Share

Bab 4

Author: Pena Gayatri
last update publish date: 2026-05-12 21:00:18

Di sebuah Villa pribadi. Rupanya Bima mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Bunga-bunga Mawar Putih dan Baby Breath menghiasi kebun di depan villa. Di depan ada meja kecil dan juga hanya beberapa bangku yang hanya kurang dari 50 kursi saja.

Terlihat jelas bahwa Bima adalah orang yang membuktikan niatnya dengan sungguh-sungguh. Pria itu telah mengenakan Jas Hitam. Ia siap meminang Aruna sore hari ini.

Aruna benar-benar gugup. Ia harus jujur pada dirinya sendiri bahwa semua ini terlalu mendadak. Dulu, ia pernah bermimpi ingin menikah ketika sudah berhasil menjadi dokter, sudah mendapat penghasilan yang tetap, dan juga tentunya menikah dengan pria yang mencintainya.

Akan tetapi sekarang, lantaran terdesak ... Aruna harus menikah dengan dokter Bima. Ada kesedihan yang sembunyi di balik wajah ayunya.

"Kita mulai sebelum waktunya terlambat," kata seorang penghulu di sana.

Aruna berbicara lirih kepada Bima, "Bukankah hanya kontrak?"

"Ya, tapi tetap tercatat. Dengan demikian hubungan legal dan jauh dari kata zina."

Bima dengan cepat mengucapkan akad di depan penghulu. Aruna menitikkan air matanya karena sedih dan banyak perasaan berkecamuk di dalam dada.

Usai akad, kedua orang tua Aruna langsung pulang. Sementara pesta masih berlangsung dengan menikmati jamuan makan dengan tamu undangan yang terbatas.

Di saat itulah, Mama Ranti datang bersama Clara. Semua mata tertuju kepada Clara karena sekarang Clara mengenakan Gaun Pengantin Putih. Dari gaun, heels, hingga perhiasan yang Clara kenakan tampak mahal. Sementara Aruna tampil sederhana.

"Kamu sudah kelewatan, Bim ... kenapa menikah dengan wanita sembarangan? Kamu memungutnya?" tanya Mama Ranti dengan sinis.

"Ma, dia adalah Aruna," jelas Bima.

"Kalau menikah, wanita yang harus kamu nikahi adalah Clara. Bukan wanita seperti dia. Kamu dan Clara dari latar belakang yang sama. Selain itu, kalian juga adalah dokter sudah pasti anak-anak kalian nantinya pure blood keturunan dokter."

"Benar, Bim ... kamu gila. Selama ini kamu bersikap baik kepadaku. Beberapa kali juga kita jalan bareng. Apa selama ini kamu cuma memanfaatkan aku? Kamu cuma mau mengambil sesuatu dariku?"

"Clara tidak seperti itu," ucap Bima mencoba menjelaskan.

"Kamu jahat, Bima. Apa kamu hanya tertarik pada tubuhku saja, tapi gak mau menikahiku?"

Semua yang Clara katakan membuat Aruna semakin sedih. Bahkan Aruna seketika menilai pria yang kini menjadi suaminya itu adalah sosok yang jahat.

"Hei, kamu seharusnya tahu diri karena kamu sama sekali tidak pantas bersanding dengan Bima," ucap Clara.

Setelah itu, Clara meraih segelas minuman dan menumpahkannya ke badan Aruna. Kebaya putih yang Aruna kenakan seketika kotor dan basah.

Mama Ranti mengangkat tangan hendak menampar Aruna, tapi tangan Bima segera menghalaunya. Pria itu tidak berucap apa pun, bahkan tidak ada pembelaan dari mulut Bima.

"Wanita rendahan kayak kamu tidak layak menjadi bagian dari keluarga Pratama. Kamu harus tahu diri. Sampai kapan pun, kamu gak pernah aku anggap sebagai pasangannya Bima."

Ucapan Mama Ranti menusuk hati Aruna. Gadis itu berlari keluar villa. Ketika orang lain mengatakan asal usulnya yang berbeda strata rasanya memang begitu sakit. Apalagi Bima terlihat hanya diam.

Awalnya Aruna kira bahwa Bima akan membelanya. Rupanya, pria yang baru saja menikahinya itu hanya diam.

Hari semakin petang, gerimis mulai turun. Sementara di villa, Mama Ranti meluapkan kekecewaannya kepada Bima. Setelah itu, Mama Ranti menggandeng tangan Clara dan mengajaknya meninggalkan area villa.

Bima kemudian membubarkan jamuan makan saat itu juga. Pria itu kemudian berlari mencari Aruna. Bima sangat yakin bahwa Aruna tidak jauh dari area villa.

Pria itu berlari menerobos gerimis yang semakin deras sembari mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Bima sembari berharap bahwa Aruna akan segera ia temukan. Benar saja, tak jauh dari villa, pengantinnya menangis dengan keadaan berjongkok sembari memeluk dirinya sendiri.

Tanpa banyak bicara, Bima melangkahkan kakinya semakin cepat. Pria itu melepas jas hitam yang semula ia kenakan dan mengenakannya kepada Aruna.

"Kita pulang," ajaknya.

"Tidak, aku gak mau ikut kamu. Aku mau kembali ke rumah orang tuaku."

"Kamu lupa, kalau kita adalah pasangan suami istri. Sudah sah."

Aruna terisak-isak. Kenapa saat Bima mengatakan bahwa mereka adalah suami istri, hatinya terasa sangat sesak. Aruna menilai suaminya itu tak bisa melindunginya, bahkan Bima sama sekali tak membelanya saat Mama Ranti dan Clara merendahkannya. Bagi Aruna, apa gunanya seorang suami apabila tidak bisa melindungi istrinya.

"Aku tidak mau ...."

"Kita pulang. Hujannya akan semakin deras. Apalagi tubuhmu akan semakin basah kuyub. Ayo, ikut aku."

"Gak ...."

"Ayo, kita tidak bisa seperti ini. Lusa kamu harus koas. Kita pulang."

Bima berusaha keras mengajak Aruna untuk kembali ke villa terlebih dahulu. Setelah berusaha meyakinkan Aruna, akhirnya gadis itu mau menuruti ucapan Bima. Tanpa banyak berbicara Bima meraih tangan Aruna dan menggandengnya untuk segera pulang.

Pria itu tak banyak berbicara. Yang jauh lebih penting bagi Bima sekarang adalah Aruna mau menuruti dirinya terlebih dahulu. Tak elok di hari pertama mereka menjadi pasangan justru terjadi kejadian yang sangat tak mengenakkan bagi Aruna.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 27

    "Apakah ada perubahan yang dirasakan?" tanya dokter Sony. Saat ini Bima dan Aruna kembali melakukan konsultasi dan pemeriksaan. Sudah menjadi komitmen Bima bahwa ia akan melakukan pengobatan secara rutin dan Aruna tetap mendampingi suaminya. "Rasanya belum ada sama sekali." "Sudah melakukan jelqing?" Kali ini Aruna menganggukkan kepalanya, "Ya, sudah. Sudah saya lakukan." "Kali ini coba Pak Bima untuk pemanasan. Biasanya saat melakukan pemanasan, saat mulai berhasrat itu alat vital pria akan mengeras dan tegak berdiri. Coba dulu." Bima dan Aruna saling tatap. Aruna walau tidak punya pengalaman sebelumnya, tapi karena belajar kedokteran, maka ia tahu bahwa yang dimaksud dokter Sony adalah melakukan pemanasan sebagai pasangan. "Loh, tidak apa-apa. Kalian kan sudah menikah." "Eh, iya, dok." Aru

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 26

    Usai kepergian Mama Ranti dan Clara, acara makan malam menjadi jauh lebih tenang. Walau saat ada orang lain yang memperhatikan lehernya, membuat Aruna malu. Seumur hidup baru kali ini ada tanda merah di lehernya. Bima yang duduk di hadapan Aruna juga diam-diam kerap melihat hasil lukisan bibirnya di leher Aruna itu. Kalau dipikir juga cukup menggelikan, tapi ternyata itu berhasil membuat mamanya dan Clara pergi. "Makan yang banyak, Na," kata Bima. "Hm, secukupnya saja, Mas." Bima lalu menganggukkan kepalanya, di tengah-tengah acara makan malam sepupu Bima yang baru bertunangan berdansa bersama. Aruna ikut tersenyum karena pasangan yang memulai dengan cinta rasanya pasti hati berbunga-bunga. Berbeda dengan pasangan yang menikah karena melunasi utang. Lagu-lagu cinta mengalun seolah menjadi harmonisasi yang indah. Sesekali deburan

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 25

    "Mama heran karena kamu berani datang di acara keluarga besar kami. Lihatlah, siapa kamu! Jelas, kamu tidak sebanding dengan keluarga besar kami." Mama Ranti kembali mencibir Aruna. Ia menunjukkan bahwa Aruna benar-benar berbeda kelas. "Baju seperti itu. Tidak terkesan Luxury sama sekali." "Ma, jangan melihat orang dari penampilannya." Bima menghela napas kalau tetap di sini sudah pasti Aruna akan selalu menjadi cibiran. Bima kemudian berdiri. Lebih baik mereka kembali masuk ke dalam kamar. "Mau ke mana, Bim?" tanya Clara. "Tempat yang indah. Sangat cocok untuk pasangan suami istri." Bima kemudian menatap istrinya, "Sayang, aku mau nambah lagi yah?" Aruna tidak paham maksudnya, tapi ia hanya tersipu dengan rona merah di wajahnya. Bim

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 24

    Malam hari saat sudah berada di rumah, agaknya suasana hati Bima belum sepenuhnya membaik. Ia seperti berkaca sendiri. Ada trauma yang kembali bangkit. Trauma itu menekan secara mental, dan Bima merasakannya sekarang. Aruna yang lelah usai dari rumah sakit pun meluangkan waktu untuk duduk bersama dengan Bima. Aruna masih ingat saat Bima berkata dulu bahwa mereka harus saling bercerita agar hubungannya semakin akrab. "Mas ...." Aruna memanggil perlahan. Bima tersenyum tipis. Setelahnya Aruna kembali berbicara kepada suaminya. "Bagaimana perasaanmu?" "Hm, i am fine." "Tidak terlihat baik," balas Aruna. Bima tampak menghela napas, Aruna kemudian berbicara lagi, "Dulu memang Mas tidak ada tempat untuk berbagi, tapi katamu dulu bahwa s

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 23

    "Pasien belum sadar usai kecelakaan. Cepat lakukan CT Scan terlebih dahulu." Bima memberikan instruksi kepada tenaga medis yang bekerja bersamanya. Siang itu datang pasien karena kecelakaan. Apabila dilihat dari luar tidak ada luka yang serius. Darah hanya di area lutut, tapi pasien itu belum sadar. Di sana ada pula para calon dokter yang siap setiap kali keadaan darurat. Begitu juga dengan Aruna yang berada di sana. "Catat denyut jantung, nadi, dan tekanan darah," perintah Bima. "Baik, dokter." Aruna segera lakukan apa yang Bima perintahkan. Tidak berselang lama, laporan sudah Bima dapatkan. Sembari menunggu, pasien dibawa ke ruang tindakan dan dipasangkan infus terlebih dahulu. "Saksi kecelakaan di mana?" tanya Bima. Datanglah seseorang yang menemui Bima siang itu, "Saya, dokter." "Bagaimana kronologinya?" "Saya du

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 22

    Bima meraih tissue untuk membersihkan dirinya. Usai itu, rupanya Bima menuju ke kamar mandi, ia menyegarkan tubuhnya. Sementara Aruna berada di dapur, ia meminum hampir tiga gelas air putih. Aruna masih terkejut karena alat vital yang lembek bisa mengalami pelepasan. Apakah memang benar begitu? "Kenapa bisa? Kalau pijatan bisa memberikan stimulan di bagian otot-otot, jadi bisa juga ...." Aruna bertanya-tanya sendiri. Sampai akhirnya Bima menyusulnya. Pria itu terlihat segar dengan rambut yang masih setengah basah. "Kamu di sini? Aku mencarimu di kamar." "Aku minum." "Oh, makanya aku mencarimu." Aruna segera menaruh gelasnya, tapi kemudian Bima segera mengusap perlahan puncak kepala Ara. Gerakan kecil, tapi sensasinya seperti ada kepakan sayap kupu-kupu. Aruna menunduk. Ia mulai terbiasa dengan usapan Bima di puncak kepalanya. "Kita tidu

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 3

    Bima bukanlah orang yang mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Walau begitu profesinya sebagai dokter, kerap membuat Bima berpikir kritis dan mengambil keputusan secara cepat. Sebab, yang ada di hadapannya adalah pasien yang butuh pertolongan secara tepat.Sama seperti sekarang, Bima sudah

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 7

    Sebelum ke rumah sakit, Aruna akhirnya memilih untuk ke rumah orang tuanya terlebih dahulu. Tujuannya adalah mengambil laptop dan beberapa buku kedokteran miliknya. Ketika tiba di rumah, Aruna pikir bahwa kedua orang tuanya akan bersedih karena ia kini telah menikah, tapi yang terjadi adalah seba

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 6

    "Kalau sudah selesai, kita tidur." Kata tidur yang baru saja Bima ungkapkan membuat Aruna tidak nyaman. Aruna masih merasa bahwa Bima adalah orang asing baginya. Mereka yang biasanya bertemu di rumah sakit sekarang harus tidur bersama. Hari suda

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 5

    Setibanya di villa, Bima meminta Aruna untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Apalagi mereka usai kegerimisan, karenanya Bima meminta Aruna untuk mandi, dan setelah itu turun ke bawah menemuinya. "Mandilah dulu ... gerimis tadi bisa membuatmu masuk angin nanti," katanya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status