah yang semb
Karyawan itu menunduk ketakutan di depan Marvel dan Lucia. Tapi Lucia tak peduli dengan hal itu. Terlebih ketika mereka menganggap pernikahan itu harus setara dalam hal asal usul. "Istri Kenzo tak bisa memilih dia lahir dimana dan akan besar dimana. Jika takdirnya dia harus tinggal di panti asuhan, apa sebelumnya dia akan tahu jika dia akan di titipkan di panti asuhan lh orang tuanya?" Karyawan itu masih terus menunduk, tubuhnya menggigil gemetaran karena semua perkataan Lucia. Terlebih ketika Lucia tahu dia hanya karyawan di sana. "Secara tidak langsung kau juga menyalahkan takdir yang di jalan Kanza. Ah, tak hanya Kanza, aku juga hanya orang biasa. Namun, aku berusaha sebisa mungkin agar aku setara dengan Marvel dan pantas berdiri disisi Marvel bukan di belakang Marvel. Dan jika kau ingin menghina seseorang hanya karena statusnya, kau bisa menghina ku lebih dahulu. Kanza masih melewati pendidikan formalnya sampai selesai bahkan juga bisa ke jenjang kuliah, berbeda dengan ku y
Di depan perusahaan Marvel mendadak heboh ketika ada seorang perempuan memaksa masuk dengan keadaan yang mengenaskan. Petugas keamanan sudah mengamankannya sejak tadi. Beberapa karyawan yang melihatnya tentu saja jijik dengan keadaan perempuan itu. "Cepat telfon Tuan Marvel dan Tuan Kenzo, katakan pada mereka apa yang harus dilakukan!" Beberapa orang menyuruh resepsionis untuk menghubungi Marvel juga Kenzo. Namun belum sempat mereka menghubungi, sebuah mobil yang mereka kenali tiba di lobi perusahaan. Marvel dan Lucia yang juga ikut ke kantor pun saling pandang. Lucia sudah ingin turun tapi Marvel menahannya. "Tunggu sayang, kau di sini saja tak usah turun. Biar aku yang urus. Sepertinya aku tahu dia siapa." "Hah?" Lucia menatap bingung pada Marvel yang matanya sudah menatap nyalang wanita yang terus berteriak itu. Lucia pun sampai di buat heran , kenapa banyak sekali wanita wanita yang gila yang ada di dekat Marvel. "Marvel, aku kesal. Kenapa selalu banyak wanit
Satu jam berlalu, akhirnya baik Marvel dan Lucia mendapatkan pelepasan mereka. Napas yang tersengal masih terdengar di kamar itu. Cup.... "Kuat bangun?" tanya Marvel. Lucia mengulurkan kedua tangannya ke arah Marvel yang tandanya dia minta di gendong oleh Marvel. Marvel tersenyum, dia meraih tubuh Lucia lalu membawanya ke kamar mandi. Mereka sekedar membersihkan diri mereka karena hari sudah larut. Marvel pun tak mau jika Lucia sampai sakit nantinya. "Tidur sayang, biar badannya beristirahat." Lucia mengangguk pelan karena dia sudah tak punya tenaga lagi untuk menjawab. Perlahan matanya tertutup. Marvel yang melihat itu mengeratkan pelukannya pada Lucia. Sesekali dia mencium puncak kepala Lucia sampai wanita itu benar benar terlelap. "Tidur yang nyenyak sayang." Perlahan Marvel juga ikut memejamkan matanya setelah memastikan jika Lucia sudah terlelap dan tidur dengan nyaman. # Sementara itu, di paviliun belakang. Terlihat dua orang yang duduk dengan canggu
Denisa masih berusaha untuk pergi dari sana dengan berjalan tertatih. Dia melewati jalan gelap dengan keadaan yang mengenaskan. Dengan menahan semua kesakitan yang ada di sekujur tubuhnya, Denisa memaksa kan dirinya untuk mencari bantuan. Tapi setelah berjalan berjam jam, tak ada kendaraan atau orang yang lewat di area sana. Sampai dia menemukan sebuah warung remang remang yang kecil. Disana ada sebuah televisi jaman dahulu khas milik orang yang sudah tua. Di sana di siarkan berita pernikahan Kenzo juga Kanza yang meriah. Di beritakan juga jika upacara itu khusus untuk beberapa tamu undangan. Barulah mereka mengadakan jumpa pers untuk mengumumkan pernikahannya. Denisa menggelengkan kepalanya kuat. Dia marah karena lagi lagi dia kalah dengan Kanza. "Kenapa harus dia yang mendapatkan kebahagiaan? Kenapa bukan aku? Padahal aku lebih dari segalanya. Tidak, ini semua tidak benar. Jadi Kanza menikah dengan Kenzo karena Lucia? Wanita itu yang mengurus semuanya?" Denisa menjauh dari
Pernikahan Kenzo dan Kanza disiarkan di beberapa media sosial. Banyak orang yang terkejut tapi mereka ikut bahagia karena selama ini banyak sekali yang mengenal Kenzo karena Marvel. Dan tak ada yang bermasalah dengan Kenzo tentunya. Melihat Kanza, istri Kenzo yang juga cantik banyak sekali yang memberikan respon positif. Pernikahan sederhana yang di adakan di rumah baru Marvel dan Lucia tapi di siarkan langsung di beberapa media khusus. "Akhirnya, kalian sah menikah. Dan ini hadiah untuk kalian berdua." Pasangan pengantin itu saling tatap bingung, tapi mereka tetap membuka hadiah yang di berikan Marvel kepada mereka. "Ini apa?" Marvel mendengus kesal karena Kenzo malah bertanya ketika sudah melihat barang yang di berikan Marvel kepadanya. "Kau jadi bodoh sepertinya. Sudah tahu itu kunci, kenapa malah bertanya lagi? Apa semenjak jadi seorang suami, otakmu sudah kau gadaikan?" omel Marvel panjang lebar. Kenzo menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia lalu meringis saa
Tanpa mengatakan apapun lagi, Lucia berlari keluar dengan cepat. Sementara Marvel terus menatap punggung istrinya itu sampai menghilang di balik pintu. Marvel pun dengan cepat mengambil pakaian miliknya sampai terdengar ponselnya berbunyi. Dia melihat nama Kenzo yang sedang menghubunginya.
Marvel membawa Lucia naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Dia meletakkan Lucia di pinggir ranjang sementara Marvel mengambil kotak obat. Lucia menggigit bibir bawahnya karena tiba tiba merasa tak nyaman di kamar itu. Tubuhnya sedikit tersentak ketika tiba tiba Marvel meraih tangannya. "
Marvel sedang bicara dengan Daddy-nya, dia juga memberikan beberapa file untuk di baca oleh Digo. "Apa ini Marvel?" "Daddy baca saja, setelahnya silahkan jika ingin bertanya. Aku tak akan menutupi apapun dari Daddy dan Mommy, jadi jika ada masalah di kemudian hari aku tak akan membuat Mommy sa
"Kau tak apa apa?" Kenzo melongo saat mendengar Marvel yang tiba tiba perhatian pada Lucia. Karena Lucia tak langsung menjawab, Marvel langsung menatap ke depan. "Kenzo, kau mau mati hah? Kenapa mengerem mendadak?" bentak Marvel. Lucia yang ada disebelahnya gemetar ketakutan, dia semaki







