로그인"Tidak, bukan aku yang meracuni Adrian," ucap Meysa.Srak!Nora mengambil bukti hasil lab di tangan Meysa dengan kasar kemudain memperlihatkannya ke hadapan Meysa sambil memukul-mukulnya keras."Lihat ini, lihat baik-baik.""Bukti sudah di depan mata seperti ini tapi kamu masih mau mengelak? Aku tidak menyangka di balik wajah kamu yang polos ternyata tersimpan jiwa iblis.""Karena memang kenyataannya bukan aku yang melakukannya," sangkal Meysa."Lalu kalau bukan kamu siapa lagi, hah?" seru Nora.Jarum jam dinding di ruang tamu itu berdetak begitu nyaring, seolah-olah berpacu dengan detak jantung orang-orang di dalamnya. Udara terasa panas dan mencekik, padahal pendingin ruangan sudah disetel ke suhu terendah.Di tengah ruangan, Meysa berdiri mematung. Tangannya gemetar hebat, meremas ujung bajunya yang kusut. Di depannya, berdiri Nora dengan tatapan mata yang seakan ingin menguliti Meysa hidup-hidup."Jangan berlagak polos kamu, Meysa!" Suara Nora meninggi, memecah keheningan yang men
"Selamat malam tuan Adrian, bagaimana kondisi anda? Apa perut anda masih terasa sakit?" "Malam dok, saya sudah baik-baik saja.""Karena infusnya sudah habis maka saya akan melepaskannya, dan tolon salah satu untuk mengambil obatnya.""Biar aku saja," ucap Meysa."Tidak papa nyonya, biar saya yang mengambilnya.""Aku saja. Adrian, aku ambil obat kamu dulu ya."Adrian mengangguk dan membiarkan istrinya pergi sementara dokter melepaskan selang infusnya.Tap..Tap..Suara dua pasang sepatu saling bersahut-sahutan di lorong UGD, mereka pun masuk ke ruangan itu lalu menemui seseornag."Kebetulan ada dokter di sini."Ketiga orang menoleh ke sumber suara, Nora datang bersama Bagas."Ada apa lagi kakak kemari? Jika kakak hanya datang unutk membuat masalah lebih baik kakak pulang saja," ucap Adrian.Nora menyunggingkan senyum miring, tatapannya mencari keberadaan seseorang yang kini sedang tak ada di sana."Aku tidak ingin membuat keributan, aku ke sini hanya untuk mengantarkan sebuah fakta,"
"Oma, Oma tenang dulu ya. Tuan Adrian pasti baik-baik saja.""Tidak sus, saya tidak bisa tenang sebelum mendapat kabar tentang kondisi cucu saya."Oma Rosa tampak terlihat sangar stress ketika Adrian di larikan ke rumah sakit setelah di temukan pingsan di depan toilet. Semua Adrian terluhat biasa saja sampai saat makan malam tenga berlangsung, cucunya merasa kesakitan pada pertutnya hingga pingsan.Dia khawatir terjadi sesuatu apda Adrian, apa lagi dia hanya bisa menuggu di rumah tanpa boleh ikut ke rumah sakit. Sampai saat ini pun juga belum ada kabar apapun baik dari Nora, Meysa atau Evan."Oma, kita berdoa saja semoga tuan Adrian baik-baik saja."Tak lama setelah Defi berbicara, tiba-tiba Bagas datang bersama seorang asisten rumah tangga yang membawa paper bag di tangannya."Bagas, kamu mau kemana?" tanya Oma."Oma, Bagas pergi dulu. Bagas harus membawa semua sampel makanan ini ke lab untuk mencari tahu makanan mana yang mebuat Adrian keracunan.""Jadi, Adrian keracunan?""Lalu bag
"Lebih cepat lagi, Evan," seru Nora.Evan mengangguk. "Baik nona."Pijakan kaki Evan pada pedal gas mobilnya semakin dalam, dia juga sama khawatirnya dengan kondisi Adrian yang tiba-tiba pingsan, entah apa yang terjadi pada Adrian hingga bernasip seperti ini.Beberapa menit kemudian, merekan sampai di UGD. Evan bergerak cepat memanggil perawat dan membantu Nora mengeluarkan Adrian dari kursi belakang. Evan meletakkan tubuh lemas Adrian ke atas brankar kemudian ikut mendorong brankar itu ke ruang UDG.Meysa mengekor di belakang Evan dan Nora, dia sama sekali tidak diizinkan oleh Nora untuk membantu Adrian. Samapai di ruang UGD, mereka menunggu di luar dengan panik bukan main."Apa yang terjadi nyonya, kenapa tuan Adrian bisa pingsan?" tanya Evan.Meysa yang sedang menangis pun menggelegkan kepalanya."Aku tidak tahu Evan, tadi Adrian masih baik-baik sampai aku menemui kamu dan sus Defi tadi," jelas Meysa sambil berlinang air mata.Nora menghampiri Meysa, dia mencekal lengan Meysa denga
"Wah, baunya harum sekali. Kamu buat apa Mey?"Oma Rosa datang bersama kepala pelayan menuju ruang makan menghampiri Meysa yang sedang memotong kue buatannya.Meysa tersenyum melihat Oma. "Oma, tadi Mey bikin kue. Oma mau mencicipinya?"Oma Rosa tesenyum tipis. "Oma sebenarnya ingin, tapi Oma takut gula darah Oma naik. Nanti suami kamu marah-marah lagi."Mendengar jawaban Oma membuat Meysa tertawa pelan. "Oma tenang saja, hanya sedikit kok. Mey juga pakai gula rendah kalori kok.""Ehem, apa makan malam sudah siap?" tanya Nora yang tiba-tiba datang."Belum, Meysa membuat kue, apa kamu mau mencobanya?" tanya Oma.Nora menatap kue yang ada di atas meja dan Meysa secara begantian."Kenapa Nora melihat aku seperti itu?" batin Meysa."Nora makannya nanti saja setelah makan malam," jawab Nora kemudian duduk di tempatnya.Para asisten rumah tangga mulai berdatangan sambil membawa hidangan makan malam untuk keluarga Lysander, mereka mulai menata meja makan dengan masakan yang mereka buat."Adr
"Ada apa Ra, kenapa kamu senyum-senyum sendiri?" Nora lekas melunturkan senyumnya, dia beredehem pelan lalu membenarkan duduknya. "Tidak. aku hanya sedang senang saja. Apa ada masalah?" Bagas tersenyum tipis, dia mendekat ke arah istrinya lalu duduk di sebelah istrinnya. Tangan Bagas merangkul pundak Nora namun dengan cepat Nora melepaskan tangan suaminya. "Kenapa sayang? Kamu masih marah sama aku?" Nora melirik sinis suaminya, dia menggeser duduknya kemudian memalingkan wajahnya. "Nora, jangan marah lagi dong," bujuk Bagas. "Awas, jauh-jauh dari aku." Namun bukannya menjauh, Bagas justru mendekat lalu memeluk tubuh istrinya. "Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku menyesal Ra, maaf." "Jangan marah lagi sayang," bujuk Bagas. Nora masih setia memalingkan wajahnya, hatinya terasa panas saat kembali mengingat perkataan sang suami. Perasaannya tiba-tiba tak nyaman. Bagas meletakkan dagunya ke bahu Nora, dia sangat menyesali perkataannya yang membu







