MasukSuara dentuman terakhir dari meriam Puncak Hitam meruntuhkan sebagian gerbang luar, menyisakan kepulan asap kelabu yang memenuhi udara dingin. Dari balik kabut itu, barisan ksatria berbaju zirah hitam legam melangkah maju dengan teratur.Di tengah barisan, Isolde berdiri di atas kereta perang perak yang ditarik oleh dua kuda hitam besar. Rambutnya yang sewarna perak berkibar, dan di tangannya ia menggenggam Breaker of Souls, sebuah tongkat hitam panjang yang terus memancarkan denyut energi ungu yang menyesakkan.“Valerius Drakenhoff!” suara Isolde menggelegar, diperkuat oleh sihir yang membuat setiap kata-katanya terasa seperti hantaman di dada. “Keluar kau, pengecut! Tunjukkan wajahmu sebelum aku meratakan kastil ini dengan sisa-sisa tulang rakyatmu!”Pasukan di belakangnya bersorak, menghantamkan pedang ke perisai, menciptakan suara logam yang mengerikan. Isolde menatap tembok benteng yang tampak sunyi.“Kau telah
Pintu batu yang tersembunyi di balik lumut beku itu bergeser pelan, mengeluarkan suara gesekan yang diredam oleh tumpukan salju di luarnya.Valerius memimpin rombongan memasuki lorong gelap yang hanya diterangi oleh obor kecil di tangan Hans.Setelah melewati tangga spiral yang sempit, mereka akhirnya tiba di ruang bawah tanah kastil yang biasanya digunakan sebagai gudang penyimpanan gandum.Keadaan di dalam jauh dari kata tenang. Beberapa pelayan dan pekerja kastil tampak meringkuk di sudut-sudut ruangan, gemetar ketakutan mendengar dentuman meriam dari luar. Namun, begitu cahaya obor Hans menyinari wajah Valerius, suasana berubah seketika.“My Lord? Itu benar Anda?” Seorang pelayan tua bangkit dengan tertatih-tatih, matanya membelalak tak percaya.“Duke! Duke Valerius telah kembali!” teriakan itu menyebar cepat di antara mereka yang bersembunyi.Dalam sekejap, Valerius dan Elara dikerumuni. Beberapa pelayan wanita j
Langkah kaki mereka menghantam salju yang mulai mencair dengan ritme yang terburu-buru. Hans berada di posisi paling depan, namun fokusnya terbagi dua: memastikan jalan aman dan memastikan Elara tidak tergelincir.Setiap kali Elara sedikit goyah karena jalanan yang curam, Hans dengan sigap menahan lengannya.“Pelan-pelan, My Lady. Jaga pijakanmu. Jangan sampai perutmu terbentur batu,” bisik Hans dengan suara tertahan.“Aku bisa, Hans. Fokuslah pada jalan di depan,” balas Elara, meski napasnya mulai pendek karena kelelahan dan guncangan hormon di tubuhnya.Valerius berjalan di belakang mereka, matanya terus menyapu lereng bawah. Wajahnya yang tirus tampak semakin tajam di bawah cahaya sore yang mulai memudar.Tangannya mengepal kuat, menahan amarah yang kian memuncak saat aroma asap kayu terbakar mulai tercium dari arah lembah. Begitu mereka melewati tikungan tajam di pinggang gunung, pemandangan di bawah sana membuat jantung
“Isolde menggunakan formasi kura-kura di gerbang utama. Dia sengaja memancing sisa ksatria kita keluar untuk dibantai oleh para pemanah Puncak Hitam di perbukitan samping.”Elara mendekat, lalu memegang lengan Valerius dengan cemas. “Apa yang bisa kita lakukan? Pasukan kita kocar-kacir, dan kau... kau belum bisa memegang pedang dengan stabil.”“Aku tidak akan memegang pedang untuk menghadapi seribu orang, Elara,” Valerius menoleh padanya, lalu senyum tipis yang dingin tersungging di bibirnya.“Kakek menunjukkan sesuatu padaku di alam leluhur. Dia sombong dengan kekuasaannya, tapi dia juga membocorkan rahasia tentang bagaimana Puncak Hitam mengikat sihir mereka. Mereka semua terhubung melalui satu frekuensi energi yang berasal dari Breaker of Souls.”“Maksudmu jika senjata itu hancur, sihir mereka hilang?” tanya Lyra sambil memeriksa persediaan botol-botolnya.“Lebih dari itu. Jika kita meracuni 'aliran' mereka, maka seluruh pasukan itu akan tumbang bersamaan,” Valerius beralih pada Ly
Lyra mengerutkan kening, matanya berpindah cepat dari wajah Valerius yang emosional ke arah perut Elara.Ia segera menarik tangan Elara, menempelkan jemarinya pada titik nadi di pergelangan tangan dan kemudian meraba leher sahabatnya dengan saksama.Wajah Lyra yang tadinya penuh sisa air mata kesedihan, kini berubah menjadi ekspresi kebingungan yang mendalam.“Elara, diam sebentar. Napasmu terlalu cepat,” perintah Lyra. Ia mengeluarkan sebuah kristal pemantau aliran energi dari tasnya dan menempelkannya ke kulit Elara.Kristal itu berpendar dengan warna merah muda yang lembut, bukan biru dingin seperti biasanya. Lyra terkesiap, tangannya menutup mulutnya sendiri.“Ini tidak mungkin... dalam kondisi seperti ini?” gumam Lyra.“Ada apa, Lyra? Apa Duchess Elara terluka di dalam?” Hans bertanya dengan nada cemas, tangannya masih memegangi bahu Valerius agar pria itu tidak terjatuh.“Bukan luka, Hans,” Lyra menoleh pada Hans dengan mata melebar. “Hormonnya... detak jantung sekundernya sanga
Ledakan cahaya putih yang menyilaukan itu perlahan memudar, meninggalkan rasa sakit yang menghantam seluruh saraf tubuh Elara.Sensasi jatuh bebas terhenti seketika saat ia merasakan punggungnya menghantam permukaan keras yang dingin dan basah. Paru-parunya terasa seperti terbakar, memaksa sebuah tarikan napas yang sangat dalam dan menyakitkan.“Uhukk! Uhukk!” Elara tersentak bangun, tubuhnya melengkung saat ia terbatuk hebat, mengeluarkan sisa-sisa cairan hitam pahit dari tenggorokannya.“Elara?! Elara, kau bangun?!” Suara Lyra melengking di antara isak tangisnya.Elara masih belum bisa melihat dengan jelas. Pandangannya kabur, hanya menangkap bayangan remang-remang gua dan tetesan air yang jatuh dari langit-langit. Kepalanya berdenyut seolah dihantam palu godam.Di sampingnya, ia mendengar suara tarikan napas yang kasar dan berat, disusul oleh suara erangan yang sangat familiar.“Duke? My Lord! Valerius!” Hans berteriak, suaranya parau karena emosi yang meluap.“Jantungnya... jantun
Elara masih mematung, menatap sapu tangan sutra di tangan Roderick dengan ragu. Karena Elara tak kunjung mengambilnya, Roderick melangkah satu langkah lebih dekat.Tanpa diduga, pria itu mengulurkan tangannya dan dengan lembut mengusap sisa air mata di pipi Elara menggunakan ibu jarinya.Sentuhan h
Dia mencengkeram bahu Elara dan melempar tubuh wanita itu ke atas ranjang besar bertiang tinggi di tengah ruangan luas dan megah itu.Elara memekik, dan tubuhnya terpental di atas kasur yang empuk namun terasa seperti hamparan es karena aura dingin yang memancar dari suaminya.“Sudah berapa kali ak
Cahaya matahari musim dingin yang pucat mulai menyelinap melalui celah jendela tinggi di ruang kerja, menyinari debu-debu yang beterbangan di atas tumpukan perkamen.Elara mengusap wajahnya yang kuyu; matanya merah dan terasa berpasir karena hanya sempat memejamkan mata selama tiga jam di atas sofa
Elara berdiri mematung di sudut ruangan sambil meremas jarinya di pinggiran meja kerja.Lalu melirik ke arah Valerius melalui sudut matanya. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan atau kegelisahan.Sebaliknya, Valerius tampak tenang secara mengerikan. Seolah-olah drama yang b







