Share

Bab 49

Penulis: Addarayuli
last update Tanggal publikasi: 2026-05-27 19:11:34

Adrian kembali mencium bibir Meysa dengan tempo sedikit menuntut meninggalkan jejak kehangatan membuat Meysa mengerang pelan. Dia menindih tubuh Meysa hingga kulit mereka saling bersentuhan dan bergesekan membuat gelenyar aneh yang mulai mereka rasakan, bak sengatan listrik yang membuat bulu kuduk meremang.

Satu persatu sisa pakaian di tubuh keduanya mulai Adrian lepaskan dan tercecer begitu saja di lantai kamar, kini tubuh keduanya sudah tak halangi sehelai benang pun. Rasa malu yang Meysa ras
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 99

    Mobil melaju perlahan, membelah jalanan pagi yang sudah cukup ramai oleh kendaraan. Maklum, hari libur akhir pekan seperti ini biasanya dipenuhi oleh orang-orang yang ingin berolahraga atau sekadar mencari sarapan di luar.Di kursi penumpang, Ibu Ningsih menatap ke arah luar jendela. Awalnya beliau hanya diam menikmati pemandangan kota, namun perlahan kedua alisnya bertaut. Dahinya mengerut dalam ketika menyadari gedung-gedung dan papan penunjuk jalan yang mereka lewati terasa asing."Lho, ini kan bukan jalan ke arah rumah Ibu?" gumam Ibu Ningsih, mulai merasa ada yang keliru.Tak ada yang menjawab. Keheningan yang canggung sempat menyelimuti kabin mobil hingga beberapa saat kemudian, mobil tersebut berbelok dan berhenti tepat di lobi sebuah kompleks apartemen mewah yang menjulang tinggi.Ibu Ningsih menatap bangunan megah di hadapannya, lalu menoleh ke kursi depan dengan tatapan penuh tanya."Kita ngapain ke sini? Meysa, Maya, kenapa kita ke apartemen ini?"Mendengar pertanyaan itu,

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 98

    Mentari pagi baru saja menyelinap di balik gorden kamar, membawa seberkas cahaya hangat yang perlahan mengusir remang. Di atas ranjangnya, Meysa menggeliat pelan. Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, sampai sebuah suara yang sangat familiar memecah keheningan.Ting!Suara denting ponsel itu sukses membuat kelopak mata Meysa terbuka sedikit. Sambil menguap lebar dan mengucek matanya khas orang yang baru bangun tidur, ia meraba-raba nakas di samping tempat tidur untuk mencari sumber suara.Dengan nyawa yang belum terkumpul seutuhnya, Meysa menyalakan layar ponselnya. Begitu matanya menangkap sebuah notifikasi pesan baru, kantuknya mendadak hilang terbang entah ke mana.Pesan itu datang dari Adrian, suaminya.Adrian: Selamat pagi, Mey.Seketika, kedua pipi Meysa merona merah. Sebuah senyuman lebar langsung terukir di wajahnya. Ia memeluk ponselnya di dada sambil menahan salah tingkahnya. Tak pernah terbayang dalam benak Meysa jika dia akan mendapat pesan dari sang suami.Meysa tersenyum

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 97

    William memperhatikan Nozela dengan tatapan cemas. Dia tahu ada sesuatu yang menahan napas Nozela sejak kekasihnya mulai mengatakan apa yang dia lihat."William..." Suara Nozela nyaris berbisik, bergetar tipis."Aku... aku melihatnya lagi hari itu."William menegakkan tubuhnya, menatap Nozela lembut. "Melihat siapa, Jel?"Nozela menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan mencekat. Nama itu seperti duri yang enggan dia sebutkan, namun memori di kepalanya memaksa nama itu keluar."Drake."Mendengar nama itu, raut wajah William berubah serius. Dia tahu pria itu merupakan kenangan buruk dan dia tahu betul bagaimana nama itu berpotensi menghancurkan ketenangan yang selama ini mati-matian Nozela bangun."Beberapa hari lalu saat kita dari rumah sakit menjenguk Ibu Maya..." Nozela mulai bercerita, matanya menatap kosong ke permukaan kolam renang."Lampu merah di perempatan dekat taman kota. Saat kita terjebak lampu merah, ketika... ketika aku tidak sengaja menoleh ke arah bahu jalan."Na

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 96

    Malam semakin larut, namun ketenangan tak kunjung mampir di hati Meysa. Di dalam kamar mereka yang sunyi, Meysa perlahan mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang nyaman. Namun, hatinya itu masih diliputi rasa cemas.Gerakannya terasa berat, penuh dengan keresahan dan kegelisahan yang terus menumpuk sejak sore tadi. Pandangannya berulang kali teralih pada jam dinding. Waktu terus berputar, tetapi sampai detik ini, Adrian, sang suami belum juga memberinya kabar. Tidak ada telepon, bahkan tidak ada satu pun pesan singkat yang masuk.Mencoba mengusir rasa sesak yang kian menghimpit, Meysa melangkah menuju balkon kamar mereka. Dia membuka pintu kaca lebar-lebar, membiarkan angin malam yang dingin menerpa kulitnya.Dari atas balkon, Meysa menatap kosong pemandangan di bawah sana. Lampu-lampu jalanan dan gedung tinggi tampak berkelap-kelip indah, namun di mata Meysa, semua itu terasa hambar. Pikiran-pikirannya berkecamuk liar.Apakah Adrian masih terjebak rapat? Atau suaminya sudah istira

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 95

    Suasana ruang makan di rumah Nozela malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring terdengar begitu jelas, mengisi kekosongan di antara mereka bertiga.Nozela duduk dengan pandangan yang lebih banyak tertuju pada nasi di piringnya. Ia hanya mengaduk-aduk lauknya sesekali, menyuap dengan perlahan, dan lebih banyak diam. Pikirannya tampak melayang entah ke mana."Nozela, kamu tidak perlu pergi bekerja dulu kalau memang kamu masih sakit." ucap Andito memecah keheningan.Nozela mendongak sedikit, lalu mengangguk kecil. "Ojel sudah lebih baik kok pah, besok sudah bisa ke kantor," jawabnya singkat, lalu kembali menunduk.Mama yang menyadari perubahan sikap putrinya ikut menimpali, "Perut kamu masih sakit, Jel? Kok makanannya cuma diaduk-aduk begitu? Biasanya kamu paling suka kalau Mama masak udang.""Enggak, Ma. Nozela cuma masih tidak enak makan saja," sahut Nozela seadanya, tersenyum tipis hanya untuk menenangkan Mamanya agar tidak khawatir.

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 94

    Suasana di dalam kamar Nora benar-benar suram. Wajah keduanya merah padam, bahkan terdapat dua botol air mineral yang sudah kosong berada di atas meja.Nora duduk di tepi ranjang dengan wajah ditekuk, sementara Celine bolak-balik berjalan di depan cermin sambil terus-menerus meludah ke dalam tisu. Wajah keduanya merah padam bukan karena malu saja, tapi juga karena menahan rasa asin yang luar biasa."Ini semua gara-gara kamu, Celine!" seru Nora sambil melempar bantal sofa ke arah sahabatnya itu."Kamu bilang rencananya bakal mulus. Kenapa malah kita yang kena?!"Celine menangkap bantal itu dengan kesal, lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi meja rias. "Ya mana aku tahu kalau Meysa akan seberuntung itu! Aku sudah pastikan sup yang banyak garamnya itu masih di tempatnya, tapi kenapa hanya milik kita yang asin!"Kalau diingat-ingat kejadian di ruang makan tadi, rasanya Nora ingin menghilang saja dari muka bumi.Celine memasukkan setengah botol garam ke dalam mangkuk sup Meysa agar ketika O

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status