Share

21b

Author: Emya
last update Last Updated: 2026-01-10 08:00:57

Hanya dua malam Mbak Nana di desa. Nanti sudah harus kembali ke kota. Aku yang kebetulan ingin menghadiri acara ngunduh mantu Hilma, juga akan berangkat sore ini. Jadilah kami berangkat secara bersamaan.

"Nasrul nggak ikut, Ra?" tanya Mbak Nana saat kami sama-sama menggeret koper ke teras. Menunggu mobil jemputan.

"Nggak, Mbak. Aku juga mau refreshing, aku stress belakangan ini."

"Oke. Tenangkan diri kamu, ya, jangan gegabah. Mbak menangkap ada yang janggal dengan sikap Nasrul." Mba Nana menatap lurus pada kumbang yang hinggap di tangkai bungaku yang sedang mekar. "Setiap berbicara matanya kosong. Hanya orang yang dikendalikan sesuatu yang berbicara seperti itu."

Aku mengernyit, belum memahami apa yang dimaksud Mbak Nana. "Maksudnya, Mbak?"

"Yang membencimu itu bukan Nasrul. Mbak bisa merasakan itu, tapi Mbak nggak bisa menjelaskan lebih rinci. Mbakmu ini sudah bertemu banyak jenis orang, belajar bagaimana membaca karakter seseorang, bel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   22a

    Lelah yang mendera sepanjang perjalanan menyebabkan aku tak lagi sempat memeriksa ponsel lebih lama, apalagi membuka pesan dari Sarah. Malas. Pun tak ada juga pesan atau telepon dari Mas Nasrul menanyakan keadaan aku dan Nada. Ah, biarlah! Aku juga tidak ada niat untuk menghubunginya.Travel yang kami tumpangi mengantar aku terlebih dahulu, sedangkan rumah Mbak Nana letaknya masih sangat jauh dari rumah Hilma. Berbekal ingatan lama, aku akhirnya sampai juga di kampung Gaduh. Karena dulu cukup sering berkunjung, aku tidak menemukan kesulitan berarti dalam menemukannya. Hanya saja begitu sampai agak sedikit heran. Penampakan rumah Hilma sangat jauh berbeda dengan dulu.Sesampainya di rumah Hilma aku disambut dengan hangat oleh Tante Ratna. Sangat banyak hal yang telah aku lewatkan dari kehidupan Hilma. Rupanya Hilma kini telah bertranformasi menjadi pewaris tunggal perusahaan bonafit milik Papanya. Benar-benar mencengangkan. Rezeki untuk dia yang sedari dulu sud

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   21b

    Hanya dua malam Mbak Nana di desa. Nanti sudah harus kembali ke kota. Aku yang kebetulan ingin menghadiri acara ngunduh mantu Hilma, juga akan berangkat sore ini. Jadilah kami berangkat secara bersamaan."Nasrul nggak ikut, Ra?" tanya Mbak Nana saat kami sama-sama menggeret koper ke teras. Menunggu mobil jemputan."Nggak, Mbak. Aku juga mau refreshing, aku stress belakangan ini." "Oke. Tenangkan diri kamu, ya, jangan gegabah. Mbak menangkap ada yang janggal dengan sikap Nasrul." Mba Nana menatap lurus pada kumbang yang hinggap di tangkai bungaku yang sedang mekar. "Setiap berbicara matanya kosong. Hanya orang yang dikendalikan sesuatu yang berbicara seperti itu."Aku mengernyit, belum memahami apa yang dimaksud Mbak Nana. "Maksudnya, Mbak?""Yang membencimu itu bukan Nasrul. Mbak bisa merasakan itu, tapi Mbak nggak bisa menjelaskan lebih rinci. Mbakmu ini sudah bertemu banyak jenis orang, belajar bagaimana membaca karakter seseorang, bel

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   21a

    "Dara ...!!!" Aku tersentak kala mendengar teriakan kencang yang berada di balik telingaku, beriringan dengan hentakan kuat pada lengan kiri. Mas Nasrul menarikku dengan tenaga lelakinya. Tak ayal itu membuatku terpelanting dengan memeluk Nada erat.Bruk!Tubuhku menubruk seseorang. Kalau saja orang tersebut tidak menguatkan tumpuan kakinya, mungkin aku dan Nada sudah tersungkur menimpanya. Mas Nasrul keterlaluan!Kubenahi berdiriku, mencoba menenangkan  Nada yang syok dan merengek. Belum usai keterkejutanku, kini mataku kembali dibuat tak percaya dengan apa yang aku lihat. "Mbak Nana …" ucapku pelan.Mbak Nana tersenyum tipis. Terus terang, aku tidak cukup dekat dengannya. Mbak Nana juga ceplas-ceplos kalau bicara, makanya aku sedikit segan. Meski demikian dia tipe perempuan tegas, Mas Nasrul sangat menghormatinya."Apa kabar semuanya?" sapa Mbak Nana. Meletakkan kopernya di pinggir dinding, lalu menyal

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   20b

    Mengabaikan makhkuk tak punya malu itu, aku menghampiri Bang Roy dan Mbak Nira. Menyalami mereka."Kapan datang, Bang, Mbak?" tanyaku berbasa-basi."Barusan kok, Ra. Sarah telepon, katanya Ibu sakit," jawab Mbak Nira. "Tumben kamu nggak kasih tahu Mbak kalau Ibu sakit?" Imbuhnya lagi.Ck! Sarah ini, memang ulat bulu ternyata. Gatel. "Sorry, Mbak. Aku nggak tahu Ibu sakit, Ibu nggak bilang ke aku. Justru Ibu bilangnya ke Sarah, ya sudah." Senyum masam kupersembahkan pada iparku itu."Mbak Wati dan Mbak Marni juga udah kamu pecat ya, Ra? Kualat kamu sengaja ngandelin Ibu kayak dulu." kata Mbak Nira lagi, tatapannya tajam layaknya menginterogasi."Kata siapa? Sarah lagi?" tanyaku balik. Mengangkat sebelah alis lebatku."Iya." Tawa miris akhirnya kulepaskan. Kugelengkan kepalaku sebentar, lalu mentap tajam pada iparku yang tengah hamil tersebut."Apa setiap aduan Sarah menjadi kebenaran di mata Mbak? Apa

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   20a

    [Usia bukanlah ukuran dari kematangan jiwa. Bahkan mereka yang telah melewati banyak peristiwa dalam kehidupan ini belum tentu beranjak dewasa.Termasuk dewasa dalam menjalin hubungan cinta.Ingatlah. Jatuh cinta itu sangat mudah. Mencintai juga sangat mudah bila kamu mendefinisikan cinta sebagai kegiatan menutut:Menuntut pasanganmu untuk mengerti dirimu;Menuntut pasanganmu untuk menyesuaikan diri dengan dirimu;Menuntutnya untuk menjadi lebih baik tanpa berusaha dengan sabar mendukungnya.Jika definisi cintamu seperti itu, maka bersiap-siaplah untuk patah hati. Sebab tak seorangp un sanggup dengan cinta semacam itu.]Aku tercenung ketika selesai membaca kalimat bijak yang di tulis seseorang di laman apliksi biru-ku. Apakah cintaku ke Mas Nasrul selama ini terlalu banyak menuntut? Sehingga kali ini aku merada patah hati teramat dalam. Selama ini aku selalu igin dimengerti olehnya, oleh Ibu. Apa

  • Pengasuh Gratis Itu, Mertuaku   19b

    "Gi*a kamu, ya?! Kenapa jadi balik ke Ibu lagi? Jangan ngaco. Kita punya uang untuk bayar mereka, jangan nyari perkara!" Mas Nasrul kembali dalam mode emosi, tangannya mengepal dan bergetar."Jangan lupa, uang kebun itu uangku dan Nada. Gajiku tentu juga uangku. Jadi suka-suka aku mau dipakai untuk apa. Atau kamu suruh aja Sarah ke sini. Kan, dia dulu suka caper tuh sama kamu. Suruh sini dong, bantu Ibu masak sama ngasuh Nada."Kukedipkan sebelah mataku pada Mas Nasrul yang semakin menatapku tajam. Apakah aku takut? Tidak! Hatiku terlalu sakit dengan perlakuannya yang tidak menghargai perjuanganku demi keutuhan dan kebahagian keluarga ini.Tangannya yang semula mengepal tiba-tiba terangkat tinggi ke udara hendak menamparku. Beruntung, gerakanku cukup cepat menahan laju tangannya dengan kedua tanganku."Mau nampar aku? Siap masuk penjara? Oknum sekdes bernama Muhammad Nasrul kedapatan berselingkuh, lalu menganiaya isrinya. Siap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status