LOGIN"Mau apa kamu?"Meysa mengehntikan gerakan tangannya ketika mendapat teguran dari seseorang, kepalanya menoleh ke samping mendapati Nora sedang bersedekap dada sambil menatapnya dengan tajam."Kak Nora,""Aku tidak pernah mengizinkamu memanggilku dengan sebutan Kak. Jadi jangan pernah lagi menyebut Kak dengan mulut busukmu itu." desisi Nora.Meysa menghela napas panjang, dia meletakkan sendok dan piringnya ke meja kemudian memutar tubuhnya menghadap Nora."Ada apa Nona Nora, ada yang bisa saya bantu?" Nora mengetatkan rahangnya, pertanyaan Meysa menurutnya bukan sekedar pertayaan melainkan sebuah ejekan unutknya."Kalau memang tidak ada yang bisa saya bantu, saya permisi mengambilkan sarapan untuk Oma."Meysa hendak mengambil piring kosong itu kembali namun segera di hentikan oleh Nora. Nora mencekal perelangan tangan Meysa dengan kencang."Setelah tidak berhasil menyingkirkan Adrian, sekarang kamu mau berusaha menyngkirkan Oma juga? Begitu?"Meysa mengerutkan keningnya sambil kepala
Suara bel mansion terdengar nyaring ketika seluruh penghuni rumah belum bangun, Evan berdiri di depan pintu sambil menatap jam di pergelangan tangannya.Tak lama setelah dia menekan bel, pintu terbuka lebar."Selamat pagi tuan Evan," sapa asisten rumah tangga."Pagi.""Mari tuan, silakan masuk."Evan menganggukkan kepalanya, dia pun memutuskan masuk ke rumah yang masih sepi seperti tak berpenghuni."Apa tuan Adrian belum turun?" tanya Evan."Belum tuan, biar saya panggilkan dulu.""Ah, tidak perlu. Biar saya yang memanggilnya sendiri."Asisten rumah tangga itu mengangguk, dia pun segera kembali ke dapur ketika Evan menaiki anak tangga menuju kamar utama mansion.Evan berjalan menaiki anak tangga sambil sesekali menatap jam di pergelangan tanganya yang masih menunjukkan pukul enam pagi."Jangan sampai tuan Adrian belum bangun," gumam Evan.Sampai di depan pintu kamar Adrian, Evan pun mengetuk pintunya dua kali."Ckk, kenapa lama sekali?"Sedangka di kamar, Adrian dan Meysa justru sedan
Cahaya fajar di pukul lima pagi masih sangat muda, hanya berupa lambaian warna biru keperakan yang menembus gorden sutra tebal di kamar utama mansion. Di dalam ruangan luas yang tenang itu, dinginnya udara pagi sama sekali tidak menyentuh sepasang suami istri yang sedang tenggelam dalam kehangatan satu sama lain.Lampu tidur di sudut ruangan sengaja diredupkan, menciptakan siluet dan bayangan remang-remang yang menari di dinding vas porselen dan pilar-pilar tempat tidur kayu jati yang megah. Keheningan mansion mewah itu justru memperkeras setiap detail intim mereka: gesekan halus sprei katun premium, helaan napas yang berat, dan detak jantung yang berkejaran."Masih malu, hmm?" bisik Adrian lembut, suaranya terdengar berat dan menenangkan di keheningan pagi ini.Meysa mendongak sedikit, matanya yang indah menatap Adrian sekilas sebelum kembali beralih ke bawah."Adrian, jangan seperti ini. A-Aku malu," cicitnya pelan, hampir berupa bisikan.Adrian terkekeh pelan. Baginya, kepolosan da
Suara alarm dari jam weker berbunyi nyaring di atas nakas, sepasang mata mulai mengerjap pelan, tangan kanannya terangkat mengucek matanya sambil menguap. Meysa mulai membuka matanya, diliriknya sang suami yang masih memejamkan matanya.Sudut bibir Meysa terangkat membentuk senyuman manis, dia menatap wajah Adrian yang terlihat tenang ketika tidur. Senyumnya semakin lebar ketika hal ini akan dia lakukan selama beberapa bulan ke depan. Bangun dengan menatap wajah tampan sang suami."Aku harus bangun sekarang," gumam Meysa.Perlahan Meysa mulai mengangkat tangan Adrian yang memeluk perutnya dengan erat dan meletakkannya ke atas guling, dia menyibak selimutnya kemudian turun dari ranjang.Meysa mematikan alarm yang masih menujukkan pukul empat pagi, dia pun lekas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Selesai dari kamar mandi, Meysa masuk ke ruang walk-in closet. Dia mengambil koper kecil lalu mulai mempacking pakaian kerja milik suaminya.Meski sempat melarang Adrian untuk pe
"Besok saya sudah boleh pulang kan dok?"Seorang dokter wanita tesenyum setelah selesai memeriksa keadaan Nozela, kepalanya menganguk pelan membuat Nozela tersenyum lebar."Boleh, tapi harus banyak istirahat dan jangan terlalu kecapaian ya. Pola makan di atur dan jangan lupa minum banyak air putih.""Oke dokter.""Tuh Jel, dengar apa kata dokter," ucap Mona."Tuh Jel, dengar apa kata calon mertua," ucap Tiara."Mama..." lirih Nozela."Kalau begitu saya permisi dulu," ucap dokter lalu keluar dari ruangan Nozela.Mona menatap Nozela yang terlihat masih sedikit pucat, tanganya terulur mengelus pipi Nozela dengan lembut."Cepat sembuh ya Jel."Nozela mengangguk. "Ojel sudah sembuh kok tante, tante dengar sendiri kan tadi kalau besok Ojel sudah boleh pulang.""Terima kasih ya om dan tante sudah menjenguk Ojel," sambung Nozela."Kami yang seharusnya minta maaf karena baru bisa mengenguk kamu sekarang," ucap Jimmy."Tidak papa jeng, kami tahu kalian pati sangat sibuk," ujar Tiara."Oh iya, t
BRAK!!Meysa memejamkan matanya ketika Adrian dengan kasar menutup pintu kamar mereka, kedua tangannya saling bertaut di depan tubuhnya. Keberaniannya di hadapan Nora tadi seketika lenyap digantikan rasa takut dan khawatir yang mulai mengusik perasaannya.Tap.Tap.Suara langkah kaki Adrian terdengar nyaring di kamar mereka yang sunyi. Pria tampan dengan ekspresi wajah datar itu mendekati sang istri yang berdiri di dekat ranjang. Adirian menatap tajam Meysa yang kini sedang menundukkan kepalanya, emosinya masih membara hingga rasanya dia tak bisa mempercayai siapapun saat ini.Meysa menatap sepasang kaki yang berdiri di hadapanya, perlahan dia mulai mengangkat pandangannya menatap Adrian. Dada Meysa terasa sesak, dia takut Adrian tidak mempercayainya."Adrian, tolong lihat aku..." bisik Meysa, suaranya bergetar menahan tangis."Bukan aku yang melakukannya. Demi Tuhan, aku tidak pernah berniat menyakiti kamu."Adrian terkekeh sinis, tanpa menoleh. Dia berdecak pinggang dengan satu tang







