مشاركة

Bab 5

مؤلف: Pena Gayatri
last update تاريخ النشر: 2026-05-12 22:00:34

Setibanya di villa, Bima meminta Aruna untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Apalagi mereka usai kegerimisan, karenanya Bima meminta Aruna untuk mandi, dan setelah itu turun ke bawah menemuinya.

"Mandilah dulu ... gerimis tadi bisa membuatmu masuk angin nanti," katanya.

"Gak usah sok perhatian," balas Aruna.

"Mandi dulu. Abis itu turunlah ke sini lagi. Aku tunggu."

Aruna tidak membantah setelahnya. Ia akhirnya menuruti Bima, toh kalau sampai Flu, yang rugi juga Aruna sendiri. Di masa-masa Koas di mana ia juga harus berjaga malam di IGD, jika memiliki stamina yang sehat tentunya jauh lebih baik.

Aruna menghabiskan waktu setidaknya 20 menit, kemudian ia turun lagi ke bawah. Sebab, jujur saja villa ini masih asing untuknya. Sementara di bawah rupanya Bima sedang berada di dapur.

"Duduk dulu," kata Bima.

Aruna memilih tidak membantah. Ia memilih duduk, sesekali gadis itu masih terisak. Hatinya masih sakit ketika mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Mama Ranti dan Clara.

Bima juga diam, setelahnya pria itu tidak berbicara apa pun. Namun, hampir lima menit kemudian ia menyajikan semangkuk Sup Iga di hadapan Aruna.

Aroma Sup Iga Sapi yang sangat lezat. Kuahnya masih hangat, setelahnya Bima berbicara perlahan kepada Aruna.

"Makanlah ... kuahnya masih hangat. Bisa menghangatkan badanmu yang tadi kehujanan."

Aruna seketika membeku. Rasanya begitu bertolak belakang, tadi Bima hanya diam dan tidak bisa membelanya. Akan tetapi, sekarang Bima menunjukkan perhatiannya. Aruna masih diam, hanya sorot matanya yang memindai semangkuk Sup Iga itu.

"Kenapa hanya dilihat? Ayo, dimakan ...."

"Untuk apa memasakanku seperti ini?"

"Aku memang memasakannya untukmu. Kamu usai kehujanan."

Aruna tersenyum getir, ia kemudian bertanya kepada Bima, "Semua yang terjadi hari ini sangat membingungkan. Tadi dokter Bima hanya diam saat Mamanya dan dokter Clara merendahkan aku. Sekarang, untuk apa memasakkan aku seperti ini. Semangkuk Sup Iga tak bisa mengobati sakitnya hatiku."

"Perihal itu tadi?"

"Iya. Katanya kita pasangan. Kewajiban suami adalah melindungi istrinya. Sementara yang dokter Bima lakukan hanya diam. Kenapa menikahi aku kalau ternyata wanita pilihan mamanya dokter kan Clara," balas Aruna.

"Mama dan Clara memang sudah mengenal baik cukup lama," jawab Bima.

"Padahal kalau menikah dengan dokter Clara, pasti jalannya akan berbeda."

Bima melirik Aruna perlahan, ia sadar bahwa Aruna merasa dirinya tidak sebanding dengan Clara. Tekanan psikologis seseorang akan terasa dan terlihat walau tidak diucapkan secara gamblang.

"Ya sudah, dimakan dulu. Nanti kuahnya akan dingin."

"Enggak ...."

Bima menghela napas, ia kembali menatap Aruna. Aruna kemudian turut menatap wajah pria yang sekarang resmi menjadi suaminya itu.

"Kalau ada yang jahat dan memperlakukan aku dengan buruk, sementara suamiku tak bisa melindungiku untuk apa. Bukankah harusnya suami selalu melindungi istrinya? Aku tahu hubungan kita hanya kontrak. Kita bahkan tidak memiliki perasaan apa pun, tapi aku sedih sekali tadi."

"Kamu memintaku untuk melindungimu kan?" tanya Bima perlahan. Pria itu bertutur dengan tenang sembari menatap dua netra Aruna.

"I ... ya."

Pria itu merespons dengan menganggukkan kepalanya, "Baiklah. Sertakan itu dalam kontrak. Aku akan melakukannya. Sebelumnya kembali berdebat, makan dulu."

Bima menyodorkan sendok dan garpu kepada Aruna. Akhirnya Aruna menerimanya, tanpa banyak perdebatan lagi Aruna mulai mencicipi Sup Iga buatan Bima. Kuah dengan perpaduan rempah yang sangat cocok, bahkan untuk sesaat ia melirik kepada Bima.

Sementara Bima sendiri beberapa kali mengamati Aruna. Saat makan pun, Aruna masih terisak. Pria itu melihat sosok Aruna yang seperti anak kecil, tapi sejujurnya pria itu tersenyum di dalam hatinya. Keduanya tidak banyak berbicara, hanya fokus dengan makanan yang ada di hadapan mereka.

Makanan Aruna belum habis, Bima sudah berdiri. Aruna kira Bima menyudahi makannya, ternyata Bima mengambil segelas air kemudian memberikannya kepada Aruna.

"Minumlah," ucapnya dengan lembut.

Tidak langsung mengucapkan terima kasih, Aruna terkejut karena Bima menunjukkan perhatian dan sisi kebaikan dirinya. Namun, Aruna masih beranggapan bahwa semua itu hanya karena sebatas kontrak dan karena ada rahasia yang harus ia simpan. Tidak boleh ada yang tahu kalau Bima rutin meminum Sildenafil PDE5.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 11

    Lima Tahun yang Lalu ...."Ada benturan di pangkal pahanya Anda. Benturan yang sangat keras menghantam pe-nis. Oleh karena itu, Anda terkena Aterosklesis."Bima masih tergolek lemah di ranjang rumah sakit. Ia baru saja mendapatkan operasi karena mengalami kecelakaan mobil. Tuhan masih berbaik hati karena Bima bisa selamat. Sayangnya, pria itu kini divonis terkena Aterosklesis."Aterosklesis, dokter?""Ya, benar. Aterosklesis. Telah terjadi penyempitan dan pembekuan pembuluh darah di pe-nis Anda. Aliran darah menjadi terhambat dan Aterosklesis itu akan menyebabkan Disfungsi Ereksi atau DE."Vonis dari dokter membuat Bima menjadi lemas sekaligus cemas. Usianya masih muda saat itu. Selain itu, Bima adalah perjaka. Pemuda itu tidak pernah berusaha untuk mempermainkan wanita. Walau berstatus single, Bima juga memiliki angan-angan untuk menikah di usia 30 tahun. Akan tetapi, setelah mendengar apa yang dokter sampaikan Bima sempat takut kalau DE yang ia alami bisa

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 10

    "Selamat siang, silakan duduk. Sudah lama tidak melakukan cek up ya, dokter Bima." dokter Spesialis Andrologi yang selama ini menangani Bima adalah dokter Sonny. Sudah beberapa kali Bima datang untuk melakukan kontrol dan mendapatkan obat yang harus diminum. "Iya, dokter. Saya sibuk belakangan ini," balasnya. "Kepala IGD sudah pasti sangat sibuk, dokter Bima. Tumben sekali hari ini ada yang mendampingi." Bima menganggukkan kepalanya, lalu ia memperkenalkan Aruna kepada dokter Sonny. "Perkenalkan, istri saya ...." "Siang dok, saya Aruna." "Saya dokter Sonny spesialis Andrologi yang selama ini menangani dokter Bima. Rupanya suda

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 9

    Walau semalam tidur lebih dari tengah malam, pagi ini Aruna sudah bangun. Aruna sendiri memang terbiasa untuk bangun lebih pagi. Dulu sewaktu belum menikah, Aruna menghabiskan waktu di pagi hari untuk belajar dan membantu ibunya memasak di dapur. Sekarang, Aruna juga sudah menuju ke dapur. Walau belum meminta izin kepada Bima, sekarang Aruna sudah melihat apa yang ada di dalam kulkas. Gadis itu tampak bingung karena yang ada di dalam kulkas hanya air putih. Tidak ada bahan makanan sama sekali. "Apakah selama ini dokter Bima tidak pernah memasak di rumah?" Aruna menghela napas panjang. Kalau sudah tinggal bersama, dibiayai sekolah sampai pendidikan spesialis dan Aruna tidak melakukan apa pun rasanya Aruna menjadi orang yang tidak tahu diri. Aruna kebingungan harus menyiapkan sarapan apa karena tidak ada yang bisa dimasak pagi ini. Ingin keluar dan berbelanja, area apartemen ini juga masih a

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 8

    Aruna menyelesaikan masa koas hari ini. Sampai jam 23.00 malam, ia baru selesai menginput semua Operatif Report. Tubuh sudah begitu lelah, dan esok jam 08.00 pagi ia sudah harus kembali ke rumah sakit. Ketika keluar dari rumah sakit, Aruna sudah bertekad akan berjalan kaki untuk sampai ke apartemen milik suaminya. Namun, saat keluar dari lobby, Aruna benar-benar tidak mengira karena suaminya tampak menunggunya. Pria itu berdiri di depan mobil. Saat melihat Aruna, wajah Bima terlihat lega. Ia menunggu sampai Aruna berjalan ke arahnya. "Ayo, pulang," ajaknya. "dokter apa baru selesai?" "Hm." Padahal sebenarnya Bima sudah selesai praktik sejak sore tadi. Namun, sejak dulu memang Bima lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit. Ia juga dulu lebih banyak tidur di rumah sakit daripada pulang ke rumah orang tuanya. Baru satu setengah tahun belakangan, ia membeli sebuah apartemen yang jaraknya hanya 200 meter saja dari rumah sakit. Sehingga, kalau ada emergency call dari rumah saki

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 7

    Sebelum ke rumah sakit, Aruna akhirnya memilih untuk ke rumah orang tuanya terlebih dahulu. Tujuannya adalah mengambil laptop dan beberapa buku kedokteran miliknya. Ketika tiba di rumah, Aruna pikir bahwa kedua orang tuanya akan bersedih karena ia kini telah menikah, tapi yang terjadi adalah sebaliknya, Aruna mendengar bahwa kedua orang tuanya justru senang. Gadis itu masih berdiri di luar pintu rumah, dan ia mendengar semua percakapan Ayah dan Ibunya. Hatinya semakin bertambah sedih saat mendengar percakapan kedua orang tuanya. "Semua utang kita sudah lunas. Sertifikat rumah yang dulu kita gadaikan untuk membayar kuliah Aruna saat keterima Fakultas Kedokteran sekarang sudah kembali. Akhirnya, bebas utang ...." Ayahnya berkata begitu dengan senyuman mengembang di wajahnya. Sementara Ibunya juga turut menganggukkan kepalanya. Bagi orang dari kelas ekonomi menengah ke bawah saat anaknya yang pintar berhasil diterima di Fakultas Kedo

  • Pengantin dokter Impoten    Bab 6

    "Kalau sudah selesai, kita tidur." Kata tidur yang baru saja Bima ungkapkan membuat Aruna tidak nyaman. Aruna masih merasa bahwa Bima adalah orang asing baginya. Mereka yang biasanya bertemu di rumah sakit sekarang harus tidur bersama. Hari sudah malam, Aruna masih berada di ruang tamu. Rupanya malam itu hujan semakin deras, tapi ia belum beranjak ke kamar. Tentu saja Aruna takut dan canggung kalau harus sekamar dengan Bima. Merasa karena Aruna tidak segera masuk ke dalam kamar, akhirnya Bima kembali turun ke bawah. Ia mendatangi Aruna yang masih berada di ruang tamu. "Tidak tidur?" tanyanya. "Ada berapa kamar di tempat ini, dokter?" tanya Aruna. "Hanya ada satu kamar. Ini adalah villa pribadiku, bukan villa keluarga sehingga kamarnya memang hanya ada satu." "Aku tidur di sini saja," balas Aruna. Bahkan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status