登入Gemuruh dari runtuhnya pilar-pilar batu kuno belum sepenuhnya reda saat atmosfer di dalam Dimensi Batas Kegelapan berubah menjadi medan pembantaian energi murni. Tempat yang tadinya merupakan aula takhta Kaelen kini telah kehilangan struktur fisiknya; lantai pualam hancur melenyap, menyisakan ruang hampa berujung lautan energi yang bergolak dahsyat. Kaelen—Penguasa Besar Ranah Atas—tertawa histeris di tengah amukan angin hitam. Mahkota duri keemasannya meletupkan pecahan kristal kegelapan, sementara jubah tenun bayangannya terkoyak memancarkan Aura Keabadian Kelam. "Hahaha! Luar biasa! Penggabungan roh sistem dan Esensi Tujuh Api Suci!" Kaelen merentangkan kedua tangannya. Dari balik punggungnya, delapan lengan bayangan raksasa mencuat keluar, masing-masing memegang senjata pusaka tingkat Dewa. "Kau pikir menyatu dengan roh itu cukup untuk menjatuhkanku, Martis?! Aku telah bertakhta di Ranah Atas selama sepuluh ribu tahun!" "Sepuluh ribu tahunmu..." suara Martis bergema, bergulu
"Maafkan aku, Martis..." bisik Ririn dengan nada suara yang teramat lembut. "Aku terlampau menikmati wujud manusia ini sampai-sampai aku lupa... bahwa aku bukanlah makhluk lemah yang bisa disandera oleh serangga-serangga ini." "Apa yang kau bicarakan?!" Kaelen menyipitkan matanya, merasakan ada gejolak gelombang data dan frekuensi asing yang mendadak meletup dari dalam tubuh Ririn. Martis yang berdiri kaku mendadak tertegun. Matanya membelalak saat menyadari apa yang akan dilakukan oleh Ririn. "Ririn, jangan—!" "Terima kasih telah membawaku melihat dunia ini dengan wujud seorang manusia, Martis," pangkas Ririn seraya tersenyum paling manis yang pernah ia ukir. "Tapi tempat terbaikku... adalah di dalam dirimu." Tring! Tring! Tring! Tring! Suara lonceng mekanis bergema nyaring secara beruntun di dalam ruang jiwa semua orang di aula tersebut. Seketika itu juga, wujud fisik Ririn mulai mengabur. Daging, darah, dan pakaian tempurnya meluruh, berubah menjadi jutaan partikel cah
"Martis!" jerit Ririn saat dua orang kepercayaan Kaelen—prajurit berzirah baja hitam dengan topeng tanpa wajah—muncul dari balik bayangan dan menancapkan belati beracun tepat di leher Ririn dan Estias. Segel sihir merah darah langsung menyala di kening Ririn dan Estias, mengunci aliran meridian dan wadah jiwa mereka sepenuhnya. Hanya dalam hitungan detik, dua kawan terbaik Martis telah sepenuhnya berada di bawah kendali cengkeraman mati pengawal Kaelen. Martis menghentikan langkahnya. Matanya menyipit tajam, pendaran emas di dalam pupilnya membara seketika. "Kaelen... kau menggunakan cara licik ini di hadapanku?" "Licik?" Kaelen bersandar santai di takhtanya, mengamati reaksi Martis dengan tatapan puas. "Dalam perang di tingkat tertinggi, tidak ada istilah licik, Martis. Yang ada hanyalah kemenangan. Belati di leher kawan-kawanmu dilapisi oleh Ekstrak Jiwa Hampa. Satu dorongan kecil saja dari pengawalku, maka jiwa mereka berdua akan hancur menjadi debu dan tidak akan pernah bisa
Martis telah berada tepat di hadapan Draven. Ia tidak menggunakan senjata apa pun. Tangan kanan Martis yang diselimuti Api Suci Merah Keemasan menghantam langsung mata sabit hitam milik Draven. CRASHHH! Sabit Pemutus Jiwa yang legendaris itu—senjata yang baru saja merobek zirah batu Estias—hancur berkeping-keping menjadi ribuan serpihan logam tak berguna! "Senjataku?!" jerit Draven penuh horor. Belum sempat Draven melompat mundur, tangan kiri Martis melesat mencengkeram wajah Draven dengan cengkeraman besi yang membara. Api keemasan langsung membakar wajah dan helm zirah Draven, memicu jeritan histeris dari mulut sang panglima kegelapan. "AARRGGHHH! PANAS! AMPUNI AKU!" "Ampun?" Martis menatap Draven dengan mata emasnya yang dingin tanpa rasa kasihan sedikit pun. "Saat kau melukai Estias, kau sudah menyerahkan hakmu untuk bernapas di dunia ini." Martis menghantamkan tubuh Draven ke tanah dengan kekuatan yang sanggup meratakan gunung! BAMMM! BAMMM! BAMMM! Lantai pualam
Pintu kristal raksasa yang retak itu hancur berkeping-keping menjadi debu berkilauan saat Martis melangkah melewatinya. Di dalam Istana Astral, cahaya siang seketika lenyap, digantikan oleh kegelapan pekat yang membekukan darah. Bau amis kuno dan uap racun menyengat hidung, menempel pada pilar-pilar batu pualam yang menghitam akibat paparan energi gaib selama ribuan tahun. Di ujung aula raksasa yang membentang luas, berdiri sebuah altar batu hitam bercorak segel raksasa. Di atas altar itu, melayang sebuah pusaran energi berwarna merah darah yang berputar perlahan—Gerbang Batas Kegelapan. "Tempat ini... energinya terasa sangat menekan," bisik Ririn seraya merapatkan diri di samping Martis. Cahaya hijau zamrud dari energi penyembuhnya berpendar tipis di sekeliling tubuhnya untuk menghalau hawa beracun yang merayap. Estias melangkah maju, membentangkan dadanya yang tegap sambil mengayunkan tinjunya hingga udara berderum. "Jangan khawatir, Ririn. Selama aku ada di sini, tidak akan a
Ririn menghela napas panjang, menatap Martis dengan tatapan pasrah. "Haruskah aku membawa Estias terbang menggunakan selendang energiku?" "Jangan!" potong Estias cepat dengan wajah agak pucat. "Selendang tipismu itu kalau menahan bebanku pasti langsung robek. Aku tidak mau mati konyol hanya karena jatuh dari langit!" Martis mendengus geli. "Tenang saja. Aku punya cara yang lebih cepat. Dan kau, Estias... kau akan menjadi peluru kita." sepuluh menit kemudian, mereka bertiga sudah berdiri di atap Kedai Bintang Perak. Martis memejamkan mata, memanggil esensi Api Suci Merah Keemasan dan Api Suci Biru Lautan. Kedua energi yang bertolak belakang itu mengalir ke telapak tangannya, membentuk sebuah piringan api raksasa menyerupai meriam peluncur gaib. "Tunggu, Martis! Jangan bilang kau mau..." Estias menatap piringan api di bawah kakinya dengan mata membelalak horor. "Pegang erat-erat, Estias," ujar Martis seraya merengkuh pinggang Ririn dengan tangan kirinya. "Ini akan sedikit berg
Asidi mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke mata sang Master. "Master, ada orang bernama Jackson dan Martis. Mereka berdua telah mengambil artefak bola cahaya yang kita incar selama bertahun-tahun. Aku khawatir jika mereka saat ini telah berhasil membuka segel dari artefak tersebut, dan sekar
Wow, tampaknya Jendral William memiliki kekuatan yang luar biasa! Meskipun terlihat terluka dan terbaring, dia masih memiliki semangat dan kegigihan untuk melawan. Dia bangkit kembali dengan tekad yang kuat, menunjukkan bahwa pertempuran ini belum berakhir.Dengan gerakan yang cepat, Jendral William
Lalu keesokan harinya Martis mengatakan bahwa ia akan mencoba menemui pemimpin Bayangan Hitam. Terkadang, keberanian sejati bukanlah tentang berperang, akan tetapi tentang mencari cara untuk menyelesaikan konflik tanpa harus bertempur. Dengan kekuatan dan kebijaksanaannya, Martis akan mencoba untuk
Martis tanpa ragu-ragu meluncur ke arah pemimpin pasukan Bayangan Hitam dengan kecepatan yang luar biasa. Dia tidak akan menyerah dan bertekad untuk mengalahkan lawannya. Pertarungan ini pun akhirnya berjalan semakin memanas."Terima ini...! Hiyat...!" Dengan tinju yang dibalut dengan kekuatan elemen







