Masuk“Ketakutan akan membuat tanganmu ragu saat harus menebas, Tuan Duke,” kata Hans, suaranya terdengar setajam mata pisau di keheningan malam.“Jika pikiranmu terus melayang ke kamar tidur di Drakenhoff, kau akan mati di tebing ini sebelum sempat melihat anakmu lahir. Musuh di depan kita tidak mengenal belas kasihan.”Valerius tidak langsung menyahut. Ucapan Hans menghantam kesadarannya seperti gada besi, meruntuhkan dinding kecemasan yang sempat melumpuhkan fokusnya. Ia menatap Hans dengan mata yang perlahan kembali memancarkan kilat ketegasan seorang Duke.“Kau menganggapku lemah, Hans?” tanya Valerius dengan nada rendah namun mengandung getaran otoritas yang menuntut.“Aku menganggapmu sedang jatuh cinta, dan di medan perang seperti ini, cinta yang salah tempat adalah bunuh diri,” balas Hans tanpa rasa takut sedikit pun, lalu memajukan kudanya setapak.“Ubah rindu itu menjadi tekad baja, My Lord. Cara terbaik untuk mencintai Elara saat ini bukanlah dengan meratapinya dari jauh, melain
Kabut ungu yang merayap turun dari tebing Puncak Hitam semakin tebal, menelan barisan ksatria Drakenhoff ke dalam keremangan yang membingungkan.Setengah jam yang menegangkan telah berlalu sejak lolongan mengerikan itu mereda, dan kini perintah untuk kembali bergerak telah bergulir ke seluruh unit.Pasukan berjalan membelah jalan setapak yang menyempit, dikelilingi oleh pepohonan pinus mati yang rantingnya mencuat seperti jemari hantu.Suara gesekan zirah rantai dan ketukan sepatu bot di atas tanah berbatu menjadi satu-satunya ritme yang tersisa di tengah hutan yang seolah menahan napas.Valerius berkuda di barisan kedua, tepat di sisi kiri Hans yang memegang tali kendali dengan waspada.Tatapan mata sang Duke lurus ke depan, menembus gulungan kabut, namun sepasang matanya tampak kosong, bukan karena kehilangan keberanian, melainkan karena jiwanya sedang mengembara jauh ke tempat lain.“Kau terlalu sunyi, My Lord,” bisik Hans, memecah keheningan tanpa menolehkan kepalanya. “Seorang Du
Valerius menarik napas dalam, membiarkan udara dingin yang tajam memenuhi paru-parunya sebelum ia melangkah kembali ke tengah lingkaran komando yang remang-remang.Cahaya dari bara api yang hampir padam memantulkan kilatan kebiruan pada zirah logamnya, menciptakan siluet yang mengancam sekaligus megah. Ia memberi isyarat agar Hans mendekat, menunjuk pada sebuah peta kulit kuno yang terbentang di atas tunggul pohon pinus yang rata.“Dengarkan aku baik-baik, Hans. Kita tidak datang ke Puncak Hitam untuk memenangkan perang atrisi,” suara Valerius terdengar berat, hampir seperti geraman yang tertahan.“Jika kita terjebak dalam pengepungan panjang, Drakenhoff akan kehabisan napas sebelum salju mencair. Logistik kita terbatas, dan moral prajurit akan terkikis oleh hawa dingin yang tidak alami ini.”Hans membungkuk di atas peta, jemarinya menelusuri jalur pendakian yang curam. “Lalu apa rencanamu, My Lord? Benteng Isolde memiliki pertahanan alami yang mengerikan. Kita akan menjadi sasaran em
Hans melangkah mendekat, memecah ketegangan sesaat dengan mengulurkan sepotong roti gandum keras dan kirbat kulit yang berisi air pegunungan yang jernih.Valerius menerimanya tanpa suara, meski matanya masih terpaku pada kegelapan hutan di belakang Hans.Ksatria setianya itu tidak langsung kembali ke barisan; ia berdiri tegak di samping sang Duke, memperhatikan kerutan lelah yang mulai tampak di sudut mata pemimpinnya.“Makanlah, My Lord. Perjalanan mendaki besok akan jauh lebih menyiksa daripada malam ini,” ujar Hans, suaranya rendah namun penuh penekanan.“Jika tubuhmu menyerah pada dingin, maka semangat pasukan ini akan ikut membeku. Seorang pemimpin yang sakit adalah kemenangan pertama yang kau berikan secara cuma-cuma kepada Isolde.”Valerius menggigit roti kering itu perlahan, merasakah tekstur kasarnya yang menggores kerongkongan.“Aku tidak punya kemewahan untuk jatuh sakit, Hans. Otakku terlalu penuh dengan kemungkinan-kemungkinan buruk untuk membiarkan tubuhku beristirahat.”
Angin malam di kaki Puncak Hitam menderu seperti suara ribuan arwah yang terjebak di celah tebing. Di dalam hutan lebat yang tak tersentuh cahaya bulan, pepohonan pinus raksasa berdiri seperti pilar-pilar hitam yang menyokong langit berkabut.Pasukan Drakenhoff bergerak seperti bayangan di antara batang-batang pohon, hampir tanpa suara. Valerius mengangkat tangannya, sebuah isyarat yang diterjemahkan secara instan oleh para panglimanya sebagai perintah untuk berhenti dan beristirahat sejenak.“Bangunkan perimeter melingkar! Padamkan api unggun dalam lima menit, biarkan hanya bara kecil untuk memanaskan air!” perintah Valerius dengan nada rendah yang tegas.Prajurit-prajurit itu bergerak dengan efisiensi yang menakutkan. Di medan yang ekstrem seperti ini, logistik adalah nyawa. Valerius berjalan di antara barisan kuda yang terengah, uap napas mereka membentuk awan tipis di udara dingin. Ia memeriksa peti-peti kayu yang dilapisi jerami dan kain wol tebal, wadah tempat senjata kimia raci
Lyra menarik napas panjang, mencoba menelan gumpalan sesak yang menyumbat tenggorokannya. Ia menggeser duduknya, merapatkan selimut wol di kaki Elara dengan gerakan yang jauh lebih lembut daripada biasanya.Di dalam kamar yang hanya diterangi sisa cahaya lilin, ia mencoba menciptakan gelembung ketenangan di tengah badai kecemasan yang melanda kastil.“Makanlah sedikit, Elara. Bubur ini tidak akan mendinginkan hatimu, tapi setidaknya ia bisa memberi kekuatan untuk bayimu,” ucap Lyra sambil menyodorkan sendok perak, suaranya masih terdengar parau.Elara menerima satu suapan kecil, namun matanya tetap tertuju pada wajah Lyra yang tampak rapuh.“Kau berbohong tadi, Lyra. Kau tidak menangis karena merapikan laboratorium. Kau menangis karena Hans, bukan? Karena dia pergi tanpa sempat kau beri obat penenang untuk sifat cerobohnya.”Lyra tertawa getir, jemarinya menyapu sudut matanya yang masih lembap. “Ksatria tolol itu tidak butuh obat penenang, dia butuh keajaiban. Tapi lupakan sejenak ten
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Valerius terdiam, namun tatapannya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.Tangannya yang berada di atas meja perlahan mengepal, hingga buku jarinya memutih dan meja kayu itu seolah merintih di bawah tekanannya.Valerius tidak menjawab dengan kata-
Sudut ruangan kerja Valerius kini tidak lagi hanya berisi rak buku tua yang berdebu.Sebuah meja kayu kecil telah dipindahkan ke sana, dipenuhi dengan alu, lumpang, dan berbagai botol kaca yang berisi cairan dengan warna-warna aneh.Elara sengaja memindahkan kegiatan meraciknya ke dalam ruangan ini
Master Kael terperangah seraya menatap denyut nadi di leher Valerius yang perlahan mulai stabil, dan urat-urat kebiruan yang mengerikan itu surut dari permukaan kulit sang Duke seolah-olah ditarik paksa oleh kekuatan tak terlihat.Tabib tua itu membolakan matanya, beralih menatap mangkuk kosong di
Suasana di ruang makan utama terasa jauh lebih mencekam daripada malam-malam sebelumnya karena kehadiran mantan Duke, Alistair von Drakenhoff, dan istrinya, Lady Isolde, membuat suhu di ruangan itu seolah turun hingga ke titik beku.Mereka duduk di kursi kebesaran di ujung meja, sementara Valerius







